
Aaron dan Tina baru sadar bahwa mereka berdua terpisah dari Yudhis dan Nawang selang sepuluh menit setelah turun dari roller coaster. Mereka berdua terlalu mabuk untuk memikirkan keberadaan pasangan aneh itu.
“Saya bawa minyak kayu hijau, kalau mau.”
Satu orang lagi yang terlupakan oleh Yudhis dan Nawang adalah Kris. Dia baru datang bersama satu rekannya saat Yudhis mengatakan bahwa mereka sedang mengantri roller coaster melalui pesan singkat. Tidak tahunya, dia malah ditinggal begitu saja.
Sementara Kris bersama Aaron dan Tina, rekannya yang bernama Bonni pergi mencari Yudhis dan Nawang. Bagaimanapun tugasnya bukan cuma menjaga tuannya dan dia bukan tipe orang dengan stamina tinggi. Jadi, dia memilih untuk mengawasi Aaron yang notabene sedang menjadi target kecurigaan Yudhis.
“Baunya lumayan.” ujar Aaron sambil mengoleskan minyak itu di area tengkuk dan hidungnya.
“Maaf, Bang Kris. Saya gak suka minyak kayu ijo. Kalau ada yang baunya macem sitrus gitu ada gak?” Tina malah menawar.
Kris jadi bingung, sebenarnya di antara mereka mana yang orang Indonesia? Kenapa yang bule malah suka minyak kayu ijo, sedangkan yang muka lokal malah tidak suka?
“Tidak ada.” jawab Kris singkat.
Tina menunduk pasrah. Mau bagaimana lagi? Kris bukanlah Doraemon yang bisa mengeluarkan banyak hal dari kantong ajaibnya. Punya minyak kayu hijau, tidak berarti dia juga mempunyai minyak lain dengan aroma citrus yang Tina inginkan.
“Ya sudah, lah. Saya mau ke toilet dulu, ya. Mas-mas sekalian mohon jangan ke mana-mana, biar gak susah nyarinya.” pesan Tina.
Dikerahkannya seluruh tenaga yang tersisa di tubuhnya untuk berdiri, lalu berjalan menuju toilet terdekat. Beruntungnya, taman bermain ini menyediakan toilet umum setiap jarak lima ratus meter. Jadi, Tina tidak perlu jauh-jauh mencari toilet.
Kini, tinggallah Kris dan Aaron berdua di sana dengan suasana penuh kecanggungan. Kris sudah pernah bertemu dengan Aaron sebelumnya, saat mengawasi pergerakan pria asing itu. Tetapi, baru kali ini dia ditinggal berdua saja dengannya. Ditambah, dia tidak terlalu lancar Bahasa Inggris. Hanya nilai listening comprehension-nya saja yang bagus, sedangkan nilai speakingnya terhalang oleh logat Sundanya.
“Jadi, kamu yang sering ngikutin saya?”
Pertanyaan Aaron seketika menyentil jantung Kris hingga rasanya hampir copot dibuatnya. Namun, Kris mencoba untuk bersikap biasa saja. Pikirnya, belum tentu yang Aaron maksud adalah dirinya. Atau, karena Aaron adalah orang asing yang tidak terlalu lancar Bahasa Indonesia, terdapat kesalahan diksi yang dia gunakan.
“Bukannya Yudhis yang nyuruh kamu buat awasin saya? Tidak perlu pura-pura lagi. Saya tahu semuanya.”
Kris memicingkan matanya penuh kewaspadaan. Agaknya pria di hadapannya ini bukan pria asing biasa.
“Kalau begitu, saya tidak perlu untuk pura-pura lagi.” balas Kris.
Aaron tersenyum sekilas. Dia julurkan tangannya untuk mengembalikan botol minyak kayu hijau pada Kris.
“Tell your boss that I’m not interested in adultery. So, tenang saja. Lagi pula…”
__ADS_1
Sambil menatap ke arah lain Aaron melanjutkan kalimatnya, “Ada yang lebih menarik di sana.”
Tina kini telah kembali dengan wajah yang lebih segar. Gadis itu pun menghampiri dua pria yang telah menunggunya.
“Kalian ngobrolin apa?” tanya Tina yang penasaran.
Aaron menjawab, “Just some random things. Obrolan pria lajang.”
“Ooh…”
Tina tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Toh kalau sudah dibilang begitu, bukankah artinya mereka tidak mau memberi tahu apa yang sedang dibicarakan? Jadi, pasti obrolan mereka sama sekali bukan urusannya.
“Hm… kalau gitu, kita langsung cari Yudhis sama Nawang aja atau gimana?” Tina mengalihkan pembicaraan.
“Menurutku jangan. I think they just want to be alone. You know, ‘couple things’.”
Kurang lebih Tina paham apa maksud Aaron walau dia tidak lancar Bahasa Inggris. Dan dia mungkin setuju kalau seandainya Yudhis dan Nawang benar-benar pasangan yang saling mencintai. Tapi sayangnya, dia tahu kalau itu salah besar dan bisa saja mereka berdua benar-benar tersesat di taman bermain yang luasnya berhektar-hektar ini.
“Saya juga sependapat. Sebaiknya, mereka berdua diabaikan saja. Toh ada rekan saya yang sudah mencari. Kalian berdua nikmati saja wahana lainnya atau jalan-jalan ke area theater. Saya yakin di sana banyak hal yang menarik.” timpal Kris.
Mendadak Aaron merasa iri pada Yudhis yang memiliki anak buah yang peka seperti Kris. Tidak hanya peka, Kris juga orang yang cukup cekatan dan setia. Entah umpan apa yang Yudhis pakai untuk memancing Kris menjadi bawahannya.
“Saya mau pulang. Masih ada pekerjaan yang perlu saya urus.” jawab Kris.
“Oh…”
Tina nampak kecewa, karena Kris tidak bisa ikut bersama mereka. Tapi, apa boleh buat. Kris adalah orang yang sangat sibuk. Bisa bertemu dengannya saja sudah seperti keajaiban alam semesta.
“Kalau begitu, saya pergi dulu. Mari.” ucapnya sebelum pergi.
Tatapan Tina terus tertuju pada punggung pria berbaju serba hitam yang semakin menjauh itu. Menyadari hal tersebut, Aaron mencoba menyadarkan Tina dari lamunannya.
“Mau makan ice cream? Ada promo beli dua gratis satu di sana.” ujarnya sambil menunjuk ke arah stand ice cream yang dimaksud.
Tina mengalihkan perhatiannya pada Aaron dan menjawab, “Boleh. Mungkin bisa ngurangin mual.”
“Okay. Let’s go!”
__ADS_1
…
Beralih pada dua orang hilang yang saat ini tidak tahu sedang ada di mana. Yang mereka berdua ingat, terakhir kali mereka masuk ke dalam wahana rumah hantu. Mereka berdua sudah berhasil keluar dari sana, tapi tahu-tahu sudah berada di tempat lain dengan suasana yang sama gelapnya.
“Jangan-jangan ini yang tadi dibilang sama Mbak resepsionisnya.” Nawang menduga.
Sebelum masuk ke wahana rumah hantu, seorang perempuan yang bertugas menyambut mereka di depan sudah mengingatkan mereka tentang area yang sebaiknya tidak dikunjungi. Area tersebut adalah area baru yang baru selesai dibangun dan baru akan diresmikan minggu depan. Karena itu, tidak ada pentunjuk pintu keluar di sana. Dan itu pula penyebab mereka tersesat di wahana tersebut.
“Elo siiih… sok sokan cari jalan pintas!” hardik Yudhis kesal.
“Yaaa maaf. Namanya juga orang kaget, lari, terus gak lihat jalan.” dalih Nawang.
“Udahlah. Tenang aja. Bentar lagi anak buah gue juga dateng. Gue udah kirim pesan ke dia.”
Nawang pun bernapas lega. Di saat seperti ini, Yudhis memang paling bisa diandalkan.
“Tapi, berhubung dia gak tahu kita di sebelah mana, sebaiknya kita diam dulu aja di sini. Gak usah ke mana-mana.” lanjut Yudhis.
“Ya. Kita duduk dulu aja, deh.”
Setuju dengan pendapat Yudhis, Nawang pun mencari tempat yang setidaknya bisa diduduki. Dan pilihannya tertuju pada sebuah kursi pajangan dengan ornamen penuh tengkorak di sisi-sisinya.
“Betewe lo laper gak? Sambil nunggu, barang kali mau jajan. Gue ada mochi isi coklat habis beli tadi, nih.” Nawang menawarkan.
Yudhis menggeleng. Dia ingat Nawang tadi hanya membeli satu. Walau berukuran besar, yang namanya mochi adalah makanan yang lengket. Jadi, pasti susah untuk dibagi dua.
“Gue gak laper, kok. Lo aja.”
Tanpa berbasa-basi lagi, Nawang langsung menggigit mochi berbentuk kepala mascot MT Land itu. Namun, pada saat yang bersamaan, sebuah suara dari perut Yudhis terdengar.
‘Kyucyuuuuk’
“Pfftt… Kakhanya gak hapel… ffff. (Katanya gak laper.)” ledek Nawang dengan mochi yang masih di mulutnya.
“Iyaa iyaaa. Gue cabut omongan gue.” kata Yudhis sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nawang.
Saat jarak mereka sudah tidak lebih dari lima sentimeter, Yudhis lalu menggigit dan menarik mochi yang ada di mulut Nawang hingga sebagian besar dari mochi itu telah berpindah ke mulutnya. Nawang yang terlambat bereaksi tidak bisa menghalaunya dan hanya tercengang saking kagetnya.
__ADS_1
“Makasih udah berbagi.” ucapnya dengan senyum licik kemenangan yang tersungging di bibirnya.