Status : Menikah

Status : Menikah
Cemburu Pada Siapa Saja


__ADS_3

“Sayang!” Yudhis menyapa Nawang saat gadis itu masih seru mengobrol.


Karenanya, Nawang kembali sadar bahwa saat ini mereka belum benar-benar bebas dari intaian paparazzi yang mungkin disewa oleh keluarga Yudhis. Secepat kilat, Nawang mengaktifkan mode actingnya dan menyambut Yudhis dengan penuh senyuman.


“Akhirnya, cayangku dateng juga.” ucap Nawang sambil merangkul Yudhis mesra.


“Your boyfriend?” pria bule itu bertanya.


Yudhis menaikkan salah satu ujung bibirnya dan dengan penuh kesombongan menjawab, “No. I’m her husband. We just got married four days ago.”


Pria berambut pirang itu membulatkan matanya.


“Wow! Congratulation! Are you on your honeymoon?” katanya dengan riang.


“Yes.” jawab Yudhis singkat.


Laki-laki itu seharusnya sudah memberikan aba-aba kalau dia bukan orang berbahaya, tetapi Yudhis masih menatapnya dengan penuh intimidasi. Yudhis sama sekali tidak berpaling darinya dan Nawang pun menyadari akan tatapan itu. Hal ini seketika menyebabkan konflik batin untuk Nawang.


“Ini orang, katanya gak suka cowok, tapi ada cowok ganteng dikit aja istrinya gak dilirik.” pikirnya.


Nawang ingin berpikir positif, tetapi entah kenapa bayangan Yudhis yang terpesona pada teman barunya itu sulit ditepis dan dia tidak menyukainya.


“Sayaaang… es krimnya nanti meleleh, loh. Cepetan pulang, yuk.” ajak Nawang.


Gadis itu juga menengok pada teman barunya, lalu berkata, “Please excuse us, Aaron. We’ll leave now.”


“Ok. I won’t disturb you guys. Bye.” sahut pria asing yang ternyata bernama Aaron itu.


Dua pasangan palsu itu pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Aaron.



Mobil Yudhis dan Nawang kini telah memasuki area parkir hotel. Tetapi, Yudhis sedari tadi masih saja diam dengan ekspresi seramnya. Bahkan dia masih bersikap sama begitu sampai di kamar mereka.


“Lo segitu gak sukanya pisah sama Aaron?” celetuk Nawang yang langsung menutup mulutnya. Dia tanpa sengaja keceplosan mengucapkan pertanyaan yang sedari tadi ada di kepalanya.


“Bukannya lo? Hah.” Yudhis balas bertanya.


Spontan dua alis Nawang bertaut, karena bingung dengan maksud pertanyaan Yudhis.


“Itu laron siapa?” Yudhis kembali bertanya.


“Bukan laron, tapi Aaron. Gue ketemu dia kemarin pas beli jajan di mini market bawah. Duit gue kurang, terus dia yang lagi buru-buru bayarin gue dulu sekalian sama bayar belanjaan dia.” terang Nawang.


Reaksi Yudhis hanya singkat, “Oh.”


Sungguh sulit Yudhis percayai. Nawang baru kenal dengan Aaron dan bertemu sekali, tetapi bisa seakrab itu. Padahal dulu, saat pertama kali kenal dengannya mereka tidak bisa langsung akrab. Yang ada setiap hari dipenuhi dengan perang mulut dan persaingan sengit demi mendapatkan ranking pertama paralel di sekolah mereka.


Yudhis yang sudah terlalu lelah tidak ingin cekcok dengan Nawang. Sudah cukup persoalan mereka kemarin. Jadi, pikirnya lebih baik dia mendinginkan kepalanya dulu di kamar mandi.

__ADS_1


“Lo gak makan dulu es krimnya?” tanya Nawang saat Yudhis selesai membuka blazernya dan hendak pergi ke kamar mandi.


Tanpa menengok, Yudhis menyahut, “Taruh kulkas dulu aja. Gue mau semedi sebentar.”


Dahi Nawang semakin berkerut mendengar jawaban itu. Karena hal yang sama pula, pikirannya jadi terbang ke mana-mana. Misalnya saja, “Apa Yudhis sekecewa itu tidak bisa berlama-lama dengan Aaron?”



Pada akhirnya mereka berdua tidak berani mengungkapkan pikiran masing-masing hingga bulan madu mereka berakhir dua hari kemudian. Meskipun banyak pertanyaan di masing-masing kepala mereka.


Keduanya memutuskan untuk lebih fokus pada konten yang akan mereka buat selama bulan madu. Mereka ingin agar sandiwara mereka dapat terlihat sesempurna mungkin.


“Sebelum ke bandara, mau live bentar gak?” ajak Nawang.


Barang bawaan mereka sudah dimasukkan ke dalam koper dengan rapi. Tetapi, keberangkatan mereka masih sekitar tiga jam lagi. Jadi, masih ada waktu untuk bersantai. Hanya saja, Nawang rasa akan membosankan kalau mereka tidak melakukan apa-apa selama menunggu sopir yang akan mengantar mereka.


“Boleh. Gue siap-siap dulu bentar.”


Dua hari terakhir ini, Nawang menyadari kalau Yudhis jadi lebih sering berdandan walau sekedar menyisir rambutnya saja.


“Gak usah. Udah ganteng, kok.” puji Nawang jujur.


Ungkapan ‘teman tidak akan mengakui kelebihan fisik teman lawan jenisnya’ tidak berlaku bagi Nawang. Lagi pula siapa yang bisa menyanggah pendapat bahwa Yudhis itu tampan?


“Oke.” Yudhis menurut.


Jadilah Yudhis masih dengan rambut lurusnya yang turun, sehingga membentuk poni koma.


‘Pip’


Di detik-detik pertama, langsung datang sekitar 1000 penonton di siaran mereka. Ini rekor baru bagi Nawang yang biasanya agak sulit mendapatkan penonton saat siaran tanpa pengumuman sebelumnya.


“Halo semuanya! Lama gak ketemu, nih. Apa kabar?” sapa Nawang.


Para penonton lalu berbodong-bondong mengetik untuk memenuhi bagian komentar berjalan di siaran Nawang.


[Baik.]


[Hatiku hancur kau tinggal kawin, Dewi.]


[Gue lebih hancur. Soalnya dewi lo nikah sama pangeran gue!]


[Sebodo. Gue mah bahagia kalau mereka bahagia.]


[Kabar kalian sendiri gimana? Udah jadi, anaknya?]


[Ebuset, komen atas gue bar-bar banget.]


[Lo pikir bikin anak kayak lo order NTJek?]

__ADS_1


Komentar mereka begitu bervariasi. Tetapi, tiga komentar terakhir tadi lah yang cukup menarik perhatian mereka. Karena, agaknya banyak yang berharap mereka cepat punya anak. Terutama komentar dengan donasi merah setelahnya yang berkata,


[Aku gak sabar liat Yudhis **. sama Nawang **.]


Bahkan angka donasinya tidak tanggung-tanggung, yaitu sampai $1000. Bagi orang biasa, uang sebesar itu bisa untuk makan lebih dari satu bulan. Tetapi, sepertinya bagi penyumbang ber-username @lalaRistaa223 itu bukan apa-apa. Apa lagi, setelahnya dia kembali memberi donasi.


[Dari @lalaRistaa223


$2000


Kado pernikahan]


Dari username itu, sebenarnya Yudhis bisa menebak bahwa itu adalah ibunya sendiri.


“Wah, semoga semuanya baik, ya. Terima kasih juga kado pernikahannya.” ujar Nawang lagi.


Yudhis setelahnya juga ikut berkata, “Kabar kami berdua juga baik. Soal anak, tunggu kabar baiknya aja, ya. Kami berdua pasti kasih tahu.”


Lengan Yudhis lalu merangkul pundak Nawang agar lebih dekat lagi dengannya.


“Dhis?” hardik Nawang dengan berbisik.


“Pelukan doang gapapa kan? Lo juga dulu main rangkul.” bisik Yudhis.


Pasalnya, Yudhis memeluk Nawang dengan sangat erat. Tidak seperti biasanya yang hanya menempel. Bibirnya bahkan sangat dekat dengan dahinya, seperti siap untuk mengecupnya. Tidak Nawang sadari, sebenarnya dari sudut pandang penonton Yudhis memang terlihat sedang mengecup dahi Nawang.


“Mumpung free talk, nih. Kalian mau tanya sesuatu gak?” tawar Nawang pada penontonnya.


Begitu dimintai, sebuah donasi warna hijau pun muncul dengan sebuah pertanyaan.


[Komentarnya tentang gosip kalau kalian nikah kontrak, dong! Klarifikasi biar kami gak penasaran.]


Yudhis membaca komentar itu, lalu langsung menjawab, “Yah, seperti yang kalian lihat. Gosip itu palsu. Hubungan kami betulan.”


“Siapa pula itu orang iseng. Gak usah digubris, lah.” timpal Nawang.


Orang dengan username @lalaLista223 lagi-lagi memberi donasi. Kali ini jumlahnya lebih kecil, $50, dan disertai permintaan.


[Kalau gitu buktiin dong! Live kiss atau apa gituuu.]


Banyak dari penonton siaran itu yang juga mendukung permintaan @lalaLista223.


[Boleh, tuh!]


[Setuju!]


[Buat dipamerin ke haters kamu juga, Wang!]


[Fwiwiiiittt!]

__ADS_1


Keduanya saling menatap mata, seakan memberi telepati tentang apa yang harus mereka lakukan.


__ADS_2