
Kenyataannya, prediksi mereka memang tepat. Gadis bernama Nawang dalam foto yang viral belakangan ini adalah Nawang yang kini bekerja sebagai pembuat konten di media sosial. Sampai sekarang pun Nawang belum menampiknya, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Selama ini Nawang terus menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya dari publik. Namun, bukan berarti dia tidak memiliki niat untuk membeberkannya. Niatnya, suatu saat nanti dia akan berhenti dari sosial media dan hidup sebagai Nawang, putri dari seorang pembunuh.
Dan sekarang, sepertinya saat itu telah tiba. Karena, dia tidak yakin akan bisa bertahan dengan tittle buruk yang dia emban. Dunia maya dan penghuninya terlalu kejam untuk itu.
[Hm? Nawang kok dari tadi diem aja, ya?]
[Kenapa, nih?]
Membaca komentar tadi, tanpa sadar telah membuat Nawang tenggelam dalam lamunannya. Beruntung, tangannya juga ikut berhenti memasak. Kalau tidak, bisa saja Nawang terluka karena pisau maupun api.
“Hei, bobanya udah naik. Aku bantu tiriskan, ya.”
Di tengah lamunannya, tiba-tiba Yudhis muncul entah dari mana. Tanpa menunggu jawaban Nawang, Yudhis sudah mengambil penyaring dan bersiap untuk menyaring boba.
“Aku aja.”
Nawang bermaksud untuk menolak bantuan Yudhis, namun Yudhis sudah terlanjur menyaring sebagian besar yang ada di dalam panci.
“Udah. Toh aku juga yang bakal minum.”
Berkat kehadiran Yudhis, topik dalam chat room pun berganti. Mulai dari sapaan hingga pujian untuk Yudhis membanjiri layar ponsel Nawang.
[Halo, Pak!]
[Pak Yudhis makin ganteng, deh!]
[Itu wajah atau keramik, ya? Alus banget.]
Diam-diam, Yudhis merasa lega akan hal tersebut. Bukan karena dia senang dipuji, melainkan karena akhirnya obrolan tentang masa lalu Nawang telah selesai.
“Tinggal dimasukin ke wajan kecil, kasih air dikit sama gula kan?” Yudhis menunggu instruksi.
“A… mm… iya. Apinya juga jangan terlalu besar.” sahut Nawang.
“Oke.”
__ADS_1
Yudhis mengikuti instruksi tersebut dengan baik. Selama memasak, Yudhis juga ikut berinteraksi dengan penonton Nawang. Beberapa komentar juga dia baca. Hingga kemudian, Nawang akhirnya kembali seceria tadi.
“Kamu bukannya ada pekerjaan? Kembali dulu sana! Nanti aku bawain ke ruangan kamu.”
Tujuan kedatangannya sudah berhasil terlaksana. Jadi, Yudhis setuju.
Dia usik kepala Nawang, kemudian dengan lembut mengecup dahinya.
“Makasih, Sayang. Aku tunggu di ruangan.” ucapnya yang Nawang sahut dengan anggukan beberapa kali.
…
Nawang sudah memberikan camilan buatannya lengkap dengan minuman kepada Yudhis. Hal itu juga berarti siaran langsung telah selesai. Kamera sudah dia matikan. Lalu, Nawang menaruh kursi di hadapan meja Yudhis dan duduk di sana.
“Makasih.” ujarnya lirih.
Dengan jari-jari yang masih bergerak di atas keyboard komputer-nya, Yudhis menyahut, “Sama-sama. Makasih juga kroket dan boba-nya.”
Yudhis masih sangat sibuk dengan pekerjaannya, sementara Nawang tidak menemukan kalimat lain untuk menyambung obrolan mereka setelahnya. Mereka terus terdiam hingga beberapa saat kemudian Nawang mencoba mengawali pembicaraan.
“Anu…”
“Apa sebaiknya gue bilang yang sebenernya?”
Kali ini Yudhis berhenti agak lama. Dia berkata pada Nawang, “Lo udah siap emangnya? Bukannya lo dulu bilang kalau suka banget jadi konten kreator?”
Yudhis mengimplikasikan bahwa bisa saja Nawang kehilangan pekerjaannya jika jujur tentang identitasnya. Mengungkap identitas ini sama artinya dengan mengungkap bahwa usianya tidak semuda yang dia akui. Padahal personanya selama ini adalah gadis muda yang bisa melakukan banyak hal dan tidak hanya bermain saja. Bagaimana kalau setelah kebohongannya terungkap, pengikut yang sudah Nawang kumpulkan susah payah malah pergi meninggalkannya. Atau yang lebih parahnya lagi bila mereka yang sudah berubah pikiran malah menyebarkan kebencian pada Nawang.
Karena ini, terkadang Nawang menyesal telah memalsukan umur dan identitasnya. Selama ini dia selalu mengaku sebagai gadis berusia 20-an yang mandiri. Orang tuanya bekerja di luar negeri dan jarang pulang. Sama sekali dia tidak ingin membeberkan masa lalunya yang tidak menyenangkan pada orang lain.
“Banyak yang justru makin naik pamor setelah terkena skandal. Jadi, mungkin…”
Yudhis memotong, “Itu kalau lo beruntung. Lagi pula, bukankah ini permintaan Ayah lo? Pak Beni ingin ngelindungi lo dengan cara gak mau berurusan sama lo. Bukannya nanti akan sia-sia kalau lo bilang?”
“Gue bukannya ngelarang lo buat jujur. Terserah lo mau gimana. Gue cuma minta lo buat mempertimbangkannya lagi.”
Nawang cukup sepaham dengan ucapan Yudhis tadi. Dia masih harus memikirkan banyak hal sebelum melakukannya. Jika jujur pun, pasti akan berpengaruh pada kehidupan Yudhis nantinya. Yudhis akan ikut terpojok, karena telah menikahi putri angkat dari seorang kriminal yang telah menyebabkan Ibu dan dua kakaknya mati.
__ADS_1
“Maaf. Gue bakal pikirin lagi.” ucapnya kemudian.
Sambil bersedekap, Yudhis berkata, “Ini masalah waktu aja. Lo silakan jujur. Tapi, biarin gue cari cara dulu supaya damage-nya gak terlalu besar buat kita berdua.”
Nawang mengangguk setuju. Suaminya bukan seseorang yang picik dan mau menang sendiri. Dia yang juga sahabat terbaik Nawang sudah pasti akan membantunya dalam menyelesaikan masalah yang tengah mereka hadapi.
“Kalau gitu… gue balik ke kamar dulu.” ujar Nawang sambil berdiri dari tempat duduknya.
Sebelum pergi, dia mengembalikan kursi yang dia duduki tadi ke tempat aslinya yang sedikit jauh.
“Bentar, Wang!” cegat Yudhis.
Dia juga ikut berdiri sambil menarik lengan Nawang.
“Kenapa?” tanya perempuan itu bingung.
Ekspresi Yudhis sangat berbeda dibandingkan beberapa detik yang lalu. Wajahnya terlihat begitu serius. Agaknya ada sesuatu hal yang penting yang harus dia sampaikan segera.
“Gue barusan dapet e-mail dari mata-mata gue. Dia bilang Ayah lo udah sadar.” ucapnya.
Mendengar itu, seketika Nawang merasa lega dibuatnya.
“Kalau gitu…”
Seakan mengetahui kelanjutan ucapan Nawang, Yudhis menyahut sambil mengangguk,“Racunnya sudah berhasil diatasi.”
“Syukurlah. Apa boleh kita ke sana? Gimanapun dia juga Ayah gue. Gue pengin ngomong sesuatu ke ayah.”
“Oke. Kita ke sana. Gue minta Kris buat booking pesawat dulu.”
Setelah kabar siuman ini terdengar, mungkin para wartawan juga akan ikut bergerak. Mereka yang haus akan berita pasti akan cukup penasaran dengan seorang terpidana seumur hidup. Karena, bisa saat ini adalah saat-saat terakhir baginya menghirup udara di bumi.
Ini artinya, Yudhis dan Nawang juga harus mempersiapkan antisipasi agar kedatangan mereka berdua tidak diketahui awak media ataupun orang lain, siapapun itu.
“Kris bilang, nanti malam kita bisa langsung berangkat. Lo siap-siap dulu aja. Gue juga bakal selesain pekerjaan gue secepatnya.”
Seandainya suaminya bukan Yudhis, yang seperti ini mana mungkin bisa dilakukan. Semua hal nampak begitu mudah saat ada Yudhis di sisinya.
__ADS_1
“Makasih.” lirih Nawang.
Sambil mengusap dahi Nawang, Yudhis membalas, “Gue yang makasih. Juga maaf.”