Status : Menikah

Status : Menikah
Proyek Balas Dendam Part 2


__ADS_3

“Wang!” panggil Yudhis.


Jarang-jarang Yudhis berteriak pagi-pagi begini. Nawang sudah tahu apa penyebabnya, karena itu langkahnya begitu santai tanpa terburu-buru. Sebelum menghampiri Yudhis, dia bahkan menyempatkan diri untuk mengatur filter kamera ponselnya.


“Nawang!!” panggil pria itu lagi.


“Yaaa, Sayang!” sahut Nawang.


Mendengar panggilan sayang dari Nawang, seketika Yudhis menghentikan aktivitasnya. Dia mencium ada aroma-aroma tidak beres dari sana.


Dan dugaannya benar. Saat Nawang datang, gadis itu sudah siap dengan kamera ponselnya yang diarahkan pada Yudhis.


“Nyari apa lagi?” tanya Nawang, seolah mencari barang pagi-pagi adalah hal yang biasa terjadi. Padahal, ini baru pertama kali Yudhis kelabakan mencari sesuatu.


“Nawang ulaaaar… ngonten apa lagi coba?” batin Yudhis.


Yudhis tidak tahu apakah Nawang sedang siaran langsung atau hanya sedang merekam saja. Karena itu, dia tidak bisa membalas macam-macam.


“Kamu lihat parfum Dyor yang belakangan ku pake? Kok dicari-cari gak ada ya?”


Sengaja Yudhis mengubah cara panggilnya pada Nawang. Saat ini, itu akan lebih mengamankan image-nya.


“Parfum? Gak di tempat biasanya?” Nawang malah balik bertanya.


“Aku udah nyari, tapi gak ada.” jawab Yudhis.


Wajah panik Yudhis nampak begitu lucu di mata Nawang. Sayangnya saat ini dia harus menahan tawa untuk sementara waktu. Kalau tidak, bisa gagal rencananya.


Yudhis berkacak pinggang sambil mengusak-asik rambutnya. Konyol memang. Hanya gara-gara sebotol parfum, Yudhis sampai sekacau ini.


Permasalahannya bukan pada parfum tersebut. Yudhis bisa memakai parfum manapun yang dia mau, karena dia punya parfum yang lain. Dia juga bisa membeli lagi dengan membelinya secara mendadak. Tetapi, karena parfum itu menghilang tiba-tiba, keseimbangan di etalase wardrobe-nya menjadi kacau.


Yudhis sengaja menaruh parfum tersebut di sebelah kanan pojok agar serasi dengan parfum yang satu merek di sebelahnya. Bentuk wadahnya yang agak unik juga telah menjadi pertimbangannya untuk menaruh parfum itu di deretan tersebut. Tidak mungkin pojok itu diisi dengan parfum yang lain.


“Ck. Kebiasaan…” gerutu Nawang.


Sambil mengarahkan kameranya ke tangan, Nawang menarik lengan Yudhis agar pria itu ikut dengannya. Kenyataannya, Nawang sampai sengaja berjalan mundur hanya agar mendapatkan gambar yang bagus.


Mereka berhenti di depan sebuah meja etalase lain. Kemudian, kamera Nawang berpindah ke salah satu sudut meja tersebut.


“Tuh.”

__ADS_1


Diambilnya parfum yang Yudhis maksud, lalu Nawang serahkan padanya. Tidak lupa, kameranya juga menyorot ke wajah Yudhis yang cengo.


“Makanya, taruh lagi di tempat biasanya. Teliti juga yang bener dong, Sayang.”


Mata Yudhis melotot tak percaya. Dia yakin betul bahwa ini bukan salahnya, tapi kata-kata Nawang tadi seakan menyudutkannya dan menuduhnya sebagai orang yang tidak teliti.


Merasa tidak terima, Yudhis mengulurkan tangannya menuju pipi Nawang. Dielusnya pipi itu beberapa kali, lalu dia cubit dan tarik semulur-mulurnya.


“Waaa! Cut! Cut!” seru Nawang sambil mematikan kameranya.


Adegan seperti tadi tidak ingin Nawang perlihatkan pada penontonnya. Untung saja dia tidak sedang siaran langsung. Kalau tidak, hancurlah image mereka.


“Heh! Lepasin!”


Sekuat tenaga Nawang melepaskan tangan Yudhis dari pipinya. Namun, saat pipi yang satu terlepas, cubitan Yudhis pindah ke pipi satunya lagi.


“Bilang ampun gak? Atau…”


Tidak merasa gentar, Nawang membalas, “Atau apa coba?”


“Atau gue gak bakalan lepasin pipi lo. Ini pipi bakal makin mulur sampe kalo dilepas, lo bakal bengkak. Kalau bengkaknya udah kempes, bakal jadi keriput, terus lo keliatan tua. Mau lo?” ancam Yudhis.


Terdengar kekanakan memang. Tapi, kalau itu benar terjadi, pastinya akan sangat menakutkan bagi Nawang.


Yudhis menyeringai sambil membalas, “Lo lupa gue bosnya? Sesekali bolos juga gue bisa keleus!”


“Nggak mungkin! Workaholic kayal lo mana ada bolos-bolosan?”


Kebetulan ponsel Yudhis sudah berada di sakunya. Diraihnya ponsel tersebut, lalu mengetik beberapa nomor. Begitu ponselnya tersambung dengan nomor tersebut, tanpa basa-basi Yudhis berkata,


“Pak Trio, hari ini saya ada keperluan mendadak. Mohon maaf, saya tidak bisa ke kantor hari ini. Saya akan minta Kris untuk mengurus hal yang diperlukan selama saya tinggal. Terima kasih.”


Yudhis tidak menunggu jawaban orang bernama Trio itu terlebih dahulu dan langsung mematikan ponselnya.


“Tuh, bisa.” ujar Yudhis pada Nawang.


Apa yang Yudhis lakukan tadi berhasil menutup mulut Nawang. Dia tak lagi berkomentar. Lalu, sambil menundukkan wajahnya dia bergumam, “Maaf.”


“Huh?” Yudhis pura-pura tidak mendengar.


“Maaf.” gumam Nawang lagi.

__ADS_1


Yudhis mendekatkan telinganya.


“Gak denger. Coba bilang yang lantang!”


Merasa mendapatkan kesempatan, Nawang pun berteriak, “MAAF!!”


Teriakan tersebut Nawang serukan tepat di telinga Yudhis. Pria itu langsung terlonjak dan secara otomatis melepaskan cubitannya. Nawang pun kabur dari Yudhis seperti biasanya.


Beruntung kamar Nawang tidak jauh dari kamar Yudhis, sehingga dia bisa bersembunyi di dalam sana. Kunci kamarnya juga memakai kunci manual, sehingga Yudhis juga tidak bisa masuk dengan kunci duplikat.


“Awas lo, Wang!” ancam Yudhis dari luar kamar itu.


Tak lama setelahnya, terdengar suara pintu tertutup. Namun, Nawang tidak langsung keluar dari kamarnya. Bisa saja itu hanya jebakan Yudhis saja agar dia mengira Yudhis sudah berangkat bekerja. Jadi, Nawang pun harus menunggu sampai dia benar-benar yakin.



Hari itu Nawang berhasil lolos dari amukan Yudhis. Namun, bukan berarti Nawang kapok begitu saja. Nawang melakukan hal serupa tiga kali lagi setelahnya. Hingga akhirnya perkara kaus kaki yang terjadi pada chapter 1 pun tiba. Dan tidak dia sangka, Yudhis benar-benar serius untuk tidak lagi meminjamkan console game-nya.


Siang hari setelah perkara kaus kaki, beberapa orang bawahan Kris datang ke apartemen mereka untuk mengambil segala macam console game yang ada di kamar Nawang. Entah di bawa ke mana semua console itu, yang jelas sudah tidak ada di rumah ini lagi.


Mungkin masih ada beberapa console di kamar Yudhis, tapi pria itu telah mengganti password pintu kamarnya. Artinya, Nawang harus mengatakan selamat tinggal pada siaran gaming hingga waktu yang tidak ditentukan.


Malam itu juga, Nawang langsung menghadap Yudhis untuk memohon agar mau meminjamkan lagi game console-nya.


“Gini loh, Pak Yudhis. Tugas Anda sebagai suami itu kan menafkahi istrinya secara lahir dan batin.” Nawang mulai berceramah.


“Saya sangat berterima kasih, karena Anda telah memberikan banyak hal kepada saya, seperti tempat tinggal, uang saku, uang belanja, dan sebagainya.”


Yudhis manggut-manggut membiarkan Nawang melanjutkan kata-katanya.


“Nah, tapi itu hanya nafkah secara lahir. Sedangkan nafkah secara batinnya, bisa Anda berikan melalui game console yang Anda pinjamkan pada saya. Tanpa game console tersebut, otomatis Anda belum sepenuhnya memberikan nafkah kepada istri Bapak. Padahal sebagai istri, saya juga sudah memasak, membersihkan rumah… dengan bantuan cleaning service panggilan tentunya, dan bahkan mencuci baju Anda.


“Jadi, alangkah baiknya, jika Anda kembali meminjamkan game console tersebut. Sekian.” tutup Nawang.


Usai sudah giliran Yudhis untuk mendengarkan. Dia pun berdiri dari duduknya.


“Lo sendiri yang minta.”


“Hm?” Nawang kurang paham dengan tanggapan Yudhis.


‘Grep’

__ADS_1


Yudhis memegang kedua bahu Nawang dan menatapnya lekat-lekat, lalu berkata, “Aku gak tahu kamu sepengin itu sama ‘nafkah batin’ dari suami kamu, Sayang.”


__ADS_2