Status : Menikah

Status : Menikah
Best Mother in Law


__ADS_3

Nawang bersembunyi di belakang Yudhis begitu mereka turun dari mobil. Sambil mengamit kerah lengan Yudhis, Nawang melangkahkan kakinya penuh rasa canggung. Meskipun dia sudah memantapkan hati untuk datang ke kediaman Rista, tetap saja dia tidak bisa menahan getar di kakinya. Dia masih sangat takut untuk bertemu dengan mertuanya itu.


“Elaaah… ngapain, sih?”


‘Grep’


Yudhis yang risih dengan tingkah Nawang melepaskan tangan Nawang dari kerah lengannya, lalu menggenggam tangan itu erat-erat.


“Kayak mau ketemu apa aja! Udahlaah… biasa aja. Santai!” lanjut Yudhis, meyakinkan Nawang.


Pipi Nawang menggembung saking sebalnya. Tapi, dia juga tidak melawan. Mereka sudah terlanjur sampai di rumah yang selama ini Yudhis huni sebelum memutuskan untuk pindah ke rumah baru dengannya.


“Wah, Mas Yudhis sama Mbak Nawang akhirnya datang.” seorang perempuan berdaster menyambut mereka.


“Tolong panggilkan Mama ya, Mbak!” pinta Yudhis.


“Siap, Mas. Segera saya panggilkan.” sahut perempuan itu yang kemudian berbalik badan.


Tak lama setelah Yudhis memerintahkan ART di rumah mewah itu, Rista pun muncul. Dia mengenakan seragam korpri warna biru lengkap dengan pin-nya, menandakan bahwa ini bukan hari liburnya.


“Mama kira gak bakal bisa ketemu kalian sampai ajal menjemput.”


Tanpa basa-basi, dia langsung menyindir sepasang suami-istri yang terhitung masih baru itu.


“Maaf, Ma. Suasananya sedang tidak tentu.” Yudhis memberi alasan.


“Haah… sudahlah. Kalian duduk dulu, sini!”


Rista ajak mereka ke ruang tengah, tempat mereka biasa bercengkerama setiap kali Nawang datang bermain dulu. Tiba-tiba, Nawang menghentikan langkahnya.


“Ma, Nawang… min…”


Rista tidak menunggu Nawang menyelesaikan kalimatnya. Dia menengok, lalu memotongnya seolah tidak pernah mendengar apapun.

__ADS_1


“Coba bantuin Mbak Fani deh, Wang! Dia orang baru dan lagi belajar masakan favorit Mama.”


Terbungkam lagi bibir Nawang. Dia hanya menjawab perintah itu dengan anggukan kepalanya. Segera dia menuju dapur untuk bertemu ART baru di rumah itu. Sementara, Yudhis dan Rista tetap di ruang tengah, membicarakan entah apa di sana.


Letak dapur tidak terlalu jauh dari ruang tengah. Namun, masih cukup jauh hingga pembicaraan di ruang tengah tidak terdengar sama sekali dari sana.


Seorang wanita berusia 40 tahunan sedang bersiap memasak di sana. Duga Nawang, perempuan itu adalah Fani, asisten rumah tangga baru di rumah ini.


Saat menyadari ada orang lain di sekitarnya, Fani menengok. Melihat siapa yang ada di sana, dia menganggukkan kepalanya satu kali sambil tersenyum.


“Mbak Fani, ya? Kenalkan saya Nawang.” ujar Nawang sambil mengulurkan tangannya.


Fani menyambut tangan itu dengan menyalaminya. Dengan itu, dimulailah kegiatan memasak mereka. Seperti yang Rista perintahkan, Nawang mengajarkan apa saja yang perlu diperhatikan saat memasak untuk keluarga itu. Nawang juga membantunya membuat snack yang rencananya akan disajikan sekarang.



“Lho, saya aja yang bawa, Mbak.” Fani mencegah Nawang saat dia mengangkat dua piring besar berisi beragam buah-buahan dan pretzel itu.


Tenaga Nawang lebih besar dari Fani, begitu juga kelincahannya. Dengan sigap Nawang membawa dua piring tersebut dan tahu-tahu sudah agak jauh dari Fani. Terpaksa Fani pun menyerah untuk mencegah Nawang.


Dua piring itu Nawang taruh di meja kaca yang ada di ruang tengah satu per satu. Setelah itu, dia melihat ke sekelilingnya. Anehnya, tidak ada Yudhis di sana.


“Yudhis ke mana, Ma?” tanya Nawang.


“Lagi ke toilet katanya.” jawab Rista.


Mulut Nawang membulat. Tadinya dia juga ingin menanggapi lagi, tetapi tidak jadi. Menyadari bahwa dia akan berdua saja dengan Rista untuk sementara waktu, mulut Nawang seolah terkunci rapat.


Suasana canggung itu pun berlanjut hingga beberapa menit kemudian. Nawang sudah mulai resah menunggu Yudhis kembali. Namun, pria itu tak kunjung datang.


Nawang tidak tahu bahwa sebenarnya Rista lah yang meminta Yudhis untuk pergi meninggalkan mereka berdua sementara waktu. Melihat bagaimana reaksi menantunya begitu sampai di rumah ini, Rista yakin menantunya itu sedang ketakutan padanya. Padahal dia tidak bermaksud melakukan apapun padanya.


Sebagai seorang mertua, Rista tentu tidak ingin dianggap sebagai penyiksa menantu. Pikirnya, dia harus menjalin komunikasi yang baik dengan Nawang agar keharmonisan di keluarga mereka tetap terjaga seperti selama ini. Tetapi, dia juga merasa maklum dengan sikap Nawang itu. Karena, akhir-akhir ini dia sedang menghadapi masalah yang cukup rumit.

__ADS_1


“Kabar Pak Beni gimana?” tanya Rista yang akhirnya memecahkan keheningan di antara keduanya.


Sambil menunduk Nawang menjawab, “Keadaannya sudah membaik.”


“Syukurlah kalau begitu. Bagaimanapun beliau sudah sangat membantu Mama dalam berbagai hal.”


Mata Nawang memicing. Dia menengok dan menatap Rista dengan tatapan penuh tanya. Tidak pernah dia mengira ayah tiri dan ibu mertuanya saling kenal. Lalu, dia juga penasaran dengan bantuan apa yang sudah Beni berikan pada Rista.


“Kamu tahu, tidak semua orang menganggap pelaku kejahatan sebagai orang yang jahat. Mungkin dia melakukan kejahatan bagi orang lain. Tetapi bagi Mama, Pak Beni adalah orang yang berjasa.” jelas Rista.


Lanjutnya, “Pak Beni sangat bisa diandalkan saat masih bekerja di perusahaan Papa. Bahkan, kalau tidak ada kasus itu, mungkin jabatannya sekarang sudah menjadi direktur cabang. Selain itu, dengan kematian Ayah kandung kamu, jaringan pejabat korup juga menjadi tidak stabil dan satu persatu bisa terungkap.


“Bukankah artinya Pak Beni bukan benar-benar penjahat?”


Rupanya itulah yang Rista maksud.


Nawang mengingat kembali memori saat kehebohan itu terjadi. Kasus pembunuhan seorang anggota DPR itu berlangsung cukup a lot. Karena, ternyata masalah tidak hanya berkutat pada kisah kematian itu saja.


Setelah kematian ayah kandung Nawang, petugas menemukan kejanggalan pada jumlah kekayaan yang dimiliki wakil rakyat itu. Usut punya usut, akhirnya ditemukan fakta baru menyangkut asal uang tersebut. Keterlibatan beberapa pejabat juga disebutkan saat itu.


“Dari pada terus melihat sisi buruknya, sekali kali lihatlah sisi yang lain. Bukannya kita semua sama? Mama juga seorang politikus, yang artinya tidak bisa sepenuhnya menjadi orang baik. Tapi, kamu meyakini bahwa Mama adalah orang baik, bukan?”


Nawang mengangguk.


“Tapi, Nawang sudah melibatkan Yudhis dalam permasalahan Nawang. Apa Mama tidak marah kalau Yudhis terus disebut-sebut di akun infotainment dengan berita yang kurang menyenangkan?”


Rista melipat lengan di depan dadanya, lalu bersandar di sandaran sofa. Dia berkata, “Namanya juga suami istri. Justru aneh kalau kamu gak ngelibatin Yudhis. Bukannya sebagai pasangan seharusnya kalian saling membantu?”


“Jadi, Mama gak masalah?”


Rista menggelengkan kepala, kemudian menjawab, “Yang penting kalian cepat menyelesaikan masalah ini. Dan jangan lupa, kalian masih punya hutang cucu ke Mama.”


Candaan Rista membuat perasaan Nawang menjadi cukup tenang. Mungkin memang benar, dia belum terlalu memahami Rista walau sudah saling mengenal belasan tahun lamanya. Karena, nyatanya dia adalah mertua terbaik di dunia.

__ADS_1


__ADS_2