Status : Menikah

Status : Menikah
Kalau Yudhis yang Ngambek


__ADS_3

Pergi berduaan bersama Nawang adalah hal yang biasa bagi Yudhis. Sebagai sahabat, tak jarang mereka melakukan piknik, berkemah, dan hal-hal seru lainnya berdua. Tetapi, kali ini pastinya sedikit berbeda. Karena, status mereka sudah menikah.


Yah… walau menikahnya hanya di atas kertas.


Dengan penuh semangat, Yudhis menyiapkan banyak hal untuk kencan mereka. Contohnya seperti, apa saja yang akan mereka lakukan, ke mana saja perginya, dan hadiah apa yang akan dia bawa. Tetapi, sesuatu yang tidak Yudhis duga pun terjadi.


Karena sebuah virus yang sempat menjadi pandemi kembali merebak, pemerintah menyerukan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Karenanya, terdapat larangan keluar rumah dengan alasan apapun sebelum virus mematikan itu hilang. Sialnya, larangan itu mulai berlaku sehari sebelum rencana mereka berkencan.


“Gila! Kirain virusnya udah mati. Tapi, malah makan korban lagi sekarang. Mana sampai lima ratus orang perhari pasiennya.” Nawang berkomentar saat sedang menonton televisi di ruang tengah.


Di sampingnya, Yudhis hanya terdiam tanpa ikut mengomentari. Matanya hanya lurus menatap layar televisi sebesar 43 inch itu dengan dengan tatapan penuh dendam kesumat.


Merasa orang di sebelahnya diam saja, Nawang pun menyenggol pundak Yudhis.


“Heh! Itu wajah lama-lama beneran jadi T-rex, loh. Sebete itu gak bisa keluar rumah?”


Yudhis masih bergeming dengan wajahnya yang menyeramkan. Dia semakin sebal, karena sepertinya Nawang tidak merasakan apa yang dia rasakan saat ini.


“Yaelah… bersyukur aja kali, Dhis! Kalau gini kan kita juga gak perlu khawatir soal stalker itu.”


Untuk hal itu, Yudhis juga paham dan amat sangat bersyukur. Tapi, dia juga sangat menyayangkannya, karena kencan di luar itu salah satu kesempatan untuk bermesraan dengan Nawang. Jika mereka tetap berada di rumah seperti ini, yang ada mereka cuma akan menghabiskan waktu untuk bermain game atau mengobrol seperti biasanya. Bagi Yudhis yang terlanjur menyadari perasaannya, tentu semua itu tidak cukup.


“Gue tahu kalau lo bosen. Gimana kalau kita main game aja?” bujuk Nawang.


Yudhis tak juga terbujuk dengan rayuan itu.


“Mau gue masakin? Lo mau apa? Ala barat? Indonesia? Jepang? Korea? Atau India? Kebeneran gue abis beli garam masala. Gimana?” rayu Nawang lagi, tetapi itupun tak juga membuat Yudhis berbicara.


Karenanya, Nawang memutar bola matanya. Dia mulai kehabisan ide. Tidak seperti dirinya, Yudhis yang sudah ngambek akan sangat susah dibujuk. Bahkan orang tua Yudhis sendiri sampai menyerah beberapa kali.


“Ck! Ya udah. Gue mau bikin konten dulu. Bye!” ujar Nawang yang tidak tahu lagi mau melakukan apa.


Gadis berkucir kuda itu pun bangkit dari sofa menuju kamar pribadinya. Tetapi, baru beberapa langkah berjalan, Nawang langsung berhenti. Dia merasa ada seseorang yang mengikuti langkahnya.


“Ngapain?” tanya Nawang begitu membalikkan badannya.


Didapatinya Yudhis sudah berada di belakangnya, lengkap dengan bantal sofa di pelukannya.


“Katanya mau ngonten?”

__ADS_1


Mata Nawang seketika memicing. Sedari tadi dia ajak bicara tidak menjawab. Giliran Nawang mau ke kamar, langsung mengekor. Sikap suaminya kali ini benar-benar membuatnya bingung sekaligus heran.


“Lo mau ikutan?” tanya Nawang lagi.


Barulah Yudhis tersadar, bahwa konten video yang Nawang akan buat mungkin tidak mengharuskan ada dirinya.


“Nggak. Gue cuma mau balik ke kamar, terus sekarang mau nyuruh lo buat matiin TV-nya.” dengan cepat Yudhis memberi alasan dan melewati Nawang begitu saja.


Nawang cengo dibuatnya. Kalau cuma mematikan televisi, bukannya tanpa minta bantuan Nawang juga bisa? Dan bukannya lagi dia yang terakhir berada di sofa? Kenapa juga tidak Yudhis sekalian yang mematikan?


“Yudhistyrex!!” seru Nawang.


Sayangnya, Yudhis sudah menghilang secepat kilat saat Nawang menengok.


“Haaa…” dengus Nawang dengan kasar.


Kemudian, dengan suara menggelegar Nawang berteriak, “Siri!!! Shut the TV off!!!”


Yudhis yang mendengar teriakan itu pun terperanjat. Tetapi, dia pura-pura tidak peduli dan tetap melanjutkan perjalanannya ke kamar.



“Hari pertama PSBB di rumah baru. Kalian mau tahu gak, Pak Bos lagi ngapain dari tadi?”


“Lihat, tuh! Suami aku yang ganteng dan katanya berwibawa masih goleran di dalem selimut. Gak mau keluar, diajak bicara susah, males-malesan. Hmm… sangat mencerminkan bos yang baik, ya?”


Mendengar dirinya disindir habis-habisan oleh Nawang, Yudhis pun menyibakkan selimutnya. Nampak jelas betapa kesalnya Yudhis saat ini, karena istirahatnya diganggu oleh istri tengilnya.


Dia pikir, kali ini dia tidak akan ikut ke dalam konten Nawang. Karena itu, Yudhis memutuskan untuk tiduran saja. Barang kali akan bermimpi kencan hari ini.


Sayangnya, berkencan dalam mimpi juga gagal. Bahkan digagalkan oleh orang yang dia ajak untuk kencan. Bayangkan saja sebalnya seperti apa!


“Ayolaaah… walaupun hari ini kita gak jadi keluar, kan kita masih bisa kencan di dalam rumah.” Nawang mengucapkannya dengan nada selembut mungkin.


Dalam hati, Yudhis bersumpah akan mulai memanggil istrinya dengan rubah betina. Kata-katanya selalu manis tiap kali ada maunya. Tetapi, selalu beracun saat kemauannya sudah terpenuhi.


“Boleh, kencan di rumah aja. Mau apa? NTflix and chill?” Yudhis balas mengerjai.


Untung saja saat ini Nawang berada di belakang kamera. Kalau tidak, mungkin wajah sebalnya yang jelek akan menyebar dalam waktu semalam. Tentu Nawang tidak menginginkan hal itu.

__ADS_1


“Gak usah malu-malu. Aku ready kap-”


Belum selesai Yudhis berkata, sebuah sandal indoor sudah menamplek jidat kinclongnya.


“Cut! Cut! Ulang! Apaan sih, ngomong kayak gitu? Iyewgh~” seru Nawang sambil mengutak-atik kameranya agar gambar yang tadi dihapus.


“Lo yang macem-macem duluan. Ya, gue ikutin aja lah.”


Agaknya Yudhis memang ingin mengajak Nawang berdebat.


“Ya, gak mesti bilang gitu juga keleus! Entar channel gue kena suspend gimana, njir?” balas Nawang kesal.


“Ya, udah. Bikin yang bener, dong? Orang lagi istirahat, malah lo gangguin.”


Berkat gangguan Nawang, niat Yudhis untuk bermalas-malasan pun hilang.


“Lo kenapa sih, Dhis? Seingin itu lo keluar rumah? Gak takut kena pandemi lo?”


Yudhis menengok, kemudian menjawab, “Lo udah berkali-kali pacaran kok gak peka banget sama cowok, sih?”


Ditanya apa, jawabnya apa. Bagaimana Nawang tidak makin bingung? Memang apa hubungannya kisah percintaannya selama ini dengan masalah yang dia tanyakan?


Tadinya Nawang ingin langsung menanyakannya, tetapi tiba-tiba ponsel pintar Yudhis berdering.


“Ini curut satu juga ngapain telfon?” serapah pria itu.


Nawang menyadari wajah Yudhis yang sudah keruh menjadi semakin keruh dan pucat. Tebaknya, telfon itu berasal dari orang yang paling tidak Yudhis harapkan di dunia ini. Dan benar saja tebakan itu.


“Kenapa, Cel?” Yudhis langsung to the point begitu mengangkat telfon dari Marcel. Dia terlalu malas berbasa-basi walau sekedar berkata ‘halo’ pada pria sesat itu.


“Ini hari Sabtu. Kamu ambil dokumennya Senin nanti saja, pagi-pagi.” ujar Yudhis lagi.


Sayup-sayup Nawang masih mendengar suara sekretaris Yudhis itu dari seberang sana. Pria bernama Marcel itu terdengar memaksa. Walau tidak bisa mendengar dengan jelas, Nawang menebak kalau pria itu ingin agar Yudhis ke kantor untuk menyelesaikan sesuatu.


Yudhis nampak semakin kesal, karena Marcel terus memaksa. Lalu, di tengah kekesalannya itu, Yudhis seperti memberikan sebuah kode untuk Nawang.


Untungnya, Nawang menangkap kode tersebut dan ini adalah saatnya untuk dia beraksi.


“Sayang~ siapa, sih? Kita kan lagi seru. Kok berhenti? Aku kan belum puas~”

__ADS_1


Pfftt.


Nada manja Nawang yang dibuat-buat hampir saja membuat Yudhis terbahak. Apalagi Nawang mengucapkannya dengan suara yang lantang.


__ADS_2