Status : Menikah

Status : Menikah
Kencan Part 2


__ADS_3

Nawang keluar dari kamarnya dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya berbeda dari beberapa saat lalu, tapi juga berbeda dari yang biasanya dia kenakan.


Sebetulnya Nawang bukan perempuan tomboy yang selalu mengenakan celana. Tetapi, sekalinya memakai rok, Nawang lebih sering berpenampilan seperti forest girl. Roknya selalu panjang dan dipadukan dengan kardigan yang terbuat dari woll. Karena itu, image Nawang selalu kalem di mata orang lain yang belum mengenalnya secara dalam. Padahal aslinya lebih selengehan. Jika ditanya kenapa bisa begitu, Nawang akan menjawab bahwa selera aesthetic seseorang tidak ada hubungannya dengan sifat aslinya.


Kenyataannya memang begitu. Nawang hanya menyukainya, tidak benar-benar mendalami peran yang diberikan oleh image pakaiannya. Meski demikian, dia masih sering berhati-hati dalam memilih kata-kata di hadapan orang-orang yang belum terlalu dia kenal, misalnya seperti penonton kanalnya.


Kembali pada penampilan Nawang saat ini. Dia mengenakan gaun pendek warna biru tanpa lengan 10cm di atas lutut. Kakinya yang jenjang dia hias dengan stocking hitam tipis dan ankle boots dengan heels lebih dari 7cm. Untuk menutupi lengannya, dia juga mengenakan blazer abu-abu yang panjangnya hampir sama dengan roknya. Kemudian, rambutnya dia ikat tinggi-tinggi seperti Ariana Grande dulu. Yudhis menduga, dia juga menambahkan hair extention yang hanya diikat.


Oh, Nawang juga memakai anting dan kalung dengan liontin kecil. Hanya parfumnya saja yang masih sama, karena Nawang tidak sempat membeli aroma yang lain. Tapi, itu sudah cukup membuat Yudhis ternganga dan Nawang puas dengan reaksi tersebut. Bukankah artinya dia berhasil membuat Yudhis terpesona?


“Good, lu udah makan. Gue makan di mobil aja, ya. Kali aja lo mau buru-buru.” Nawang menuju pantry, lalu lanjut berkata, “Gue siapin bubur dulu. Lo langsung ke bawah aja.”


Yudhis yang sedari tadi melamun sambil memelototi penampilan Nawang pun tersadar. Dia ikuti langkah gadis itu, lalu menahan lengannya.


“Apa?” tanya Nawang yang kaget, karena tiba-tiba lengannya ditarik.


Dengan tubuh mereka yang begitu dekat, jantung Nawang berdetak begitu cepat. Dia begitu gugup. Mungkinkah Yudhis terpesona dengan penampilan barunya ini? Apa mereka akan berciuman sekarang? Apakah mereka tidak jadi kencan dan malah… ehem… tetap di rumah saja?


Nawang menunggu Yudhis membuka mulutnya. Dia begitu penasaran dengan apa yang akan Yudhis katakan.


“Hmm… Roknya kependekan. Ganti!”


Yudhis melepaskan genggaman tangannya, lalu memalingkan wajahnya yang memanas. Sebetulnya Yudhis sudah bersiap untuk menerima amukan Nawang, tetapi nampaknya Nawang tidak berniat untuk marah. Nawang hanya berjalan ke depan Yudhis dan menatapnya.

__ADS_1


“Hehehe… Oke. Cuma mastiin aja.” kata Nawang sambil tersenyum, seakan apa yang dia inginkan telah didapat.


Dia lalu lanjut berkata, “Kalau gitu, lo yang siapin sarapan gue. Biar gue ganti baju dulu.”


Tanpa menunggu jawaban Yudhis, Nawang pun pergi kembali ke kamarnya.


“Sialan… Mau maini gue nih Si Nawang.” gerutu Yudhis.


Meski demikian, Yudhis sudah bisa tenang sekarang. Apa jadinya kalau Nawang keluar rumah dengan pakaian seperti tadi? Selama ini saja dia sudah tebar pesona tanpa sadar walau hanya mengenakan fashion kasual yang tidak terlalu fancy.



Tidak lama kemudian, Nawang muncul dengan rok yang lebih panjang. Bersamaan dengan itu, Yudhis juga sudah selesai mempersiapkan sarapan untuk Nawang.


“Lho, kan udah gue bilang kalau bakal makan di mobil. Kok ditaruh di mangkuk biasa?” tanya Nawang yang heran melihat satu mangkuk bubur di atas meja.


Mulut Nawang membulat, paham. Dia sih, percaya diri bisa menjaga keseimbangan. Tetapi, karena sudah terlanjur disiapkan, akhirnya dia menurut. Jadilah mereka baru pergi setelah 5 menit Nawang menyelesaikan sarapannya.



Mobil mereka berdua kini terparkir di parkiran bawah tanah sebuah mall terbesar di Ibu Kota. Tujuan mereka ada di lantai dua mall setinggi 9 lantai ini.


“Inget, ya. Gue gak mau fashion show di depan lo.” Nawang memperingatkan.

__ADS_1


“Lah, kenapa? Kan gue penasaran, pengin lihat lo pakai baju macem-macem.” Yudhis berusaha menolak.


“Malu, lah. Lagian klise banget, fashion show di toko baju. Kayak di sinetron aja.” alasannya.


Sudah terbayang di kepala Nawang, saat dia keluar masuk ke ruang ganti hanya karena Yudhis tidak puas dengan baju pilihannya. Hal itu pasti akan sangat melelahkan. Lagi pula, Nawang bukan orang yang tidak tahu fashion dan juga bukan orang yang suka plin-plan. Dia juga sudah tahu seperti apa selera Yudhis. Karena itu, dia berani mempermainkannya tadi.


“Ya udah, sih. Masuk dulu aja yang penting. Kalau udah nemu baju yang cocok, dicoba, terus bungkus.” kata Yudhis sambil mendorong Nawang ke dalam butik kelas atas yang mereka sambangi.


Di sana mereka disambut oleh seorang pramuniaga yang langsung menawarkan pakaian dan aksesoris fashion yang sedang hit dan yang baru mereka keluarkan. Pramuniaga perempuan itu juga menunjukkan beberapa koleksi terbatas yang mereka miliki, hingga Nawang hampir tergoda dibuatnya.


“Sialan, ini mbak-mbak S3 marketingnya jago banget, njir!” batin Nawang setelah mendengarkan bagaimana perempuan itu menjelaskan berbagai pertanyaan yang dia tanya seputar produk-produk di butik mereka.


Tetapi, bukan Nawang namanya kalau dia belok dari seleranya. Sedari tadi matanya sudah tertuju pada sebuah ruffle dress medium berwarna hijau dari bahan sutra yang dipadukan dengan chiffon di bagian lengannya. Meskipun bukan dress panjang, tapi tidak terlalu terbuka. Yudhis sudah jelas tidak akan komplain dengan pilihannya ini.


Segera Nawang ambil dress itu, lalu dia bawa ke dalam ruang ganti. Dia coba dress itu di sana dan seperti dugaannya, baik ukuran dan modelnya cocok di tubuhnya.


Kemudian, tanpa memperlihatkannya pada pria yang menungguinya, Nawang sudah melepas dress tersebut dan mengenakan kembali baju yang dia pakai sebelumnya. Setelah itu, barulah dia keluar dari ruang ganti.


Betapa kecewanya Yudhis saat Nawang keluar tanpa mengenakan dress yang dipilihnya tadi. Padahal dia sudah menunggu.


“Mbak, saya pilih yang ini saja, ya. Ukurannya udah pas, kok.” ujar Nawang sambil menyerahkan dress itu pada pramuniaga tadi.


“Baik, Bu. Untuk pembayarannya…”

__ADS_1


Nawang memotong ucapan wanita itu dengan mengatakan, “Yang bayar suami saya, ya.”


Dipanggil sebagai suami, wajah Yudhis pun langsung sumringah. Agaknya sekarang kesabarannya sudah sangat luar biasa murah. Padahal hanya dipanggil suami, tapi langsung bahagia begitu.


__ADS_2