Status : Menikah

Status : Menikah
Bayar Pakai Tubuh


__ADS_3

Pembicaraan tentang perjanjian itu mereka tunda sampai mereka tiba di hotel. Karena, tidak mungkin melanjutkannya di mobil, sementara di sana ada orang lain yang bisa mendengarkannya.


Tidak perlu berlama-lama, setelah check-in mereka langsung menuju kamar mereka. Saking terburu-burunya mereka berdua, supir tadi sampai berpikir kalau mereka sudah tidak sabaran untuk ‘ngamar’. Tetapi, tentu bukan itu tujuan mereka.


‘Greb’


Pintu kamar hotel terkunci. Kini Nawang dan Yudhis telah terbebas dari mata dan telinga orang lain. Namun, untuk lebih berjaga-jaga, Yudhis dan Nawang menelusuri seluruh sudut ruang kamar itu. Barang kali ada alat penyadap atau semacamnya di sana. Mereka harus tetap waspada, karena saat ini ada orang yang berniat buruk pada mereka.


“Kayaknya sih, aman. Di situ gimana?” Yudhis bertanya pada Nawang yang memeriksa di bagian lain kamar mereka.


Nawang menjawab pertanyaan itu dengan isyarat jempol, yang artinya dia juga tidak menemukan hal mencurigakan di sana.


“Oke. Kita luruskan terlebih dahulu. Coba buka foto tadi pake tablet, biar bisa lebih keliatan.” pinta Yudhis.


Segera Nawang mengambil tablet 12 inchnya di dalam tas, lalu membuka messenger di mana foto itu Tina kirimkan. Setelah foto itu dia download, Nawang juga memperlihatkannya pada Yudhis.


“Bentar.”


Yudhis memperbesar gambar yang Tina kirimkan. Dia baca baik-baik tulisan yang ada di foto itu, karena merasa ada yang janggal.


“Gimana, Dhis?” tanya Nawang.


Yudhis menggeleng sambil berkata, “Itu bukan dokumen aslinya. Dari format penulisannya memang lumayan mirip. Tapi, letak beberapa poin-nya beda.”


Ucapan Yudhis sedikit membuat Nawang lega. Sebagai orang yang menyusun sendiri perjanjian itu, seharusnya memang dialah yang paling ingat.


“Berarti yang nulis ini lumayan paham struktur penulisan yang biasa lo pake, dong.”


Pendapat Yudhis juga sama. Di kepala mereka juga terlintas sebuah nama yang sama tentang siapa kira-kira orang yang bisa melakukan ini.


“Marcel.” ujar keduanya bersamaan.

__ADS_1


Tangan Yudhis memijat-mijat dahinya. Rasa sakit di kepalanya tiba-tiba muncul begitu mengucapkan nama tadi. Mungkin belum sampai ke tahap PTSD, tetapi dia tidak bisa memungkiri bahwa dirinya cukup ketakutan pada apa yang akan Marcel lakukan.


‘Tap tap’


Tepukan tangan Nawang di pundaknya menyadarkannya kembali. Gadis itu nampak begitu khawatir saat menatapnya.


Nawang memang sering iseng, tetapi dialah yang paling mengerti Yudhis selama ini. Bahkan terkadang Nawang seperti bisa membaca pikirannya.


“Mendingan lo duduk dulu. Gue ambilin minum, ya.” ujar Nawang.


Menurut pada istri barunya, Yudhis pun duduk sementara Nawang mengambil air mineral yang disediakan hotel di kulkas. Begitu kembali, Nawang serahkan air mineral itu pada Yudhis dan langsung Yudhis minum.


“Haa…” dengus Yudhis.


Selama beberapa menit setelahnya, mereka terdiam. Namun, Yudhis tahu bahwa ada hal yang ingin tanyakan.


“Lo kalau mau tanya, ya tanya aja. Gue gak masalah.”


Memang benar dugaan Yudhis. Ada hal yang menggelitik rasa penasaran Nawang. Hanya saja, dia tidak yakin untuk menanyakannya. Dia takut akan semakin membuat Yudhis cemas.


Senyum kecut terukir di bibir Yudhis begitu mendengar pertanyaan Nawang.


“Bukan gak mau, tapi gue gak bisa.”


Yudhis lanjut menjelaskan, “Lo tahu gimana gue bangun NTMall kan? Gue cuma punya sepertiga dari total saham. Itupun awalnya dipinjemin sama bokap dan baru selesai dibalikin tahun lalu. Sisanya dipegang banyak investor lain dan yang paling banyak kedua itu punya Ayah Marcel. Nah, Marcel juga masuk ke NTMall karena Ayahnya yang nyuruh gue. Jadi, lo paham kan apa yang terjadi kalau gue pecat dia.”


Nawang mengangguk paham. Rupanya, masalahnya tidak segampang yang Nawang kira.


“Lo gak mau minta bantuan ke Papa? Papa pasti bisa selesain masalah keuangan perusahaan lo. Walau ya… gue paham kalau beliau gak mungkin ngasih cuma-cuma. Modalin lo aja pake utang, gak langsung main kasih aja.”


Senyum kecut masih menghiasi wajah Yudhis. Meski tertunduk, Nawang bisa mengira bahwa mata suaminya tidak tersenyum sama sekali.

__ADS_1


“Masalah harga diri. Gue gak mau keliatan lebih lemah dari ini.” jawab pria itu.


Berbanding terbalik dengan perempuan yang terkesan lemah dan harus dilindungi, pria adalah makhluk yang harus memperlihatkan keberanian dan kekuatannya. Walau sebenarnya, mereka menyembunyikan kelemahan mereka rapat-rapat. Tidak ada yang tahu bahwa mereka sedang terluka dan mereka juga tidak bisa memberitahu pada siapapun tentang luka itu, karena dunia yang kejam akan lebih menindas mereka. Karena itu, mereka hanya bisa memperlihatkan kelemahan itu pada segelintir orang saja.


“Haa…h… kalau gitu gak ada pilihan lain. Marcel harus ngaku sendiri, terus keluar dari perusahaan lo tanpa harus mempengaruhi perusahaan. Makanya, lo mau kasih lihat ke dia kalau lo gak tertarik ke cowok sama sekali dengan nikahin gue.” Nawang menyimpulkan.


“Hahaha… Sori, gue malah libatin lo.”


Nawang mengangkat bahunya, “Yah, memangnya lo mau minta bantuan siapa lagi? Tapi, harusnya lo bilang dulu ke gue. Pasti gue bantu padahal.”


Dan mereka juga mungkin tidak perlu sampai menikah.


“Maaf…” ujar Yudhis lagi.


“Gak masalah. Yang penting habis ini lo kudu bayar semua ini pake tubuh lo, Dhis.”


Nawang membuka aplikasi kamera dari tabletnya, lalu menarik dagu Yudhis. Gadis itu juga mendekatkan tubuh mereka dengan mengalungkan lengannya di leher sahabat prianya itu.


“Mau ngapain?” tanya Yudhis yang begitu terkejut saat wajah mereka berjarak tak lebih dari 10 cm.


“Nagih bayaran tubuh lo.” jawab Nawang.


Apa yang Nawang lakukan setelah itu lebih mengejutkan lagi bagi Yudhis. Sambil mengetuk layar tabletnya, Nawang mendekatkan lagi wajah mereka yang sudah sangat dekat. Lalu, bertemulah dua pasang bibir mereka.


Ciuman itu begitu singkat dan lebih tepat disebut kecupan. Namun, saat Nawang melihat di hasil foto, anglenya cukup meyakinkan bahwa mereka sedang berciuman panas. Dia sudah cukup puas dengan itu.


Berbeda dengan Nawang, selama beberapa saat Yudhis seakan terpaku saking terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ini adalah ciuman pertamanya sejak beberapa tahun. Dalam hati, Yudhis tidak terima semua itu terjadi sesingkat ini begitu saja.


“Eh, mau diapain? Lah? Kok dihapus?” Nawang begitu panik saat Yudhis merebut tabletnya dan menghapus foto yang dengan susah payah dia ambil tadi.


“Kamera lo jelek banget.”

__ADS_1


Kini giliran Yudhis yang membuka aplikasi foto dari ponsel pintarnya sendiri. Lalu, seperti yang tadi Nawang lakukan padanya, Yudhis mendekatkan kembali tubuh mereka. Dia rangkul pinggang Nawang, lalu dia dekatkan wajah mereka. Kemudian, sambil mengetuk tombol merah di layar ponselnya, Yudhis pun mereka ulang ciuman tadi.


Nawang sempat ingin melawan dengan mendorong dada Yudhis, namun Yudhis terlalu kuat sehingga pria itu tidak menjauh satu milipun darinya. Yudhis justru semakin berani dan memperdalam ciuman mereka hingga Nawang tidak melawan lagi pada akhirnya.


__ADS_2