Status : Menikah

Status : Menikah
Mengaku pada Diri Sendiri


__ADS_3

Harapan terbesar Tina saat ini adalah agar Nawang memiliki teman dekat yang lebih banyak lagi. Dengan begitu, Nawang akan menceritakan keluh kesahnya pada orang selain dirinya. Karena, bagi Tina, sesi curhat Nawang adalah sebuah penderitaan.


Bukan berarti teman Nawang sedikit. Hanya saja rata-rata mereka adalah orang dengan kesibukan luar biasa. Jarak tempuh untuk bertemu mereka pun bervariasi. Dan kebetulan memang yang paling dekat adalah Tina. Jadi, Tina lah yang harus menderita sekarang.


Mungkin kalau sikap Nawang dalam menanggapi pendapatnya bagus, dalam artian tidak selalu menolak pendapatnya, Tina akan lebih bersedia mendengarkan. Tapi nyatanya, Nawang lagi-lagi menampiknya. Alhasil, Tina pun malas menanggapi lagi setelah Nawang memberikan pendapatnya sendiri.


“Haa… terpaksa gue harus manggil bala bantuan.” ujar Tina yang mulai menyerah.


“Bala bantuan?” Nawang bertanya-tanya.


Tina tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia langsung mengalihkan perhatiannya pada ponsel di genggamannya.


Tak lama setelah Tina memanggil nomor yang dia maksud, suara seorang pria pun terdengar begitu riang.


“Hi, honey!” sapa pria itu.


“Honey ndasmu peang! Mesra-mesraannya nanti dulu, lah. Aku di cafe kamu, nih.” sahut Tina dengan nada yang berkebalikan dengan pria di ujung sana.


Meski begitu, pria yang sedang dia panggil tidak terdengar marah. Malah hanya tertawa saja. Dia terdengar sudah terbiasa dengan hal itu.


“Ok. I’ll be there soon.”


Pria itu benar-benar memenuhi janjinya. Dalam waktu singkat yang pria itu ternyata maksud benar-benar singkat. Karena, hanya dalam waktu kurang dari lima menit saja dia sudah ada di hadapan Nawang dan Tina.


“Wowww akhirnya kalian bersatu kah? Bangga banget gue bisa jodohin kalian.” goda Nawang.


“Yeah, thanks to you.” Aaron dan Nawang menambrakkan tinju mereka pelan.


“Yhaaa gue mah orangnya gak gengsian. Gak kayak TEMEN lo. Kebanyakan drama.”


Saat ini Tina terdengar menyindir, tapi Nawang tahu bahwa temannya ini benar-benar sedang berbahagia. Saking bahagianya, dia ingin memamerkan betapa jatuh cintanya dia.


“Jelas! Temen kamu itu harus dirukiah, jadi no more gengsi.”


Pasangan baru ini benar-benar ingin membakar Nawang hidup-hidup agaknya. Dan sudah jelas sekali bahwa mereka berdua tahu bahwa yang selalu dia bilang sebagai ‘temannya’ adalah dirinya sendiri. Ternyata curhat pada Tina adalah hal yang sangat salah. Dia sampai cerita ke Aaron.


“So, TEMEN-nya Nawang kenapa lagi?” tanya Aaron.


“Ceritanya, mereka mau malam pertama, eh gak jadi.” jelas Tina dengan suara lirih, agar tidak didengar pengunjung lain di cafe.


“But, why?”

__ADS_1


“Kodrat wanita.” Tina memberi kode, karena merasa risih mengatakannya dengan gamblang.


Sambil memiringkan kepalanya, Aaron lagi-lagi bertanya, “As for that red thing?”


“O… red red.” Tina tidak terlalu lancar berbahasa Inggris dan hanya itu yang Tina dengar. Setidaknya dia paham apa maksud Aaron. Karena, memang itu yang dia maksudkan.


Seketika Aaron menatap Nawang dengan penuh keprihatinan. Dari lubuk hati terdalam, itu juga yang ingin Aaron sampaikan. Dia sangat kasihan pada Yudhis yang mungkin sudah berusaha sekuat tenaga, tapi digagalkan oleh takdir. Sungguh besar ujian yang harus dia terima.


“Ck. I’ll give your husband some discounts kalau dia ke sini lagi. No, sekarang juga aku call dia buat tawarin dia gratisan.”


Tina langsung menahan tangan Aaron sebelum dia benar-benar menelfon Yudhis.


“Kita harus menjaga perasaannya. Lakukan nanti saja.” nasihat Tina.


“Tapi, untungnya sekarang mereka udah benar-benar jadi pasangan kan? Apa ada problem yang lain?”


Tina berdecak sambil menggerakkan jari telunjuknya di hadapan Aaron.


“Ckckck. Masalahnya, TEMEN-nya Nawang tuh gak mau ngaku kalau dia udah suka sama suaminya.”


Dengusan kasar terdengar dari mulut Aaron.


“Aku kasih voucher gratis makan buat satu bulan penuh.”


Dalam benak Nawang sendiri sebetulnya terdapat sebuah dorongan untuk mengaku. Tetapi, egonya terlalu besar. Dia tidak mau mengaku lebih dulu. Karena, bisa saja Yudhis cuma bermain-main dengannya. Pria itu terlalu mirip dengannya. Jadi, kemungkinan untuk bercanda sangat besar.


“Kalau menurut gue sih, mending TEMEN lo disuruh ngaku aja, deh. Gak perlu sampe nembak duluan lah. Paling nggak, ngaku ke diri sendiri dulu aja. Gue jamin, bakal lebih tenang, deh.”


Ucapan Tina yang bagaikan seorang ekspert di bidang percintaan semakin membuat Nawang sebal. Padahal sebelum ini Tina jomblo lebih lama dibandingkan dirinya.


Namun, Nawang akui perkataan Tina sama sekali tidak ada salahnya. Walau dia tidak mengaku langsung pada Yudhis, setidaknya dia bisa mengaku pada diri sendiri bahwa di hatinya memang telah terisi oleh pria yang selama ini dia anggap sebagai sahabat terbaiknya.


“Wow! The rumored person is here. Panjang umur sekali.” ujar Aaron saat melihat seorang pria yang dia kenal masuk ke dalam cafe-nya.


Wajarnya, orang yang masuk ke dalam sebuah cafe akan membeli sesuatu. Namun, Yudhis tidak langsung ke register untuk memesan seperti biasanya. Dia nampak begitu tergesa-gesa. Matanya menelusuri seluruh sudut cafe untuk mencari seseorang.


“Di sana.” gumamnya saat menemukan Nawang di sana.


Langkahnya semakin bergegas mendekat pada Nawang. Dan saat mereka sudah saling berhadapan, Yudhis langsung meraih lengan Nawang.


“Ikut aku sekarang!” perintahnya.

__ADS_1


Sorot matanya nampak begitu serius, membuat Nawang berdebar-debar. Nawang pun berdiri.


“Apa nggak bisa ngomong di sini aja?” tanya Nawang.


Yudhis menggelengkan kepalanya, lalu mendekatkan diri ke telinga Nawang.


“Ini soal Ayah lo.” bisiknya.


Nawang segera sadar dari khayalannya begitu mendengar apa yang ingin Yudhis bicarakan.


“Ayo.” ajak Yudhis.


Nawang mengangguk, lalu menurut ke manapun Yudhis membawanya.


Status: Messenger


Yudhis: “Gue gak iri… gue gak iri… gue gak iri… ngapain iri sama bule kucrit ini?”


Aaron: “Rejeki anak sholeh.”


Yudhis: “Apanya yang sholeh?? Lagi pula gimana ceritanya kalian sudah jadian?”


Aaron: “Jadi, waktu itu kita ketemu di cafe ini. Terus…”


Tina: “Jangan spoiler!”


Yudhis: “Hah?”


Aaron: “Oh, iya! Kita kan juga mau berbagi cerita kita, ya.”


Tina: “Yes! Aaron udah sogok penulisnya buat nulis kisah kita berdua. Yaaa walaupun ga ada yang minta, sih.”


Aaron: “I can’t believe, our author loves me this much. But, unfortunately I have Tina already.”


Tina: “Ngomong apa pula nih, bule.”


Yudhis: “Serius bakal dibikinin cerita?”


Tina dan Aaron: “Yup!”


Tina: “Nantikan ceritaku dan Aaron di chat story mulai Senin depan!”

__ADS_1


Aaron: “Don’t miss it! Cerita kami juga gak kalah seru, kok!”


Yudhis: “Apa gue perlu baca juga ya, biar bisa cepet dapetin Nawang?”


__ADS_2