Status : Menikah

Status : Menikah
Forsir Kebablasan


__ADS_3

Yudhis tidak ada niat untuk menyerah. Dia yakin masih ada cara untuk mengambil perhatian Nawang. Sekarang dia tahu bahwa Nawang terpesona padanya yang penuh keringat dan nampak macho. Jadi, Yudhis mulai menambah porsi olahraganya.


Hari ini adalah hari ke empat semenjak Yudhis memulai operasi cintanya. Setiap hari, dia selalu masuk ke ruang gym pribadi di condonya untuk berolah raga. Namun, bukannya semakin terpesona, Nawang malah terlihat semakin bosan.


“Tiap hari olah raga, apa gak capek lo?” Nawang mulai khawatir.


Bagaimana Nawang tidak khawatir? Hari ini adalah jadwal olah raganya dan ternyata Yudhis juga ada di gym. Padahal seharusnya Yudhis sudah kelelahan bekerja, tapi masih sempat-sempatnya berolah raga.


“Hm. Ugh… gue lagi pengin benerin otot. Uuuuuffhh…” jawab Yudhis sambil melanjutkan squatnya.


Beban besi yang Yudhis angkat di punggungnya tidak main-main. 50kg di masing-masing sisinya dengan tongkatnya yang seberat 20kg.


“Ngebet banget. Olah raga tuh gak boleh tiap hari, tahu.” nasihat Nawang.


Namun, seolah tak mendengarkannya Yudhis tetap meneruskan squatnya. Dia terus melakukannya hingga beberapa menit kemudian.


Nawang pikir, saat itu pula Yudhis akan berhenti. Tapi, dugaannya salah, karena ternyata Yudhis malah menambah bebannya.


“Dhis.”


Tangan Nawang menahan tangan Yudhis agar tidak mengambil beban lagi.


“Udah, ya. Ga usah dipaksa. Istirahat aja. Otot mah, dibikinnya bertahap aja. Lagian, biar bicep lo gak segede binaragawan, lo masih cakep, kok.” Nawang menasihati Yudhis lagi.


Saat sudah saling berhadapan, barulah Yudhis sadar bahwa olah raganya sudah berlebihan. Dia jadi merasa bersalah, karena telah membuat Nawang khawatir.


“Ok.” sahut Yudhis yang akhirnya mau menurut.


Kini Nawang bisa bernapas lega.


“Lo belom minum kan? Gue ambilin botol gue ya.”


Yudhis mengangguk. Kemudian, Nawang mengambilkan botol minumnya yang dia taruh tak jauh dari sana. Tetapi, tak lama setelah Nawang membalikkan badannya, sebuah suara hantaman yang cukup keras terdengar dari belakangnya.


Seketika gadis itu menengok. Membelalaklah matanya, kala mengetahui suara apa itu.


“Yudhis!” serunya sembari secepat kilat kembali ke sisi pria itu.


Napas Yudhis terengah-engah dan dia terus memegang dadanya. Duga Nawang, ini adalah akibat dari intensitas olah raga yang Yudhis lakukan terlalu berat.

__ADS_1


“Gue panggilin dr. Galih bentar. Lo bertahan, ya!”


Dokter Galih adalah dokter pribadi keluarga Yudhis. Pikir Nawang, karena saat ini pandemi masih merebak, akan lebih baik kalau memanggil dokter ke rumah saja dibanding langsung pergi ke rumah sakit. Yang ada, bisa-bisa bukannya sembuh, malah terkena virus.


“Halo, Dok. Maaf ganggu. Bisa tolong datang ke tempat kami, Dok? Ini tiba-tiba Yudhis sesak napas.”


Suara Nawang terdengar begitu panik. Rasa bersalah Yudhis pun bertambah. Seharusnya dia tidak sok-sokan memforsir tubuhnya.


“Baik, dok. Saya tunggu ya, Dok. Alamatnya akan segera saya kirim.” ujar Nawang sebelum menutup telfonnya.


“Wang, sorry.” ucap Yudhis terbata-bata.


Nawang mendengus pasrah.


“Gue papah, ya.” tawar Nawang yang langsung memposisikan dirinya dan Yudhis.


Didudukkannya Yudhis, kemudian dia rangkulkan lengan besar itu di bahunya. Lalu, dengan sekuat tenaga dia mengangkat tubuh Yudhis agar bisa berdiri.


“Bener kan, gue bilang. Lagian lo ngapain sih, kayak gitu? Mau banting setir ke atlit binaragawan?” omel Nawang sambil mulai memapah pria yang besarnya hampir dua kali dari dirinya.


“Maaf…” ucap Yudhis penuh sesal.


Hanya itu yang bisa Yudhis ucapkan, seolah dia telah kehilangan kata-kata.


Sebetulnya, Nawang juga tidak benar-benar kuat menopang Yudhis. Dia hanya mencoba sebisanya. Ditambah, dia ingin menambah rasa bersalah Yudhis padanya.


Untung saja, dia tidak perlu naik maupun turun tangga untuk menuju kamar Yudhis. Jadi, tidak ada korban jiwa karena kelelahan yang selanjutnya.


“Woah! Hosh… hosh…” Nawang mengatur napasnya setelah meletakkan Yudhis di atas kasurnya.


Tapi, pekerjaannya belum selesai. Dia masih harus mengambilkan baju baru untuk menggantikan baju Yudhis yang basah akibat keringatnya. Segera dia pergi ke wardrobe Yudhis dan mengambilkan kaos besar, celana panjang, dan pakaian dalamnya.


“Lo bisa ganti baju sendiri gak?” tanya Nawang begitu keluar dari wardrobe.


Yudhis melenguh, lalu menjawab dengan suara paraunya, “Lo tega banget. Gue masih lemes, nih.”


Mata Yudhis terpejam, meski dia tidak tertidur. Agaknya memang pria itu sudah kehilangan tenaganya. Jadi, akan sulit baginya untuk mengganti bajunya sendiri. Tetapi, tidak mungkin juga Nawang mengganti baju Yudhis.


Sekalipun dia tidak pernah melihat seorang pria yang telanjang bulat secara live. Walaupun umurnya sudah bukan usia remaja lagi, dia tidak pernah melakukan apa yang wanita seumurannya pernah lakukan. Karena itu, wajar saja kan kalau dia merasa malu.

__ADS_1


Namun, kali ini sittasinya cukup darurat. Kalau Yudhis dibiarkan dengan pakaian basah, bisa saja dia terkena flu dan memperparah sakitnya.


‘Gluk’


“Ya, udah. Gue gantiin.” ujar Nawang memberanikan diri.


Didekatinya Yudhis, lalu dia duduk tepat sebelahnya. Dia gulung kaus singlet yang Yudhis pakai ke atas, kemudian dia angkat lengan Yudhis untuk memudahkan melepas kaus itu.


‘Gluk’


Sekali lagi Nawang menegak ludahnya, begitu melihat lengan kokoh itu. Kalau dipikir-pikir, tadi dia baru saja dipeluk lengan itu. Sebelum-sebelumnya, dia juga sering merangkulnya. Tapi, Nawang tidak pernah menyadari bahwa lengan Yudhis ternyata seindah ini.


“Nggak, Wang! Ini Tyrex lagi sakit, lo malah kehausan kayak cewek liar! Sadar, Wang!” sentaknya pada diri sendiri dalam hati.


Dengan meneguhkan imannya yang mulai goyah, Nawang melanjutkan kegiatannya. Seusai mengeluarkan lengan kanan Yudhis, kini giliran lengan kirinya. Setelah itu, tantangan selanjutnya adalah membuka celana Yudhis yang tak kalah basahnya dari kausnya.


“Ebuset. Ini gue beneran harus liat nganunya si Tyrex, nih? Ya Gusti, saya gak dosa kan liat begituan? Kan suami saya sendiri. Mohon rahmat dan petunjukmu, Ya Tuhan…” doanya dalam hati.


Yudhis yang menyadari kekikukkan Nawang sangat ingin tertawa. Tetapi, rasa sesak di dadanya menahannya.


“Gue buka ya, Dhis.” Nawang meminta ijin.


Tangan Nawang mulai menarik celana itu perlahan. Dan saat sudah hampir sampai di ‘bagian utama’-nya, tiba-tiba terdengar suara bell.


‘Ting! Tong!’


Nawang merasa ada secercah cahaya yang membantunya. Dikembalikannya celana Yudhis ke posisi semula, lalu dia bergegas menuju pintu depan untuk menyambut tamunya.


“Haaah… sayang banget.” pikir Yudhis, kecewa.


Beberapa saat kemudian, Nawang kembali ke kamar bersama seorang pria berkacamata yang nampak seumuran dengan mereka.


“Gue udah dengar dari istri lo. Gila, emangnya kalian sebrutal apa sih tiap malam, sampe lo pengin nambah stamina gitu?” goda dokter Galih yang membuat Nawang menutup kedua pipinya. Dia dan Yudhis memang berteman, tetapi tidak terlalu dekat dengan Nawang.


“Aku gak bilang gitu ya, Dok. Ngarang banget!” sangkal Nawang.


“Ya udah, gue periksa dulu bentar.”


Dokter Galih mengeluarkan beberapa alat dari tasnya, bersiap untuk memeriksa Yudhis. Sementara itu, Nawang melangkah mundur, bermaksud menyerahkan Yudhis pada dokter Galih sepenuhnya.

__ADS_1


Tetapi, sebelum benar-benar pergi, Nawang berpesan, “Anu, Dok. Habis meriksa, tolong pakein Yudhis celana yang baru, ya.”


Gadis itu tidak menerima penolakan. Nawang berlari-lari kecil dari sana meninggalkan Galih yang terheran-heran dengan kelakuan istri baru temannya itu.


__ADS_2