Status : Menikah

Status : Menikah
Morning Kiss


__ADS_3

Tidak ada kata-kata lagi di antara mereka setelahnya, meskipun banyak sekali hal yang ingin mereka bicarakan. Terutama Nawang yang baru mendapat serangan dadakan dari Yudhis. Saat ini entah berapa banyak pertanyaan yang tiba-tiba menggerogoti otaknya.


Apakah yang tadi termasuk pelanggaran perjanjian? Kenapa dia tidak langsung menolak atau malah menghajar Yudhis seperti biasanya? Kenapa pula dia malah merasa kurang? Apa Nawang menginginkan hal yang lebih dari hal yang baru saja terjadi?


Isi kepala Yudhis juga tidak jauh berbeda dari Nawang. Tapi, dia akui bahwa apa yang dia lakukan tadi adalah spontanitas tanpa ada rencana sama sekali.


Merutuk? Tentu.


Yudhis cukup ketakutan pada keberaniannya sendiri yang mampu membuatnya bertindak segila itu. Yang paling membuatnya khawatir juga adalah reaksi Nawang. Karena, mungkin saja kejadiannya akan seperti dulu.


Namun, ditunggu bermenit-menit pun, tidak ada reaksi apapun dari Nawang. Saat dia lirik wajahnya sekilaspun, tidak nampak suatu amarah di wajah itu.


“Apa ini kesempatan untuk melangkah lebih jauh? Gimana kalau ini cuma harapan palsu, terus aslinya Nawang lagi marah banget ke gue?” batin Yudhis.


Sayangnya, pertanyaan itu tak satupun terjawab. Seorang staf yang sedang patroli akhirnya menemukan Yudhis dan Nawang di sudut terujung area baru wahana rumah hantu. Mereka berdua pun bisa kembali dengan selamat dari sana.


Yah, memang tidak ada yang membahayakan di sana. Namanya juga rumah hantu buatan manusia. Tapi, di sana mereka menyadari bahwa kejeniusan mereka tidak selalu berguna. Karena bodohnya, mereka tidak tahu bahwa pintu keluar terletak tidak jauh dari tempat mereka duduk bersantai. Betapa malunya mereka saat itu. Keduanya bersumpah tidak akan mengatakan kecerobohan ini pada siapapun.


“Wajah lo kenapa gitu?” tanya Tina pada Nawang.


Nawang hanya tertunduk sambil menyembunyikan wajahnya. Seumur-umur baru kali ini dia ‘face palm’ pada kebodohannya sendiri.


“Gapapa. Dia hanya masih trauma masuk ke rumah hantu.” Yudhis mengarang.


Mengenal Nawang selama beberapa tahun, Tina tentu saja tahu bahwa gadis itu sama sekali tidak takut pada hal-hal berbau horror. Mungkin saat menonton film horror, kadang hanya merasa kaget saja, tapi setelah itu Nawang suka menertawakan adegan jump scare di film horror. Fansnya juga jarang yang tertarik setiap kali Nawang melakukan siaran game horror di channelnya, karena membosankan.


Jadi, satu hal yang paling mungkin menurut Tina. Ini adalah akal-akalan Nawang saja untuk pencitraan.


Pikirnya, dia dan Yudhis pasti sudah merencanakan semacam sandiwara di dalam rumah hantu tadi. Tujuannya, mungkin agar publik semakin yakin bahwa mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan saling mencintai.


Tetapi, begitu memperhatikan gerak gerik Yudhis yang sedang merangkul Nawang saat ini, Tina justru jadi yakin bahwa Yudhis lah yang sebenarnya sedang memanfaatkan Nawang. Tina merasa tatapan Yudhis pada Nawang tidak biasa. Setiap kali menatap Nawang, pria itu seakan sedang melihat hal paling berharga di dunia ini.


“... Masa, sih…” gumam Tina lirih.

__ADS_1


Tina tidak mau berspekulasi lebih lanjut. Karena, bisa saja dia salah. Namun, mumpung suasananya mendukung, tidak ada salahnya dia mengambil gambar Yudhis dan Nawang saat ini. Dia pikir, ini pasti akan jadi tambahan yang bagus untuk vlog mereka.



Hari telah berganti. Nawang yang mencoba bersikap biasa saja, seperti biasanya menyiapkan sarapan untuk Yudhis. Rencananya, dia tidak akan memasak banyak. Hanya nasi sorgum, sayur lodeh, dan dada ayam yang dipanggang di air fryer. Semuanya dia siapkan dari jam 5 pagi dan berhasil dia selesaikan pukul setengah tujuh pagi.


“Gue bawain, ya.” ujar Yudhis yang rupanya sudah berpakaian rapi.


Dimasukkannya sayur lodeh yang ada di panci ke dalam mangkuk besar yang terbuat dari kaca. Setelah semuanya masuk, dia bawa mangkuk besar itu ke meja makan. Selanjutnya, dia juga membawakan dada ayam panggang yang sudah ditata di atas piring. Saat semuanya sudah siap di meja makan, Yudhis langsung mengambil nasi sorgum di dalam rice cooker sebanyak satu centong.


Semua kegiatan itu adalah hal yang sering Yudhis lakukan di pagi hari setelah berganti baju. Walaupun dia sedang terburu-buru, Yudhis hampir tidak pernah melewatkan waktu untuk membantu Nawang.


“Ini orang kok santai banget, ya? Kayak gak ngerasa bersalah, atau risih, atau… galau misalnya.” kesal Nawang dalam hati.


Nawang tidak ingin mengakui bahwa dirinya lah yang sebenarnya dibuat galau oleh Yudhis. Walau kenyataannya memang Nawang ketar-ketir setiap kali mengingat kejadian di rumah hantu. Karena itu, melihat sikap wajar Yudhis, rasanya dia begitu kesal.


Pria itu mulai memakan sarapannya. Mulutnya membuka lebar tiap kali makanan di atas piringnya masuk. Dikunyahnya nasi sorgum beserta lauk pauknya sampai halus, membuat bibirnya bergerak-gerak mengikuti gerak rahangnya.


“Kemarin mochi gue juga dimakan kayak gitu. Coba gue yang dimakan… eh?”


Nawang bangun dari lamunannya, namun matanya sulit untuk lepas dari bibir Yudhis. Menyadari itu, Yudhis dengan sengaja menjilat bibir bawahnya walau tidak ada makanan yang tertinggal di sana.


“Ayo keluarkan keberanianmu lagi, Dhis! Barang kali kesempatan! Hayuk! Let’s gooo!” Yudhis menyemangati dirinya sendiri dalam hati.


Setelah semalaman suntuk tidak tidur, karena memikirkan kelakuan bejatnya, Yudhis beresolusi bahwa dia akan memakai strategi terjang terus tanpa kendor.


Yudhis adalah seorang pengamat manusia yang baik. Dia perhatikan terus bagaimana reaksi Nawang padanya sejak kejadian di rumah hantu. Dia sering mendapati Nawang yang melamun sambil memandanginya, dan saat dia tegur, Nawang juga sering salah tingkah. Karena itu, dia yakin bahwa Nawang mulai merasakan hal yang berbeda padanya.


‘Cpak!’


Decakan lirih terdengar saat Yudhis menjilat bibir atasnya.


Seketika jantung Nawang berdetak kencang dibuatnya. Pemandangan di hadapannya itu mungkin adalah versi paling seksi dari Yudhis yang pernah dia lihat. Karenanya, Nawang sampai menegak ludahnya.

__ADS_1


Agaknya Yudhis sudah berhasil membuat Nawang ‘kehausan’. Namun, Yudhis tidak akan melanjutkan pancingannya sekarang. Waktunya kurang tepat, karena dia masih harus berangkat kerja. Selain itu, dia ingin membuat Nawang lebih kesal lagi. Karena, dengan begitu Nawang akan semakin kehausan dan memintanya untuk membantu melepas dahaganya.


“Udah jam tujuh. Gue berangkat dulu, ya. Takutnya macet.” ujar Yudhis.


Kini lamunan Nawang hilang sepenuhnya. Yudhis yang sudah selesai makan, segera membereskan piringnya untuk dibawa ke dish washer. Dia tidak langsung menyalakan mesin itu, karena sepertinya Nawang belum selesai makan.


“Omong-omong gue bakal makan bareng klien hari ini. Jadi, lo gak usah masakin bagian gue.” pesan Yudhis sambil membetulkan kemejanya.


“Pulang jam berapa?” tanya Nawang.


Yudhis mengangkat bahunya sambil berkata, “Kurang tahu. Mungkin bakal malam banget.”


Wajah Nawang nampak agak kecewa saat mendengar jawaban Yudhis. Ini membuat Yudhis semakin percaya diri dengan prediksinya.


“Ya, udah. Gue berangkat.”


Dengan langkahnya yang lebar, Yudhis berjalan menuju pintu dan memutar kenop-nya. Tapi, tiba-tiba terasa ada sesuatu yang menarik belakang kemejanya.


“Kenapa, Wang?”


“Morning… kiss.”


Nawang tutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya. Dia tidak percaya akan apa yang baru saja dia katakan. Harapnya, Yudhis tidak mendengar kata-katanya tadi, atau kalau bisa yang tadi itu cuma bagian dari khayalannya saja. Tapi sayang, mulutnya itu memang telah mengatakannya dan Yudhis juga mendengar jelas ucapannya.


Ah… betapa inginnya Yudhis tertawa penuh kemenangan saat ini. Dia juga ingin melakukan apa yang diinginkan istrinya secara tidak sadar tadi. Tapi, dia masih perlu bersabar. Karena, kalau dia melakukannya sekarang, Yudhis tidak yakin bisa menahan diri.


“Tangan lo sini!” perintah Yudhis sambil mengulurkan tangannya di hadapan Nawang.


Entah apa maksud Yudhis. Namun, Nawang tetap menurutinya. Dia ikut mengulurkan tangannya yang kemudian langsung dijabat oleh Yudhis.


Yudhis arahkan jabatan tangan mereka ke depan bibir Nawang, lalu dia tempelkan di bibir itu sejenak.


“Udah, ya. Gue beneran berangkat sekarang. Baik-baik di rumah. Kalau mau main di luar, hati-hati.” ucapnya sambil mengelus kepala Nawang lembut.

__ADS_1


Setelahnya, tanpa melepas senyumnya, Yudhis benar-benar pergi. Pagi ini benar-benar hari keberuntungannya. Tidak percuma dia begadang semalaman, kalau paginya bisa mendapatkan kecupan tangan pertama dari istrinya.


__ADS_2