
Pagi yang cerah menyapa sepasang pengantin baru yang baru saja membuka mata mereka. Yudhis yang bangun lebih dahulu sedikit kaget, karena ada sebuah wajah yang tidak asing baginya di sebelahnya. Tetapi, itu tidak lama. Dia langsung ingat bahwa dia dan sahabat perempuannya baru saja melaksanakan pernikahan kemarin.
Setelah pergulatan yang tidak berfaedah semalam, mereka begitu kelelahan dan memutuskan untuk langsung tidur saja daripada membuat konten. Yudhis kira, Nawang akan memaksanya membuat konten. Tapi, justru gadis itulah yang lebih dulu pulas di atas kasur.
“Wang, bangun. Udah lumayan siang, nih.”
Yudhis menepuk-nepuk pundak Nawang beberapa kali.
“Mmmh… jam berapa sih, emang?”
Dengan enggan, Nawang bangun sambil mencutik kotoran di matanya. Dia terkejut, karena bukannya kotoran mata, malah bulu mata palsunya yang copot. Dia baru ingat kalau semalam dia tidak membersihkan wajahnya.
“Mampus gue! Habis ini pasti jerawatan.”
Suaranya masih terdengar serak setelah bangun tidur. Energinya juga belum sepenuhnya kembali. Namun, Nawang harus memaksakan dirinya untuk bangun menuju kamar mandi.
“Duluan aja. Gue abis lo.” ujar Yudhis saat Nawang meliriknya.
Nawang pun melanjutkan perjalanan singkatnya. Sementara itu, Yudhis membereskan kasur yang begitu berantakan.
Tidak ada rasa kikuk di antara mereka. Seperti biasanya, mereka menjalankan aktivitas pagi dengan wajar. Mungkin karena malam tadi bukanlah kali pertama mereka tidur di atas kasur yang sama.
‘Ting-tong!’
Baru sebagian kecil Yudhis membereskannya, suara bel di kamarnya terdengar.
“Mama?”
Pintu kamar Yudhis dan Nawang terbuka dan menampakkan sosok Ibunya yang begitu sumringah. Melihat pakaian yang dikenakan serta hand bagnya, Yudhis pikir Rista akan pergi ke suatu tempat.
“Mama udah mau check out. Kamu siang nanti kan ke Jogjanya?” tanya Rista.
Yudhis mengangguk. Tujuan bulan madu mereka adalah Yogyakarta. Meski tidak terlalu jauh, di sana cukup nyaman dan seru. Yogyakarta juga merupakan tempat Yudhis dan Nawang merantau saat kuliah. Dan lagi pernikahan mereka dilaksanakan secara mendadak. Akan merepotkan kalau mereka harus mempersiapkan liburan yang lebih jauh lagi.
__ADS_1
“Nawangnya mana?” tanya Rista lagi.
“Lagi di kamar mandi.” jawab Yudhis.
Rista sedikit mengintip ke belakang Yudhis dan mendapati kamar mereka yang begitu berantakan. Melihat itu, Rista kesulitan menahan senyum di bibirnya. Namun, untuk mengkonfirmasi kegiatan mereka semalam, dia mendekat ke kasur.
Dibukanya bantal-bantal yang terlempar sembarangan, termasuk yang jatuh di lantai. Lalu, sampailah pada bantal di tengah kasur mereka. Diangkatnya bantal itu dan terlihatlah sebuah bercak kemerahan di sana.
Senyum Rista pun terbebas. Sambil memandang puteranya yang hanya mengenakan celana boxer dan kaus singlet di hadapannya, Rista berkata, “Mama bangga sama kamu.”
Alis Yudhis bertaut saat ia memikirkan apa maksud Ibunya. Lalu, saat dia melihat bercak kemerahan itu, barulah dia sadar.
Senyum yang terkembang di bibir Yudhis agak terpaksa. Dia tidak menyangka Ibunya akan datang pagi ini dan memeriksa kamarnya. Lalu, karena melihat bercak merah itu, Ibunya sampai mengira kalau dia dan Nawang habis melaksanakan yang biasanya dilaksanakan pengantin baru. Padahal sebetulnya itu adalah bekas haid yang tanpa sengaja menempel di atas bed cover.
“Untung ada bed cover buat jadi alas biar gak kena gue. Tidur satu kasur juga gak was-was. Tapi, ternyata ada untungnya juga Nawang kena haid.” batin Yudhis.
Sebagai sahabat yang kenal dekat selama belasan tahun, Nawang dan Yudhis sudah beberapa kali menghadapi persoalan serupa. Entah saat Nawang lupa membawa pembalut, saat lupa masa haid, atau saat jadwal haid Nawang yang mendadak berubah karena apalah alasannya. Bahkan Yudhis juga yang menolong haid pertama Nawang saat SMA.
Gara-gara itu, Yudhis jadi teringat bagaimana dia diam-diam masuk ke WC perempuan di SMA-nya hanya untuk memberikan pembalut pada Nawang. Gadis itu bahkan tidak punya teman perempuan yang bisa membantunya saat itu.
“Iya, Tan… Eh, Mama?” sahut Nawang yang langsung mengenal pemilik suara itu.
“Kalau masih sakit, gak usah dipaksa, ya! Istirahat yang cukup! Mama mau pulang duluan!” seru Rista lagi.
Nawang hanya mendengar bagian belakang dari yang Rista ucapkan, karena suara shower di kamar mandi. Dia menjawab, “Iya, Ma! Hati-hati di jalan, ya! Maaf, gak bisa nganterin!”
“Santai aja, Sayang! Kamu baik-baik ya, sama Yudhis!”
Wanita paruh baya itu beralih berbicara pada Yudhis, “Ya udah. Mama pergi dulu. Kalau udah sampai Jogja, bilang ya.”
“Siap. Mama juga hati-hati di rumah.” balas Yudhis yang kemudian memeluk Ibunya.
Selang beberapa detik, mereka melepas pelukan dan Rista berpesan, “Inget. Jangan ngamar mulu. Di sana ajak Nawang jalan-jalan!”
__ADS_1
Rasanya kecut juga dianggap sebagai pria yang tidak bisa menahan hawa nafsu oleh Ibunya sendiri. Tapi, bagi Yudhis narasi ini lebih menguntungkan dari pada nantinya dicurigai.
“Tenang aja. Di sana kita bakal liburan sepuas hati. Tunggu aja kabar baik dari kami sepulang dari Jogja.” janji Yudhis.
Sengaja tidak Yudhis perjelas kabar baik apa yang dia maksud. Karena, dia sendiri tidak yakin kabar apa yang akan disampaikannya nanti. Tetapi, dengan berkata demikian saja sudah membuat Rista memendam banyak harapan.
…
Siang harinya, sesuai jadwal, Yudhis dan Nawang pergi ke Jogja dengan menggunakan pesawat jet pribadi yang dipersiapkan oleh Pandu, Ayah Yudhis. Perjalanan mereka untungnya cukup lancar. Hanya saja Nawang dan Yudhis harus tetap diawasi oleh beberapa anak buah Pandu di pesawat itu. Alhasil, mereka harus tetap sok mesra walau di tempat tertutup.
Kemudian, mereka tiba di Jogja saat hari sudah mulai gelap. Dari bandara, mereka langsung dijemput oleh seorang supir yang juga adalah karyawan Pandu.
Mereka hanya bisa mendengus kasar, karena merasa tidak bebas. Padahal ini adalah liburan mereka, tetapi ada saja orang yang mengikuti untuk mengawasi mereka.
“Harusnya lo gak usah terlalu kaya, Dhis.” keluh Nawang lirih.
“Bukan gue yang kaya, tapi ortu gue yang kaya kebablasan.” timpal Yudhis yang sependapat dengan Nawang.
Perjalanan menuju hotel mereka berdua habiskan dengan bermain mobile game tanpa mempedulikan tatapan sopir dari kaca spion. Ini menandakan bahwa keduanya sudah lelah berpura-pura. Jadi, mereka pikir, bersikap seperti biasa juga tidak masalah. Nanti mesra-mesraannya dilanjut besok atau lusa.
‘Kacang kamu tidak ada gunanya. I hate your nuts!’
Suara Chef Juna yang dijadikan ringtone oleh Nawang terdengar saat dia masih memainkan game-nya. Seharusnya semua notifikasi sudah dia matikan dan orang-orang yang mengenalnya seharusnya tahu kalau tidak seharusnya Nawang dihubungi saat berbulan madu. Tetapi, nyatanya yang menelfonnya ini justru orang yang sangat dekat dengannya.
“Ada apa, Tin?” tanya Nawang setelah mengangkat telfon tersebut.
Dengan nada bicara yang gugup, Tina di seberang sana menjawab, “Wang, coba lo buka DM dari gue! Ada berita penting!”
Segera setelah sambungan terputus, Nawang membuka DM yang Tina maksud. Dan betapa terbelalaknya Nawang saat tahu apa isi berita itu.
“Dhis.”
Nawang memberikan ponselnya pada Yudhis, dan ekspresi Yudhis pun tidak kalah terkejut dari Nawang.
__ADS_1
“Kok bisa, dokumen perjanjian kita dipublish begini?” gumam Yudhis, tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Ada orang yang telah menyebarkan dokumen perjanjian terkait status hubungan percintaan Yudhis dan Nawang.