
Kebanyakan pengantin baru, khususnya di Indonesia, biasanya akan tinggal di rumah orang tua pria atau wanita. Itu dilakukan karena ingin lebih dekat dengan keluarga besan atau karena ingin menghemat biaya hidup.
Dalam kasus Nawang dan Yudhis, dua hal tersebut tidak perlu dipersoalkan sebenarnya. Nawang sudah dekat dengan orang tua Yudhis dari dulu, bahkan sudah dianggap sebagai anak sendiri. Kondisi perekonomian mereka juga lebih dari cukup untuk dikatakan stabil. Memangnya apa yang mau diragukan dari dompet seorang CEO perusahaan besar?
Tetapi, itu juga bukan alasan utama mengapa Yudhis memutuskan untuk membeli condo baru.
Kalau ingin pindah rumah, bisa saja Yudhis membeli rumah di mana saja dengan model apapun. Tetapi, dibandingkan kemewahan, Yudhis lebih mementingkan keamanan. Hanya orang tuanya yang tahu di mana dia tinggal dan dia percaya dengan keamanan tempat ini. Jadi, pikirnya condo ini adalah tempat yang sempurna bagi mereka.
“Sumpah lo lebay banget, Dhis. Kita tuh nikah kontrak, lho. Mending lo beli beginian pas udah nikah beneran.”
Ucapan Nawang tadi bukanlah bujukan, karena Yudhis sudah terlanjur membeli condo termewah yang ada di Ibu Kota saat ini. Dia merasa tidak enak pernikahan kontraknya telah mengeluarkan biaya sebesar ini. Seharusnya dia curiga saat prosesi.
“Gue lakuin ini semua demi keamanan kita. Bukan demi lo.” jelas Yudhis.
“Iya, sih… Tapi, apa gak bisa lo beli yang lebih sederhana aja?” Nawang masih mengeluh.
“Di daerah ini tinggal condo ini yang available. Jadi, terima aja lah! Gak usah protes. Lagian, siapa juga yang nyuruh lo buat bersih-bersih di sini?” ujar Yudhis setengah berdusta sembari mendorong kopernya ke dalam.
Bahu Nawang pun turun. Dia pasrah saja. Toh, sebenarnya ini juga demi kebaikan mereka berdua.
Selain masalah keamanan, ada dua hal yang mendorong mereka berdua untuk keluar dari rumah keluarga Yudhis. Pertama, mereka ingin bebas dari pengawasan Rista. Jika mereka tetap satu rumah, dikhawatirkan Rista akan curiga bahwa mereka berdua tidak benar-benar saling mencintai. Yang kedua, karena masalah keamanan.
Yudhis tahu betul seekstrim apa Marcel. Dia khawatir kalau Marcel akan melakukan sesuatu kalau keamanan mereka tidak benar-benar terjamin.
“Oh, iya. Gue udah siapin dua kamar. Satu buat kamar gue yang ngerangkep kamar kita kalau ada Papa sama Mama. Terus, satunya lagi kamar lo sendiri.”
Untuk hal ini, Nawang cukup bersyukur. Setidaknya dia masih punya privasi.
“Buat jaga-jaga, kamar lo ada di sebelah kamar gue. Sini!”
Yudhis membiarkan kopernya, lalu mendorong bahu Nawang untuk ke kamar yang dia maksud.
“Ini kamar lo, terus yang ini kamar gue. Awas kalau salah!” ancam Yudhis.
Nawang memundurkan badannya dan menatap Yudhis dengan jijik. Pikirnya, harusnya dialah yang berkata ‘awas’ pada Yudhis, bukan kebalikannya.
“Dih, ntar juga gue masuk ke situ kalau ada Mama sama Papa. Awas apaan, sih?”
__ADS_1
Senyum Yudhis terlihat seperti mengejek. Dia berkata, “Sebagai suami yang baik, gue sih gak masalah ngijinin lo masuk ke kamar gue tiap hari. Tiap saat juga boleh.”
Bulu kuduk Nawang seketika merinding. Dia pun menjauhkan diri dari Yudhis.
“Bodo, ah!” ketusnya.
Nawang kemudian membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan lagi-lagi dia harus membelalakkan matanya. Dengan mata itu juga dia menelusuri seluruh sudut sampai benar-benar yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Kecil amat?” komentarnya.
Bukan berarti Nawang tidak puas dan tidak bersyukur. Hanya saja, keadaan kamarnya begitu njomplang dengan keseluruhan isi rumah baru mereka. Bayangkan saja, condominium ini mungkin seluas lima kali lapangan basket atau lebih, tapi kamar pribadi Nawang cuma seluas 2 x 3 meter persegi.
“Lo belom masuk udah ngejek.”
Yudhis mendahului Nawang untuk memasuki kamar itu. Dia berjalan menuju sebuah pintu yang berada di dalam kamar itu, lalu membukanya dengan kunci di tangannya.
Diikutilah Yudhis, dan kini Nawang telah berdiri di belakang pria itu.
“Serius!? Waaaah!!” seru gadis itu takjub.
Keterkejutannya ternyata belum selesai. Masih ada rahasia lain di kamar itu yang tidak Nawang ketahui.
Di ruangan itu terpasang lengkap seperangkat komputer yang Nawang yakini memiliki spek tinggi. Monitornya juga tidak cuma satu, tapi malah empat. Dengan begini, kegiatan streamingnya akan lebih efisien dibandingkan dengan saat berada di kontrakannya. Selain itu, ada juga beberapa console game yang mungkin adalah milik Yudhis.
“Lo ngasih console game lo ke gue? Serius?” tanya Nawang penuh harap.
Dengan jarinya, Yudhis menyentil dahi Nawang.
“Enak aja. Gue cuma minjemin.” ujarnya.
Nawang tidak menyembunyikan kekecewaannya. Dia pikir, Yudhis akan memberikan console game seharga jutaan rupiah itu padanya.
“Bilang makasih, kek!”
Sekali lagi jidat Nawang menjadi sasaran empuk sentilan Yudhis.
“Iya… makasih…” ujar Nawang kemudian.
__ADS_1
“Terus, karena lo bisa bebas pinjem console gue. Gue juga minta bayaran ke lo.”
Bahu Nawang yang sudah turun pun semakin turun. Dia enggan, tapi console game itu akan cukup menguntungkan baginya nanti. Jadi, paling tidak Nawang akan mendengarkan terlebih dahulu permintaan Yudhis.
“Apaan?” tanyanya.
“Ngedate sama gue seminggu sekali.” jawab Yudhis.
Nawang mengerutkan dahinya, lalu kembali bertanya, “Buat apa? Kayaknya gak perlu seminggu sekali juga. Kan kita ketemu tiap hari di rumah? Atau…”
Melihat keseriusan wajah Yudhis, nampaknya Nawang mulai paham ke mana arah pikiran Yudhis. Ini sudah pasti masih ada hubungannya dengan penguntit yang waktu itu.
“Lo pengin ngejebak penguntit-penguntit itu?”
Yudhis mengangguk membalas pertanyaan Nawang.
“Gue udah nyoba lacak mereka, tapi susah banget. Mereka terlalu rapi.” Yudhis menjelaskan.
“Gimana kalau kita minta bantuan Papa? Gue yakin bisa lebih cepet.”
Pikir Nawang, Pandu mungkin bisa meminjamkan orang-orangnya untuk menolong mereka.
“Gue udah bilang ke Papa. Untuk sementara waktu katanya bakal dilihat dulu. Karena, penguntit itu belum ngelakuin apa-apa ke kita.”
Itu juga yang membuat Yudhis untuk mengurungkan niatnya melapor pada pihak berwajib. Toh, pada akhirnya polisi akan menunggu ‘sesuatu’ terjadi terlebih dahulu, baru bergerak. Kalau cuma menguntit begini, tidak akan ada tindakan apapun yang mereka lakukan.
“Ya, udah… dari pada lo gak tenang, kan? Gue bisa kok kencan doang mah.” putus Nawang akhirnya.
Melihat ekspresi khawatir di wajah Yudhis, rasa-rasanya Nawang juga ikut tidak tenang. Sahabatnya itu telah melakukan banyak hal untuknya selama ini. Jadi, kali ini Nawanglah yang akan membantunya.
“Mulai minggu ini?” tanya Nawang lagi.
Dengan ekspresi yang lebih tenang, Yudhis menganggukkan kepalanya.
“Kalau gitu, dandan yang cakep! Biar gak malu-maluin. Gue juga bakal rekam buat vlog sekalian. Gak masalah kan?”
Di saat seperti ini pun Nawang akan tetap memikirkan pekerjaannya. Yudhis yang merasa gemas pun mencubit dua pipi Nawang.
__ADS_1
“Boleh. Tapi, gak boleh ada Tina di antara kita.”