Status : Menikah

Status : Menikah
Hadapi Masalah


__ADS_3

Beberapa kali mendapat tanggapan miring di dunia maya membuat Nawang kebal sekarang. Yah, dari awal pun dia tidak terlalu peduli dengan gosip, kecuali tentang efeknya pada kanal videonya. Dia hanya berharap penonton maupun pelanggan kanalnya tidak turun. Kalau terlanjur turun, setidaknya tidak terlalu drastis.


Namun, bukan Indonesia namanya kalau seorang celeb, influencer, maupun semacamnya tidak semakin populer setelah diterpa gosip. Seorang penyanyi tidak terkenal yang tersandung kasus narkoba saja bisa langsung meroket setelah keluar dari tempat rehabilitasi.


Pada dasarnya, masyarakat Indonesia itu selalu kepo dengan berita terkini. Entah berita baik maupun berita buruk, selama itu menarik bagi mereka, pasti akan terus diikuti.


Mental masyarakat yang seperti itu terlupakan oleh Marcel. Karenanya, dia kalang kabut melihat konten Nawang yang semakin sering ditonton. Pengikut kanalnya juga bertambah pesat. Bahkan dalam satu minggu dia mendapatkan lebih dari satu juta pengikut baru.


“Bagaimana bisa seperti ini?” geram Marcel sambil terus mengawasi kanal yang kini memiliki lebih dari 3 juta pengikut itu.


Dua hari sebelumnya, Nawang mengunggah sebuah video tentang tanggapannya pada berita yang belakangan menyudutkan dirinya. Dia, ditemani Yudhis, juga menjawab pertanyaan yang diajukan padanya terkait skandal tersebut. Nawang mengakui bahwa berita bahwa dia putri tiri dari Beni Wiryawan, pelaku pembunuhan empat belas tahun lalu yang mengorbankan Ibu dan saudara kandung Nawang sendiri.


Dalam video tersebut, Nawang juga menceritakan bagaimana hubungannya dengan sang Ibu dan kakak dulu. Ada yang merasa kecewa, karena sikap Nawang yang terkesan dingin pada keluarganya sendiri dan justru memaafkan Ayah tiri yang membuatnya sebatang kara. Namun, tidak sedikit pula yang memahami bagaimana perasaan Nawang yang seperti disia-siakan oleh Ibu dan kakaknya saat mereka masih hidup dulu.


Pro dan kontra tersebut membuat Nawang memutuskan untuk mematikan fungsi komentar pada kanal videonya. Tetapi, dia masih terus membuat konten dengan durasi normal dan pendek. Konten terakhir yang ada pada kanal itu adalah konten memasak yang Nawang lakukan berdua dengan Yudhis. Di sana mereka nampak begitu bahagia memperlihatkan kemesraan mereka sambil memasak, seakan tidak ada beban yang sedang mereka hadapi.


“Haaah... Kita juga bisa melakukannya bersama. Kenapa kamu lebih memilih perempuan ini?”


Kekecewaan yang membuncah di hati Marcel sudah tidak bisa ditahan. Ingin rasanya dia membalas perlakuan mereka yang menyakiti perasaannya. Tetapi, saat ini pergerakannya sedang sangat dibatasi. Sang Ayah tidak lagi membebaskannya melakukan apa yang dia mau. Seluruh akses keuangannya pun diawasi penuh oleh Ayahnya.


sialnya, Marcel baru mengetahui pembatasan itu setelah menggunakan kartu kreditnya untuk membayar Roby. Karena itu, sekarang dia tidak lagi bisa berkutik. Hanya waktulah yang bisa dia harapkan untuk mewujudkan keinginannya.


“Yudhis... Yudhis... Yudhis...” bagaikan sebuah mantra, Marcel merapalkan nama itu berkali-kali.


‘Brak!!’

__ADS_1


Marcel lempar ponsel di tangannya hingga remuk tak berbentuk. Marcel tidak bermaksud untuk melakukannya. Namun, harus ada sesuatu yang dia korbankan untuk meredam amarah dan rasa cemburu yang menggerogoti otak dan hatinya.


“Aku harus melakukan sesuatu... ya... sesuatu...” gumam Marcel sambil mengigiti kuku di jarinya. Sampai berdarah pun Marcel terus melakukannya, seakan dia telah mati rasa dan hanya merasakan panas di seluruh tubuhnya.


...


Sama seperti Marcel, Nawang juga terus memperhatikan jumlah followernya. Bukan hanya memperhatikan, tapi dia melotot dan hanya berkedip saat jumlahnya naik dengan drastis.


Belakangan, itu sudah menjadi hobi barunya. Siapa juga yang tidak senang jika mendapatkan rejeki? Dengan bertambahnya pengikut dan penonton kanalnya, berarti pundi-pundi uang juga terus mengalir padanya.


“Gak bosen, Wang?” tanya Yudhis yang lagi-lagi mendapati posisi duduk Nawang yang tidak berubah sejak satu jam yang lalu. Perempuan itu duduk di atas sofa ruang tengah dengan kedua kaki diangkat dan ditekuk. Kepalanya menunduk dengan tangan memegang ponsel di antara paha dan dada.


“Ey! Dipanggil gak nengok!” hardik Yudhis kesal.


“Waaa!” Nawang memekik saat Yudhis mengambil ponsel pintarnya dari tangannya.


Wajah Yudhis nampak kesal. Wajar saja, istrinya sudah beberapa hari ini tidak memperhatikannya. Untuk tiga kali makan pun harus menurut konten, bukan atas riquest dari Yudhis. Bahkan dua hari yang lalu Nawang membuat konten tentang makanan apa yang Yudhis benci dan memaksa untuk memakannya sampai habis. Bagaimana tidak kesal?


“Katanya mainannya disita? Gimana, sih?” balas Nawang, tidak kalah kesal.


Dia masih ingat dengan kejadian beberapa saat lalu. Karena itu, dia mengungkitnya kembali.


“Yhaaa kan kita bisa mainan yang lain. Main game mobile kek, congklak kek, catur kek, kejar-kejaran kayak di film India juga boleh.”


Nawang menarik badannya, seakan geli pada beberapa permainan yang Yudhis ajukan, terutama yang terakhir.

__ADS_1


“Omong-omong Mama minta kita buat mampir. Lo gak dapet pesan dari Mama?” Yudhis mengalihkan pembicaraan.


Diberikannya kembali ponsel pintar itu pada Nawang, lalu duduk di sebelahnya.


“Dapet, sih.” jawab Nawang.


“Terus lo jawab apa?” tanya Yudhis lagi.


Nawang menghela napasnya pelan.


“Cuma bilang ‘Ya, tunggu Yudhis gak sibuk ya, Ma.’ Gitu.”


Mendengar jawaban itu, Yudhis pun menarik pipi Nawang lebar-lebar. Bisa-bisanya dia mengkambinghitamkan dirinya.


“Sowwy... sowalna guweh takuwt...” alasan Nawang.


Setelahnya Yudhis melepas jeweran itu dan mulai berceramah.


“Lo tahu kan Mama sama Papa khawatir banget sama lo? Mama sampai nanyain lo setiap hari, lho. Tentang kabar lo gimana? Sakit atau nggak? Tiap hari kayak gitu. Sampe bosen gue dengernya. Sekarang lo malah bilang kalau gue yang sibuk. Gimana, sih?”


Nawang menundukkan kepalanya. Semua perkataan Yudhis memang benar. Tidak seharusnya dia berbohong dan menjadikan Yudhis sebagai alasan untuk menghindar dari RISTA.


“Emang takut apaan sih, coba? Toh Mama juga udah tahu siapa lo dari pertama kali kita berteman? Mama juga yang dulu nyuruh lo tinggal sama gue sementara keluarga lo lagi bermasalah.”


Memang Rista sudah tahu latar belakang Nawang sedari awal. Tetapi, skandal belakangan ini membuatnya takut untuk bertemu dengan Rista. Nawang takut dikira tukang cari sensasi. Dia juga takut mengetahui bagaimana reaksi Rista. Dan yang lebih penting lagi, Nawang takut akan diminta untuk berpisah dari Yudhis.

__ADS_1


“Hahh...” Yudhis mendengus, lalu lanjut berkata, “Mama bilang, kalau kita gak segera ke rumah, Mama yang bakalan ke sini. Terserah lo mau pilih yang mana.”


Agaknya Nawang memang sudah tidak bisa menghindari Rista. Mau tidak mau dia harus memilih salah satu dari pilihan yang tersedia, yang mana tidak ada dari keduanya yang akan membantu memecahkan kegundahannya.


__ADS_2