
Bulan madu Nawang dan Yudhis diawali dengan permasalahan yang tidak mereka duga sebelumnya. Tetapi, bagaimanapun untuk membuktikan ‘ketulusan’ hubungan mereka, bulan madu yang mesra harus tetap berlanjut.
Sore hari setelah damai, mereka memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Malioboro. Dengan kamera yang terus menyala, mereka mengitari pasar Bringharjo dan mampir ke beberapa warung untuk sekedar jajan atau melihat-lihat baju batik yang dijual di sana. Saat malam menjelang, mereka mampir ke sebuah restoran yang sudah lebih dulu Yudhis pesan beberapa minggu sebelumnya.
“Namanya juga holangkaya. Kalian jangan iri ya, guys.” ujar Nawang sambil memamerkan ruangan VIP yang Yudhis pesan pada penontonnya.
Mereka tidak sedang live streaming. Nantinya video yang Nawang ambil akan diedit dulu dan baru diupload.
“Waktu itu aku pesan full course makanan Jogja. Tapi, kalau kamu mau, bisa nambah pesanan sekarang.” Yudhis menyerahkan sebuah tablet untuk memesan.
“Makasih, Cayang!”
Selama kamera menyala, mereka sudah bersepakat untuk bersikap selayaknya kekasih pada umumnya. Panggilan pada satu sama lain juga diganti, dari ‘lo-gue’ jadi ‘aku-kamu’. Sesekali mereka juga akan memanggil dengan panggilan ‘sayang’, ‘honey’, ‘Darling’, dan semacamnya.
Selang beberapa saat, makanan mereka satu persatu datang. Dari makanan pembuka, main dish, dan penutup semuanya serba mewah. Persis seperti skenario yang Yudhis dan Nawang inginkan.
Nawang sendiri tidak memiliki persona sebagai orang yang romantis di antara fansnya. Dia lebih dikenal sebagai perempuan apa adanya yang suka mencoba banyak hal. Tetapi, Yudhis yang ingin menunjukan keseriusannya pada semua orang lah yang berinisiatif.
“Jarang banget nih, makan mewah. Padahal waktu kita cuma temen, kamu selalu minta aku yang masak aja.” protes Nawang dengan nada manja.
Tanpa memberi aba-aba, Yudhis mengambil tisu makan, lalu mengelap bumbu dari gudeg yang Nawang makan.
“Gimana ya… masakan kamu lebih enak soalnya.” Yudhis beralasan.
Untuk hal ini, dia tidak berbohong. Nawang memang jago memasak. Ibu dan Ayah Yudhis saja mengakui kelihaian Nawang dalam memasak. Sampai-sampai sebenarnya mereka ingin membuatkan Nawang restoran. Tetapi, Nawang tolak karena tidak suka dapur restoran yang panas.
Karena ucapan Yudhis tadi, Nawang menunduk pura-pura malu. Padahal dalam hati dia menyombongkan diri, “Ya jelaaas. Gue gitu loh! Gordon Ramsay aja bakal tunduk sama masakan gue. Mwahahahaha!”
Tentu tingkah sombong level dewanya itu tidak dia perlihatkan. Mereka sedang berada di luar hotel. Artinya akan ada orang yang mengawasi mereka. Kalau dia bertingkah sembarangan, pasti akan berbahaya bagi karirnya.
Yang penting sekarang, Nawang dan Yudhis harus fokus pada sandiwara mereka yang sebentar lagi akan selesai. Tinggal selesaikan makan dessertnya, lalu mereka akan pulang. Walau kemudian, semua itu hanya menjadi rencana.
‘Pipopipopipopipo’
__ADS_1
“Kenapa ringtone kamu jadi begitu, Dhis?”
Sambil menilik ponsel pintarnya Yudhis menjawab, “Iseng aja. Lucu.”
“Mama minta video call, nih.” lanjutnya kemudian.
Meski samar, bibir Nawang mendadak melengkung turun. Jika ibu mertuanya menelfon sekarang, artinya sandiwaranya harus dimaksimalkan lagi.
Sambil mengangguk Nawang menjawab, “Ya udah, angkat aja..” lalu dengan suara lirih Nawang melanjutkan, “Jangan lupa rekam layarnya, ya. Barang kali bisa masuk ke vlog.”
“Beres.” sahut Yudhis yang kemudian langsung mengetuk tombol bergambar kamera berwarna hijau.
Selang beberapa detik, di layar itu terpampang wajah Rista yang nampak penuh senyuman.
“Kamu kok gak nelfon-nelfon, sih? Gak tahu apa, kalau Mama penasaran sama kabar honey moon kalian. Mama tahu kalian pengin berduaan, mesra-mesraan, gak mau diganggu. Tapi kan, bisa dong kirim pesan atau telfon sebentar. Katanya Kris aja kamu hubungin, masa Mamanya sendiri nggak.” omel Rista.
Padahal speaker ponselnya tidak terlalu kencang, tetapi baik Nawang maupun Yudhis dengan kompak menjauhkan telinga mereka dari ponsel ber-casing biru itu.
“Apa harus mama terus yang nelfon kamu duluan? Durhaka banget kamu sama Ibu kamu sendiri. Nawang juga sama aja. Padahal mama udah siap-siap kasih wejangan macem-macem. Tapi, boro-boro. Kamu tuh masih mau jadi menantu Mama gak, sih? Katanya kamu udah nganggep Mama sebagai ibu kamu sendiri. Tapi, mana buktinya?”
Saat mereka melihat napas Rista yang mulai ngos-ngosan, speaker itu kembali Yudhis naikkan volumenya. Dan kalimat pertama yang terdengar adalah, “Paling kamu matiin volume-nya kan? Dasar anak durhaka.”
Berbeda dengan tadi, sekarang Yudhis sudah siap dengan jawaban.
“Jangan gitu dong, Ma. Nanti kalau Yudhis jadi batu setelah Mama bilang Yudhis durhaka gimana? Ntar baru nikah, Nawang langsung jadi janda.”
Nawang juga menambahkan, “Iya, Ma. Maafin kami, ya. Namanya juga pengantin baru.”
Di seberang sana, terdengar suara decakan kesal Rista.
“Dasar. Kalian tuh, pinternya ngomong aja.”
“Hehehe… maaf ya, Ma. Nanti kami bawain oleh-oleh deh. Mama maunya apa, pasti kami beliin.” rayu Yudhis.
__ADS_1
“Halah. Oleh-oleh Jogja mah banyak. Mama mintanya oleh-oleh cucu. Habis dari sana, kalian wajib kasih kabar kalau sembilan bulan lagi Mama bakal momong cucu!” tegas Rista.
Permintaan Rista yang terlalu mengada-ada membuat sepasang pengantin baru itu tertawa kikuk.
“Hahahaha… itu kan bukan kehendak kita, Ma.” ujar Yudhis.
“Iya, Ma. Kita kan gak bisa memaksakan takdir Yang Maha Kuasa.” timpal Nawang.
“Kan bisa diusahakan. Mama juga bakal doa dari sini sambil nangis-nangis biar Tuhan kasihan sama Mama, terus dikasih cucu. Jadi, kalian usaha. Oke?”
Paksaan Rista tadi mengakhiri sambungan video call mereka. Rista nampaknya sudah terlalu lelah berbicara, sehingga langsung memutus sambungannya.
“Berasa kualat, nih.” batin Yudhis dan Nawang.
Ingin rasanya mereka melepas unek-unek setelah mendengar permintaan Rista yang luar biasa mustahilnya tadi. Tetapi, berhubung saat ini mereka berada di luar, mereka harus menahan keinginan itu.
“Aduh, Mama ada-ada aja. Hahaha…”
“Iya, nih. Hahaha.”
Tawa kikuk mereka menggema di ruang VIP restoran yang mereka tempati. Tetapi, sedetik kemudian dengusan panjang dari mulut mereka lah yang keluar.
“Pulang aja, yuk! Capek.” ajak Nawang.
“Sama. Gue juga capek.” balas Yudhis.
Padahal tidak sampai satu jam Rista menceramahi mereka berdua, tetapi Nawang dan Yudhis merasa baru keluar dari sarang naga. Untungnya, jarak restoran dan hotel tidak terlalu jauh. Jadi, habis ini mereka bisa langsung isi baterai untuk jiwa dan raga mereka.
“Gue mau beli es krim dulu di mart. Lo mau juga gak?” Yudhis menawarkan saat mereka sudah sampai di minimarket depan hotel.
“Boleh. Rasa brown sugar yang biasanya, ya.” pesan Nawang.
Setelah memberi kode OK dengan tangannya, Yudhis pun keluar dari mobil menuju minimarket. Sesuai pesanan, dia membeli es krim rasa brown sugar untuk Nawang dan untuk dirinya sendiri adalah rasa stroberi milk.
__ADS_1
Dibayarkannya dua es krim itu di kasir, lalu keluar dari minimarket dan mendapati Nawang sedang mengobrol akrab dengan orang asing berambut pirang. Bisa dikatakan akrab, karena keduanya saling tertawa seakan ada candaan yang begitu lucu. Bahkan Nawang sampai berani memukul pelan biceps si pirang.