
Pada wawancara tersebut, tidak hanya Marcel yang menjadi narasumber. Ada beberapa karyawan lain dari NTMall yang muncul di sana. Tentunya karyawan-karyawan itu adalah pilihan Yudhis sendiri. Bahkan sebetulnya stasiun televisi yang menyiarkan wawancara tersebut juga dibayar oleh Yudhis.
“Selama beberapa tahun bekerja di sini, ini bukan pertama kalinya saya melihat Pak Yudhis bertengkar dengan Bu Nawang. Tapi, saya sih yakin kalau sebetulnya mereka baik-baik saja. Buktinya, sekarang mereka menikah.” jelas salah satu karyawan.
“Bukannya itu tanda kalau mereka benar-benar menikah secara kontrak?” tanya wartawan.
Karyawan itu menggelengkan kepalanya, kemudian menjawab, “Gak mungkin itu, Mbak. Pak Yudhis itu orangnya serius. Gak suka main-main. Gak ada untungnya buat beliau.”
Karyawan selanjutnya juga mengatakan hal yang serupa. Tidak ada yang menjatuhkan Yudhis maupun Nawang. Artinya, hanya Marcel lah yang mengatakan hampir sebaliknya. Hanya ‘hampir’, tapi cukup untuk diarahkan ke hal yang mereka berdua inginkan.
“Sudah saatnya ke rencana berikutnya. Kali ini lo yang sabar ya, Bro.”
Video sudah selesai mereka tonton. Nawang pun berdiri dari duduknya. Kemudian, sebelum pergi, dia menepuk beberapa kali bahu Yudhis yang memperlihatkan bibir monyongnya.
Setelah Yudhis yang mengerahkan kekuatan orang kayanya, kini giliran Nawang yang menggunakan kekuatan influencer. Sebagai orang yang memiliki ratusan ribu follower, tentunya Nawang memiliki teman-teman sesama pembuat konten. Dan untuk ini, Nawang sudah menggelontorkan uang hasil dari exthreme chat yang jumlahnya jutaan Rupiah.
…
Seperti rencana Yudhis dan Nawang sedari awal, sensasi berikutnya telah muncul ke sosial media. Kali ini bukan tentang pernikahan kontrak, melainkan tentang preferensi seksual Yudhis.
Mulai sesaat setelah wawancara itu ditayangkan, sudah ada beberapa editan terkait ucapan Marcel. Terutama yang mengatakan bahwa “… Sedangkan sikap Pak Yudhis sendiri pada Pria justru lebih lembut. Oh… maksud saya tidak hanya khusus pria, ya. Tapi, seperti koleganya, teman-temannya selain Bu Nawang. Pak Yudhis lebih bersikap sopan pada mereka.”
Dari ucapan itu, dibuat highlight berupa pengulangan di bagian “Pada pria justru lebih lembut.”
Dengan begitu, publik akan tergiring opini berupa Yudhis yang menyukai sesama jenis. Ini memang sebuah tindakan yang sangat beresiko, tetapi tidak akan lama. Karena, setelahnya Nawang akan mengungkap kenapa mereka beradegan seperti itu.
Sebagai langkah awal, salah satu karyawan dari divisi sekretariat memberikan link video di grup chat perusahaan beserta caption, ‘Maksud kamu gimana ini, Cel?’Isi dari link video itu tidak lain adalah wawancara Marcel di stasiun televisi yang sudah diedit sedemikian rupa.
Hanya dengan ini saja, sudah cukup membuat geger divisi mereka yang notabene cukup aktif di sosial media. Karenanya, perdebatan pun dimulai hingga Marcel pun terpojok.
__ADS_1
“Hei! Saya hanya mengatakan fakta. Coba perhatikan lagi apa yang saya katakan!” begitu pembelaannya.
Sayangnya, semua orang di divisi itu sudah tahu bagaimana Marcel sebenarnya. Karena, sebagian dari mereka sudah melihat sendiri bagaimana sikap Marcel di belakang Yudhis. Jadi, mereka langsung menyadari apa maksud sebenarnya dari kata-kata Marcel yang cukup ambigu.
Marcel terus diserang dengan komentar pedas, hingga akhirnya dia terdiam. Dia sungguh tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Padahal Marcel merasa bahwa perkataannya memang benar adanya. Yudhis yang dilihatnya tidak pernah terlihat nyaman dengan perempuan. Di matanya, Nawang juga seperti telah dianggap sebagai sahabat pria Yudhis. Karena itu, dia berani berharap pada perasaannya.
Selain di tempat kerja, video itu juga sampai di orangtuanya. Awalnya Marcel menduga bahwa orangtuanya akan membantu dalam menangkis segala hujatan yang datang padanya. Tapi, ternyata Marcel salah. Karena, dia justru mendapatkan pesan bahwa dia harus mengurus ini sendiri sebagai latihan di masa depan saat Marcel sudah memegang kendali perusahaan orangtuanya.
Mungkin tahun ini memang tahun tersial bagi Marcel. Bahkan ini semua belum selesai. Sebagai serangan pamungkas, masih ada yang Yudhis dan Nawang rencanakan di balik layar. Walau itu baru akan terjadi nanti.
“Gue keterlaluan ya, Dhis?” tanya Nawang.
“Lo pikir sendiri gimana?” Yudhis balik bertanya.
Sedari berita tentang skandalnya terangkat, Yudhis tak henti-hentinya bekerja untuk menutup terjadinya kemerosotan tajam pada saham perusahaan karena skandalnya. Sebagai seorang pemimpin, Yudhis diwajibkan memiliki image baik. Tetapi, dengan sengaja ia malah merusaknya.
Kesibukan itu terus berlangsung hingga saat ini. Malah rasanya hari ini adalah hari tersibuknya. Padahal dia masih bekerja dari rumah. Tetapi, rasanya sudah seperti mengunjungi berbagai negara dalam satu hari.
“Apaan?”
Nawang menjawab, “Creme brulee.”
Mendengar nama camilan kesukaannya, Yudhis menghentikan tangannya di atas keyboar. Fokusnya juga ia alihkan pada Nawang.
“Suapin.” pintanya.
Seketika Nawang memasang wajah enggan, tapi kemudian Yudhis lanjut berkata, “Sekalian buat konten lo.” dan barulah Nawang dengan suka ria melaksanakan keinginan Yudhis.
“Oke. Gue ambil kamera dulu bentar~!”
__ADS_1
Nawang tidak ada rencana sama sekali untuk membuat konten dengan Yudhis hari ini. Namun, mumpung kesempatan datang, dia tidak akan menyia-nyiakannya.
Beda lagi dengan Yudhis yang memang ingin disuapi oleh Nawang sekali-kali. Anggaplah sebagai refreshing dari pekerjaannya yang sangat banyak. Tapi sayangnya, dia harus menggunakan kedok konten hanya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
‘Grudak! Dak! Drak!’
Suara berisik datang dari Nawang yang membawa berbagai alat seperti lighting, tripod, dan pastinya kamera. Gara-gara itu, Yudhis pun terganggu dan menunda pekerjaannya sebentar untuk membantu Nawang memasang alat-alat tersebut.
“Makasih.” ucap Nawang.
“Lain kali bawa satu-satu aja sih, dari pada repot gini.”
“Hehehe… tanggung, kecil-kecil gini masa dibawa satu-satu. Malah capek.”
Selesai membantu Nawang, Yudhis kembali ke kursinya dan melanjutkan pekerjaannya.
“Terus, gue harus ngapain?” tanya Yudhis sambil terus memeriksa dokumen dari komputernya.
“Ya, kerja aja. Ceritanya gue nyuapin lo yang lagi serius gitu.” jelas Nawang.
Belum puas dengan jawaban Nawang, Yudhis bertanya lagi, “Terus narasinya apaan? Lo gak bakal bilang ‘suamiku malas’ lagi kan? Atau ‘Lihat nih, suamiku WFH cuma pake kaos sama celana kolor!’ Awas lo macem-macem!”
“Hahaha! Lo suudzon banget sama gue. Elaah… nggak lah! Lagian kameranya di situ.” Nawang menunjuk ke kamera yang ada di depan meja kerja. “Jadi, celana kolor barbie lo gak keliatan.”
“Terus, yang di saku dada lo apaan? Hape lo siniin dulu!”
Nawang yang ketahuan, dengan terpaksa menuruti perintah Yudhis dan memberikan ponsel pintarnya.
“Yah… gak seru, deh.”
__ADS_1
Gumaman Nawang terdengar di telinga Yudhis dan langsung mendapatkan pelototan maut dari Yudhis. Alhasil, rencana licik Nawang pun gagal. Tapi, tidak mengapa. Nawang masih bisa memberikan narasi unik tanpa memperlihatkan kolor motif barbie suaminya.