Status : Menikah

Status : Menikah
Penderitaan Orang Tampan


__ADS_3

Aplikasi yang dia cari ada di dalam sana. Karena letaknya ada di dalam folder bersama aplikasi lainnya, Yudhis tidak menyadari ada yang berbeda di sana.


Untuk diteliti lebih lanjut, Yudhis tidak langsung menghapusnya. Dia berikan ponsel berisi penyadap itu pada Kris yang segera dia panggil setelahnya.


“Saya akan segera hubungi lagi. Tapi, sebelum itu saya harap Anda berdua tidak menggunakan ponsel atau alat komunikasi lain yang terhubung ke internet lebih dulu selama beberapa jam.” Pesan Kris sebelum membawa ponsel milik Yudhis.


Mereka berdua terpaksa menurut demi keselamatan. Hingga sekitar satu jam kemudian, Kris menelfon Yudhis lagi untuk mengabarkan hasil yang didapatnya.


“Gimana, Kris?” tanya Yudhis.


Dari seberang telfon, Kris menjelaskan, “Anda berdua tidak perlu khawatir lagi. Kami sudah mencari tahu tentang aplikasi ini. Walau custom made, aplikasi ini hanya bisa digunakan untuk melacak lokasi orang yang sedang dihubungi. Tetapi…”


Lanjutnya, “Saya khawatir Anda tidak bisa menggunakan ponsel ini lagi. Karena, aplikasi ini tidak bisa dihapus walaupun sudah diinstal ulang.”


Yudhis mendengus pasrah. Ini salahnya sendiri yang lengah dan terlanjur menerima panggilan dari Marcel waktu itu.


“Gak masalah. Kamu urus saja soal itu.” perintah Yudhis.


“Baik, Pak.” sahut Kris.


"Oh, iya. Jangan buang dulu ponselnya. Kita masih perlu memanfaatkannya.” Yudhis menambahkan.


“Tentu, Pak.”


Setelah sambungan telfon mereka terputus, Yudhis memutuskan untuk membaringkan badannya di atas kasur. Jiwa dan raganya sudah terasa lelah, dan hari juga sudah menggelap. Sudah saatnya untuk para penghuni bumi tertidur.


Yudhis pejamkan matanya, berharap dia akan segera pergi ke alam mimpi. Namun, karena rasa khawatir yang seakan sudah menggerogoti otak, Yudhis tak kunjung terlelap. Dia masih merasa tidak tenang dan takut, barang kali masih ada penyadap lainnya.


‘Tok! Tok!’


Ketukan pintu terdengar diikuti dengan suara Nawang dari luar kamar Yudhis.


“Dhis, lo udah tidur?”


Yudhis membuka matanya kembali dan menjawab, “Masuk aja, Wang!”


Dibukalah pintu kamar oleh Nawang. Lalu, dia nyalakan lampu kamar yang sebelumnya telah Yudhis matikan.


“Gue udah dikasih tahu sama Kris.” kata Nawang sembari duduk di sebelah Yudhis.


Wajah Yudhis terlihat begitu pucat. Keringat juga cukup banyak mengucur di keningnya. Yudhis jarang seperti ini, sehingga Nawang cukup khawatir dibuatnya.


“Lo gapapa kan?” tanya Nawang sembari mengelap peluh-peluh itu dengan tisu yang diambilnya di atas nakas.


Pelan-pelan Nawang mengelapnya hingga peluh itu berkurang cukup banyak. Tapi, tiba-tiba Yudhis menggenggam tangannya, sehingga Nawang pun berhenti.


Yudhis genggam tangan Nawang dengan dua tangannya. Lalu, dia berkata, “Lo mau peluk gue bentar gak?”

__ADS_1


“Hah?”


Nawang yang bingung mengangkat dua alisnya.


“Kalau lo gak mau, gue yang peluk, ya.”


Tanpa menunggu izin, Yudhis pun memeluk Nawang dengan dagunya bersandar di bahu Nawang.


Dengan jarak mereka yang begitu dekat, Nawang serasa dapat merasakan detak jantung Yudhis yang begitu kencang. Napasnya yang agak tercekat pun dapat didengarnya tepat di samping telinga.


“Jujur gue takut, Wang.” bisik Yudhis.


“Takut?”


“Kenapa gue harus ganteng, sih? Aww!”


Gara-gara kenarsisannya, perut Yudhis jadi sasaran cubitan Nawang.


Yudhis longgarkan pelukannya untuk melotot pada gadis itu, lalu berkata,“Sakit, jir! Gue lagi serius gini malah dicubit!”


“Sadar diri, dong! Tadi narsisnya kayak apa?” balas Nawang yang ikut kesal.


“Sebodo! Dengerin dulu pokoknya!”


Yudhis pun kembali mengeratkan pelukannya.


“Widya yang dulu ketua cheerleader di SMA?” Nawang balas bertanya.


Yudhis mengangguk di bahu Nawang.


“Yang dulu ngaku jadi pacar lo?”


Sekali lagi Yudhis mengangguk membenarkan.


Kalau mengingat nama itu, Nawang juga jadi ikut sebal. Pasalnya, Widya pernah melabraknya hanya gara-gara dia mengajarkan Yudhis materi yang belum dipahami. Tapi, bukan Nawang namanya kalau hanya gara-gara itu langsung menciut. Dia terus memprovokasi Widya, hingga Widya bosan sendiri dan berhenti.


Tidak. Lebih tepatnya, karena Nawang punya pacar beberapa minggu semenjak peristiwa labrak-melabrak itu, Widya menyadari bahwa Nawang bukanlah saingannya. Jadi, Widya pun tidak mempedulikan Nawang lagi.


“Lo inget gak, dulu dia tiap hari kasih gue bekal makan siang. Tapi, gue sadar ada yang gak beres. Terus, gue kirim sample makannya ke lab. Dan di sana gue tahu kalau ada campuran… ehem… darah cewek di sana.”


Ini adalah cerita yang baru Nawang dengar tentang gadis bernama Widya itu. Nawang tahu bahwa Widya cukup ekstrim, tapi tidak dia sangka se-ekstrim itu.


“Gue jijik banget sampe muntah berhari-hari dan gak bisa makan. Terus, akhirnya harus dirawat di rumah sakit selama seminggu.” Yudhis melanjutkan ceritanya.


“Jadi, itu sebabnya waktu itu lo gak masuk?”


“Mm… yah, untungnya gue punya kekuatan orang kaya dan berhasil keluarin Widya dari sekolah.”

__ADS_1


Nawang mengingat-ingat hari saat Widya tiba-tiba keluar dari sekolah. Tidak ada lasan yang jelas tentang hal itu. Karena, setelah itu beberapa anak satu angkatannya mengatakan bahwa mereka melihat Widya di kota itu.


“Terus lo ingat Tony?”


Sudah lama Nawang tidak mendengar nama itu. Gadis itu menjawab, “Inget. Temen satu jurusan lo di univ. Kan? Kayaknya udah lama banget gue gak ketemu dia.”


“Dia gue kirim ke Ellesmere.” balas Yudhis.


“Hah!?” sentak Nawang yang kaget mendengar nama salah satu pulau paling utara di dunia itu.


“Dia pernah hampir perkosa gue pas dia nginep di apartemen gue.”


Seketika Nawang tercekat mendengarnya. Dia sama sekali tidak menyangka sahabatnya pernah mengalami kejadian seperti itu. Pantas saja Yudhis begitu was-was. Dan kenapa dia sampai tidak tahu tentang itu?


“Sorry.” lirih Nawang.


Dibalasnya pelukan Yudhis saat itu juga, lalu dia tepuk-tepuk ringan. Kini dia paham kenapa pria itu begitu khawatir dan ketakutan. Rupanya Yudhis memiliki trauma seperti itu.


“Untungnya, waktu itu gue bisa ngelawan dan kabur. Jadi, sampai sekarang gue masih perawan, eh… perjaka.” Yudhis mencoba menceritakannya dengan candaan, namun tidak terdengar secuilpun tawa dari bibir Nawang.


“Kenapa gak cerita? Lo gak nganggep gue?”


“Malu.” jawab Yudhis singkat.


“Biasanya lo juga malu-maluin. Hmph… hiks.”


Yudhis longgarkan pelukannya untuk memastikan apa yang baru dia dengar.


“Lah! Kok lo yang nangis? Harusnya gue yang pengin nangis banget!”


Sambil mengusap air matanya, Nawang menjawab, “Lo kasian banget, Dhis. Kenapa sih, lo harus ganteng? Oplas aja ngapa, biar jelek!”


Sekarang justru Nawang yang bertanya begitu.


“Pfft…” Yudhis menahan tawanya.


Setelah menceritakan semua itu pada Nawang, agaknya perasaan Yudhis menjadi lebih tenang. Mungkin memang seharusnya dia bercerita dari dulu. Tetapi, rasa gengsinya sebagai pria terlalu tinggi. Itu saja belum semuanya yang dia alami. Masih ada banyak cerita lain yang satu persatu akan dia ceritakan pada Nawang bila dia sudah siap. Untuk saat ini, biarlah dia simpan terlebih dahulu.


“Gue capek, pengin tidur. Lo juga sebaiknya balik ke kamar. Kita omongin rencana kita kedepannya besok pagi.”ujar Yudhis kemudian.


“Hmm… sebenernya gue udah punya ide sih, makanya dateng ke sini. Tapi, kalau lo capek… besok aja, deh.”


Yudhis masih mengantuk, tetapi dia juga penasaran.


“Spoiler dikit, deh!” pintanya.


“Haa… oke” Nawang mendengus.

__ADS_1


“Intinya, besok kita ke kantor lo buat bikin sensasi.” lanjutnya.


__ADS_2