
Jangankan Yudhis, Nawang sendiri tidak paham kenapa bisa sesedih itu hanya karena gaunnya tidak muat. Awalnya dia cuma shock saat tadi mencoba gaun hijau barunya. Dia tidak menyangka akan sesulit itu menarik ret sleting gaun itu. Saat ret sleting itu sudah berhasil terangkat, dia berkaca untuk memperbaiki lipatan-lipatan yang tidak rapi di baju itu.
Namun, di situlah awal malapetakanya. Gaun itu terlihat terlalu ketat, terutama pada area pinggul.
Mulai dari sana Nawang mulai panik. Tapi, dia mencoba tenang dan mencari gaun-gaunnya yang lain. Dan benar saja, dia memang melebar.
Nawang bukannya tidak tahu apa penyebabnya. Beberapa hari belakangan nafsu makannya sangat besar dan sulit ditahan. Tubuhnya juga makin mudah lelah dan akhirnya malah malas berolah raga.
Ini salahnya sendiri, tidak mau menjaga bentuk tubuh. Padahal sudah tahu kalau dia mudah sekali naik berat badan.
“Wang, jangan nangis, ya. Kamu masih cantik kok, walau gendutan dikit. Malah makin sexy. Aku suka.” Yudhis kembali menghibur, berharap agar Nawang sedikit tenang.
Sialnya, harapan itu gagal tercapai. Nawang malah semakin senewen dibuatnya.
“Dasar Tyrex! Mesum! Gak tahu perasaan cewek! Uwaaa!! Aku gak mau ketemu orang! Mereka pasti bakal bilang aku gendutaaan… wuuuuu…” amuk Nawang dengan tangis yang semakin menjadi. Dipukulnya Yudhis dengan bantal berkali-kali, sampai Yudhis terpaksa mundur beberapa langkah.
Tapi, bukan Yudhis namanya kalau menyerah menghadapi Nawang. Pengalamannya sebagai penjinak Nawang selama belasan tahun membuatnya begitu percaya diri bahwa Nawang yang sedang liar sekarang juga bisa dia jinakkan.
“Iya, iyaaa maaf. Aku emang gak peka soal perasaan cewek. Tapi, kamu gak perlu gini, dong. Ya?”
Yudhis tangkis bantal yang Nawang gunakkan untuk menghantamnya, kemudian dia singkirkan bantal itu jauh-jauh. Lalu, dia peluk Nawang dengan erat sambil menepuk-nepuk punggung istrinya itu.
“Udah, ya. Gak usah marah lagi, dong. Kita gak usah ke nikahannya Tirta juga gapapa, kalau kamu gak mau. Aku yang nanti minta maaf ke Tirta. Oke?”
Tidak ada jawaban dari Nawang. Yudhis mengira, mungkin Nawang sudah mulai tenang. Karena, suara tangisannya juga tidak lagi terdengar.
“Haa…”
__ADS_1
Napas lega meluncur dari mulut Yudhis. Dia bersyukur, karena tidak perlu lagi berdebat dengan Nawang.
Namun, rasa lega itu lenyap seketika saat tiba-tiba Nawang mendorongnya.
“Hhhkkk…”
Suara itu terdengar seperti orang yang akan muntah. Yudhis pun melepas pelukannya, lalu dia perhatikan keadaan Nawang yang agaknya tidak sedang biasa.
“Ya ampun, Wang! Kamu kok pucet gitu?” seru Yudhis panik.
Dia tempelkan telapak tangannya di pipi Nawang. Tapi kemudian, Nawang singkirkan telapak tangan itu dan berlari ke kamar mandi. Di sana dia muntahkan semua isi perutnya yang tidak seberapa. Sebagian besar yang keluar hanya air rasa asam.
Cukup lama Nawang muntah di kamar mandi. Yudhis yang melihatnya begitu menderita pun menjadi semakin khawatir. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.
‘Cklek!’
“Duh… heboh amat.” tanggap wanita itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mendengar suara Ibunya, Yudhis menengok. Secercah harapan muncul di tatapannya yang sedari tadi mengharapkan bantuan dari orang lain. Dia bersyukur Ibunya telah datang seperti yang dijanjikan.
“Mama!” panggil Yudhis pasrah.
Rista mendengus, lalu berkata, “Udah, Mama aja yang urus. Kamu minggir dulu sana!”
Menuruti perintah Rista, Yudhis pun mundur dari sana tapi tidak terlalu jauh. Dia masih begitu khawatir dengan keadaan Nawang.
“Dari pada cuma berdiri, mending cari minyak angin atau apa gitu!” perintah Rista lagi yang langsung Yudhis laksanakan.
__ADS_1
Pria itu bergegas mencari minyak kayu hijau di kotak P3K. Setelah ketemu, dia kembali ke tempat Nawang dan Rista. Namun, saat sudah di sana, Nawang sudah tidak lagi muntah dan Rista sudah berdiri di depan pintu toilet yang tertutup.
“Nawangnya gimana?” tanya Yudhis pada Rista.
Rista menunjuk ke arah toilet dengan dagunya. Dia berkata dengan nada riang, “Tunggu dulu aja. Bentar lagi dia juga keluar.”
“Hm?”
Yudhis yang bingung hanya bisa menunggu, seperti kata Ibunya. Namun, dia tidak bisa santai. Selama menunngu, Yudhis bolak balik duduk dan berdiri dengan gelisah.
Setelah lima belas menit kemudian, Nawang akhirnya keluar dari toilet dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ditatapnya sepasang ibu dan anak itu bergantian. Katanya, “Satu negatif, yang tiga lagi positif. Artinya gimana ya?”
Wajah Rista semakin sumringah. Bahkan wanita paruh baya itu melompat satu kali saking senangnya.
Sementara itu, Yudhis baru paham maksud Nawang begitu melihat empat buah tes pack yang digenggam di tangannya. Mungkin ini masih terlalu cepat, tetapi Yudhis juga tidak bisa menyembunyikan kegirangannya. Mulutnya menganga lebar, begitu pula matanya. Badannya gemetaran, bukan karena takut, melainkan karena dia juga ingin menangis. Bukan menangis sedih, tetapi menangis bahagia.
“Akhirnyaaa!! Akhirnya Mama bakal dipanggil nenek! Asyiiik! Lapor ke Papa, aaah…” ucap Rista dengan riang. Wanita itu mengambil ponselnya, lalu memencet dial cepat untuk menelfon suaminya yang ada di Inggris.
“Mama… kan belum pasti. Ada yang negatif, kan? Lagian Nawang juga tesnya siang-siang begini. Kali aja salah.” ujar Nawang. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang dia cintai dengan memberikan harapan palsu.
“Dokter… kita ke rumah sakit sekarang. Ayooo!”
Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Begitu pula Yudhis yang tidak kalah riang. Saking semangatnya, dia sudah bergerak mempersiapkan berbagai kelengkapan untuk periksa di rumah sakit. Dia juga mengambil satu setel pakaian untuk Nawang pakai.
Semua Yudhis persiapkan dengan secepat kilat. Dia sungguh tidak sabar menunggu kabar baiknya nanti. Kalaupun kabar itu tidak seperti harapannya, itu juga bukan masalah baginya. Mereka hanya perlu berusaha lebih keras lagi. Yang terpenting dia dan Nawang akan selalu bersama dan saling menyayangi. Bukankah itu arti dari sebuah status pernikahan?
SEASON 1 TAMAT
__ADS_1