
Ollie bukan orang yang terlalu peduli mau dianggap seperti apa oleh orang di sekitarnya. Toh, dia juga akan langsung bertindak setiap ada orang yang dia sendiri tidak suka. Itulah yang selalu membuatnya dianggap naif. Namun, Ollie tidak menampiknya.
“Sebelumnya saya sudah sering mengingatkan Anda. Jadi, jangan bilang kalau saya main belakang.” Ollie menegaskan.
Di antara para kolega Marcel, memang Ollie lah yang paling vokal untuk mengingatkan. Dia bahkan nampak tidak peduli saat tahu bahwa Marcel bukan orang sembarangan. Ollie tetap memperlakukan Marcel sewajarnya saja.
“Sebagai orang yang lebih tua, aku cuma bakal ngingetin. Tidak semua hal bisa berjalan sesuai dengan keinginan kamu.”
Ollie menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih. Saya juga sudah lihat sendiri contohnya.” tanggapnya.
Dia berhenti mengetik, lalu memiringkan badannya untuk menghadap Marcel. Kemudian lanjutnya, “Karena saya orangnya gampang julid, saya harap selama satu bulan ke depan Anda tidak berbuat macam-macam.”
‘Piiip’
Bersamaan dengan suara printer yang mulai bekerja, Ollie pun beranjak dari tempat duduknya.
“Haaah... ngerepotin aja.” desah Marcel.
Dengan tidak adanya sarana dan prasarana yang memadai untuknya, memang bisa apa dia? Marcel sudah tidak punya apa-apa selain rasa dendamnya pada orang-orang yang menghalanginya. Tadinya dia juga sempat marah pada Ollie. Tetapi, kesadarannya yang tipis memberitahunya bahwa dia lah yang lebih dulu menjadi penghalang bagi gadis itu.
“Apa yang Anda lakukan?” tanya Ollie yang kaget, karena tiba-tiba tangan Marcel merebut tumpukan dokumen yang baru saja dia cetak.
__ADS_1
“Bekerja. Bukannya ini dokumen yang harusnya ku kerjakan?” jawab Marcel sembari berjalan mendahului Ollie.
“Tumben sadar.” gumam Ollie.
Walau Ollie mengatakannya dengan suara lirih, Marcel masih bisa sayup-sayup mendengarnya. Kenyataan memang selalu menohok. Namun, dia mencoba untuk tidak membalas. Pikirnya, lebih baik dia menyimpan tenaga untuk pembalasan yang sebenarnya.
…
Mundurnya Marcel dari perusahaan belum banyak diketahui oleh rekan-rekannya yang lain. Justru cerita tentang kinerjanya yang semakin membaik lah yang belakangan menjadi buah bibir.
Sebagai orang yang sempat viral di media sosial, sosok Marcel cukup dikenal. Begitu juga gosip tentangnya yang mengatakan bahwa Marcel adalah seorang stalker dan memiliki ketertarikan sosial yang menyimpang. Karena itu, tidak sedikit yang menghindar untuk berurusan dengannya.
Hanya mulut mereka saja yang terus bercerita tentang keburukan-keburukan Marcel di belakang. Selebihnya mereka tidak berani melakukan apapun, karena bagaimanapun Marcel adalah putera dari salah satu petinggi perusahaan.
“Padahal biasanya leha-leha. Paling-paling lagi ada maunya.”
“Bisa jadi, sih. Lihat aja, dia nurut banget sama si anak baru.”
Tiba-tiba salah satu dari mereka menunjuk pada Ollie, si karyawan baru yang belum ada satu tahun di posisinya.
“Huh! Jangan-jangan si Ollie yang malah lagi ngejilat.” sinisnya.
“Maksudnya?”
__ADS_1
Dia menjawab, “Yah, gue juga gak tahu. Cuma curiga aja.”
“Wah… makin penasaran gue.”
‘tap!’
Dua orang yang sedang mengobrol di lorong itu seketika terkejut saat merasa pundak mereka disentuh oleh seseorang.
“Saya lebih penasaran, kenapa jadi kalian yang gak rajin kerjanya? Malah ngomongin orang.”
Dua staf itu menengok begitu tahu siapa orang yang mengejutkan mereka itu.
“Bu Damai. Maaf, bu. Saya akan kembali ke pekerjaan saya.”
“Saya juga, Bu.”
Keduanya segera berlari terbirit-birit walau tidak ada yang mengejar mereka.
“Dasar.” keluh Damai.
Dia perhatikan dua orang yang baru saja mereka bicarakan dari jauh. Sungguh sebuah pemandangan yang sebelumnya tidak pernah dia kira akan terjadi.
Sebelumnya, dia diberi tugas oleh Yudhis untuk mengawasi Marcel. Semua pergerakan Marcel berada dalam jangkauannya. Bahkan Damai juga memasang penyadap di area sekitar bilik kerja Marcel atas perintah Yudhis.
__ADS_1
Sekarang tujuan mereka mulai tercapai. Damai hanya bisa mengharapkan jika Marcel benar-benar telah berubah menjadi lebih baik.