
Yudhis baru saja selesai rapat dengan seorang klien saat membaca pesan dari Nawang. Pesan itu berisi bahwa Nawang sudah berada di kantor Yudhis untuk membawakan makan siang. Dari waktu pengiriman yang tertera, pesan itu terkirim sekitar sepuluh menit yang lalu. Artinya, dia sudah membuat Nawang menunggu cukup lama.
Segera dia telfon istrinya itu begitu keluar dari ruangan.
“Kamu udah di kantorku?”
Yudhis menggunakan bahasa yang lebih halus, karena sedang berada di luar. Sama halnya dengan Nawang. Jadi, mereka satu sama lain paham apa yang seharusnya dilakukan.
“Iya, nih. Kamu masih di luar?”
“Baru juga selesai rapat. Aku bentar lagi jalan. Tungguin, ya!” pesan Yudhis.
“Oke. Hati-hati di jalan, Sayang.” sahut Nawang.
“Bye, Sayang.”
Baru dipanggil ‘sayang’ saja sudah cukup membuat hati Yudhis ketar-ketir. Padahal dia tahu bahwa itu cuma sandiwara saja.
“Kita langsung ke kantor, Kris.” perintah Yudhis pada Kris yang hari ini menemaninya.
Berkat kesuksesannya dalam membantu menyelesaikan permasalahan Marcel, pria itu kini telah naik jabatan menjadi asisten pribadi Yudhis secara resmi. Jadi, ke manapun Yudhis pergi untuk urusan bisnis, Kris akan selalu bersamanya. Atau jika Yudhis sedang berhalangan datang pada suatu acara, maka Kris lah yang akan mengurusnya menggantikan Yudhis sementara waktu.
“Baik, Pak.” jawab Kris.
Berangkatlah mereka menuju kantor pusat NTMall. Selama perjalanan, Yudhis mengirimkan pesan pada Nawang.
[Bentar lagi dateng. Sabar ye.]
Nawang menjawab.
[Ok. Betewe gue sekalian ngonten yak.]
Yudhis mendengus membaca pesan itu. Pikirnya, paling nanti dia dijadikan suami culun yang suka norak lagi.
[Terserah lah.]
Entah sejak kapan, Yudhis mulai terbiasa dengan hal itu. Dan benar kata Ibunya dulu bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu terlihat kaku. Karena, berkat image baru yang Nawang ciptakan, para karyawannya sudah tidak terlalu grogi saat menghadapinya. Keuntungannya, suasana kantor pun menjadi tidak setegang biasanya. Kinerja karyawan pun jadi lebih baik.
…
__ADS_1
Kini mobil yang Yudhis tumpangi sudah berada di depan gedung NTMall. Pandangannya pindah dari ponselnya menuju jalanan, karena Nawang tak juga membalas pesannya. Pada saat itulah dia melihat pemandangan yang membuatnya panas.
Kekhawatiran Yudhis telah menjadi nyata. Nawang terlanjur bertemu dengan Aaron.
“Kris. Turunkan saya di sini!” perintah Yudhis.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Kris menghentikan mobilnya. Kemudian, Yudhis turun dengan tergesa-gesa. Langkahnya yang lebar semakin dia percepat menuju seberang jalan, tempat Nawang berdiri bersama Aaron.
Cafe masih cukup ramai saat Yudhis sampai. Tapi, rasanya Yudhis tidak tahan untuk meledak di sana.
Diraihnya tangan Nawang secara tiba-tiba, kemudian dia tarik agar gadis itu berdiri lebih mendekat padanya. Nawang yang tidak menyadari kedatangan Yudhis pun kaget. Sama halnya dengan Aaron.
Dipeluknya Nawang, lalu Yudhis berkata, “Aku pikir kamu gak dateng. Perut kamu udah gapapa?”
Nawang paham bahwa mereka sedang berada di luar. Tapi, menurutnya sikap Yudhis ini terlalu berlebihan. Karena itu, dia berusaha melonggarkan pelukan pria itu.
“Lepas dulu, dong! Malu, nih…” keluh Nawang.
“Gak mau. Cium dulu, baru ntar kulepasin.” tolak Yudhis.
Yudhis mulai membuat Nawang kesal. Dengan sekencang-kencangnya, Nawang injak kaki Yudhis dengan heels-nya.
“Aww!” pekik pria itu.
“Sorry. My silly husband is here, so I need to go. Daah!” ujar Nawang pada Aaron.
“See you.” balas Aaron, singkat.
Nawang pun menggandeng paksa lengan Yudhis, lalu membawanya menyeberang. Dia terus menarik Yudhis hingga ke dalam lift.
Di sana ada beberapa orang yang ikut naik bersama mereka berdua. Mereka yang tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi hanya diam sambil memperhatikan pasangan kekasih yang auranya tidak sebagus biasanya itu. Pikir mereka, pasti sedang terjadi sesuatu di antara keduanya. Mereka baru berani berbicara saat sudah keluar dari lift sebelum Nawang dan Yudhis.
‘Ting!’
Pintu lift terbuka di lantai yang Yudhis dan Nawang tuju. Tanpa mengambil waktu lebih lama, Nawang kembali menarik Yudhis. Dan sampailah mereka di dalam ruangan Yudhis.
Agar tidak ada yang melihat, Nawang tutup pintu dan sekat di ruangan itu rapat-rapat. Baru setelah itu dia meluapkan kekesalannya.
“Tadi itu maksudnya apaan coba? Malu banget gue. Di depan Aaron, lo malah kayak gitu.”
__ADS_1
Yudhis membalas, “Kita kan udah sepakat buat berakting mesra pas di luar. Jadi, kayaknya wajar aja sikap gue tadi.”
“Hah? Tapi, itu kan cuma supaya Marcel gak deketin lo lagi.”
“Wang, kontrak kita tuh masih berjalan. Marcel cuma salah satu alasan kita menikah.”
Diingatkan lagi dengan kontrak nikah mereka, Nawang pun terdiam. Hampir saja dia lupa tentang hubungan mereka berdua yang sebenarnya. Mungkin karena selama ini mereka bersahabat, Nawang merasa hampir tidak ada perbedaan dalam hubungan mereka.
“Gue masih suami sah lo dan lo masih butuhin gue buat konten lo kan? Itu juga salah satu alasan kita nikah. Jangan bilang lo lupa.”
Dalam kepalanya, Nawang membenarkan ucapan Yudhis tadi. Tanpa status pernikahannya dengan Yudhis, saat ini dia bukan apa-apa. Semua orang yang menonton channelnya datang, karena ada Yudhis di sana. Semua perhatian yang Nawang dapat adalah atas campur tangan Yudhis. Dan suatu saat nanti, ketika Yudhis telah menemukan orang yang benar-benar dia cintai, Nawang harus rela melepaskan semua itu. Jadi, sebelum itu terjadi, seharusnya dia bisa memanfaatkan status mereka dengan baik.
Tapi, apakah perlu Yudhis bersikap seperti tadi? Rasa-rasanya itu sangat berlebihan.
“Jadi,” Yudhis lanjut berkata, “Tolong biarin gue menghayati peran gue sebagai seorang suami yang cemburu melihat istrinya tertawa bersama pria lain.”
Nawang mengangkat kepalanya menatap Yudhis yang nampak begitu serius membalas tatapannya.
“Maksud lo?”
Nawang ingin lebih memastikan apa maksud Yudhis mengatakan hal itu. Tetapi, Yudhis tidak memberitahukannya dan malah mengalihkan pembicaraan.
“Udahlah. Gue laper. Mana bekal gue?”
Yudhis ambil kotak bekal di dalam tas yang Nawang bawa, kemudian menaruhnya di atas meja.
“Dhis. Lo masih belum jawab pertanyaan gue. Maksud lo gimana? Lo cemburu?”
Yudhis mendengus. Dia bingung setengah mati menjawabnya. Apakah Yudhis harus mengakui perasaannya sekarang? Tapi, dia takut dengan reaksi Nawang nantinya.
“Udahlah. Gak usah dipikirin. Gue laper, makanya ngaco gini.” kilah Yudhis.
Nawang belum puas dengan alasan itu. Entah kenapa, dia ingin mendengar langsung bahwa Yudhis memang sedang cemburu. Namun, dia juga tidak tahu apa yang akan dia lakukan setelah Yudhis mengatakannya.
Apakah dia akan senang? Atau merasa keberatan dan risih, karena pria yang selama ini dianggapnya sahabat malah cemburu saat dirinya bersama pria lain? Nawang sangat penasaran akan hal itu.
“Lo cemburu?” tanya Nawang lagi.
Yudhis taruh kembali sendok di tangannya, kemudian berkata, “Maksa banget sih, lo.”
__ADS_1
Dia berdiri, lalu berjalan mendekat pada Nawang. Dia menambahkan, “Gue cemburu, terus kenapa? Gue cemburu banget, sampe gue pengin ngurung lo biar gak bisa ke mana-mana. Penginnya lo buta sekalian, biar gak bisa ngeliat cowok lain. Pengin lo bisu, biar lo gak bisa ketawa atau ngobrol sama cowok manapun.
“Sekarang gue masih sabar buat gak ngelakuin itu semua. Karena, gue pengin pergi ke manapun sama lo, ngobrol yang banyak dan ketawa sama lo. Dan gue juga masih pengin lo cuma liat gue.”