Status : Menikah

Status : Menikah
Proyek Balas Dendam Part 1


__ADS_3

Ngelunjak.


Tidak ada istilah lain yang dapat menggambarkan tingkah Yudhis saat ini.


Sudah pulang terlalu malam, menemani seorang perempuan bersuami mabuk-mabukan, sekarang minta diolesi minyak kayu hijau. Sekarang dia sudah bersiap membuka kancing bajunya satu per satu agar Nawang lebih mudah mengoleskannya.


“Heh, Tyrex!”


Dengan wajah sok polosnya, Yudhis menjawab panggilan itu dengan penuh senyuman, “Ya?”


Nawang buka botol minyak kayu hijau di tangannya. Dia arahkan ke dada Yudhis, lalu menumpahkannya hingga membasahi kemejanya.


“Astaga, Nawang! Gue tuh minta diolesin minyak, bukan dimandiin minyak! Sekarang basah nih baju.” sentak Yudhis sambil menghindar.


“In your wildest dream.” ujar Nawang sambil melempar botol minyak kayu hijau yang sudah kosong ke sembarang tempat.


‘Dhuak!’


Entah barang apa yang dihantam botol tersebut hingga mengeluarkan suara sekencang itu. Saking kagetnya, Yudhis sampai terpaku diam seribu kata.


‘Brak!’


Suara kedua adalah dobrakan pintu kamar Nawang saat masuk ke dalam kamarnya.


“Ghhaaaaahhh! Ngeselin banget! Kok bisa gue sekesel ini sama Tyrex! Aaaarrrrgghh! Kopet! Sialan!”


Nawang terjunkan badannya ke dalam kasur empuknya, lalu menjadikan bantal dan selimutnya sebagai pelampiasan atas kekesalannya. Rasanya dia belum puas jika belum ada yang menjadi korbannya malam ini.



Esok paginya, sebuah ide muncul begitu membaca komentar dari penontonnya di salah satu videonya bersama Yudhis. Pemilik akun itu berkomentar bahwa dia ingin melihat kehidupan Yudhis sehari-hari saat di rumah. Nawang berpikir, tidak ada salahnya untuk mengabulkan permintaan tersebut.


Dimulai lah aksi Nawang hari itu juga. Pertama, dia akan menunggu Yudhis untuk pergi ke kantor terlebih dahulu. Sebelum itu, dia akan bersikap sewajar-wajarnya dan jangan sampai Yudhis curiga.


“Masih marah?” tanya Yudhis.


Pria itu sudah duduk di meja makan, bersiap untuk sarapan sebelum pergi bekerja.


“Pikir sendiri.” jawab Nawang cuek.

__ADS_1


Di luarnya mungkin begitu, tapi matanya dengan sangat fokus menginspeksi seluruh kulit Yudhis yang terlihat. Dia teringat bagaimana keadaan pria itu semalam. Nawang khawatir, jangan-jangan masih ada sisa alergi di tubuh Yudhis.


“Hhh… Maaf. Lain kali gue bakal hati-hati.”


Mata Nawang semakin memicing.


“Gak ada ‘lain kali’! Waktu dulu kayaknya lo gak sampe gitu alerginya, kenapa semalam bisa semerah itu coba? Lo tuh sadar diri ngapa! Kalau punya alergi, sumbernya ya harus dihindari. Kalau terpaksa, ya harus cepetan pake obatnya. Kalau kemarin gak sengaja keminum gimana? Kalau kecipratan, terus masuk mulut gimana?” cecar Nawang.


Dia tidak menerima alasan apapun. Yudhis juga sulit melawan balik, karena ucapan Nawang memang benar.


“Maaf.”


Hanya itu yang bisa Yudhis ucapkan.


“Gue tahu kalau pekerjaan lo bikin sulit buat nolak acara beginian. Tapi, lo kan juga bos besar. Harusnya lo juga bisa bilang ke klien atau siapapun yang kerja sama lo buat gak ngajak ke tempat kayak gitu.”


Yudhis memijat-mijat jidatnya. Semalam, Banyu juga berkata demikian padanya. Tidak disangkanya, pagi-pagi Nawang juga akan menghardiknya begini.


“Baik, Yang Mulia. Akan saya ingat baik-baik. Sekarang, bolehkah hamba mengisi energi terlebih dahulu? Karena, saya memerlukan energi tersebut untuk bekerja hari ini.”


Nawang juga tidak ingin bersikap keterlaluan. Keluh kesahnya sudah tersampaikan. Tinggal pembalasannya saja nanti.


“Oh, rakyatku. Silakan nikmati hidangan di meja. Semoga saja dengan ini engkau lebih menurut pada Ratumu ini.”



Yudhis sudah berangkat. Artinya, rencana Nawang akan dimulai. Lalu, yang menjadi sasaran pertamanya adalah kamar Yudhis yang tidak pernah dikunci saat pergi.


“Tyrex tuh punya OCD kali ya? Rapi banget kamarnya.”


Walaupun sudah mengenal lama, Nawang tetap merasa kagum pada kamar pria itu yang tidak pernah berantakan. Nawang tahu Yudhis tidak takut menyentuh kotoran, tapi di samping itu dia selalu menjaga benda-benda miliknya sebersih dan serapi mungkin.


“Yah… tapi nggak lagi setelah ini. Hahahahaha!” gelak Nawang, membayangkan apa yang akan terjadi pada kamar itu nanti. Tidak sabar rasanya melihat bagaimana reaksi Yudhis nanti.



Saat yang Nawang tunggu-tunggu pun tiba. Yudhis baru saja sampai di apartemen setelah bekerja selama lebih dari 10 jam.


Seperti biasa, dia langsung mandi di kamar mandi dalam kamarnya. Selama berada di sana, dia berpikir bahwa ada yang janggal dengan kamarnya. Diperhatikannya satu per satu apa itu, tapi semua terlihat normal. Kecuali beberapa benda yang sedikit geser dari posisi biasanya.

__ADS_1


Diputuskannya untuk mengacuhkan hal itu. Setelah memakai bajunya, Yudhis pun beranjak ke meja makan.


“Lo pake parfum gue?” tanya Yudhis tiba-tiba.


Sebetulnya Yudhis tidak yakin. Dia hanya merasa ada bau yang familiar dari tubuh Nawang saat tadi sempat menempel padanya.


“H… hah? Nggak.”


Nawang menjawab jujur. Dia sungguh-sungguh tidak memakai parfum Yudhis. Mungkin hanya menempel saat dia ‘mengurus’ kamar pria itu tadi. Tidak disangkanya, daya penciuman Yudhis bisa setajam itu.


“Serius?” Yudhis masih merasa curiga.


Tidak masalah sebenarnya, kalau Nawang ingin memakai parfumnya. Malah dia suka. Hanya saja, Yudhis merasa agak heran. Menurutnya reaksi Nawang terlalu berlebihan. Kalau memang tidak ada apa-apa, bukankah seharusnya dia tidak sekikuk itu?


Pindahlah Yudhis untuk duduk di sebelah Nawang, lalu dia endus agar lebih pasti.


“Apaan sih, Dhis?!”


Nawang menjauhkan wajah Yudhis dari badannya. Walau sudah mandi, diperlakukan begitu tentu saja membuatnya tidak nyaman. Selain itu, dia merasa malu, karena wajah Yudhis terlalu dekat.


Namun, bukannya menyerah, Yudhis malah menghirup telapak tangan Nawang yang menghalau wajahnya.


“Heh, anjir! Sejak kapan sih, lo mesum gini?” hardik Nawang sambil menjauhkan diri dari Yudhis.


“Sejak lahir.”


Yudhis ikut berdiri. Sambil merenggangkan tangannya, dia mendekat pada Nawang.


“Lo makan yang nyante aja ngapa, sih? Duduk lagi sana, gih!” usir Nawang.


“Kalau gitu, lo juga yang jujur, dong. Habis ngapain tadi di kamar gue? Hm? Gue tadi lihat bantal guling gue geser satu inchi.”


Agaknya Yudhis memang memiliki OCD. Geser satu inchi saja dia sadar. Kalau sudah begini, tidak ada pilihan lain bagi Nawang selain mengaku.


“Haa… iya, deh. Tadi gue tidur siang di kamar lo. Kenapa? Gak boleh? Gue masih istri lo dan itu kan kamar kita kalau Mama kamu dateng.” akunya.


Yudhis melipat lengannya di depan dada, lalu berkata, “Sejak kapan lo ngaku jadi istri gue?”


“Sejak kita nikah.”

__ADS_1


Ah, jawaban tadi begitu memalukan bagi Nawang. Semenjak mereka menikah, memang Nawang hampir tidak pernah menyebut status mereka. Kecuali saat siaran atau dalam vlog di channelnya.


Untuk menyembunyikan rasa malunya itu, Nawang membalikkan badan, lalu kabur sebelum Yudhis kembali mendekatinya. Jika Yudhis memojokkannya lebih dari ini, Nawang khawatir akan keceplosan dan membeberkan rencananya sendiri. Pokoknya, pembalasan dendamnya harus sukses!


__ADS_2