Status : Menikah

Status : Menikah
Sang Ayah


__ADS_3

Seperti biasa, video apapun yang berhubungan dengan Yudhis selalu menjadi perbincangan hangat. Tertama saat di kantor. Banyak yang tidak mengira bahwa bos mereka yang terkenal galak dan disiplin menjadikan ruangannya sebagai ‘sarang cinta’ bersama sang istri.


“Saran gue, sebaiknya lo jangan keseringan bawa istri lo ke kantor, deh. Ntar bawahan lo malah pada ikutan.” tegur Mitha saat menyerahkan laporannya pada Yudhis untuk ditandatangani.


“Haaa...” Yudhis hanya mendengus menanggapi Mitha.


Dalam hati, Yudhis juga paham akan kesalahannya. Apa yang dia lakukan kemarin, walaupun mereka tidak sungguh-sungguh bermesraan, tetap saja akan terlihat tidak profesional. Nawang juga menekankan poin itu saat memarahinya habis-habisan tempo hari.


“Bayangin aja. Suami gue datang ke sini, terus gue sama dia nganu di dalam ruangan. Lo juga marah kan? Tapi, itu jadi gak adil buat gue. Karena, lo juga pernah ngelakuin itu di ruangan lo sendiri.”


Wanita di hadapannya ini memang terkenal dengan mulutnya yang tajam tanpa ampun. Mitha akan terus menohok lawan bicaranya walau orang itu sudah sekarat dibuatnya, dan baru selesai saat sudah merasa puas. Dengan kata lain, mirip dengan Ibunya, Rista.


“Coba lo bayangin juga gimana perasaan karyawan lo yang mau masuk ruangan ini. Lo pikir, mereka gak bakal awkward, atau malah jijik ngebayangin ada hal nganu yang pernah terjadi di sini?” Mitha melanjutkan ceramahnya.


Mendengar rentetan tiada henti itu, Yudhis sudah semakin jengah. Dia pun mempercepat tugasnya.


“Udah, nih!” ujar Yudhis sembari menyerahkan setumpuk dokumen pada Mitha.


Mitha terima dokumen itu, kemudian dia periksa satu per satu bagian.


“Oke. Udah lengkap. Gue balik dulu.” sahutnya kemudian.


Wanita itu berdiri dari duduknya, kemudian berjalan menuju pintu. Namun, sebelum itu, dia lanjut berkata, “Camkan omongan gue.”


“Iyaaa...” balas Yudhis sedikit malas.


Baru setelah Mitha keluar, Yudhis bisa bernapas lega. Dia gosok-gosok kupingnya yang memanas dengan botol air dingin di mejanya.


“Gak lagi-lagi, deh....” tekadnya.


Penyesalan memang selalu datang belakangan. Dan itulah yang Yudhis rasakan sekarang. Gara-gara idenya yang ingin menunjukkan kebucinan sang istri padanya, sekarang Yudhis lah yang malah kena getahnya.


Masalahnya bukan hanya pada bagaimana sekarang karyawannya memandangnya, tapi juga pada kehidupan sehari-harinya. Biasanya, kalau jam makan siang Nawang akan datang membawakan makanan. Tetapi, sekarang istrinya hanya menitipkan bekal makanannya pada Kris atau delivery service lainnya.


Kira-kira ini sudah berjalan selama empat hari. Yang artinya, jatahnya untuk bertemu Nawang jadi semakin berkurang. Padahal dia harus berangkat jam 7 pagi untuk menghindari macet dan sering pulang di atas jam 7 malam. Jelas ini sangat merugikannya.


Tetapi, paling tidak ini juga mengurangi kekhawatirannya tentang Aaron. Dengan begini, kesempatan mereka untuk bertemu juga berkurang.


‘Ting!’

__ADS_1


Perhatian Yudhis pun teralihkan pada notifikasi di ponselnya. Sebuah pesan dari salah seorang anak buahnya yang dia tugasi untuk mengawasi Marcel muncul di sana.


[Baru saja ada laporan bahwa Marcel pergi ke Kota D. Kami sedang berusaha mengejarnya.]


Jika membicarakan Kota D, hanya satu hal yang bisa Yudhis ingat. Tetapi, mungkin juga dugaannya salah.


[Terus kejar. Jangan sampai kalian kehilangan jejak!] perintah Yudhis.


[Baik!] balas pria itu, tak lama setelahnya.


Meskipun sekarang jarak mereka sudah sangat jauh, Yudhis tidak bisa lengah begitu saja. Marcel, di luar penampilannya, selalu memiliki rencana-rencana di luar nalar jika sudah berhubungan dengan dirinya. Dia yakin sampai saat ini pun Marcel masih belum menyerah tentangnya dan sedang merencanakan sesuatu lagi.


...


Kota D


Suara gemercit jeruji besi terdengar memekik telinga. Dari balik jeruji itu, muncullah seorang pria tua berambut cepak. Di belakangnya, seorang pria lain berseragam sipir.


Pria tua itu lalu diminta duduk di sebuah kursi, menghadap ke sebuah kaca pembatas dengan beberapa lubang kecil untuk berbicara. Di seberang kaca itu, duduklah seorang pria kurus yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.


“Pak Beni, kesempatan Anda 15 menit. Mohon digunakan dengan baik.”


“Siapa Anda?” tanya pria tua itu.


“Saya adalah temannya Nawang, puteri Anda. Nama saya Marcel.”


Beni memicingkan matanya, karena curiga. Puterinya saja tidak pernah datang mengunjunginya. Sekarang, seorang pria yang mengaku sebagai temannya malah datang mencarinya.


“Ada apa Nak Marcel datang ke mari?”


Marcel tersenyum, lalu menjawab, “Saya hanya ingin menyampaikan pesan dari puteri Anda. Nawang berkata bahwa dia ingin ke mari, tetapi sebelum itu dia ingin memastikan bahwa Anda bersedia dikunjungi olehnya.”


Membalas senyum Marcel padanya, Beni berkata, “Tentu saja. Saya akan sangat senang bila bertemu dengannya.”


...


Malam harinya, dengan langkah terseok-seok Yudhis masuk ke dalam apartemennya. Dia buka pintu apartemen itu, dan seketika semangatnya kembali saat dia mencium aroma sedap dari dalam sana.


Setelah merapikan sepatunya, dia segera menuju sumber aroma itu. Di sana, Nawang tengah membereskan beberapa alat masak yang baru dia gunakan.

__ADS_1


Ingin rasanya Yudhis langsung memeluk istrinya itu dari belakang. Tetapi, dia juga tahu diri. Hubungannya dengan Nawang belum sampai ke arah yang dia inginkan. Bisa-bisa, bukannya pelukan balasan, bogeman lah yang dia dapat. Tetapi, melihat penampilan Nawang yang menggoda itu, entah sampai kapan Yudhis bisa bertahan.


“Aseeemm... Ini bocah sengaja nggak sih, pake apron sama baju pendek banget gitu di depan gue?” gerutu Yudhis dalam hati.


Sebisa mungkin Yudhis menahan gairah yang muncul di kepalanya, karena dia tidak ingin dibenci oleh Nawang. Diambilnya napas dalam-dalam, kemudian menyapa, “Wang. Masak apaan?”


Nawang menengok ke arah Yudhis, lalu menjawab, “Gue masak kare Jepang sama ayam katsu. Ganti baju dulu, gih!”


“Ok.” sahut Yudhis singkat.


Langkahnya sedikit berat meninggalkan Nawang di sana. Dia belum puas melihat Nawang dengan apronnya. Tapi, dia juga sadar kalau tidak segera ganti baju, kebersamaannya dengan Nawang akan semakin tertunda. Karena itu, dengan segera dia mencari baju apapun yang bisa diraihnya di wardrobe.


Tepat selang lima menit kemudian, Yudhis sudah keluar dari kamarnya dengan baju yang berbeda. Dia ambil piring dari rak, lalu membuka rice cooker. Namun, piring itu segera Nawang rebut sebelum dia menaruh nasi ke atas piring itu.


“Udah, biar gue aja. Lo kan capek. Duduk aja di sana.”


Ah... mau seberapa besar apa lagi cintanya pada Nawang bertambah. Suami mana yang tidak senang dilayani dengan begitu lembut oleh istrinya selepas kerja. Sungguh, pikirnya tidak ada istri yang lebih baik dari Nawang.


Ayamnya mau dua atau satu?”


Yudhis langsung menyahut, “Dua. Kuah karenya juga yang banyak.”


“Oke... Nih.”


Nawang letakkan piring berisi nasi katsu kare itu di atas meja, tepat di hadapan Yudhis. Kemudian, dia duduk di seberang pria itu.


“Makasih.” ucap Yudhis sambil mengambil sendok dan garpu.


Selama Yudhis menyantap makanannya, Nawang terus memperhatikan pria itu. Yudhis jadi punya firasat lain tentang ini. Kalau dipikir-pikir, Nawang tidak akan selembut ini kalau tidak ada maunya.


“Kalau mau ngomong sesuatu, ngomong aja.” ujarnya.


Alis Nawang seketika naik, karena merasa niatnya ketahuan.


“Hm... gue cuma mau minta ijin buat ke MT Land bareng Aaron hari Sab...”


Yudhis memotong, “Gak boleh.”


Dengan cepat Nawnag meraih piring Yudhis untuk direbutnya kembali. Tetapi, tangan Yudhis jauh lebih cepat menahannya.

__ADS_1


“Kecuali kalau gue ikutan.” tambah Yudhis kemudian.


__ADS_2