
Beberapa proses harus Nawang jalani sebelum bertemu dengan Beni, Ayah tirinya. Untungnya proses tersebut berjalan cukup lancar dan Nawang berhasil mendapat izin untuk berkunjung ke ruangan Beni dirawat.
Setelah berhasil melewati masa kritis, Beni kemudian dipindahkan ke ruang rawat normal seperti pasien lainnya. Bedanya, Beni yang notabene seorang narapidana harus dijaga ketat oleh kepolisian. Tidak hanya supaya dia tidak kabur, tapi juga untuk menjaganya dari ancaman.
Perasaan resah dan gugup menyertai Nawang saat menyusuri lorong Bangsal Flamboyan. Jantungnya juga berdetak begitu kencang tidak karuan. Terlebih saat akhirnya dia sampai di depan pintu salah satu ruangan kelas satu dari rumah sakit tipe C itu.
Selama empat belas tahun Beni dipenjara, tidak sekalipun Nawang mengunjunginya di lapas. Bahkan saat masih satu rumah pun mereka jarang sekali berbicara. Sekarang mereka akan bertemu dan berbicara untuk pertama kalinya dalam jangka waktu itu.
Awalnya Nawang pikir Beni tidak akan mau menemuinya, mengingat perjanjian mereka empat belas tahun yang lalu. Karena itu, Nawang tidak terlalu berharap banyak. Lalu, saat ternyata dia berhasil mendapat izin itu, Nawang yang belum benar-benar siap seketika merasa takut. Bagaimana kalau nanti dia canggung di depan Beni?
“Silakan masuk.” Ujar seorang pria berseragam polisi yang menjaga ruangan Beni.
Dengan langkah perlahan Nawang memasuki ruangan itu. Ada dua brangkar pasien di sana. Satu kosong dan satunya lagi ditempati Beni.
Penampilan Beni sangat berbeda dengan apa yang Nawang ingat sebelumnya. Rambutnya telah memutih seluruhnya dan keriput di wajah serta tubuhnya lebih terlihat jelas.
Nawang baru menyadari bahwa empat belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pria gagah yang dikenalnya sekarang nampak begitu ringkih karena usia.
“Kamu datang.” lirih Beni.
“Hm.” sahut Nawang singkat.
Mungkin hanya suara bernada dingin itu saja yang tidak terlalu berubah dari Beni. Namun, entah kenapa Nawang merasakan ada sedikit kehangatan di sana.
“Aku dengar kamu menikah. Apa suamimu anak laki-laki yang waktu itu?”
Dahi Nawang berkerut.
“Maksudnya, teman satu sekolah kamu yang sering mengantar-jemput pakai motor matic warna merah.”
Rupanya yang Beni maksud adalah Yudhis. Saat SMA, hanya Yudhis lah yang mengantar-jemput dia dengan motor matic merah. Nawang tidak tahu kalau Beni pernah melihat Yudhis, karena seingatnya Beni selalu sibuk dan hanya di rumah saat malam.
“Mm. Namanya Yudhis.” jawab Nawang.
Nampak setitik senyum di wajah Beni. Lalu, dia kembali bertanya, “Apa dia menjaga kamu dengan baik?”
Nawang mengangguk sambil membalas, “Ya.”
“Baguslah. Kalau begitu, rasa bersalahku mungkin bisa sedikit berkurang.”
__ADS_1
“Jadi, Bapak pernah merasa bersalah?”
Pertanyaan Nawang tadi membuat keduanya terdiam. Lalu, selang beberapa detik kemudian tiba-tiba Beni terbahak.
“Hahaha… Ternyata kamu mengira aku orang yang sejahat itu. Bahkan kamu sudah tidak memanggilku dengan sebutan ‘Ayah’ seperti dulu. Tapi, wajar. Aku lah yang sudah merengut semua keluarga kandung kamu.”
Nawang menggelengkan kepalanya.
“Saya tidak peduli dengan mereka. Toh sedari awal mereka juga tidak pernah peduli pada saya. Begitu juga Anda.” ujar Nawang.
Sebetulnya Nawang tidak bermaksud berkata se-to the point itu. Pikirnya, menyakiti hati orang yang sedang sakit bukanlah hal yang patut. Tapi, dia juga tidak menemukan kalimat lain yang dapat memperindah hal yang ingin dia sampaikan.
Untuk menyabarkan diri, Beni menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Tidak pernah sekalipun dia membayangkan akan disindir seperti tadi.
“Kalau begitu, bisakah kamu mengizinkan untuk menebus kesalahan orang jompo ini di masa lalu?” Beni memohon.
…
Saat kembali ke hotel, rupanya Yudhis sudah berada di kamar hotel mereka. Dari pakaiannya yang sama persis seperti pagi tadi, Nawang menduga bahwa Yudhis juga baru pulang.
“Gue bawa nasi padang. Lo belum makan siang, kan? Atau lo mau pesen yang lain dari hotel?” Yudhis menawarkan.
“Oke. Gue tungguin, deh. Enakan makan berdua.”
Nawang pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Begitu selesai, dia mencuci tangannya, bersiap untuk makan.
“Waduh!”
Mata Nawang seketika membelalak ketika melihat berbagai macam masakan ala restoran padang terpajang di atas meja makan. Semuanya tertata di atas piring-piring kecil dengan rapi.
“Lo gak ndadak beli piring kan, Dhis?”
“Santai. Gue minjem doang dari hotel.”
“Tunggu! Gue harusnya lebih khawatir… jangan-jangan lo beli sekalian restorannya?”
‘Ctak!’
Jidat Nawang pun menjadi korban dari jitakan maut Yudhis. Bagi Yudhis, sangat mudah memang membeli sebuah restoran padang. Tapi, kalau tidak butuh, ya untuk apa?
__ADS_1
“Ngawur aja tuh kepala. Udah, makan aja!” perintah Yudhis.
Nawang mengusap-usap jidatnya yang memerah, karena jitakan Yudhis. Mulutnya menggembung menunjukkan kekesalannya pada pria itu.
Padahal dia cuma iseng bercanda. Situasi mereka saat ini terlalu kaku dan dia sangat tidak suka dengan itu.
“Omong-omong keadaan Pak Beni gimana?”
Nawang mengambil piring berisi rendang, lalu menaruh dua potong rendang ke atas piringnya. Kemudian, dia menjawab, “Menurut dokter, sudah baikan. Tetapi, masih ada kemungkinan buruk jika dalam waktu dekat Ayah dipulangkan.”
“Berarti, kita hanya bisa berharap. Lalu, soal pelakunya, apa lo dapet info?”
“Seperti dugaan kita…” Nawang mengangguk, lalu melanjutkan, “Marcel menyelundupkan racun ke dalam cel. Jadi, besar kemungkinan dia punya orang dalam.”
Yudhis mendengus.
“Tikus got tempatnya memang harus di got kali, ya? Gagal main dukun, sekarang dia malah main-main sama hukum.”
“Lo ngomongin tikus got, bikin gue gak nafsu makan aja.” hardik Nawang.
“Sorry.” Yudhis meringis.
Bukan maksudnya untuk sengaja membuat Nawang jijik dan tidak nafsu makan. Dia hanya tidak memiliki istilah lain yang cocok untuk menggambarkan seorang Marcel.
“Satu lagi. Gue bakal kasih, tapi makan dulu bentar. Sebelum lo ngoceh yang jijik-jijik lagi.” kata Nawang yang kemudian melahap makanannya tanpa mau lagi berbicara. Seperti yang tadi dia katakan, dia baru akan bicara lagi setelah perutnya terisi penuh.
Selang dua puluh menit kemudian, Nawang telah kenyang dan langsung membereskan sisa makanan yang ada di meja untuk disimpan di lemari pendingin yang sudah disediakan hotel. Dia tidak mau menyia-nyiakan makanan itu dan rencananya akan dia hangatkan lagi di microwave saat memakannya lagi nanti.
Kini dia kembali duduk saling berhadapan dengan Yudhis di meja pantry. Di tangannya sudah ada ponsel pintar yang kemudian dia taruh di atas meja.
“Di sini ada rekaman pembicaraan tadi pagi. Kalau lo denger, DUARR! Gue yakin bakal saaaangat mind blowing.” ujar Nawang seperti sedang memerankan tokoh detektif dalam drama kriminal.
Sekalian dia buka aplikasi perekam di ponsel tersebut. Lalu, terdengarlah pembicaraan Nawang dan Beni.
Sekujur tubuh Yudhis mendadak kaku saat terdengar pengakuan Beni. Tidak hanya soal siapa yang berhasil Marcel selundupkan untuk meracuninya, Beni juga membeberkan hal lain di luar permasalahan tersebut. Yudhis baru sadar kalau inilah yang Nawang maksud dengan mind blowing.
“Wang, kita tuh ke sini bukannya buat habisin si curut aja? Kita gak ada niat buat ngungkap mafia hukum, loh.”
Tidak ada yang lucu dari wajah Yudhis yang pucat pasi, namun tawa garing tetap meluncur dari mulut Nawang.
__ADS_1
“Hahaha… Kayaknya Ayah punya banyak dendam sama mereka, jadinya kebablasan.”