
Entah berapa kali Yudhis menengok ke arah Nawang malam ini. Dia ingin memastikan gadis itu baik-baik saja, terutama otaknya. Apa lagi setelah pembicaraan mereka dengan Pandu seusai makan malam.
Seperti ucapannya saat di bandara, pria paruh baya itu tidak ragu-ragu untuk langsung mendiskusikan pernikahan Yudhis dan Nawang. Dia nampak begitu bersemangat saat membicarakannya, karena ini adalah salah satu saat yang paling ditunggu-tunggu dalam hidupnya.
“Sip! Setuju ya, kalian nikah awal bulan depan tanggal 3.”putus Pandu.
“Pa, bulan depan itu tinggal 15 hari lagi, lho. Apa gak terlalu cepat?”
Yudhis memang berencana menikahi Nawang secara kontrak. Hanya saja, rencananya masih nanti. Sewajarnya saja seperti pasangan yang baru bertunangan. Setidaknya enam bulan sampai satu tahun lagi, tergantung bagaimana keadaan mereka nanti.
“Heeey… kita kan udah diskusikan tadi. Kalau kamu nolak sekarang, pembicaraan kita kan jadi mulai dari awal lagi.”
Walau disebut diskusi, seakan hanya Pandu dan Rista lah yang memiliki hak untuk berbicara. Sedangkan dua orang yang akan menikah justru tidak diberi kesempatan untuk membuka mulut mereka. Jadi, Yudhis merasa ucapan Pandu tadi sangat tidak valid.
“Gimana, Wang? Setuju kan, kalau kalian menikah bulan depan?” Rista melempar pertanyaan pada Nawang yang sedari tadi hanya tersenyum mendengar diskusi mereka.
Sebelum gadis itu menjawab, terlebih dulu dia menghela napas.
“Nawang… ikut Om sama Tante aja. Yang penting, nanti tidak perlu terlalu besar-besaran. Yah… Om dan Tante mungkin tahu sendiri bagaimana keadaan keluarga Nawang.” katanya kemudian.
Wajah semangat mereka berdua seketika luntur karena ucapan Nawang tadi. Persoalan keluarga yang Nawang maksud tadi tidaklah sederhana. Jika ini hanya persoalan uang, tentu keluarga Yudhis akan dengan sangat mudah menyelesaikannya. Tetapi, ini lebih dari itu.
“Tentu kami paham. Kita akan atur supaya rencana pernikahan kalian bisa berjalan lancar.” ucap Pandu.
Kembali ke saat ini. Nawang dan Yudhis sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah kontrakan Nawang.
Semenjak mobil keluar dari rumah Yudhis, tidak ada satu komentar pun yang keluar dari mulut Nawang. Padahal Yudhis pikir, Nawang akan menolak pernikahan mereka yang mendadak diputuskan begitu saja.
“Lo baik-baik aja kan?” tanya Yudhis khawatir.
Bisa saja Nawang memang sedang sakit. Makanya, diam saja seperti tadi.
“Gue udah mikir mateng-mateng kok semalaman.” lanjut Nawang, “Toh pasangan content creator bakal lebih praktis kalau tinggal serumah. Dan di negara ini, kumpul kebo kan dilarang. Jadi, why not?”
__ADS_1
“Serius?” Yudhis memastikannya sekali lagi.
“Udah lah. Santuy aja. Toh selama ini kita bareng terus. Gak bakal ada bedanya, kita nikah atau nggak. Percaya sama gue!”
Jawaban Nawang memang terdengar meyakinkan. Tetapi, menurutnya agak mencurigakan. Seingatnya, beberapa hari lalu Nawang masih mengelak untuk menandatangani perjanjian mereka. Sekarang justru Nawang santai-santai saja mendengar akan menikah kurang dari sebulan lagi.
…
Hari-hari berikutnya, mereka mulai disibukkan dengan persiapan pernikahan yang deadlinenya super kilat itu, sampai-sampai Yudhis lupa akan kecurigaannya pada sikap Nawang tempo hari. Mereka yang juga harus bekerja bahkan sulit mengatur waktu untuk sekedar bersantai.
“Kebaya yang ini lumayan sih, cuma kayak perlu hiasan lagi di lengannya biar gak terlalu plain.” Yudhis memberi komentar saat Nawang keluar dari ruang fitting.
“Nah, setuju banget. Tadi gue juga mikir ada yang kurang. Gue coba yang satunya dulu aja, deh. Barang kali lebih bagus.” sahut Nawang sambil berjalan kembali ke dalam ruang ganti.
Selang beberapa menit kemudian, Nawang keluar lagi dengan kebaya yang berbeda.
“Ini bagus kan, ya? Tapi, pengin ganti warnanya, nih.” Nawang memberi komentar lebih dulu.
“Gue tahu, nih…” tambah Yudhis yang kemudian secara bersamaan dengan Nawang berkata, “Rose gold.”
“Tapi, lo gak masalah pake jas warna rose gold juga?”tanya Nawang.
Dia tahu betul Yudhis tidak pernah punya koleksi barang berwarna rose gold maupun pink.
“Gampang. Gue mah warna apa aja gak masalah. Yang penting kawin, eh… nikah.” jawab Yudhis kemudian.
Pemilik butik dan asistennya yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua pun ternganga dengan bagaimana mereka berkomunikasi. Dari pengalaman mereka selama ini dalam mengurus gaun pernikahan, Yudhis dan Nawang adalah salah satu pasangan yang mereka rasa paling aneh. Ketimbang pasangan romantis, mereka berdua lebih mirip teman main layangan satu komplek.
Mereka sudah mendengar bahwa pasangan ini tadinya adalah sahabat dekat. Namun, mereka tidak menyangka kalau mereka seakrab ini. Dalam hati, mereka berharap bahwa hubungan mereka akan selalu baik-baik saja nantinya.
Selain gaun, Yudhis dan Nawang juga memilih sendiri venue yang akan mereka gunakan. Seperti rencana awal, acara tidak akan diadakan besar-besaran. Hanya keluarga dan teman dekat mereka yang diundang. Tidak ada siaran langsung seperti yang belakangan ini menjadi tren di kalangan orang kaya. Acaranya juga hanya akan digelar satu hari dengan susunan acara akad dan resepsi sederhana.
Hingga hari yang ditentukan tiba, mereka bersyukur bisa menyelesaikan semuanya. Sebagian besar tamu undangan berasal dari pihak laki-laki, yang terdiri dari orang tua, paman, bibi, dan beberapa karyawan NTMall. Sementara dari pihak perempuan, hanya mengundang teman-teman dekat Nawang saja. Dan semuanya, tidak lebih dari 70 tamu undangan. Persis seperti rencana awal mereka.
__ADS_1
Akad yang dilakukan oleh wali hakim diwarnai dengan tangis haru dari para undangan dan orang tua Yudhis. Mereka semua tidak mempermasalahkan itu dan memakluminya, walau tidak semuanya tahu permasalahan Nawang. Dan kini, akhirnya Yudhis dan Nawang pun resmi menikah.
Setelah itu, acara dilanjutkan dengan resepsi yang dipandu oleh teman Nawang yang juga seorang streamer dan diisi oleh grup band indie yang sedang naik daun. Berkat mereka, meskipun tidak banyak pengunjung, acara dapat berlangsung dengan begitu meriah.
“Akhirnya selesai juga.” ucap Nawang begitu sampai di kamar hotel tempat dia dan Yudhis menginap.
Dilepaskannya hak tinggi yang sedari tadi menghiasi kakinya dan ditaruhnya secara sembarangan. Yudhis yang masuk ke kamar setelah Nawang langsung membereskan sepatu itu dan menaruhnya ke dalam rak.
Kemudian, saat dia akan buka jas warna rose goldnya, tiba-tiba Nawang berseru, “Bentar, Dhis! Jangan dibuka dulu!”
Yudhis memutar bola matanya sambil balik bertanya, “Apaan sih, Wang? Lo malu gue buka jas? Panas, nih!”
‘Plak!’
“Nikah belum ada sehari, udah main KDRT aja. Gue gak ada fetish ke arah itu, tahu!” hardik Yudhis sambil mengusap lengannya yang tadi Nawang pukul.
“Ya, lo kepedean banget. Maksud gue, kita bikin konten dulu. Mumpung pakaian kita masih lengkap.” Nawang menjelaskan.
“Astaghfirullah, Nawang! Lo mau kita bikin konten… adaw!” Yudhis yang tidak sempat melanjutkan kata-katanya menjerit, karena lagi-lagi Nawang memukul lengannya.
“Gue gak mau channel gue kena suspend, njir. Buat apa bikin konten begituan? Merusak masa depan bangsa aja!”
Bukannya ikut marah, Yudhis justru menyeringai.
“Emang konten begituan apaan, Wang?” tanya Yudhis yang bermaksud menjebak Nawang.
“Ya… begituan. Yang gak boleh… dilihat orang. Apa lagi?” kilah Nawang.
“Emang free talk abis acara nikahan gak boleh dilihat orang?”
Nawang terdiam setelah itu. Dia terlalu malu dengan jalan pikirannya yang kotor.
“Tapi, kalau lo mau, gue gak masalah, kok.” goda Yudhis tepat di telinga Nawang.
__ADS_1
Secara reflek, lagi-lagi Nawang menyerang Yudhis yang sudah membuatnya sangat kesal. Tidak ada yang tahu seperti apa bentuk Yudhis besok. Entah tinggal badan, atau cuma remuk. Marilah kita doakan saja supaya dia selamat dari amukan istri barunya.