Status : Menikah

Status : Menikah
Bekal Penuh Dusta Part 3


__ADS_3

Ada dua kemungkinan tentang siapa sebenarnya orang-orang yang menguntit Yudhis dan Nawang. Pertama, bisa saja itu hanya wartawan yang menginginkan berita. Dan yang kedua adalah suruhan orang yang bermaksud menjatuhkan mereka berdua.


Tetapi, kemungkinan pertama harus gugur, karena kekuatan Pandu sebagai pimpinan salah satu keluarga konglomerat terbesar di Indonesia. Dia dan istrinya sudah lebih dulu membayar sebagian besar media baik di dalam maupun di luar negeri agar tidak macam-macam dengan keluarganya. Jadi, tidak mungkin kalau penguntit itu adalah wartawan.


Karena itu, kemungkinan kedua lah yang paling masuk akal. Dan tentang siapa yang menyuruh orang-orang itu, belum ada yang bisa memastikan. Atau, bisa juga orang-orang itu bergerak atas kemauan mereka sendiri, bukan suruhan orang lain.


“Jadi, itu alasan lo nguntit gue?”


Yudhis akhirnya lega, Nawang telah memahami maksudnya.


“Nggak perlu bilang ‘nguntit’ juga kali. Bilang aja ‘melindungi dari jauh’, kan lebih enak.”


Pipi Yudhis yang mudah mulur langsung menjadi korban cubitan Nawang setelah mengatakan hal tadi.


“Paling nggak ngomong dulu, kek. Iiihh…”


Saking gemasnya, Nawang lanjut mengunyel-unyel pipi karet Yudhis.


“Awwwww… mawu tuwh diwiatin Tina. (Malu tuh, dilihatin Tina.)”


Awawa… Nawang baru ingat kalau Tina mengekor di belakangnya. Segera Nawang lepas tangannya dari pipi Yudhis, lalu berbalik badan.


“Yang tadi di-cut ya. Ingat…” selanjutnya, Nawang dan Yudhis berkata bersamaan, “Gak ada lo-gue di kamera.”


Tina bukannya tidak pernah melihat hubungan Yudhis dan Nawang sebelum menikah, hanya tidak akrab saja. Tetapi, satu hal yang paling dia tahu adalah bahwa keduanya sama-sama tukang jaga image. Mereka tidak mau diri mereka sebenarnya kelihatan di depan publik.


“Oke…” sahut Tina sambil menunjukkan isyarat dengan tangannya.


“Tapi, gue keluar aja ya, dari pada jadi nyamuk di sini. Nih, kameranya.” lanjutnya sambil menyerahkan kamera pada Nawang.


Diterimanya kamera itu, lalu Tina pergi tanpa mendengar persetujuan maupun penolakan dari Yudhis maupun Nawang. Jadilah Nawang sendiri yang akan mengambil gambar selama mereka makan. Tetapi, untuk sementara waktu dia akan mematikan kameranya. Karena, dia ingin lebih lanjut menanyakan hal tadi.


“Sekarang, lanjutin lagi penjelasan lo soal tadi!” perintah Nawang.

__ADS_1


Sebelum mengatakannya lebih lanjut, Yudhis terlebih dahulu mengambilkan dua botol teh kemasan untuk diberikan pada Nawang. Kemudian, dia mengajak Nawang untuk duduk di sofa.


“Gue udah mulai selidiki identitas yang ngirim orang-orang itu sejak gue dapet laporannya. Tenang aja.” ujar Yudhis.


“Tapi, belom dapet juga infonya sampai sekarang?”


Sambil menepuk-nepuk kepala Nawang, Yudhis menjawab, “Lo pikir gue CEO di drama Korea yang bisa nyuruh anak buahnya nyari info dalam satu hari? Dunia nyata gak semanis itu, Rosalinda.”


Lanjutnya, “Mereka juga hati-hati banget. Jadi, jujur tim gue agak kesusahan. Yang penting sekarang, gue harus jaga lo dulu. Gue gak mau ada apa-apa sama lo selama gue gak ada di sebelah lo.”


Mendengar penjelasan Yudhis membuat pipi Nawang merona. Dia tidak tahu kalau sahabatnya sejak SMA itu bisa mengatakan hal semanis itu.


“Terus, gue juga minta lo buat hati-hati sama orang di sekitar lo. Terutama orang yang baru lo kenal atau orang yang gak lo kenal sama sekali.” tambah Yudhis.


Secara jelas Yudhis mengimplikasikan pada kejadian di super market saat Nawang bertemu dengan Aaron. Pria berambut pirang baru Nawang kenal beberapa saat, jadi amat sangat perlu dicurigai. Yudhis tidak mau bila Nawang lengah hanya karena Aaron pernah membantunya di saat genting. Selain itu, Yudhis juga tidak mau pria itu dekat-dekat dengan wanita yang dicintainya.


“Hmm… oke. Gue paham.”


Dalam hati Nawang juga membenarkan perkataan Yudhis. Dia sekarang juga paham kenapa Yudhis tidak suka saat Aaron dekat-dekat dengannya. Hanya saja, masih ada satu hal yang mengganjal hatinya.


Jawaban di kepala Yudhis sudah pasti cuma satu, yaitu karena dia tidak ingin ada pria lain di samping Nawang. Memasang body guard perempuan juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Meski demikian, Yudhis tidak bisa jujur mengenai hal itu.


“Sorry, gue gak kepikiran. Nanti kita bicarain soal ini.” dustanya.


“Omong-omong masak apa aja?” Yudhis mengalihkan pembicaraan.


“Lihat sendiri aja!” jawab Nawang ketus.


Yudhis buka rantam bekal di atas meja dan seketika membulatkan matanya. Senyumnya mengembang dari telinga ke telinga, tak ingin menyembunyikan rasa senangnya.


Melihat Yudhis yang mengambil lemper isi ayam, Nawang segera menaruh botol air dan memasang tripod. Selanjutnya, dia arahkan kamera ke arah Yudhis. Dia pastikan kamera itu menyala dan senyum Yudhis yang sedang makan bekal buatannya terekam dengan baik.


“Rasanya enak gak, Sayang?” tanya Nawang dengan nada riang.

__ADS_1


Pikir Yudhis, tidak mungkin mood Nawang berubah secepat ini. Yudhis paham kalau ini sudah saatnya dia untuk melanjutkan sandiwaranya.


Sambil menghadap ke arah kamera, Yudhis menjawab, “Enak. Enak banget. Masakan istriku terbaik pokoknya.”


Selanjutnya, Nawang menggeser badannya agar bisa ikut masuk ke dalam frame.


“Terus, mana dong hadiahnya?”


Sejenak Yudhis bingung. Dia tidak menyiapkan apapun untuk Nawang sebagai hadiah. Kalau dia bilang akan membelikan Nawang sesuatu dengan harga super, nanti dikira Nawang matre. Tapi, kalau tidak memberikan apa-apa, nanti dia yang dikira pelit. Padahal dia siap saja kalau Nawang meminta sesuatu. Tapi kemudian, dia ingat akan sebuah hal yang lupa dia katakan pada Nawang.


Dipeluknya Nawang hingga kepala Nawang bersandar di dadanya. Kemudian, dia berkata, “Sementara segini dulu. Nanti kita lanjutin di apartemen baru kita.”


Nawang mendongak. Sorot matanya seakan menanyakan sesuatu.


“Apartemen baru?”


Ini pertama kalinya Nawang mendengar soal apartemen baru itu. Sejak kapan Yudhis menyiapkannya?


“Aku siapin condo deket kantor. Jadi, aku bisa lebih cepet ketemu kamu habis pulang kantor dan kita bisa rahasia-rahasiaan lebih lama.”


Mulut Nawang membulat. Lalu, dengan akting malu-malunya kembali menyandarkan kepalanya pada Yudhis. Dia juga membalas pelukan Yudhis dengan erat.


“Makasih, Sayang.” ucapnya.


Dengan adanya apartemen baru ini, Nawang juga jadi lega. Karena, artinya mereka bisa lebih bebas tanpa pengawasan Rista. Mereka juga bisa tidur di kasur yang berbeda. Tidak seperti saat tinggal di rumah orang tua Yudhis.



“Dhis… apa harus rumahnya segede ini? Ngebersihinnya nanti gimana?”


Itulah pendapat yang pertama kali keluar dari mulut Nawang setelah melihat untuk pertama kali condominium barunya dan Yudhis. Mulutnya terus menganga saking takjubnya dengan luasnya rumah yang akan mereka tinggali.


“Yaelah… lo itu istri bos, generasi ke-3 salah satu orang terkaya di Indonesia. Ngapain juga mikirin siapa yang ngebersihin rumah?”

__ADS_1


Nawang, tanpa melepas sepatunya masuk lebih dalam dan memperhatikan satu persatu interior yang ada di sana. Tidak terlalu banyak, tetapi ini sesuai dengan seleranya yang tidak suka muluk-muluk.


“Yang penting, welcome to our home.” ujar Yudhis.


__ADS_2