
“Belakangan gue pernah denger, nih. Lo… maksud gue, temen lo tuh lagi sexually frustrated kayaknya.” Tina menanggapi curhatan Nawang tentang pengalaman ‘temannya’ yang terjadi akhir-akhir ini.
“Hah!? Ngarang banget! Mana ada!” Nawang menolak habis-habisan.
Hari ini Tina berkunjung ke apartemen Nawang untuk mendiskusikan konten mereka satu bulan ke depan. Awalnya diskusi berjalan lancar, hingga Tina mendapati Nawang yang lebih banyak melamun dari pada fokus pada diskusi mereka. Karena itu, Tina menanyakannya dan malah mendapatkan jawaban yang cukup mengejutkan.
Dia lalu melanjutkan,
“Gini, lo bilang temen lo belakangan suka liatin bibir suami kontraknya, terus nganggap kalau bibirnya seksi kan?”
Nawang menjawab dengan anggukan.
“Terus, lo bilang kalo temen lo sering ngebayangin bicep suami kontraknya. Ngebayanginnya meluk aja, atau ada rasa pengin ngelakuin yang lebih?”
“Kayaknya pengin cium… gigit…”
Jawaban Nawang itu membuat mulut Tina menganga lebar. Tidak disangka, ternyata temannya sudah seakut itu.
“Satu pertanyaan lagi. Temen lo kalau liat cowok lain juga ngebayangin hal itu gak?”
Kali ini Nawang mencoba berpikir terlebih dahulu. Dia bayangkan dulu bagaimana pendapatnya tentang pria selain Yudhis. Apakah dia merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan pada Yudhis atau tidak.
“Kayaknya… nggak, sih. Biasa aja yang lain mah.”
Meski tidak berjenggot, Tina mengelus dagunya. Dari sini dia sudah mendapatkan kesimpulan.
“Kayaknya emang yang gue bilang tadi, sih. Cuma, lo… maksud gue, temen lo nafsunya sama suaminya aja. Mungkin ada benih-benih cinta atau semacamnya gitu. Tapi, temen lo gak sadar.”
Seketika Nawang mencubit kedua pipi Tina dan memulurkannya lebar-lebar.
“Gue kan udah bilang kalau itu gak mungkin! Impossible! Arienai! Maldo andwae! Mereka tuh cuma nikah kontrak. Ga ada cinta-cintaan!” Nawang semakin mengeluarkan tenaganya untuk menolak teori Tina.
Dalam hati Tina mempertanyakan tujuan Nawang. Dia yang cerita dan tanya sendiri, giliran Tina kasih pendapat malah ditolak terus. Lalu, apa gunanya meminta pendapat? Jangan-jangan sebenarnya Nawang hanya ingin membuat Tina kesal.
“Terus mau lo, temen lo itu sebenernya kenapa? Gue kasih pendapat doang elaaah… Males dengerin gue jadinya.” keluh Tina.
__ADS_1
“Ya, gimana kek? Yang jelas, gue yakin mereka gak ada perasaan ke sana.”
Tina memutar bola matanya.
“Lo tahu dari mana kalau gak ada perasaan cinta di antara mereka? Kan udah jelas banget kayak gitu. Di novel sama sinetron aja banyak tuh, pasangan kontrak yang akhirnya beneran jatuh cinta.”
Dibandingkan dengan novel dan sinetron, Nawang mendengus.
“Suaminya tuh cuek banget. Dalam artian, kayak gak terjadi apa-apa gitu. Padahal sering dipeluk, hampir ciuman, macem-macem lah!”
Tidak terbayangkan di kepala Tina, seorang Yudhis yang cuek dan tidak peduli pada Nawang. Menurutnya, malah sangat jelas sekali bahwa Yudhis menyayangi Nawang lebih dari seorang sahabat. Dari gerak geriknya saja sangat terlihat se-posesif apa pria itu pada Nawang. Namun, nampaknya Nawang sama sekali tidak menyadarinya.
“Itu suami kontrak kasihan banget…” gumam Tina lirih.
“Hah? Gimana?” tanya Nawang yang merasa mendengar sesuatu.
“Nggak. Lo pikirin sendiri aja! Sekarang lanjutin lagi diskusi kita soal konten bulan depan. Gue udah pengin pulang aja, nih!”
Siapa yang tidak jengah kalau pendapatnya ditolak terus? Dari pada terus membicarakan kisah cinta yang tidak jelas ujungnya, lebih baik segera selesaikan saja urusan utama mereka, lalu pulang. Begitu pikir Tina.
Nawang sendiri masih ingin membicarakan Yudhis. Namun, dia juga tidak bisa memaksa kalau Tina tidak mau mendengarkannya.
Sementara waktu, mungkin Nawang harus bersabar dulu. Atau mungkin sebaiknya Nawang cari sendiri jawaban atas pertanyaannya.
…
Waktu menunjukkan pukul 11 malam dan Yudhis tak kunjung pulang. Sebagai seorang boss di sebuah perusahaan, Nawang menyadari bahwa itu hal yang wajar. Yudhis adalah orang yang sangat sibuk dan sebelum ini dia juga pernah menginap di kantornya. Jadi, seharusnya Nawang mewajarkannya. Tapi, entah kenapa kali ini rasanya sangat berbeda.
Mungkin, karena Yudhis lebih sering berada di rumah selama PSBB. Jadi, Nawang merasa aneh saat pria itu lama di luar.
“Haaa… Tyrex lama banget… Nginep di kantor kali ya?” gumam Nawang sambil meng-scroll berbagai acara yang ada di NTFlix.
Kira-kira sudah dua puluh drama yang dia coba nikmati. Tetapi, belum juga setengah episode dia tonton, langsung dia ganti ke drama yang lain.
“Telfon aja kali ya?”
__ADS_1
Diraihnya ponsel pintarnya, lalu mencari kontak Yudhis di aplikasi messenger. Namun, kemudian dia urungkan.
“Kalau lagi sibuk, nanti ganggu. Jangan, deh.”
Ditaruhnya kembali ponsel itu di atas meja. Kemudian, dia fokus kembali ke layar televisi mencari-cari drama yang bisa mengusir kebosanannya.
‘Ceklek’
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka. Mengingat pintu apartemen ini menggunakan password untuk membuka kunci, sudah pasti yang datang adalah penghuni apartemen ini. Selain Nawang dan Yudhis, paling yang tahu passwordnya adalah Rista dan Pandu, orang tua Yudhis yang notabene menghadiahkan apartemen ini pada mereka. Tetapi, memangnya untuk apa mertuanya datang berkunjung malam-malam begini?
Segera Nawang hampiri pintu itu untuk menyambut Yudhis.
“Tyrex! Lu lam…a bang… et.”
Nawang terpaku melihat kondisi pria di hadapannya yang terlihat lusuh dan berantakan. Rambutnya yang biasanya rapi begitu acak-acakan, bau alkohol juga merebak dari tubuhnya, jas abu-abunya dia cangking di tangan, dan kemeja warna krem polosnya tak lagi polos. Ada noda merah berbentuk bibir di sana.
Yudhis tahu ke mana arah tatapan Nawang. Karena, memang noda merah itu terlalu mencolok.
“Gue bisa jelasin.” katanya sambil menaruh sepatunya di rak.
Di luar Yudhis terlihat sangat tenang, tetapi sebenarnya dalam hati dia sangat panik. Takut kalau Nawang salah paham padanya. Padahal Yudhis tidak salah apa-apa, tapi dengan noda lipstik di kemeja, rasanya dia seperti sedang dipergoki selingkuh.
“Nggak perlu jelasin. Gue paham, kok. Gak masalah juga kalau… lo sama…”
Yudhis memotong sebelum Nawang melantur ke mana-mana.
“Tadi Si Mitha mabuk pas makan malam bareng klien. Gue anter pake mobil, bopong dia ke rumahnya, terus malah jadi korban nih baju. Mana habis itu, gue dibentak sama Banyu di telfon gara-gara ngebiarin Mitha mabuk.” keluh Yudhis.
Toh dia tidak salah apa-apa, jadi jujur saja sekalian. Tapi, agaknya Nawang tidak menyukai kejujurannya. Terlihat jelas dari pelototan matanya yang semakin lebar dan napasnya yang menderu dengan dada yang berkembang kempis.
“Gue di sini melek nungguin lo, malah lo mabuk sama cewek lain? Mana mabuknya sama istri orang!” bentak Nawang.
Mencoba tenang, Yudhis menjawab, “Cuma Mitha yang mabuk, guenya nggak. Lo kan tahu gue gak boleh mabuk, karena alergi. Nyium baunya aja sampe biduran gini. Untung udah sedia EpiPen, jadi gak parah-parah banget efeknya.”
Dia perlihatkan bagian dada dan sikunya yang kemerahan penuh bentol-bentol alergi pada Nawang. Seketika kemarahan Nawang pun berubah menjadi kekhawatiran. Dia tarik lengah Yudhis agar pria itu duduk di sofa. Kemudian, diambilkannya minyak kayu hijau untuk meringankan bidurannya.
__ADS_1
“Pake, nih!” ujar Nawang sambil menyerahkan minyak kayu hijau itu pada Yudhis.
Yudhis tak juga mengambil minyak itu dari tangan Nawang, dan justru berkata, “Pakein!”