Status : Menikah

Status : Menikah
Love is Crazy


__ADS_3

Selama ini Yudhis selalu hidup tanpa sesal. Tetapi, sejak semalam ada satu hal yang ternyata dia sesali.


“Tahu bakal gini, harusnya aku ngomong dari dulu.” ucapnya sambil membelai rambut Nawang yang tengah tertidur di sisinya.


Sengaja dia tidak membangunkannya walau jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Mana tega Yudhis membangunkan Nawang setelah semalaman dia membuat wanita itu kelelahan. Saking lelahnya, Nawang sampai tidak bangun saat alarm ponselnya berbunyi.


Yudhis lalu bangun dari tempat tidur, bersiap untuk berangkat ke kantor. Suara langkahnya dia pelankan agar tidak mengganggu Nawang. Begitu pula saat dia menutup pintu kamar mandi.


Begitu pintu tertutup, Nawang yang sedari tadi pura-pura tidur pun bernapas lega. Dia membuka sebelah matanya untuk memastikan bahwa pria itu benar-benar sudah tidak memperhatikannya. Setelah itu, barulah dia membuka kedua matanya lebar-lebar.


“Semalam itu beneran ternyata…” batin Nawang.


Meskipun sudah sadar cukup lama, Nawang masih mengumpulkan nyawanya yang berserakan. Serpihan demi serpihan dia kumpulkan, tetapi jika mengingat lagi malam pertamanya bersama Yudhis yang begitu panas, serpihan itu kembali berpencar. Tubuhnya yang remuk redam juga tak bisa membantunya sama sekali.


Saking malunya, Nawang tidak ingin menunjukkan wajahnya walaupun sekarang dia sedang sendirian. Kalau bisa, dia ingin kembali ke alam mimpi dan menganggap alam mimpi tersebut adalah kenyataan. Namun, saat tertidur pun dia akan melihat bayangan Yudhis dan dirinya malam tadi.

__ADS_1


“Mumpung orangnya gak ada, gue kabur aja lah, ya.” pikirnya.


Dia lilitkan bed cover untuk menutupi seluruh tubuhnya. Kemudian, dengan langkah tertatih, dia keluar dari kamar Yudhis.



“Nawang! Aku berangkat dulu, ya!” seru Yudhis dari luar kamar Nawang yang terkunci dari dalam.


Nawang masih belum juga keluar dari persembunyiannya walau sudah lebih dari satu jam lamanya dia di sana. Ingin rasanya Yudhis menerobos pintu yang terbuat dari kayu itu. Toh, dia memiliki kunci masternya. Tetapi, Yudhis tidak mau memaksa.


‘Ckreak!’


Tidak disangka, ternyata permohonan Yudhis bisa cepat terkabul. Saat Yudhis sudah membalikkan badannya, tiba-tiba pintu itu terbuka dan kepala Nawang muncul dari sana.


“Makan siangnya… gimana?” tanya Nawang tanpa menatap langsung mata Yudhis.

__ADS_1


Yudhis kemudian menengok. Dia menjawab, “Kamu pasti masih capek. Aku makan di cafe-nya Aaron aja nanti.”


Dalam hati, Nawang bertanya-tanya, “Sejak kapan Yudhis akrab dengan Aaron?”


Seingatnya Yudhis sangat tidak suka pada pria berkewarganegaraan Australia itu. Di awal perkenalan mereka, Yudhis juga sangat curiga dan berhati-hati padanya. Tapi sekarang, agaknya sudah tidak lagi.


“Udah, ya. Aku berangkat. Baik-baik di rumah. Jangan ke mana-mana!” peruintah Yudhis sebelum mengecup bibir Nawang.


Itu bagaikan serangan dadakan bagi Nawang. Padahal semalam mereka sudah melakukan hal yang lebih dari itu. Tetapi, sekarang hanya dengan satu kecupan saja sudah membuat seluruh tubuhnya lemas.


Jantungnya yang berdetak keras menjadi semakin tidak karuan. Pipinya memanas dan mungkin sudah semerah paprika merah. Dengan kesadarannya yang sudah sangat tipis, dia berusaha memegang gagang pintu kamarnya agar tidak terjatuh.


Sekarang Yudhis sudah tidak lagi ada di hadapannya. Dan dia baru menyesal tidak menahan pria itu, meski hanya sebentar.


“Jatuh cinta tuh gila, ya.”

__ADS_1


__ADS_2