Status : Menikah

Status : Menikah
Melakukan yang Seharusnya


__ADS_3

Tetap berada di perusahaan ini adalah satu-satunya jalan yang Marcel miliki untuk dapat bertemu lagi dengan Yudhis. Terlebih semenjak Ayahnya tidak mau lagi mengakomodikasikan keperluannya seperti selama ini. Segala akses telah tertutup untuknya. Para mata-mata yang dia kirimkan untuk membuntuti Yudhis dan Nawang pun semuanya mundur, karena tidak berani melawan Robi dan merasa tidak ada untungnya lagi bekerja untuk orang yang tidak memiliki uang.


Kehidupan Marcel benar-benar sangat jatuh sekarang. Belum pernah dia sejatuh ini setelah kematian kekasihnya terdahulu.


Surat peringatan pertama sudah dia terima. Dia juga mengakui bahwa dia bersalah dan pantas menerimanya. Dia hanya tidak menyangka akan mendapatkan surat peringatan, karena merasa posisinya di perusahaan ini sangat aman berkat pengaruh Ayahnya yang notabene seorang petinggi di perusahaan ini.


Sekarang dia terancam akan dipecat, jika melakukan kesalahan lagi. Tapi, Marcel yang sudah kehilangan semangat merasa tidak ada gunanya juga dia berusaha menjadi lebih baik. Toh, orang yang dapat membuatnya semangat juga tidak melihatnya.


“Aku tidak punya pilihan lain. Ini yang kamu mau Yudhis…” gumamnya.


Secarik kertas di tangan Marcel lipat, kemudian dia masukkan ke dalam sebuah amplop berwarna putih.



Pagi harinya, Marcel menyerahkan amplop berisi secarik kertas yang telah dia siapkan semalam kepada seorang pria dari bagian HR. Pria itu tidak terlalu terkejut saat menerimanya, karena sebelumnya sudah mendapatkan laporan tentang Marcel.


“Apa keputusan Anda sudah benar-benar bulat?” tanya pria itu meyakinkan.

__ADS_1


Sambil mengangguk pasti, Marcel menjawab, “Tidak ada gunanya lagi saya di sini. Jadi, bukankah akan lebih baik jika saya keluar?”


Pria dari bagian HR itu kemudian meletakkan surat yang ternyata surat pengunduran diri itu ke dalam sebuah map.


“Baiklah, jika keinginan Anda sudah bulat. Tapi, seperti yang Anda tahu, di perusahaan ini ada peraturan. Anda baru bisa resmi keluar setelah 30 hari pengajuan.” jelasnya.


“Yah… saya paham. Terima kasih sebelumnya.” ucap Marcel yang sebetulnya agak kecewa. Dia ingin segera keluar dari perusahaan itu untuk menjalankan rencananya setelah ini. Tetapi, Marcel malah harus menunggu terlebih dahulu jika tidak ingin terkena sanksi lanjutan.


“Sama-sama.” balas pria yang menjadi lawan bicaranya.


Di sana, para rekannya tengah sibuk mengerjakan pekerjaan mereka. Kalau dilihat seperti ini, agaknya Marcel memang terlalu banyak mengeluh. Selama ini Marcel memang selalu menyepelekan pekerjaannya.


Bukan berarti Marcel tak memiliki alasan. Dia melakukannya hanya agar Yudhis terus memanggilnya, walau sekedar untuk memarahi kesalahannya.


Dia membayangkan, entah bagaimana jadinya jika dia melaksanakan pekerjaannya dengan baik. Mungkinkah Yudhis akan lebih memperhatikannya?


“Habis dari mana? Tadi Bu Damai mencari, loh.” tanya Ollie yang melirik sejenak ke arahnya.

__ADS_1


Marcel memiringkan senyumnya melihat gadis muda itu.


“Aku akan mengundurkan diri.” ujar Marcel.


Mendengar itu, Ollie menghentikan tangannya yang tengah mengetik.


“Itu kan, yang kamu mau?” tanya Marcel.


Ollie mencoba tenang, walau sebetulnya dia cukup gugup. Dia tahu bahwa apa yang dia lakukan cukup berani. Terutama dia melaporkan orang yang tak lain adalah anak dari petinggi perusahaan tempatnya bekerja.


Sebenarnya Ollie sudah bersiap-siap akan kehilangan pekerjaannya. Namun, ternyata laporannya diterima begitu saja tanpa ada pertentangan. Sekarang, berkat laporannya, pria itu akan segera pergi. Namun, kepergian Marcel dari perusahaan bukanlah yang dia harapkan.


“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya.” jawab Ollie.


‘Melakukan yang seharusnya’


Marcel ragu jika tujuan Ollie memang selurus itu. Orang-orang di sekitarnya, bahkan dirinya sendiri terlalu kotor sampai sulit membedakan mana yang suci dan mana yang sok suci.

__ADS_1


__ADS_2