
Mengenal Yudhis selama belasan tahun, Nawang sudah kenyang dengan beragam sifat aneh pria itu. Namun, khusus hari ini Nawang tidak paham sama sekali dengan perlakuan Yudhis padanya.
Dimulai ketika Yudhis pulang kerja sore tadi. Tiba-tiba dia datang sudah lengkap dengan tas belanja berisi sayur dan hal-hal lain untuk keperluan bulanan. Padahal tidak ada yang meminta Yudhis untuk melakukan itu. Kemudian, begitu selesai menata semua belanjaannya di lemari pendingin, Yudhis segera ke kamarnya untuk membawa PS5 yang dia simpan di sana menuju kamar Nawang.
“Lo bisa gak, mulai sekarang kalau mau pergi bilang ke gue dulu? Nggak… maksud gue… duh… Kok kesannya gue ngekang lo, ya?”
Yudhis seperti sedang berbicara sendiri, padahal dia menghadap Nawang. Wajahnya yang nampak kebingungan memberi tahu bahwa dia ingin mengatakan sesuatu, namun dia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Sesekali dia membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali.
“Ah! Tahu, deh! Terserah lo!”
Dia tidak sampai teriak. Jadi, Nawang tahu kalau Yudhis tidak sedang marah padanya. Membentak sekalipun, Nawang tetap yakin kalau Yudhis tidak marah padanya. Karena, hari ini Nawang tidak merasa telah membuat pria itu marah.
“Lo kenapa, sih?” tanya Nawang, heran.
Keadaannya telah lebih membaik dibandingkan siang tadi. Tetapi, Nawang masih enggan keluar dari selimutnya, karena terlanjur nyaman.
“Nih!”
Bukannya menjawab, Yudhis malah memberikan salah satu dari dua controler yang dia bawa. Dia lalu duduk di sebelah Nawang tanpa ikut masuk ke dalam selimut.
Layar televisi 32inch di kamar Nawang telah menyala, menampilkan logo PS5 beserta berbagai pilihan game yang telah terinstal di dalamnya. Yudhis memilih sebuah game bergenre racing dan mengaktifkan mode split screen.
“Dhis, yakin lo mainin game ini?” tanya Nawang meyakinkan.
“Hm.” sahutnya singkat.
Bahkan satu kata pun enggan Yudhis ucapkan. Itu karena, dia takut akan mengatakan hal yang tidak sebaiknya dia katakan seperti tadi.
“Tap…”
Nawang masih ingin bertanya, tetapi permainan sudah dimulai. Aba-aba telah berbunyi dan dia pun ikut fokus pada permainan.
Sirkuit balapan yang terpilih secara random terlihat cukup rumit, karena banyak belokan dan tanjakan. Tetapi, bagi Nawang yang sudah berkali-kali memainkannya, ini tidak terlalu sulit. Dia dapat melewati semua halangan, bahkan melewati mobil Yudhis dengan cukup mudah. Hasilnya, Nawang menang telak dengan perbedaan waktu sebesar 7 detik dari Yudhis.
“Lagi.” ujar Yudhis yang sangat tidak puas dengan hasilnya.
Sayangnya, berkali-kali diulang pun tetap saja Nawang mengalahkannya tanpa ampun. Gadis itu terlalu ahli dalam game ini.
“Makanya tadi gue nanya, lo yakin main game ini?”
__ADS_1
Yudhis melepaskan controlernya, lalu merebahkan tubuhnya.
“Lo kenapa sih, dari tadi?” tanya Nawang sambil mengambil controler yang diletakkan sembarangan tadi. Dia pindahkan keduanya ke atas nakas agar tidak tertindih.
“PMS lo?” tanya Nawang lagi.
“Iya kali, ya.” jawab Yudhis asal.
Mulut Nawang menganga tak percaya. Yudhis sudah mulai ngawur. Mana ada pria yang mengalami PMS seperti wanita.
“Paling stress sama kerjaan, nih.” batin Nawang.
Namanya juga pimpinan perusahaan besar. Pasti setiap hari selalu mendapat tantangan sulit. Biasanya Yudhis tidak pernah mengeluh soal pekerjaan. Tapi, nampaknya kali ini tantangannya cukup berat.
“Kalau lo punya rikwes buat makan siang besok, bilang aja! Barang kali kerjaan lo jadi lebih ringan.” tawar Nawang.
Pria itu selalu semangat setiap kali mendapat makanan buatannya. Jadi, Nawang pikir Yudhis akan langsung menulis list makanan yang dia inginkan. Tetapi, rupanya Yudhis malah menggelengkan kepalanya.
“Nggak usah. Perut lo masih sakit kan?” tolaknya.
“Udah mendingan, kok. Paling besok udah gak kram lagi.”
‘Plak!’
Tangan Nawang langsung bereaksi menabok jidat Yudhis saat mendengar kutukan Yudhis tadi.
“Doa tuh yang baik-baik!” Nawang memperingatkan.
Tangan Yudhis masih berada di perut Nawang. Memainkannya dengan mencubit-cubit kecil.
“Perut lo lagi jelek gini, mending gak usah keluar rumah.” ujar Yudhis yang tidak peduli dengan tabokan Nawang.
‘JDUAGH!’
Kali ini bukan tabokan, melainkan tendangan yang Yudhis dapatkan dari Nawang. Dia sampai terjungkan di bawah kasur. Dan barulah Yudhis sadar dengan apa yang baru saja dia katakan pada Nawang.
Segera Yudhis berdiri dan ditatapnya Nawang yang memelototinya dengan penuh amarah. Sungguh, Yudhis lupa kalau istri kontraknya itu akan sangat mengerikan kalau sedang PMS.
“Maaf, Wang. Tadi gue gak maksud…”
__ADS_1
Belum juga Yudhis menyelesaikan kalimatnya, tapi Nawang sudah lebih dulu berteriak.
“KELUAR!”
Sebelum mendapatkan malapetakan yang lebih besar, Yudhis langsung menurut keluar. Segera dia tutup pintu kamar Nawang rapat-rapat dan kabur dari sana. Dari jauh, sayup-sayup dia mendengar sumpah serapah yang gadis itu teriakkan dari kamarnya.
Ah… Yudhis sudah terlalu parah. Tidak seharusnya dia berkata seperti itu.
“Nawang pasti mikir gue lagi ngeledek perutnya yang lagi bloating. Haa… bodo banget gue!” rutuk Yudhis.
Diingat-ingatnya bagaimana sikapnya tadi pada Nawang. Mau dilihat bagaimanapun, tadi dia terlalu kekanak-kanakan. Di umurnya yang sudah menginjak 32 tahun, seharusnya Yudhis bisa lebih jujur dan mengatakan bahwa dia tidak ingin Nawang bertemu dengan Aaron atau pria manapun yang menurutnya akan mengancam posisinya sebagai seorang suami. Tapi, dia malah uring-uringan tidak jelas.
…
Besoknya, Yudhis bermaksud untuk meminta maaf pada Nawang saat sarapan. Biasanya, Nawang lah yang membuat sarapan. Dia akan bangun jam setengah 5 pagi dan menyiapkan semuanya, sehingga Yudhis tinggal bangun dan makan. Namun secara khusus, Yudhis bangun lebih pagi dari biasanya untuk membuatkan sarapan untuk Nawang dan dirinya sendiri. Dengan begitu, pikirnya Nawang akan luluh dan memaafkannya.
Jam dinding di apartemen menunjukkan pukul 5 lebih 10 pagi. Nawang akhirnya keluar dari kamarnya dan mendapati sudah ada dua piring sandwich, lengkap dengan isiannya dan susu di dalam gelas.
“Makan, yuk!” ajak Yudhis yang kemudian menarikkan kursi ke belakang agar Nawang duduk di sana.
“Ini masih jam 5, njir! Sarapan jam segini, jam 9 udah laper lagi nanti.”
Meski berkata begitu, Nawang tetap duduk. Diminumnya susu yang juga sudah Yudhis siapkan sampai setengah gelas.
“Gue mau minta maaf soal semalam. Beneran, gue ga ada maksud ngehina atau gimana.” ucap Yudhis dengan penuh keseriusan.
“Semalam lo kenapa, sih? Butek kerjaan gak usah dibawa ke rumah lah. Mana gue lagi gak fit.”
Yudhis tertunduk, menyesali perbuatannya.
“Kalo mau, cerita ke gue juga boleh. Tapi, nanti kalau gue udah seger. Sumpah, lo kalau lagi ngambek ngeselin banget.” Nawang lanjut menghardik.
“Maaf.” hanya itu yang bisa Yudhis katakan.
Nawang mendengus, kemudian berkata, “Ya udah, lah. Gue terima maaf lo. Yang penting lo tahu kalo salah.”
Sekarang Yudhis bisa bernapas lega. Setidaknya Nawang sudah memaafkannya dan dia bisa bekerja dengan tenang tanpa harus galau nanti.
…
__ADS_1
Namun, agaknya takdir berkata kalau Yudhis memang harus galau berat hari ini. Saat dia keluar dari kantor di jam makan siang, dilihatnya Nawang yang sedang asyik mengobrol dengan Aaron di depan Cafe Setubruk.