Status : Menikah

Status : Menikah
Damai


__ADS_3

Switch yang Yudhis berikan pada Nawang untungnya berefek. Setidaknya sekarang Nawang sudah sedikit lebih normal dari sebelumnya. Pikirannya juga menjadi jernih dan kini dia sudah paham apa yang sebaiknya dia lakukan.


“Ngubah kontrak?” tanya Yudhis.


“Gue pengin nambahin beberapa poin.” jelas Nawang.


Yudhis tidak memasalahkan itu sebetulnya. Malah dia justru terkejut kenapa Nawang baru memintanya sekarang. Padahal dia pikir tanpa diminta pun Nawang akan memintanya sebelum menandatangani dokumen perjanjian mereka.


“Boleh. Mau sekarang revisinya?”


Jawaban Yudhis cukup di luar dugaan Nawang. Dia pikir, Yudhis akan menentang permintaannya terlebih dahulu, lalu dia harus merayu sahabat prianya itu dengan segala macam cara. Tetapi, ternyata Nawang bisa mendapatkan keinginannya semudah itu.


Rasanya Nawang agak curiga. Tetapi, ini kesempatannya. Bisa saja tidak ada kesempatan lagi untuknya di lain waktu.


“Oke.” jawab Nawang.


Yudhis pun bangun dari sofa tempatnya duduk sedari tadi untuk menuju kopernya. Dibukanya tas kecil yang ada di atas koper itu, lalu dia keluarkan sebuah laptop dari sana. Dibawanya kembali laptop itu ke sofa tempatnya duduk tadi. Kali ini dia tidak duduk di sana, melainkan duduk di atas karpet dan menaruh laptop tadi di sofa.


“Poin apa aja yang mau ditambah?” tanya Yudhis begitu laptop dinyalakan.


Nawang ikut duduk di sebelah Yudhis. Meskipun, dia masih malu karena kejadian sebelumnya, dia harus bertahan untuk menyelesaikan keinginannya kali ini.


“Ng… lo aja yang ngetik, deh. Ntar gue cek kalo udah selesai.”


Belum lama Nawang duduk di sebelah Yudhis, pria itu bangun dengan terburu-buru.


Melihat wajah Nawang yang seperti sedang bertanya-tanya, Yudhis kembali berkata, “Gue mau ke bawah bentar nyari jajan. Mau nitip?”


Nawang menggelengkan kepalanya. Dia ingat masih punya jajan yang dia beli kemarin di minimarket.


“Oke. Kalau gitu, gue turun dulu.” ucap Yudhis sebelum melangkah keluar dari kamar hotel dengan langkah lebar.


Sementara Nawang mulai mengetik, Yudhis menutup pintu kamar dan menghela napas lega. Rasa-rasanya dia hampir kehilangan jantungnya karena copot. Debaran di hatinya sejak kemarin memang sulit dikontrol.


Situasi kemarin tidak hanya mempengaruhi Nawang, tetapi juga Yudhis. Bedanya, Yudhis lebih pandai menyembunyikan perasaannya. Dan dia juga terlalu fokus pada Nawang yang bersikap tidak sewajarnya. Jadi, dia singkirkan terlebih dulu egonya.


Kini dengan suasana yang membaik, Yudhis justru terlambat menata hatinya. Padahal hanya duduk bersebelahan saja seperti biasanya, tapi perasaannya sudah tidak karuan.


Yudhis tidak ingin berlama-lama memendam perasaan lain yang ada di hatinya. Kalau bisa, dia ingin membuangnya saja, karena dia tahu bahwa Nawang tidak mungkin akan merasakan hal yang sama padanya.

__ADS_1


“Udahlah…” putusnya.


Yudhis pergi sekitar setengah jam dan kembali dengan membawa satu kresek kecil berisi coklat dan kopi botolan. Pada saat yang sama, Nawang juga sudah selesai mengetik poin apa saja yang ingin dia tambahkan. Agar Yudhis bisa langsung melihatnya, Nawang sengaja mengubah warna huruf menjadi merah.


“Udah selesai. Bisa lo periksa, nih!” ujar Nawang sambil geser, memberi Yudhis tempat untuk duduk.


Meskipun sedikit jauh, Yudhis duduk di sebelah Nawang dan menarik laptop itu ke depannya. Nawang menyadari ada hal yang salah, tetapi tidak tahu apa. Hanya saja, melihat sikap Yudhis sekarang, dia merasa tidak suka. Dan karena, tidak ingin merusak suasana, Nawang memutuskan untuk diam. Dia tidak ingin kikuk lagi di hadapan Yudhis.


Dengan seksama Yudhis membaca poin apa saja yang Nawang tambahkan. Rupanya tidak terlalu banyak. Ada dua hal yang ingin dia tambahkan di dokumen itu.


Yang pertama adalah tentang batas-batas hubungan mereka. Nawang ingin agar mereka tetap seperti biasanya. Dia tidak masalah dengan berpegangan tangan atau berpelukan, tetapi selebihnya dia ingin agar mereka membicarakannya terlebih dahulu. Lalu yang kedua adalah tentang sanksi yang diberikan jika melanggar perjanjian.


“Lo gak pengin jadi temen gue lagi?”


Nawang mengangguk atas pertanyaan Yudhis tadi. Dalam perjanjian yang dia revisi itu dituliskan bahwa jika pelanggaran terjadi, mereka akan segera bercerai dan tidak akan bertemu lagi kecuali ada hal yang penting.


“Jujur… gue gak bisa bayangin ngelakuin hal yang lebih dari pegangan tangan sama temen gue.”


Sebelum Yudhis berkata apa-apa, Nawang segera melanjutkan perkataannya, “Tapi, yang kemarin itu gak dihitung. Soalnya… gue juga salah.”


Tidak dihitung. Frasa itu terpatri di otak Yudhis.


Nawang tidak menangkap kekecewaan dari nada bicara Yudhis. Dia hanya mengangguk dengan semangat untuk menanggapinya.


Melihat itu, Yudhis pun menghela napas panjang-panjang untuk menutupi perasaannya, lalu mengeluarkan napas itu dengan kasar.


“Oke. Gak masalah.”


Yudhis memencet tombol ctrl+s dari keyboardnya, kemudian menutup file perjanjian itu.


“Berhubung kita gak bisa ngeprint di sini, kita tandatanganin ini nanti pas pulang. Tapi, sebelum itu, gue juga gak akan ngelakuin yang dilarang di perjanjian kita.” Yudhis berjanji.


Yudhis tutup kembali laptopnya, lalu dia kembalikan ke tempat semula.


“Mau ke mana lagi?” Nawang bertanya, karena Yudhis tidak langsung duduk lagi.


“Toilet.” jawab Yudhis tanpa menghentikan langkahnya.


Karenanya, kini Nawang kembali sendirian. Untuk mengisi waktu, dia memutuskan untuk bermain mobile game di ponselnya. Tetapi, belum juga game-nya selesai loading, sebuah nada dering terdengar dari ponsel Yudhis.

__ADS_1


“Dari Marcel…” gumam Nawang saat membaca siapa yang menelfon.


Melihat nama itu, yang terpikirkan adalah tentang bagaimana mengerikannya dia di belakang Yudhis. Pria itu bahkan berani melakukan hal-hal mistis demi mendapatkan Yudhis. Dan untungnya hal mistis itu tidak mempan. Tidak dapat terbayangkan apa yang terjadi bila rambut atau bagian tubuh lainnya dari Marcel berhasil mempengaruhi Yudhis.


Tapi, dari pada memikirkan itu, hal pertama yang harus Nawang lakukan adalah memberi tahu Yudhis tentang telfon ini. Karena, bisa saja Marcel cuma ingin melaporkan perihal pekerjaan.


Segera dia melangkah menuju depan pintu kamar mandi, lalu berseru, “Dhis, ada telfon dari Marcel, nih!”


Di antara derasnya suara shower kamar mandi, terdengar seruan Yudhis yang menjawab, “Lo aja yang jawab. Gue masih on duty!”


Jawaban Yudhis itu membuat Nawang memutar bola matanya, tapi juga sekaligus lega karena Yudhis sudah kembali ke kebiasaan semula.


“Okeh!” ujar Nawang sebelum memencet tombol telfon warna hijau untuk menerima panggilan Marcel.


“Halo.” sapa Nawang.


Mungkin karena tidak mendengar suara yang dia harapkan, Marcel masih terus diam.


“Ada perlu apa, Mas? Ini SUAMI saya lagi di kamar mandi.”


Sengaja Nawang menekankan kata ‘suami’ untuk menyadarkan Marcel bahwa sekarang hubungan Nawang dan Yudhis adalah suami istri. Dan benar saja, dengan suara yang sedikit bergetar Marcel menjawab, “A… ini… saya mau melaporkan pekerjaan hari ini…”


“Hm… SUAMI saya gak bilang kalau dia gak mau diganggu? Bisa nanti aja lah, ya. Toh dia habis saya bikin capek… ehem… maklum pengantin baru. Hehehehe…”


Dalam hati Nawang menambahkan, “Ya… capek hati mungkin, sih. Gara-gara gue.”


Dengan kalimat ambigu tadi, Nawang berharap kalau Marcel akan menangkapnya secara lain. Dengan begitu, pria itu tidak mengganggu sahabatnya lagi.


“Oh, begitu. Baik, Mbak. Saya akan sampaikan nanti.” balas Marcel menurut.


“Satu lagi dari saya. Jangan panggil saya ‘Mbak’ lagi ya. Soalnya kan saya udah jadi istri bos kamu. Panggil Bu Nawang juga gak masalah.” Nawang semakin mengintimidasi.


Marcel yang suaranya semakin tercekat menjawab lirih, “Baik…, Bu.”


“Baik. Saya tutup ya, telfonnya.” ucap Nawang sambil memencet logo telfon warna merah di layar ponsel.


Sambungan telfon itu pun terputus. Nawang yang berhasil memanasi lawannya tertawa puas hingga menggema di ruangan president suit itu. Tak ayal, suara itu juga terdengar hingga ke kamar mandi. Yudhis bahkan juga mendengar apa saja yang Nawang katakan pada Marcel dan dia tidak kalah puasnya dengan Nawang.


Dia tahu bahwa Nawang mengatakan itu hanya untuk membelanya dan itu hanya sandiwara belaka. Tetapi, itu sudah cukup untuk membuat semangat Yudhis terpacu untuk mengubah semua sandiwara itu menjadi kenyataan.

__ADS_1


__ADS_2