Status : Menikah

Status : Menikah
Undangan Nikahan Mantan


__ADS_3

Berkali-kali Nawang terus mengulang video yang baru saja dia ambil, seolah itu adalah video terbaik yang dia rekam. Padahal isinya cuma Yudhis yang sedang mengusap keringat dan tertawa memperhatikan tingkah Nawang. Tapi, itu sudah cukup membuat Nawang ikut tersenyum.


Seandainya Yudhis melihatnya sekarang, bisa hancur image-nya. Pria itu pasti akan menertawakannya lagi dan meledeknya habis-habisan. Karena itu, Nawang memastikan bahwa pintu kamarnya terkunci rapat.


“Ini orang kenapa makin ganteng aja, siiih? Kan gue jadi baper!” ujarnya.


Pujian demi pujian untuk Yudhis meluncur dengan mulus dari bibirnya yang lebih sering dia gunakan untuk cekcok. Dari dulu Nawang telah mengakui berbagai keunggulan Yudhis baik sebagai teman atau sebagai pria. Tapi, tidak pernah terbayangkan oleh Nawang bahwa suatu hari nanti akan fangirl-ing pada sahabatnya sendiri hingga separah ini.


“Wah… kalau dari angle ini, Yudhis jadi kayak dewa-dewa Yunani.” puji Nawang lagi.


Cuma itu perbandingan yang tepat menurut Nawang. Dia tidak bisa membandingkan orang lain dengan Yudhis, karena di matanya jelas Yudhis lah yang lebih enak dipandang. Dulu saat mencari pacar pun selalu dia bandingkan dengan Yudhis. Jika pria yang menyukainya memiliki setidaknya 50% dari yang Yudhis miliki, dia baru akan bersedia menjadi pacar mereka. Tapi, kurang dari satu bulan berpacaran, Nawang akan mulai bosan dan mengacuhkan mantan-mantannya, dan akhirnya putus.


Bagi para pria itu, jelas itu adalah perlakuan yang kejam. Sudah memberi harapan, malah dibuang begitu saja. Tak ayal barisan para mantan itu banyak yang menyimpan dendam pada Nawang.


Namun, yang namanya perasaan tidak bisa dipaksakan. Karena itu, selalu Nawang yang menunggu dicampakkan. Dia tidak ingin harga diri para mantannya lebih tercabik-cabik jika Nawang yang memutuskan hubungan mereka.


“Jangan-jangan emang dari awal gue naksir Yudhis kali ya… Haaa… Tahu begitu, gue gak usah pacaran. Salah besar banget gue sama mantan-mantan gue. Ini kayaknya yang namanya karma, deh. Tuhan mau ngasih peringatan kalau gue terlalu tamak. Jadi, dikasih cobaan jatuh cinta sama cowok yang belum tentu bakal ngebales cinta gue.” batin Nawang.


Dia tidak mau menampik lagi perasaannya pada Yudhis. Sedari awal pun hanya itu jawaban yang tepat untuk perasaannya. Dia hanya takut salah mengira gairah dan obsesi dengan cinta, karena selama ini dia tidak pernah berpacaran atau memiliki hubungan dengan pria berlandaskan cinta.


‘Ping!’


Alis Nawang bertaut saat sebuah notifikasi obrolan muncul di layar ponselnya.


“Gangguin orang nonton aja!” geramnya yang tidak sempat melihat nama pengirim pesan tersebut.


Dengan enggan Nawang membuka aplikasi chatnya dan dia temukan siapa pengirim pesan yang mengganggunya itu.

__ADS_1


“Tirta?”


Nama salah satu mantan pacar Nawang tertera di sana. Dia klik nama tersebut, lalu membaca pesannya.


“Lah! Mau nikah dia!”


Di pesan itu, Tirta menyematkan sebuah gambar undangan yang ditujukan pada Nawang. Tirta juga membagikan lokasi pernikahannya dan sebuah pesan, [Awas kalau gak dateng!]


Segera Nawang balas pesan tersebut dengan [Gue tanya boss lu dulu.].


Tirta mungkin satu-satunya mantan pacar yang masih berhubungan baik dengan Nawang. Karena, dia adalah karyawan Yudhis dan kadang bertemu di kantor NTMall. Mereka masih saling menyapa dan hanya itu komunikasi yang mereka lakukan setelah putus sekitar empat tahun yang lalu. Keduanya juga putus secara baik-baik. Karena, kasusnya kurang lebih sama.


Jika Nawang terlalu peduli pada Yudhis, maka Tirta lebih perhatian pada sepupu jauhnya. Bahkan nama perempuan yang dinikahinya pun tidak lain adalah nama sepupu jauhnya itu.


[Gak usah. Barusan banget Pak Boss bilang mau bawa lo ke nikahan gue.] balas Tirta tak lama kemudian.


“Wang! Udah tidur?” panggil Yudhis.


Yang dipanggil pun bangun dari kasurnya. Dia buka pintu tersebut dan nampaklah seorang pria dengan kaus putih dan celana kolor bergambar spongebob. Melihat celana itu, bayangan tentang Yudhis yang seksi pun memudar. Namun, saat dia menaikkan pandangan matanya, pemandangan yang dia lamunkan sedari tadi pun kembali.


“Ini cowok gap-nya aneh banget, sumpah.” pikir Nawang.


“Kenapa?” tanyanya kemudian.


“Mumpung besok hari masih libur, kita jalan, yuk! Itung-itung cari baju buat ke nikahannya Tirta.” jawab Yudhis.


Dia nampak begitu bersemangat saat ini. Bayangan Yudhis, ini adalah kesempatan untuk berkencan dengan Nawang. Setelah PSBB waktu itu, rasanya jarang sekali mereka berkencan.

__ADS_1


“Nikahannya Tirta kan masih dua minggu lagi. Ngapain beli baju sekarang?”


Agaknya kode yang Yudhis berikan kurang kuat. Nawang seperti tidak menangkap maksud dari ajakannya itu.


“Yhaaa kan jadinya bisa beli duluan baju yang lo pengin. Terus, kalau ukurannya gak pas bisa disesuain.”


Nawang mulai paham dengan maksud Yudhis. Dan otaknya seolah berhenti bekerja saat menyadari bahwa ini sama saja dengan kencan. Nawang dan Yudhis memang sudah sering pergi bersama berdua, tetapi sebelumnya Nawang hanya menganggap itu sebagai bepergian bersama teman. Kini setelah mengakui perasaannya, Nawang tidak bisa lagi menganggapnya sama.


“Gimana? Apa besok lo sibuk?” Yudhis bertanya.


“Ng… gak, sih.”


“Jadi, fix ya. Kita pergi besok.”


Nawang tidak menjawab, karena terlalu grogi. Tidak menyadari itu, Yudhis menangkup wajah Nawang dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajahnya.


“Dandan yang cantik, ya.” pesan Yudhis yang kemudian melepas tangkupan itu dan kembali ke kamarnya sendiri.


Seketika pipi Nawang merona dibuatnya. Dia pikir tadi Yudhis akan menciumnya, tapi malah pergi. Betapa malunya Nawang saat ini, karena salah kira. Tetapi, lebih dari itu, Nawang merasa kecewa karena perkiraannya tidak terjadi.



Yudhis segera pergi bukan tanpa alasan. Saat mata mereka saling bertemu tadi, Yudhis merasa ada yang tidak biasa dari Nawang. Tatapan perempuan itu padanya sangat berbeda dari biasanya yang lebih cuek. Selain itu, dari telapak tangannya bisa dia rasakan kehangatan di pipi Nawang yang memerah.


Yudhis mendekatkan wajahnya, karena ingin menggoda Nawang saja. Tetapi, malah tadi Yudhis yang tergoda. Tatapan itu terlalu panas untuk dia terima. Tetapi, Yudhis belum bisa memastikan bahwa tatapan itu adalah tatapan seseorang yang sedang jatuh cinta. Mungkin kalau Yudhis terlalu lama di sana, akan ada batas yang dia lewati. Dan dia tidak ingin bila setelahnya dia justru menyesal.


“Jadi gue kok susah banget. Mau cium istri aja harus izin dulu. Kalau gak diizinin, terus maksa, ujung-ujungnya bakal cerai.” batinnya.

__ADS_1


Yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah terus berusaha agar Nawang membalas cintanya. Namun sebelum itu, Yudhis harus memberanikan diri untuk menyatakan cintanya terlebih dahulu. Dan kencan besok adalah hari penentuan baginya.


__ADS_2