Status : Menikah

Status : Menikah
Bekal Penuh Dusta Part 1


__ADS_3

Sebagai warga Indonesia yang baik dan tahu budaya, tentu saja Yudhis dan Nawang tidak melakukan apa yang para penonton itu minta. Meskipun status mereka adalah suami istri, yang namanya ciuman tetap tabu jika dilakukan di depan umum. Bagaimana kalau ada anak-anak yang tanpa sengaja menonton video ini? Selain itu, mereka berdua juga terkekang dengan peraturan di surat perjanjian mereka yang baru.


“Aeyyy… toh nanti kalian juga bakal liat di vlog kami nanti. Sabar aja, ya. Bisa aja kalian bisa nemu adegan apaa gitu.” tolak Nawang, sekalian promosi.


Penonton kecewa, tapi ada juga yang biasa saja. Karena, sebetulnya mereka juga hanya bercanda. Dan tidak lama setelahnya, semangat mereka kembali menyala, begitu Yudhis mengumumkan sebuah hal.


“Oh, iya. Dalam rangka merayakan pernikahan saya dan Nawang, nanti akan ada give away mobil dari kami. Juga, mulai besok, bagi yang suka belanja di NTMall, siap-siap akan ada flash sale besar-besaran.”


Mata Nawang seketika membola. Dia tidak tahu sejak kapan Yudhis menyiapkan itu semua. Dan lagi, hanya untuk sebuah pernikahan kontrak, dia sampai melakukan perayaan sebesar itu. Apa ini tidak terlalu sia-sia nantinya?


“Oh, ada yang nanya lagi. Dari @Rhevanii. Mau nanya, gimana sih awal perkenalan kalian?” Yudhis lanjut membacakan komentar penonton dan langsung menjawabnya.


Dia ceritakan bagaimana mereka bertemu saat SMA dan persaingan mereka dalam memperebutkan kursi nomor 1 di sekolah. Diceritakannya juga tentang persaingan mereka hingga akhirnya mereka berteman dan kini menikah. Tentu ada hal yang ditutupi, tetapi tidak ada yang terlalu dilebihkan. Semua mengalir dengan apa adanya dari sudut pandang Yudhis.


Untungnya, setelah itu tidak ada pertanyaan menjebak lainnya. Hanya beberapa pertanyaan simple yang menemani mereka hingga satu jam kemudian.



Yudhis dan Nawang sudah siap di dalam jet pribadi. Dengan ditemani personel yang sama pada saat berangkat, mereka pun telah menyiapkan beberapa skenario kalau-kalau para awak pesawat akan melapor pada bos mereka yang tak lain adalah Ayah Yudhis sendiri. Tetapi, saat ini mereka masih bisa bersantai. Karena, para awak pesawat juga tidak ingin mengganggu pasangan pengantin baru itu.


“Lo gapapa kasih give away mobil segala?” tanya Nawang.


Sambil memberikan air mineral pada Nawang, Yudhis menjawab, “Santai aja lah.”


“Tapi, kita kan gak beneran.”


Yudhis meneguk terlebih dulu air mineral di tangannya.


“Kita kan nikahnya beneran, cuma dalam ikatan kontrak aja. Jadi, anggap aja itu perayaan buat gue yang akhirnya lepas dari kata jomblo.” jelas Yudhis dengan santai.


“Tapi, gue gak enak, Dhis. Lo keluarin banyak duit buat sandiwara sama gue gini.”


Pundak Nawang turun bersamaan dengan dengusan napasnya.

__ADS_1


“Lo kebanyakan ngomong ‘tapi’. Dari pada gitu, mendingan lo pikirin gimana cara bantu gue buat lepas dari Marcel.”


Perkataan Yudhis menyadarkan Nawang akan satu hal. Yudhis tidak memberikan semua itu demi dirinya, tetapi demi diri Yudhis sendiri.


“Oh. Iya juga, ya.” gumam Nawang.


“Jadi, biar semua berjalan lancar, gue ada satu tugas buat lo.”


Nawang menengok pada Yudhis, lalu bertanya lagi, “Apaan?”


“Hmm… mulai sekarang, lo harus buatin gue bekal makan siang tiap hari dan lo anter sendiri ke kantor.”


“Hah!? Oga… eh, tunggu.” Nawang tadinya menolak, tetapi mendadak dia mendapatkan sebuah ide.


“Gue juga bisa jadiin ini konten kayaknya! Misalnya, pake judul ‘Siapin makan siang buat CEO-ku’. Gapapa kan?”


Yudhis memutar bola matanya. Dia tahu kalau ujung-ujungnya akan begini.


Tapi, tidak masalah. Selama dia bisa mendapatkan bekal makan siang dari sang istri, apapun akan dia lakukan. Ini juga demi mendapatkan hati Nawang.


Nawang semakin senang, dengan Yudhis yang tanpa sadar berkata akan secara suka rela mempromosikan program barunya. Spontan, Nawang menangkup pipi Yudhis dengan kedua telapak tangannya. Yudhis yang kaget pun memundurkan kepalanya.


“Makasih, shayangkuw! Kamu memang sahabatku yang paling baik hati sedunia!”


Padahal baru saja dia senang setelah Nawang memanggilnya sayang. Tapi sayangnya juga, Nawang tetap menganggapnya hanya sebagai sahabat saja.


“Apapun buat lo.” gumam Yudhis yang tidak dapat terdengar jelas oleh Nawang, karena dua pipinya yang terhimpit.


“Hm?”


Digenggamnya dua tangan Nawang yang ada di pipinya, lalu Yudhis singkirkan tanpa melepaskan genggamannya.


“Gapapa. Gue tunggu masakan lo.” ucap Yudhis dengan sedikit lesu.

__ADS_1


Tidak menyadari perubahan semangat Yudhis, Nawang menyahut, “Oke. Gue pasti bikinin yang enak.”



Tugas baru dari Yudhis segera Nawang laksanakan di hari pertama Yudhis bekerja sepulang dari bulan madu. Dengan semangat Nawang menyiapkan bahan-bahan yang diperlukannya. Dia beli sendiri bahan-bahan itu dari super market agar bisa melihat sendiri kualitas bahan masakan yang dia inginkan. Tak lupa, semua proses itu dia rekam dalam kameranya dengan bantuan Tina, sang asisten setia.


“Masak apa hari ini, Wang?” Tina sengaja bertanya agar suaranya masuk ke dalam video.


“Hm… aku sih, rencananya mau bikin yang simple tapi ngenyangin. Misalnya lemper isi ayam. Diselingin isi tempe juga enak. Ntar dikasih buah juga. Mas Yudhis males makan buah soalnya.” jawab Nawang.


“Wah, padahal orang kaya. Tapi, seleranya yang lokal banget, ya.” Tina menanggapi.


“Ih, mau kaya atau miskin, mana ada yang bisa nolak lemper? Udah enak, murah, makannya juga gak ribet.”


Tangan Nawang mengambil salah satu buah stroberi yang ada di rak pendingin, lalu memasukkannya ke dalam troli belanjanya.


“Selain lemper, ada makanan Indonesia lain yang Pak Yudhis suka gak?” tanya Tina lagi.


“Kalau makanan Indonesia, Mas Yudhis suka banget sama sayur asem atau lodeh. Biasanya dimakan sama sambel goreng trasi, terus dicolek ikan pati.” Nawang menjelaskan sambil mengingat-ingat masakan apa yang biasanya dia buat di rumah Yudhis sebelum mereka menikah.


Yah, walau sebenarnya itu bukan hanya selera Yudhis, melainkan selera Rista, Ibu mertuanya. Tetapi, setiap kali dia memasak di sana, pasti Yudhis memakan masakannya dengan sangat lahap. Jadi, tidak terlalu salah juga.


“Serius, Pak Yudhis lidahnya Jawa banget!” Tina takjub.


“Jangan salah… dia juga suka makan Papeda plus lauk pauknya. Kapan hari dia juga pernah ngambek pengin makan Gangan Paliat. Ngeselin sih, tapi lucu. Suka, deh.”


Kali ini, Nawang hanya mengarang. Yudhis tidak pernah mengambek ingin makan makanan asal Banjarmasin itu. Bahkan Yudhis terima-terima saja kalau Nawang tidak membuatkan makanan kesukaannya.


“Tapi, daripada masakan Indonesia, sebenernya Mas Yudhis lebih suka makan Chinese food yang bumbunya nendang. Makanya, ini bumbu wajib banget ada di rumah.” lanjut Nawang sambil menunjukkan bumbu ngohiong dengan kemasan botol bertuliskan aksara Hanzi dari Měiwèi.


Merk itu adalah merk yang mensponsori Nawang selama satu tahun terakhir, berkat konten memasak satu bulan sekali yang dia lakukan selama ini.


“Wow, you also use Měiwèi’s? Aku juga pakai.”

__ADS_1


Suara seorang pria yang kental dengan logat Inggrisnya tiba-tiba terdengar dari arah belakang mereka. Tina lah yang pertama kali menengok dan langsung terpesona dengan ketampanan si pria berambut pirang. Lalu, Nawang pun ikut menoleh.


“Eh, Aaron? Kok, kamu di sini?”


__ADS_2