
Nawang dan Yudhis sudah berada di gedung kantor pusat NTMall. Suasana kantor itu kini jauh lebih sepi dari biasanya karena adanya PSBB. Hanya ada mereka berdua dan
empat orang satpam yang terlihat berjaga di depan saat ini. Sementara sebagian besar staf yang lain bekerja di rumah.Sebelum PSBB yang ke sekian kalinya ini terjadi, sudah ada wacana untuk melakukan WFH secara keseluruhan. Beberapa divisi sudah melakukannya terlebih dahulu. Jadi, dibandingkan sebelum PSBB sebenarnya tidak terlalu berbeda.
“Dugaan lo bener. Penguntit itu ngikutin kita sampai sini.” ujar Yudhis sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Baru saja dia mendapatkan pesan dari anakbuahnya tentang penguntit yang belakangan ini mengikuti mereka. Berdasarkan pengamatan Kris dan rekan-rekannya, penguntit itu sebanyak dua orang. Tetapi, mereka juga yakin bahwa itu belum semuanya. Karena itu, mereka harus terus waspada.
“Kalau dugaan kita tentang pelakunya juga benar, sebentar lagi dia pasti juga dateng.” tambah Nawang.
Selama kurang lebih satu jam lamanya mereka menunggu. Yudhis yang merasa bosan menunggu, hanya fokus pada pekerjaannya sambil membuang waktu. Sementara itu, Nawang yang biasanya mengincar ruang gaming pribadi Yudhis juga tidak pergi dari sofa. Saat ini dia menyibukkan diri dengan mengoret-oret kertas yang berisi ide-ide untuk kontennya.
“Ghaaah! Apa gue minta itu curut ke sini ya?” Yudhis mulai menyerah.
Dia mulai ragu ada gunanya atau tidak dia menunggu.
“Bro, gitu-gitu si Marcel tetep orang yang cerdas. Pasti dia sengaja ngulur waktu biar lo gak curiga.” Nawang meyakinkan.
Sebagai orang yang membuat rencana, Nawang sangat percaya diri bahwa rencananya akan berhasil. Mereka hanya perlu bersabar. Karena, rencana ini hanya bisa berjalan kalau tiga unsur semuanya hadir. Yang pertama, jelas Nawang dan Yudhis. Unsur kedua adalah Marcel. Dan yang ketiga adalah saksi dan bukti.
“Tapi, kudu nunggu berapa lama lagi coba?”
Yudhis berkata begitu, tetapi tangan dan matanya tetap fokus pada dokumen yang ada di komputernya. Entah bagaimana jadinya kalau pekerjaan-pekerjaan itu tidak ada. Dia pasti merasa lebih bosan dari sekarang.
“Ya, deh. Lo mau pulang sekarang?” tawar Nawang.
Sebelum menjawab, Yudhis mengambil ponselnya terlebih dahulu. Ada sebuah pesan di sana. Seusai membacanya, dia rapikan meja kerjanya terlebih dahulu.
“Ayo!” ajak Yudhis yang telah rapi.
…
Agak kesal memang, kalau rencana tidak bisa berjalan lancar. Padahal Nawang sudah berpikir keras hanya untuk rencana yang dia sebut sensasi itu. Tapi, apa daya? Manusia boleh berencana, dan Tuhanlah yang memutuskan.
__ADS_1
Kini keduanya tengah turun dengan lift menuju lantai paling bawah. Dari ekspresi muram dan pundak Nawang yang membungkuk, semua bisa melihat kekecewaan di sana. Namun, untungnya tidak banyak orang yang mereka temui.
Sepanjang perjalanan menuju lift, mereka berdua hanya bertemu satu orang yang nampak tergopoh-gopoh membawa banyak tas dari berbagai merk. Nawang yang terlanjur malas, hanya menyapa orang itu tanpa berbasa-basi menanyakan untuk apa tas-tas di tangannya. Pikirnya, selama Yudhis tidak menghalau, artinya tas-tas itu bukan barang curian dan sudah sewajarnya orang itu membawanya.
“Sampe, nih. Udahan ngambeknya dong, Sayang.” bujuk Yudhis sambil merangkul bahu Nawang.
Nawang yang enggan dipeluk, menepikan tangan Yudhis. Dengan memicingkan matanya penuh kekesalan, gadis itu berkata, “Ngapain sih, manggil ‘sayang’ segala? Kan kita lagi gak di depan orang lain!”
Pria itu mendengus kasar, kemudian dia berbisik, “Iya, tapi kita lagi di luar.”
Bola mata Nawang berputar saking jengahnya.
“Ya… tapi, gak perlu juga lo manggil gue pake ‘sayang’ segala. Jijik gue dengernya, njir!”
Seakan terpancing dengan ucapan Nawang, Yudhis membalas, “Lo pikir gue gak jijik manggil lo kayak gitu? Gue malah lebih jijik, sampe rasanya pengin sikat gigi sekarang juga biar mulut gue bersih.”
“Ck. Ya sana, sikat gigi! Gue juga mau sampoan gara-gara kepala gue dicium-cium mulu sama lo!”
Lama-lama obrolan mereka terdengar semakin keras.
Emosi Nawang semakin terbakar sampai ke ubun-ubun. Seluruh wajahnya sampai memerah saking marahnya.
“Heh, Tyrex! Lo sadar diri dong! Harusnya lo terima kasih sama gue, karena mau nikah kontrak sama lo. Selain gue mana ada cewek yang mau sama lo.”
Penghinaan dari Nawang cukup mengena di hati Yudhis. Tidak disangkanya Nawang yang notabene adalah sahabatnya sejak SMA akan berkata seperti itu.
“Wang, ati-ati sama mulut lo, ya! Kalo gak, gue bakal…”
Ucapan Yudhis terhenti, karena dia menyadari bahwa ada beberapa orang di sekitar mereka yang secara sembunyi-sembunyi mengarahkan kamera pada mereka. Agaknya obrolan mereka tadi memang cukup keras. Kalau tidak, mana mungkin mereka menarik perhatian orang lain.
Salah seorang yang memperhatikan mereka adalah Marcel. Pria berkulit putih itu tidak seperti yang lain. Dia hanya berdiri tegak tak jauh dari hadapan Yudhis dan Nawang dengan tatapan tidak percaya.
“Ehem!” Yudhis berdehem sambil melirik pada Nawang.
__ADS_1
“Akting kamu… bagus juga. Tapi, nanti di videoku kamu harus lebih teriak lagi,… ya.” Nawang terdengar sedikit canggung.
“Oke.” sahut Yudhis tak kalah canggungnya.
Lalu, dia lanjut menyapa Marcel, “Hai, Cel! Kamu ke kantor juga?”
“A… em… iya. Saya mau ambil barang yang hari Sabtu lalu tidak bisa saya ambil.”
“Kalau gitu, silakan. Gak usah lama-lama. Saya gak mau kantor kita digrebek petugas, karena melanggar larangan pemerintah.” pesan Yudhis.
“Baik, Pak.” balas Marcel sigap.
“Kalau gitu, kami pergi dulu.”
Setelah itu, pasutri gadungan itu tidak mengatakan apa-apa lagi dan pergi menuju parkiran mobil. Dengan tergesa-gesa, mereka melangkah begitu cepat agar dapat segera keluar dari gedung.
…
Tidak butuh waktu sampai seminggu kemudian, berita tentang pernikahan kontrak mereka pun muncul di beberapa media. Rupanya ada seseorang yang mengunggah adegan pertengkaran Yudhis dan Nawang saat keluar dari lift tempo hari. Entah karyawan mana yang berani mengunggah aib bosnya. Tetapi, ini memang yang Nawang dan Yudhis inginkan.
“Beritanya udah ada, tapi kayak ada yang kurang.” kata Yudhis sambil mengelus dagunya.
“Harusnya berita kayak gini bisa lebih viral. Padahal lo kan terkenal banget. Tapi, kok kayak gak heboh-heboh amat, ya?” Nawang mengatakan hal yang senada.
“Gue malah udah minta beberapa orang buat upload video kita berkali-kali. Tapi, ujung-ujungnya ada yang ngehapus.”
“Apa mungkin…”
Nawang menengok ke arah Yudhis yang duduk di sampingnya.
“Emak gue!” “Emak lo!”
Mereka mengatakannya bersamaan, lalu juga sama-sama menepuk jidat mereka masing-masing. Sungguh mereka merasa sangat bodoh saat ini, terutama Nawang. Bisa-bisanya mereka lupa memperhitungkan Rista dan Pandu beserta kerajaan konglomeratnya. Jangankan wartawan, mafia kelas kakap saja sulit melawan mereka.
__ADS_1
“Habislah kita…” gumam Nawang.