
Jumlah pasien yang terpapar pandemi kian hari semakin menurun, dan akhirnya PSBB pun dicabut. Hari-hari sibuk di Ibu Kota pun kembali seperti sedia kala. Begitu pula di setiap gedung perkantoran yang sudah mulai melaksanakan kegiatan secara luring lagi.
“Banyak yang terjadi selama PSBB berlangsung. Tapi, saya harap kita tetap solid, sehingga dapat melaksanakan kewajiban kita secara professional. Demikian rapat hari ini, silakan kembali ke pos masing-masing. Terima kasih.” ucap Yudhis mengakhiri rapat pagi di hari pertama luring.
Memang tidak semua karyawannya bekerja di kantor hari ini, karena sebagian sudah ditugaskan di rumah masing-masing untuk bekerja dari sana. Khusus para karyawan tersebut, rapat juga disiarkan melalui aplikasi meeting online. Jadi, mereka tidak perlu repot-repot datang ke kantor.
“Hm? Kok kayak ada yang berubah apaaa gitu?” ujar Mitha yang terakhir keluar dari ruangan setelah Yudhis.
“Jangan naksir! Gue udah taken.” sahut Yudhis pada rekan kerjanya itu.
“Maaf ya, Pak. Saya juga sudah taken. Malah lebih dulu dari Anda.”
Mitha yang kesal didakwa memutar bola matanya. Sambil melipat kedua lengannya, dia ikut berjalan bersebelahan dengan Yudhis,
“Eh, iya. Si Rake gimana kabarnya? Udah lama gak kontekan gue sama dia.”
Rake adalah suami Mitha yang juga teman Yudhis saat masih kuliah. Terakhir kali Yudhis mendengar tentangnya beberapa bulan lalu, dia sedang ditugaskan di Arab Saudi. Tetapi, entah setelah itu tidak ada kabar lagi tentangnya.
“Ng… hehehe, sebenernya pas lo honeymoon dia pulang. Cuma beberapa hari, terus pulang. Dia sebel banget loh, gak diundang di nikahan lo.” jawab Mitha.
“Bilang ke dia, ‘suruh siapa gak kontek berbulan-bulan.’ gitu.”
“Siap, Boss. Tapi, emang di sana dia sibuk banget, sih. Telfon istrinya aja cuma bisa dua hari sekali dan cuma satu jam.” keluh Mitha.
“Turut berduka cita. Semoga gue gak ngalamin.”
“Iya, deh… yang pengantin baru!” sungut Mitha.
Wanita itu mempercepat langkahnya mendahului Yudhis, kemudian lanjut berkata, “Dari pada gue dengerin ocehan sombong lo, mendingan gue balik aja. Bye!”
Yudhis tidak membalas apa-apa. Memangnya apa yang perlu ditampik dari pernyataan Mitha tadi? Dia memang senang menyombongkan diri dengan status pernikahannya walaupun hanya bersifat kontrak. Karena, kontrak sekalipun tetap saja dia menikah dengan Nawang dan hari-hari Yudhis selalu seru bersamanya.
Yudhis mengangkat bahunya sekilas, lalu melanjutkan perjalanannya ke ruangannya. Selama perjalanan, seperti biasa para karyawan menyapanya dengan sopan dan Yudhis menyapa mereka kembali dengan seadanya saja.
__ADS_1
Tapi, ada yang berbeda di kantornya sekarang. Perjalanannya terasa semakin enteng dan rasanya dia bisa membalas sapaan para karyawan itu dengan lebih ikhlas.
alasannya hanya satu hal. Yaitu, karena Marcel sudah tidak ada di kantornya lagi. Dengan ketidakhadirannya, artinya juga sudah tidak ada lagi yang akan mengganggunya hanya untuk memeriksa dokumen secara tatap muka. Padahal semua itu bisa dilakukan hanya dengan mengirimkan dokumen itu ke email kantor. Tetapi, Marcel selalu saja membuang-buang kertas untuk mencetak dokumen tersebut dan membawakannya ke ruangnnya.
Sebagai manusia yang hidup di era modern dan merasa masih muda, tentu cara seperti itu sangat kuno dan tidak efektif. Tapi, bagi Marcel, itu adalah saat untuk curi-curi kesempatan mendekati Yudhis.
Satu hal lain yang paling Yudhis syukuri setelah Marcel tidak ada di kantornya adalah bahwa sekarang dia bisa meminum apapun dengan lebih tenang. Dia tidak perlu lagi was-was minum dari pantry umum di kantornya, karena takut airnya telah dicampuri sesuatu.
Rasa lega itu juga disadari oleh para karyawan di bagian sekretariat dan HR yang paling dekat dengan ruangannya. Hanya saja, mereka menduga bahwa ini adalah efek dari pernikahannya dengan Nawang.
Begitu masuk ke dalam ruangannya, Yudhis menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Dia benar-benar lega, karena semua berjalan sesuai dengan rencananya.
Tapi sayangnya, kelegaannya harus berubah menjadi kekecewaan, karena sebuah pesan dari Nawang.
[Dhis. Sorry, gue gak bisa bawain lo bekal. Soalnya nyeri haid gue parah banget.]
Di saat seperti ini, sebagai suami tentu dia tidak boleh marah. Malah seharusnya dia memberikan perhatian lebih. Terkadang nyeri haid Nawang memang cukup parah. Untungnya itu tidak selalu terjadi. Tapi, saat terjadi, gadis itu sampai tidak bisa bergerak dari kasurnya.
Tak lama setelahnya, Nawang membalas dengan sebuah stiker bergambar kelinci dengan tulisan ‘OK’.
Jadilah Yudhis terpaksa makan siang di luar hari ini. Padahal ini adalah saat-saat yang sangat dia nantikan. Bagi Yudhis, masakan Nawang itu tidak ada duanya dan tidak tertandingi bahkan oleh chef dari restoran michelin sekalipun. Terlebih, dia juga bisa bertemu Nawang di siang hari sambil pamer kemesraan.
Mengingat hari ini tidak bisa melakukannya, Yudhis mendadak patah semangat. Bekerja pun rasanya terpaksa. Hingga siang yang tidak dinantikannya pun tiba.
…
Kantor NTMall sebenarnya menyediakan kantin untuk para karyawannya. Untuk para petingginya juga disediakan. Tetapi, kebanyakan yang berada di posisi atas lebih suka membawa bekal atau makan di luar.
Seperti yang Yudhis lakukan sekarang. Dia sedang berada di cafe Setubruk, franchise cafe terkenal dari Austria yang salah satu cabangnya berada tepat di seberang gedung NTMall.
“Saya pesan Iced Americano yang Grande dan Sandwich isi daging asap pakai saus truffle, seladanya jangan terlalu banyak.” pesan Yudhis.
“Take out atau makan di sini?”
__ADS_1
“Take out saja.”
Di jam makan siang, cafe ini selalu ramai pengunjung dan dia tidak ingin berdesak-desakan. Pandemi masih merajalela walaupun PSBB telah usai. Dia khawatir akan membawa virus itu ke rumah.
Awalnya tadi dia juga tidak ingin membelinya sendiri. Tetapi, berhubung dia suntuk, jadi untuk mengubah suasana dia datang ke cafe ini sendiri.
“Yudhis?”
Suara seorang pria menyapa dari arah belakangnya. Yudhis pun menengok ke sumber suara untuk mengetahui siapa pemilik suara itu. Namun, seketika mukanya berubah kecut ketika mengetahuinya.
“Geh! Aaron…. ngapain ini bule di sini?” batin Yudhis kesal.
Untung saja wajah kecutnya itu tertutup oleh masker hitamnya. Memang ada hikmahnya juga dipaksa memakai masker.
“You alone?” tanya pria berambut pirang itu begitu jarak mereka tidak terlalu jauh.
“As you can see.” jawab Yudhis.
Aaron tidak heran dengan nada bicara Yudhis yang selalu ketus padanya. Dari awal pun pria itu selalu begitu kepadanya. Dugaanya, Yudhis begitu, karena merasa cemburu pada kedekatannya dengan istri Yudhis. Padahal Aaron murni ingin berteman saja dan tidak memiliki maksud lainnya.
“It’s been awhile. Padahal rumah kita berdekatan, tapi setelah di super market waktu itu kita tidak pernah bertemu lagi.”
Yudhis membalas, “We moved to different place for some reasons. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi selamanya.”
“Pfft.” Aaron hampir saja terbahak, karena merasa lucu dengan tingkah cemburu Yudhis.
“Aku yakin kita malah akan semakin sering bertemu.” ujar Aaron setelah berhasil menahan tawanya.
Lanjutnya, “Karena, mulai minggu depan aku akan bekerja di gedung sebelah NTMall.”
‘JLEGERRRR!’
Entah dosa apa yang telah Yudhis lakukan, sampai kesialannya menumpuk di hari yang dia pikir adalah hari bahagia. Masa dia juga harus pindah kantor supaya tidak bertemu dengan si bule yang sudah dia anggap sebagai saingannya?
__ADS_1