Status : Menikah

Status : Menikah
Robi


__ADS_3

Sedari tadi Yudhis terus mendengarkan pembicaraan Ibu dan istrinya sambil bersembunyi di balik tembok. Tadinya, dia pikir pembicaraan mereka sudah selesai. Tetapi, Rista malah lanjut menanyakan cucu yang dijanjikan.


Yudhis tahu betul apa akibatnya kalau Nawang ditinggal begitu saja dengan Rista. Karena itu, dia langsung keluar dari persembunyian dan berusaha menyelamatkan Nawang.


“Ma, kami tuh sedang berusaha. Mohon doanya ya, Ma. Gak perlu lah mojokin Nawang.” bujuk Yudhis.


“Memangnya kapan Mama gak doain kalian? Lagian, siapa juga yang lagi mojokin Nawang?” sangkal Rista.


“Lha, itu. Tiba-tiba ngomongin anak segala.” balas Yudhis.


Rista mendengus sambil menurunkan pundaknya, lalu berkata, “Kan nanya doang. Gak ada salahnya, kok.”


“Mama tuh gak nanyain, tapi nagihin.”


Sepasang ibu dan anak itu memang susah dihentikan kalau sudah berdebat. Nawang yang berada di tengah-tengah mereka pun mendadak bingung. Dia lumayan setuju dengan pernyataan bahwa Rista sedang memojokkannya, namun Nawang juga tidak merasa terpojok.


“Gapapa kok, Dhis. Mama kan emang cara ngomongnya begitu.”


Yudhis melotot pada Nawang, karena terkejut. Dia sedang membela Nawang dari Rista, tapi Nawang malah membela Rista.


“Tuh! Nawang aja paham. Sebenernya yang anak Mama tuh yang mana, sih?”


Perdebatan mereka tadinya masih akan berlanjut. Tetapi, kemudian seorang pria berambut botak datang menghampiri Rista.


“Maaf, Bu. Kita sudah harus pergi. Karena, pertemuan dengan Pak Presiden akan berlangsung satu jam lagi.” ujar pria yang ternyata adalah asisten Rista.


Sebagai kepala daerah, sudah seharusnya Rista mencontohkan sikap yang baik. Salah satunya adalah dengan datang tepat waktu di setiap pertemuan. Jadi, walaupun dia masih ingin lanjut mengobrol dengan putera dan menantunya, terpaksa dia harus berhenti saat ini juga.


“Duh… kalau begitu, tunggu saya di mobil! Saya mau cuci muka sebentar.” perintah Rista.


Dengan enggan Rista melangkah menuju wastafel dan mencuci muka seadanya. Toh nanti dia juga masih sempat dandan di mobil.


Selesai cuci muka, Rista pun memberi salam pada putera dan menantunya, “Mama pergi dulu, ya. Kalian yang akur.”


Keduanya hanya tersenyum sambil mengangguk. Baru setelah Rista benar-benar tidak terlihat, mereka menghembuskan napas lega.


“Wah… nervous gue ilang, deh.” ucap Nawang sambil mengelus dadanya.


“Kamu gak kenapa-kenapa kan, Wang?”

__ADS_1


“Emangnya Mama ngapain gue?” Nawang balik bertanya.


“Yhaaa kali aja kan kamu malah makin stress gara-gara ditagih cucu.”


Dengan tangan bersedekap, Nawang menjawab, “Stress sih, nggak. Cuma kehabisan jawaban aja gue. Mau bilang nanti, pasti bakal diceramahi ‘lebih cepat, lebih baik.’ ‘nunda momongan tuh gak baik di mata agama.’


“Tapi, kalau mau bilang segera, kita juga gak ada usaha apa-apa. Yang ada Mama malah makin kecewa.”


Yudhis kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu Nawang. Dia pijat-pijat bahu itu, lalu berkata, “Kita usahakan aja kalau gitu. Gampang, kan?”


Gara-gara ucapan sembrono Yudhis itu, Nawang pun meluncurkan cubitannya di perut Yudhis. Karena lemaknya sedikit, Nawang hanya berhasil mencubit kulit di perut itu. Tapi, itu pun sudah cukup untuk membuat Yudhis memekik.


“Akkk anjay!”


“Makanya jangan macem-macem.”


Tangan Yudhis pun berpindah dari bahu menuju kedua tangan Nawang. Posisinya masih merangkul Nawang dari samping. Namun kini lebih erat dari sebelumnya, karena tangannya menangkup kedua tangan Nawang.


“Lepasin, nggak?” ancam Nawang.


Yudhis memiringkan bibirnya.


Mata Nawang melirik ke sana ke mari. Dan perkataan Yudhis benar adanya. CCTV terpasang di salah satu sudut di ruangan ini. Di lorong menuju dapur, dia juga melihat sesosok bayangan perempuan dari lantai granit. Dari fisiknya, Nawang yakin bahwa itu adalah Mbak Fani yang dia bantu saat menyiapkan camilan tadi.


“Apaan sih, Sayang? Kan jadi geli.” seketika Nawang mengubah suara dan gaya bicaranya menjadi lebih manja.


“Dari tadi Mama ngomongin cucu melulu, kan jadinya aku pengin bikinin.” balas Yudhis tak kalah menggoda.


“... Hahahaha. Tapi, masa di sini? Kan malu. Di apartemen kita aja gimana?”


Nawang memberi kode agar Yudhis segera membawanya pulang.


“Hmm… di sini kebanyakan orangnya emang. Kalau suara imut kamu kedengeran, aku juga gak mau.”


Salah satu tangan Yudhis kembali bergerak. Kali ini dia memindahkannya ke bawah lutut Nawang. Kemudian, dalam sekali napas, Yudhis mengangkat tubuh yang beratnya hampir setengah dari berat badannya itu.


“Kyaakkk!” pekik Nawang yang terkejut tiba-tiba diangkat seperti tuan putri.


“Aku udah gak sabar. Let’s go!”

__ADS_1


Sambil menggendong Nawang, Yudhis terus berjalan keluar dari rumah menuju mobilnya. Nawang yang tidak biasa pun otomatis mengaitkan lengannya di leher Yudhis, takutnya Yudhis tidak kuat dan menjatuhkannya.


Namun rupanya, pria itu cukup kuat. Tidak ada tanda-tanda kelelahan di wajah maupun bagian tubuhnya yang lain. Bahkan setetes keringat pun tidak ada.


Yudhis terus menggendong Nawang hingga sampai di samping pintu penumpang. Dia turunkan Nawang, kemudian dia bukakan pintu untuknya.


Perjalanan pulang pun dimulai. Perasaan lega yang mereka rasakan tadi, kini terasa begitu maksimal setelah keluar dari rumah yang penuh dengan telinga, mata, dan mulut di setiap sentimeter tembok dan lantainya.



Rencananya, Yudhis akan melanjutkan pekerjaannya setelah pulang dari rumah orangtuanya. Begitu pula Nawang yang tadinya ingin mengedit video di kamarnya. Sayangnya, rencana mereka harus ditunda sementara waktu.


Saat sudah memasuki area gedung apartemen, ada sebuah mobil besar yang mereka kenal terparkir di depan pintu lobby. Tak lama kemudian, supir dari mobil itu keluar dan membukakan pintu penumpang. Secara otomatis, tangga bantuan muncul. Dan keluarlah seorang pria tua berkursi roda dari sana.


“Pak Robi. Mau apa dia ke sini?” gumam Yudhis.


“Lo kenal?” Nawang bertanya.


Yudhis mengangguk, kemudian menjelaskan, “Dia Ayahnya Marcel dan juga pemilik 32% saham NTMall.”


Mulut Nawang membulat. Dia sudah sering dengar tentang pria yang telah membantu Yudhis membangun perusahaannya itu. Tetapi, baru kali ini dia melihat seperti apa orangnya.


“Jangan-jangan ada apa-apa sama Marcel.” Nawang menduga.


“Bisa jadi, sih. Cuekin aja, lah! Toh dia gak janji ketemuan. Barang kali dia mau ketemu orang lain yang tinggal di apartemen ini.”


Yudhis pun melewati mobil yang lebih mirip dengan minibus itu dan menuju parkiran basement. Begitu terparkir, dia juga langsung naik ke lift untuk menuju kamarnya. Tetapi, tiba-tiba ponselnya berdering.


“Ck. Malah telfon.” gerutunya.


“Pak Robi?”


Yudhis mengangguk.


“Ya udah, terima aja.” saran Nawang.


Diangkatnya telfon itu. Dan mulailah pembicaraan mereka. Tak lama kemudian, Yudhis berkata, “Baik. Tunggu saya di restoran saja.”


Setelahnya Yudhis menutup sambungan telfon itu. Dari wajahnya, Nawang bisa menebak bahwa akan ada pembicaraan serius di antara Yudhis dan Robi. Dia hanya bisa berharap, tidak akan ada masalah lain di antara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2