Status : Menikah

Status : Menikah
Pengendalian Emosi


__ADS_3

Kira-kira, apa yang akan Yudhis lakukan jika Nawang tiba-tiba tertidur di bahunya? Ide ini terus terpikirkan di kepala Nawang semenjak masuk ke dalam ruangan. Pasalnya, Yudhis begitu fokus menonton tanpa terlihat peduli padanya. Padahal mereka sedang berdua saja di ruangan sepi.


Karena itu, Nawang memainkan strategi ini. Bahkan dia rela tidak menonton Evil Slayer 3 hanya demi mendapat perhatian Yudhis. Namun, kalau dipikir sekarang dia kelihatan bodoh dan bucin.


Sayangnya strategi itu terlanjur Nawang lakukan dan bukan hanya bersandar di bahu Yudhis, dia bahkan mendapatkan pelukan dari pria itu.


Sebagai sahabat yang sudah saling mengenal cukup lama, hal seperti ini bukanlah skenario baru. Sebelumnya pun mereka sering tidur di satu tempat tidur sambil berpelukan baik sengaja maupun tidak sengaja. Hanya saja, sekarang Nawang sudah menyadari perasaannya. Dan begitu banyak perbedaan yang bisa dirasakan dari pelukan seorang sahabat dan pelukan seorang pria yang dia cintai.


“Selain dipeluk, gue gak diapa-apain, nih? Serius?” batin Nawang.


Dalam hati, ada sedikit rasa kecewa ketika Yudhis hanya membiarkannya tidur sambil memeluknya. Nawang pikir, berhubung dia sedang tidak sadar, Yudhis akan diam-diam menciumnya di bibir. Atau mungkin lebih dari itu.


Waktu seakan berjalan lambat saat sedang menunggu keajaiban terjadi pada mereka. Dan lama-lama Nawang pun benar-benar tertidur pulas hingga film selesai.


“Wang, bangun!”


Suara Yudhis terdengar begitu jelas di telinga Nawang. Dengan suara semerdu itu, Nawang pikir dirinya masih berada di alam mimpi. Hingga Yudhis kemudian mencubit hidungnya.


“Hmmph! Sesek, anjir!” seru Nawang kesal.


Yudhis lepaskan cubitan tangannya setelah Nawang benar-benar terbangun.


“Puaahhh!” desah Nawang begitu jalan napasnya kembali.


“Salah lo sendiri, susah banget bangunnya!” hardik Yudhis sambil meregangkan lengannya yang pegal.


Pipi Nawang menggembung dengan mulutnya yang manyun. Entah ke mana harus dia lemparkan kekesalannya. Ingin bilang Yudhis yang salah, tapi dia juga salah. Sungguh tidak disangka, dia malah betulan tertidur pulas di pelukan Yudhis.


“Lah! Filmnya udah kelar?!”


Begitu melirik ke layar lebar, yang terpampang di sana hanyalah kredit film terakhir yang diikuti dengan sebuah spoiler ‘Coming soon! Evil Slayer 4 on Summer!’


“Udah, yuk! Gue laper, nih.” ajak Yudhis sambil berdiri dari duduknya.


Nawang yang masih terpaku dengan tulisan di layar pun menengok dan menjawab dengan kaku, “O… oke. Ayo!”



Berkat tidur singkatnya tadi, rasa lelah karena begadang pun tak lagi Nawang rasakan. Dia sekarang begitu segar, tanpa menguap satu kalipun. Namun, berbeda dengan Yudhis. Sekarang justru pria itu lah yang terlihat lelah.

__ADS_1


Dalam restoran cepat saji yang mereka kunjungi untungnya terdapat sofa panjang yang cukup nyaman. Tidak senyaman sofa bioskop dan apartemen mereka pastinya, namun cukup untuk menumpahkan rasa lelah dan malas.


Mereka pilih kursi tersebut dengan buru-buru. Karena, biasanya tempat duduk itu akan cepat direbut orang lain. Kemudian, dengan inisiatifnya sendiri, Nawang pergi memesankan makanan untuk Yudhis.


“Lo pengin apa?” tanya Nawang sebelum pergi.


Yudhis perhatikan papan menu yang tertera di atas counter. Sebetulnya tidak ada menu yang menarik hatinya, tapi dia ingin cepat-cepat makan.


“Aku pilih Paket Pedes Creamy 1 pake minumnya Ice Latte aja, deh.” jawab Yudhis.


“Huh?”


Nawang merasa ada yang aneh dari cara bicara Yudhis. Pikirnya, mungkin dia begitu kelelahan, sampai cara bicaranya pun berubah. Tapi, bukannya orang justru menjadi dirinya sendiri saat sudah lelah?


Namun, dari pada itu, Nawang lebih memikirkan suara ‘kruyuk’ dari perut Yudhis yang sayup-sayup terdengar. Dia pun pergi ke counter untuk menyampaikan pesanan mereka. Baru setelah lima menit kemudian, Nawang kembali dengan sebuah nampan besar di tangannya.


Di atas nampan tersebut ada dua paket menu yang sama. Paket pedes creamy yang berisi hamburger dengan isian patty daging berbumbu pedas dan lelehan keju yang berlapis-lapis. Ada juga kentang goreng bumbu cabai dan segelas minuman coffee latte dingin sebagai pelengkap. Nawang tidak mau Yudhis menunggu terlalu lama, jadi dia samakan saja menunya.


“Lo kayaknya capek banget.” kata Nawang sambil menaruh nampan itu, kemudian duduk di hadapan Yudhis.


“Nggak. Tahu lah, orang kalau laper ya mood-nya beda. Aku juga gitu.”


“Atau… jangan-jangan kepala gue berat, ya?”


Yudhis menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Nawang.


“Kalau gitu, apa gue ileran?”


Sekali lagi Yudhis menggelengkan kepalanya. Dari pada berbicara, dia lebih memilih untuk mengambil burger yang dia pesan tadi dan memakannya.


Tadinya Yudhis kira Nawang tidak akan bertanya lagi. Tapi, rupanya masih ada satu pertanyaan.


“Apa gue ngomong kasar ke lo dalam mimpi? Atau gue ngomong yang aneh-aneh?”


Yudhis selesaikan dulu kunyahan di mulutnya, baru balas bertanya, “Emangnya kamu sering ngomong kasar kayak apa ke aku di mimpi? Jadi penasaran.”


“Ck! Ya gak gitu!” seru Nawang.


Pada akhirnya, Nawang tak juga mendapatkan jawaban sebenarnya dari Yudhis. Karena, sampai mereka selesai makan pun Yudhis lebih suka memperhatikan ponselnya dengan alasan ‘barang kali ada kerjaan mendadak’.

__ADS_1


Bahkan saat perjalanan pulang pun Yudhis tidak memperhatikannya sama sekali. Benar-benar membuat Nawang kesal.


“Udah sampe, kenapa diem aja?”


Nawang mengacuhkan pertanyaan Yudhis dan merengut.


“Haaa… kenapa lagi, sih?” pikir Yudhis.


Pria itu semakin dibuat bingung saat tiba-tiba Nawang naik ke atas tubuhnya, lalu meraih kendali kursinya hingga dia tubuhnya hampir terlentang.


“Kamu kenapa, sih?”


Nawang menirukan Yudhis, “Kamu kenapa, sih? Lo yang kenapa!”


Yudhis memalingkan wajahnya. Dia sadari posisi mereka berdua cukup berbahaya. Kalau Nawang bergerak lebih agresif, Yudhis bisa saja kehilangan kendali.


“Ih! Lihat ke sini kalau diajak ngomong!” seru Nawang sambil memaksa wajah Yudhis agar menghadapnya.


Sabar. Sabar. Sabar.


Ini adalah ujian yang begitu berat bagi Yudhis. Mungkin salahnya juga yang jatuh cinta pada perempuan bar-bar macam Nawang. Betapa Yudhis merutuki dirinya sendiri yang mulai bereaksi hanya karena tanpa sengaja Nawang memancing hal yang tidak boleh dipancing.


“Di bioskop gue bikin salah kan? Makanya lo aneh banget.”


Yudhis mendenguskan napasnya dengan kasar. Dia tatap Nawang, kemudian membalas, “Oke, kamu emang udah bikin aku capek.”


Lanjutnya, “Aku capek jadi orang sabar, kalau kamu mancing-mancing terus.”


“Mancing apaan?”


Yudhis yang tidak enak mengatakannya hanya melirik ke satu arah. Begitu mengikuti arah pandang Yudhis, seketika Nawang melotot kaget. Baru kali ini Nawang mendapati peristiwa seperti ini. Karenanya, dia bingung dan hanya terpaku tanpa bergerak.


“Penginnya tuh aku ngomong di situasi yang romantis. Atau paling nggak yang wajar-wajar aja. Makanya aku nunggu sampai rumah dulu. Tapi, kamu malah…” keluh Yudhis.


Kesempatan pertama adalah di butik. Dia ingin memuji Nawang habis-habisan saat Nawang mengenakan pakaian yang cocok untuknya. Tapi, perempuan itu malah tidak memperlihatkan gaun yang dia coba sama sekali.


Kedua, saat di bioskop. Meskipun terus diam, sebetulnya dalam kepala Yudhis sibuk melatih diri untuk mengatakan dialog yang sudah dia rencanakan sebelumnya. Tapi, Nawang malah tertidur.


Lalu, terjadilah kekonyolan saat ini. Bagaimana bisa Yudhis tidak geregetan?

__ADS_1


__ADS_2