
Beni adalah seorang narapidana kasus pembunuhan yang dijatuhi hukuman seumur hidup. Jadi, sudah sewajarnya ruangan tersebut memiliki penjagaan yang ketat. Seorang anggota kepolisian pun ikut menemani Nawang saat dia berkunjung ke sana.
Awalnya Nawang akan kesulitan mendapatkan informasi yang kini ada di tangannya. Tetapi, tidak disangka, ternyata nasibnya cukup mujur. Anggota kepolisian itu hanya mengawasi mereka berdua dari jauh tanpa mengintervensi pembicaraan mereka. Karena itu, Nawang bisa dengan bebas merekam apapun pembicaraan mereka.
Yang tidak dia sangka, Beni malah menceritakan pengalamannya selama 14 tahun di penjara. Mulai dari apa saja yang dia lakukan di sana, siapa saja yang dia temui, dan rahasia apa yang terjadi di balik jeruji. Untungnya Nawang berhasil menghentikan Beni agar tidak membeberkan lebih banyak lagi.
“Disimpan enggan, dibuang sayang.”
Yudhis masih bimbang dengan apa yang harus dia lakukan. Tidak ada urusannya kriminal lain dengan permasalahannya. Tetapi, kalau dibiarkan, dia juga berdosa telah membiarkan orang lain merugikan negara.
“Tapi, testimoni begini gak terlalu kuat juga kok, Dhis. Mending kita cut yang dibutuhin sekarang, terus sisanya kita pikirin nanti aja.” saran Nawang.
Memangnya ada pilihan yang lebih baik dari ini? Bukankah lebih baik mempedulikan diri sendiri terlebih dahulu, dari pada repot memikirkan negara?
“Iya, sih. Kita fokus ke Pak Beni aja. Kita catet siapa saja orang-orang yang terlibat, lalu kita ungkap satu persatu.”
Sambil memberi tanda OK, Nawang menyahut, “Sip.”
…
Kejadian berawal saat jam makan siang berlangsung. Semua napi dengan teratur mengikuti jadwal tanpa seorangpun yang tertinggal. Begitu pula Beni dan rekan satu sel-nya, Ratib. Mereka bersama-sama menuju tempat makan yang sudah tersedia.
Setelah makan siang yang disajikan dalam tempat makan plastik diambil, mereka makan seperti biasanya. Begitu beberapa suap nasi masuk ke dalam mulut, tiba-tiba Beni mual dan muntah. Tak lama kemudian, dia juga mengeluh sakit perut dan mengalami diare. Beni meminta izin untuk pergi ke toilet, namun ditunggu sampai hampir satu jam pun dia tak kunjung datang. Hingga seorang petugas lapas menemukan Beni yang tengah tak sadarkan diri. Setelahnya, Beni dilarikan ke ICU untuk mendapatkan perawatan intensif.
__ADS_1
Selama tidak sadarkan diri, pihak kepolisian menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Diperiksalah kotak makan yang Beni gunakan dan di sana ditemukan zat arsenik, sebuah zat beracun yang mudah sekali menyatu dengan makanan.
Awalnya pihak kepolisian mencurigai lima orang napi lain yang menjadi juru masak hari itu. Tetapi, kecurigaan tersebut tidak terbukti setelah kepolisian menggeledah seluruh dapur dan sel mereka. Karena itu, diputuskanlah untuk menggeledah seluruh sel. Namun, belum juga setengah bagian sel di lapas itu digeledah, sesuatu yang mengejutkan telah lebih dulu mereka temukan. Racun arsenik tersebut berada di lapas Beni sendiri, di tempat Ratib menaruh barang-barangnya.
Berdasarkan keterangan Beni, terungkap bahwa rekan satu sel-nya sama sekali tidak bersalah. Pria malang itu hanya dimanfaatkan oleh pelaku sebenarnya. Beberapa pelaku yang Beni curigai adalah salah satu petugas lapas baru yang belum satu tahun bertugas di lapas Kota D.
Kecurigaan ini bukannya tidak berdasar. Karena, menurut Beni ada banyak keanehan setelah kehadiran petugas lapas yang dia sebut Jono itu. Mulai dari semakin banyaknya penghuni lapas yang kabur dalam satu tahun terakhir, penyelundupan narkoba di lapas, hingga kejadian yang menimpanya sendiri. Selain itu, Jono juga dinyatakan hilang saat ini.
“Foto Jono barusan udah gue kirim ke e-mail lo.” ujar Nawang.
“Oke. Kalau gitu, tinggal gue sampein ke anak buah gue. Mungkin bakal agak lama. Tapi, gue yakin kita bakal sempet ngejar dia.”
Nawang tidak meragukan janji Yudhis. Pria itu adalah yang paling bisa diandalkan dalam hal seperti ini.
Yudhis menyangga dagu dengan lengannya, kemudian berkata, “Gue yang sorry. Karena, beritanya udah nongol.”
Tidak ada yang lebih mengagumkan dari kecepatan informasi dunia maya. Kejadian yang baru terjadi pun bisa tersebar ke seluruh dunia bagaikan kecepatan cahaya.
“Kita terpaksa harus melakukan rencana selanjutnya lebih cepat. Kita harus segera kembali ke Ibu Kota.” saran Yudhis.
Nawang mengangguk setuju.
…
__ADS_1
Ollie baru kembali dari ruangan divisi lain saat Marcel tengah mengutak-atik ponsel pintarnya. Dengusan berat pun meluncur dari hidungnya untuk menahan amarah. Marcel memang bukan orang baru di perusahaan ini. Tetapi, bukankah justru dengan itu dia harus mencontohkan yang baik pada juniornya? Tetapi, selalu saja Ollie mendapati pria berkulit putih itu menyelewengkan tugasnya.
Ini bukan kali pertama Ollie melihat Marcel yang sembrono. Pekerjaan Marcel juga jarang yang beres. Seringnya pria itu membayar karyawan lain untuk mengerjakan tugasnya. Sudah beberapa kali Ollie menegurnya, tapi sayangnya Marcel selalu acuh. Karena itu, Ollie jadi enggan untuk berurusan dengan pria aneh itu. Tapi, sebagai sesama karyawan, Ollie juga tidak bisa mendiamkannya begitu saja.
“Pak, saya tidak melarang Anda untuk melihat ponsel sesekali. Jadi, tolong jangan berlebihan.”
Marcel sedikit melirik ke arah Ollie, lalu kembali ke hadapan ponsel pintarnya. Dia sedang sangat senang membaca berita heboh tentang Nawang dan Yudhis. Berbagai video tentang kemunculan Nawang saat mengunjungi Beni di rumah sakit juga tersebar di jejaring video. Dan kecurigaan tentang isu Nawang pun semakin meninggi.
Bagaimana ceritanya Marcel tidak senang dengan hal itu? Dia sangat yakin Nawang akan mendapatkan perundungan di dunia maya yang menyebabkan kemunduran channelnya. Setelah ini, televisi juga pasti akan memberitakan isu tersebut bersamaan dengan kasus arsenik di lapas yang melibatkan Beni.
“Hahaha…” gelak Marcel yang membuat Ollie semakin naik pitam.
Sudah ditegur, masih saja seperti itu. Bahkan Marcel sama sekali tidak mempedulikan hardikannya. Siapa yang tidak jengkel jika diperlakukan demikian?
“Baiklah. Jika sikap Anda terus seperti itu, saya akan langsung melaporkan kepada Ibu Shita, manager kita.” ujar Ollie yang kemudian melangkahkan kakinya menuju meja sang manager.
Marcel hanya terkekeh. Tidak hanya karena berita tentang Nawang, tetapi juga karena menertawakan Ollie yang menurutnya sangat bodoh. Tidak ada yang bisa melawannya di perusahaan ini, termasuk Yudhis sang CEO. Memangnya bisa apa karyawan sekelas dia?
Dan benar saja, laporan Ollie langsung ditolak oleh manager mereka.
"Maaf, tapi menurut saya, kamu kurang bukti."
"Bukti? Bukti apa lagi? Bukankah jelas sekali Marcel lebih banyak bersantai dibanding bekerja?"
__ADS_1
Manager bernama Shinta itu menghela napas panjang, lalu menjawab, "Bersabarlah. Jika kamu merasa benar, coba selidiki sendiri saja kecurigaan kamu. Saya akan menunggu laporannya."