Status : Menikah

Status : Menikah
Alasan


__ADS_3

Tidak bisa menahan amarahnya, Nawang langsung melempar bantalan sofa di belakangnya pada Yudhis. Tetapi, reflek Yudhis yang cukup baik membuatnya terhindar dan bantal itu pun tidak mengena padanya.


“Coba jelasin! Lo emang sengaja kan? Gosip belakangan ini kerjaan lo semua kan?”


Yudhis yang kagum akan insting Nawang bertepuk tangan saking kagumnya. Walau sayangnya, insting tersebut kalah cepat dengan pergerakan Yudhis yang tidak terprediksi.


Detik berikutnya, rasa senang karena telah berhasil mengerjai Nawang pun sirna. Karena, gadis itu tidak melanjutkan marahnya seperti biasa, tapi malah menangis sesenggukan.


“Lo kenapa nangis? Bentar, bentar. Gue ambilin tisu.”


Diambilnya tisu di meja kerja Yudhis, kemudian diberikannya pada Nawang segera. Nawang yang mengambil tisu itupun langsung mengusap mata dan pipinya.


“Sumpah, lo tega banget. Padahal gue udah khawatir gimana nasib lo habis gosip ini. Gue udah nyesel sama kelakuan gue yang maksa lo buat bikin konten bareng. Malah, lo giniin! Asem!” seru Nawang sambil sesekali sesenggukan.


Yudhis yang tidak menyangka dengan reaksi ini pun diam seribu kata. Dia pikir, reaksi Nawang akan seperti biasanya. Nawang akan marah-marah, lalu akan meminta sesuatu dari Yudhis sebagai permintaan maafnya. Tapi ternyata, justru Nawang lah yang merasa bersalah padanya.


“Ya ud…” Yudhis sudah ingin menjawab, tetapi tiba-tiba tidak jadi.


Ada hal aneh menurutnya. Tidak mungkin tiba-tiba Nawang yang dia kenal belasan tahun jadi secengeng ini. Yudhis menyadari bahwa ini bukan Nawang yang sebenarnya.


“Jangan-jangan si kancil ini ngerencanain sesuatu.” pikirnya.


Dan firasatnya itu terbukti saat tanpa sengaja melihat mata Nawang dari balik tangannya yang tidak nampak kemerahan seperti orang menangis. Tidak ada pula jejak air mata di pipinya.


“Yaa… gimana dong? Udah terlanjur juga. Kita ngaku sekalian aja kalau sebenernya selama ini kita pacaran.”


Mata Nawang membola, karena kaget triknya untuk membuat Yudhis merasa bersalah tidak mempan. Dia kini sadar bahwa pria itu sudah terlalu kebal dengannya.


“Aghr! Parah lo, Dhis! Gue ogah pacaran sama lo! Cuih!”


Mendengar hinaan itu, Yudhis berpura-pura sakit hati. Ditatapnya Nawang dengan mata sayunya sambil memegang dadanya.


“Harusnya lo beruntung bisa pacaran sama gue yang handsome, rich, young, and tall.” ujar Yudhis menyombongkan diri.


Nawang juga mengakui bahwa Yudhis termasuk dalam empat kategori pria idaman itu. Tetapi, rasanya dia tidak ingin mengatakannya langsung di depan Yudhis.


“Najis!”


Lagi-lagi hinaan lagi yang keluar dari mulut Nawang untuk Yudhis.

__ADS_1


“Emangnya gue gak ngerasa najis juga? Gue tuh juga udah terpaksa banget, tahu!?” balas Yudhis yang membuat dahi Nawang berkerut.


“Emang ada apaan?” Nawang mulai penasaran.


Yudhis mendenguskan napasnya kasar. Kemudian, mulai menceritakan keluh kesahnya pada Nawang.


“Lu inget Marcel kan?” tanya Yudhis.


Nawang mengangguk. Pria itu sudah hampir lebih dari lima tahun lamanya bekerja di NTMall. Dan sebagai orang yang sering bolak balik ke kantor ini untuk bertemu Yudhis, tentu Nawang mengenal pria berkulit putih itu.


“Dia naksir sama gue.”


Ruangan itu hening selama beberapa saat hingga suara tawa Nawang memecahkan keheningan itu.


“Hahaha! Bercanda aja lo! Masa sampe kayak gitu? Hahahaha!” gelak gadis itu sambil memegangi perutnya.


Namun, ekspresi Yudhis sama sekali tidak berubah. Artinya, saat ini Yudhis memang sedang serius. Karena itu, Nawang pun berhenti tertawa.


“Se… serius, Dhis?”


Yudhis melemaskan bahunya di senderan sofa, lalu menjawab, “Serius. Dan lo tahu sendiri kalau orientasi gue gak ke sana.”


“Jadi, gue minta supaya lo pura-pura jadi pacar gue. Dan sebagai gantinya, gue bakal bantuin channel lo dengan jadi influencer couple.”


Bukan tawaran yang buruk memang. Content creator yang menunjukkan kehidupan pribadi dengan pacarnya juga sedang populer. Terlebih, pasangannya adalah Yudhis yang telah memberikannya banyak view dan subscriber hanya dengan dua video singkat.


“Tapi, emang Marcel se-obvious apa sama lo, sampe kita harus pura-pura gini?”


Jika tanpa alasan yang kuat, Nawang tidak mau langsung menyetujuinya. Takutnya, lagi-lagi Yudhis mengerjainya seperti biasa.


“Sini gue kasih liat!”


Yudhis mengayunkan tangannya agar Nawang ikut dengannya.


Saking penasarannya, Nawang pun mengikuti pria itu menuju meja kerja.


Kemudian, Yudhis mulai membuka-buka folder yang dia simpan di komputernya. Dan dikliklah sebuah folder berjudul ‘file laknat’ yang berisi rekaman dari CCTV perusahaannya sendiri.


“Gue saranin lo ambil tong sampah buat jaga-jaga.” ujar Yudhis sambil menyodorkan tong sampah kosong berbentuk tabung lengkap dengan kresek yang melapisinya.

__ADS_1


Tanpa bertanya lagi, Nawang mengambil tong sampah itu. Dia sudah terlalu penasaran dengan isi video yang akan Yudhis perlihatkan padanya.


“Silakan tonton dengan seksama, dan gue mau ke toilet dulu biar gak lihat.” ucap Yudhis sambil meng-klik salah satu video di folder itu.


Saat video itu mulai berputar, Yudhis sudah lebih dulu pergi ke kamar mandi di ruangannya, sedangkan Nawang menggantikannya duduk di kursi kerja Yudhis.


Selama dua menit pertama, tidak ada yang spesial dari video itu. Hanya rekaman CCTV biasa yang dipasang di salah satu pantry kantor. Hingga muncullah Marcel yang akan membuat teh dengan sebuah cangkir yang dia kenal.


Cangkir itu dipesankan oleh Ibu Yudhis dari pengrajin terkenal di China dengan desain khusus dan hanya satu-satunya di dunia. Jadi, tidak mungkin ada yang menyamai.


Video itu kemudian menunjukkan Marcel yang sedang memanaskan air dengan ketel elektrik. Selama air belum mendidih, dia mempersiapkan teh celup ke dalam cangkir. Kemudian, hal yang membuat Nawang melongo pun terjadi.


Marcel dalam video tiba-tiba menarik sehelai rambutnya, kemudian menaruhnya ke dalam cangkir Yudhis. Tak lama kemudian, ketel pun berbunyi dan Marcel pun menuangkan air panas dari ketel ke cangkir. Saat air sudah cukup memenuhi cangkir, Marcel mengambil rambut di dalam cangkir itu dengan jarinya tanpa mempedulikan seberapa panas air yang ada di dalamnya.


“Kalau udah selesai dan lo belum percaya, lo bisa tonton video lainnya!” seru Yudhis dari dalam kamar mandi.


Nawang memang belum sepenuhnya sependapat dengan Yudhis. Bisa saja Marcel melakukan itu justru karena dia membenci Yudhis atau ingin iseng saja. Jadi, dia tonton lagi video yang lain.


Namun, keputusannya amatlah salah. Karena, video selanjutnya yang dia tonton jauh lebih parah dari pada video di pantry tadi. Dan akhirnya tong sampah yang Yudhis berikan tadi pun benar-benar berfungsi. Nawang muntah saking tidak kuatnya melihat video yang adegannya sulit dan tidak pantas digambarkan dengan kata-kata itu.


“Mau gay kek, straight kek terserah. Tapi, hoekkk!!!”


Nawang memang bukan orang yang berpaham tradisional. Walau tidak sampai menyetujui hubungan sesama jenis, Nawang tetap berpikir bahwa mencintai siapapun adalah hal wajar. Tetapi, jika sudah sampai ke taraf ekstrim seperti Marcel ini, walaupun Marcel adalah seorang wanita yang mencintai Yudhis sekalipun, perbuatannya tetaplah salah.


“Hoeeekkk!!!”


Muntahan kedua Nawang terdengar cukup keras. Yudhis yang khawatir pun segera keluar dari kamar mandi.


“Anjay! Lo sampe pucet banget gini. Maaf ya, maaf…” ucap Yudhis sambil mengelus-elus pundah Nawang.


Sambil terus mengelus pundak gadis itu, dia mematikan komputernya agar tidak semakin membuat Nawang mual. Sementara itu, Nawang memandang Yudhis dengan tatapan penuh kesedihan.


“Gue gak nyangka, Dhis. Sumpah… hmmpk.” lirihnya.


Kini penyesalan benar-benar datang pada mereka berdua. Nawang yang merasa kasihan dengan Yudhis ingin segera memeluk pria naas itu erat-erat, namun keadaannya tidak memungkinkan.


“Kita ke dokter, ya. Sumpah lo pucet banget sekarang. Gue khawatir lo kenapa-kenapa.” ajak Yudhis.


Nawang yang setuju pun mengangguk pelan.

__ADS_1


Sambil terus menutupi mulut dan memegangi perutnya, Nawang keluar dari kantor bersama Yudhis untuk pergi ke dokter. Saking terburu-burunya, mereka mengacuhkan segala sapaan untuk mereka… juga tatapan curiga dari beberapa orang yang mereka lewati.


__ADS_2