Status : Menikah

Status : Menikah
Kucing-Kucingan


__ADS_3

Penerbangan berlangsung selama tiga jam, sehingga saat tiba di Kota D hari masih terlihat gelap. Malam hari mereka pilih agar tidak menarik perhatian wartawan. Namun, rupanya tantangan mereka cukup sulit dilakukan.


Saat tiba di bandara, rupanya beberapa wartawan sudah siap sedia untuk mewawancarai maupun mengambil gambar mereka dari jauh. Beruntung seseorang sudah menghubungi Yudhis. Karena itu, Yudhis dan Nawang dapat bersiap menghadapinya.


Untuk mengecoh para wartawan itu, sengaja mereka keluar tidak bersamaan. Topi, masker, kacamata, ataupun alat untuk menyamar lainnya tidak semuanya digunakan. Karena, penampilan seperti itu justru lebih mencurigakan.


Yudhis lah yang keluar dari bandara lebih dahulu. Jika ada yang mendatanginya, dia tinggal mengatakan bahwa sedang melakukan perjalanan bisnis. Mungkin masih mencurigakan, tapi bisa diatasi dengan sungguh-sungguh pergi ke kantor NTMall yang ada di Kota D. Setelah seluruh perhatian tertuju pada Yudhis, barulah Nawang keluar secara diam-diam.


Seperti dugaan, dua orang wartawan yang menunggu di luar bandara langsung mendekati Yudhis, tidak peduli jika dia lelah dan mengantuk. Melihat kegigihan itu rasanya Yudhis jadi ingin mempekerjakan mereka. Mungkin dengan begitu perusahaannya akan lebih maju dari sekarang.


“Anda melakukan perjalanan bisnis sendirian. Apa tidak kerepotan, Pak?” tanya salah satu dari wartawan itu.


“Di cabang ini juga banyak rekan-rekan yang bisa membantu saya.”


“Apakah selain perjalanan bisnis ini, Anda memiliki agenda lain?”


Yudhis menjeda sejenak, lalu berkata, “Tentu. Saya ingin jalan-jalan dan memberikan oleh-oleh untuk istri saya di rumah.”


“Terkait Ibu Nawang, bagaimana pendapat Bapak dengan gosip yang belakangan ini beredar?”


Yudhis menduga pertanyaan ini akan datang. Karena, memang ini adalah tujuan utama mereka. Pertanyaan sebelumnya tidak lebih dari basa-basi belaka.


Sesantai mungkin Yudhis menjawab, “Saya yang paling tahu istri saya. Jadi, saya tidak begitu peduli dengan gosip-gosip yang beredar.”


Kemudian, sebuah mobil sedan datang. Begitu mobil tersebut berhenti, keluarlah seorang pria dari dalam mobil. Pria itu kemudian menghampiri Yudhis.


“Saya Bastian yang ditugasi untuk menjemput Pak Yudhis. Mohon maaf telah membuat Anda menunggu.” ujar pria itu.

__ADS_1


Yudhis membalas, “Tidak apa-apa. Saya juga belum lama. Mari.”


Yudhis hanya memberikan senyum pada wartawan-wartawan tadi sebelum dia pergi. Untungnya jumlah mereka tidak terlalu banyak. Mereka yang masih kukuh untuk mewawancarai Yudhis pun dengan mudah dilewati.


Tapi, bukan wartawan namanya kalau tidak gigih memangsa sumber berita. Sudah ada yang bersiap mengikuti mobil Yudhis. Namun, Bastian dengan lincah dapat melajukan mobilnya agar tidak terkejar. Dan setelah berjuang selama lebih dari 30 menit, sampailah Yudhis di hotel yang akan dia tempati. Di sana Nawang sudah menunggunya.


“Selamat datang.” sambut Nawang.


Dibantunya Yudhis membawa barang-barangnya yang sebetulnya tidak terlalu banyak. Bisa Nawang lihat dari wajahnya, pria itu nampak begitu kelelahan. Bagaimana tidak? Sebelum ke kota ini, beberapa jam sebelumnya dia mengebut untuk menyelesaikan pekerjaannya. Lalu, setelah di Kota D, dia diserbu wartawan dan mungkin harus kebut-kebutan di jalanan.


Yudhis bukan tipe pria yang suka kebut-kebutan. Dia lebih suka berangkat sedikit jauh dari waktu yang ditentukan supaya bisa menikmati perjalanannya. Karena itu, wajar bila Yudhis langsung pucat begitu diajak mengebut.


“Mendingan lo mandi dulu, terus baru tidur.” saran Nawang.


Yudhis membalas Nawang dengan isyarat OK dari jari-jarinya. Dan pergilah dia menuju kamar mandi.


“Gue ga mau pindah. Capek. Kalo ga mau satu ranjang bareng gue, lo aja yang pindah.” ujar Yudhis dengan malas.


Nawang mendengus pelan. Dia juga hampir sama lelahnya dengan Yudhis dan dia malas melawan. Toh dengan badan remuk begitu, Yudhis mustahil menyerangnya. Kecuali mungkin kalau Nawang yang mulai duluan.


“Dahlah. Santuy aja. Gue juga capek.” sahut Nawang.


Sebelum memejamkan matanya, Nawang terlebih dahulu memasang alarm ponselnya agar bisa bangun tepat waktu. Baru kemudian, dalam hitungan detik mereka pun pergi ke alam mimpi.



Nawang dan Yudhis hanya tidur selama empat jam. Namun, itu sudah cukup untuk mengisi sebagian energi mereka.

__ADS_1


Sebelum pergi, mereka berdua sudah menyusun rencana. Sama seperti saat turun dari pesawat, mereka akan pergi dalam waktu terpisah. Tujuan mereka juga dibedakan terlebih dahulu. Yudhis yang terlanjur mengatakan akan melakukan perjalanan bisnis akan pergi ke kantor cabang Kota D terlebih dahulu. Sedangkan Nawang akan langsung menuju rumah sakit tempat Ayahnya dirawat.


Tidak ada waktu yang mereka buang. Sarapan pun hanya sandwich yang bisa mereka makan selama perjalanan di mobil.


“Silakan ke arah sini, Pak.”


Seorang pria dengan rambut ikal mengarahkan Yudhis saat dia sudah sampai di gedung. Yudhis pun mengikuti langkah pria tersebut.


Sementara itu, kantor cabang tersebut mendadak heboh dengan kedatangan Yudhis yang begitu mendadak. Mereka yang sudah siap sebetulnya hanya kaget saja, karena kapanpun mereka bersedia diinspeksi. Berbeda lagi dengan karyawan yang lebih sering berbuat kesalahan. Betapa gugupnya mereka saat ini. Mereka hanya bisa terus berdoa supaya tidak menjadi sasaran atasannya.


“Selamat pagi, Pak. Senang rasanya saya bisa menyapa Anda seperti ini lagi.”


Mendengar suara yang dia kenal, seketika Yudhis merasa tercekat. Tidak dia sangka akan secepat ini bertemu dengan pria yang paling dia hindari di muka bumi ini.


“Bagaimana kabar kamu di sini, Marcel? Apa sudah terbiasa dengan lingkungan baru?”


Yudhis berusaha menyembunyikan emosinya sebisa mungkin. Tidak pantas rasanya bila tiba-tiba dia mengeluarkan berbagai sumpah serapah pada Marcel di tempat seramai ini. Selain itu, Marcel pasti akan lebih senang jika emosinya terpancing. Hal itu mungkin akan menjadi hiburan yang menyenangkan baginya. Karena artinya, perhatian Yudhis saat itu tertuju sepenuhnya pada Marcel. Bukankah itu yang Marcel inginkan?


“Berkat dukungan teman-teman di sini, saya cukup betah.” jawab Marcel.


Semenjak tahu Yudhis akan datang ke kota ini, senyum Marcel tak kunjung luntur. Tak terbayangkan kerinduannya selama ini pada cinta terlarangnya itu. Jika bisa, bahkan dia ingin segera memeluknya agar perasaannya dapat terobati saat ini juga.


“Baguslah. Baik-baiklah di sini.” begitu sahut Yudhis sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


Meski singkat, Marcel dapat menangkap dua arti dalam kalimat yang Yudhis ucapkan. Arti yang menyatakan doa agar Marcel terus sehat selama di kota ini dan arti yang satunya lagi yang menyatakan bahwa Yudhis menginginkan agar Marcel tetap jauh darinya dan menetap di kota ini selama mungkin.


Betapa senangnya Marcel jika arti yang pertamalah yang Yudhis maksud. Tetapi, Marcel tahu betul bahwa Yudhis telah membencinya.

__ADS_1


“Kamu akan menyesal memperlakukanku seperti ini, Yudhistira.” gumamnya lirih.


__ADS_2