Status : Menikah

Status : Menikah
Dukungan Calon Mertua


__ADS_3

“Sumpah, Wang! Kali ini gue gak ada campur tangan. Yang nyebar gosip kalau lo hamil bukan gue, ya!” Yudhis mencoba membela diri.


Persoalan gosip mereka rupanya mulai memasuki babak baru. Gara-gara Nawang yang keluar dari kantor Yudhis dalam keadaan pucat dan mual-mual, kini beberapa media mengabarkan bahwa dia sedang hamil muda dan mereka akan segera menikah.


Yudhis memang bukan seorang artis yang sering muncul di televisi untuk menyanyi maupun bermain sinetron. Tetapi, berkat kesuksesannya di usia muda serta ketampanannya, dia cukup dikenal di masyarakat dan banyak yang ingin mengetahui kehidupan pribadinya. Jadi, berita kali ini jelas akan menjadi santapan mewah bagi para penggila gosip.


“Terus siapa kalau bukan lo? Kan lo yang dari kemarin getol banget pengin pacaran kontrak sama gue.” tuduh Nawang.


“Atau jangan-jangan…” lanjutnya, “Lo sebenernya naksir gue? Anjay lah, Dhis!”


Yudhis menjauhkan badannya dari Nawang yang duduk di sebelahnya. Tatapan jijik dari Nawang pun dia balas dengan tatapan jijik yang serupa.


“Amit-amit, Wang! Mending gue jadi jomblo selamanya daripada gue sama lo!” sanggah Yudhis, kuat.


“Heh, kata-kata adalah doa!”


“Kok lo nyumpahin gue sih, Wang?”


“Lo sadar gak sih Dhis, kalo lo sendiri yang nyumpahin diri lo?”


“Hah!?”


Perdebatan mereka mendadak berhenti saat mereka mendengar pintu depan rumah Yudhis dibuka dari luar. Mereka yang tahu siapa orang yang akan masuk pun segera bangun dari sofa untuk menyambut orang tersebut.


“Yudhis bawain tasnya ya, Ma.” ujar Yudhis dengan sopan.


“Tante udah makan? Tadi Nawang udah masakin di dapur, makanan kesukaan tante.” tanya Nawang sambil merangkul tangan Rista.


Melihat kedua bocah dewasa itu akur, hati Rista pun ikut tentram. Rasanya tidak sia-sia dia lelah bekerja seharian ini, kalau anak dan teman anaknya seakur ini.


“Kamu kan lagi hamil. Mendingan kamu istirahat aja.” ucap Rista yang membuat Nawang membulatkan matanya.


“Mama kok percaya berita aneh begitu, sih?”


Rista melirik puteranya dengan penuh kekesalan, kemudian menghardik, “Kamu juga! Hamilin anak orang seenaknya! Harusnya kamu nikahin dulu, baru dikawinin!”


“Waduh, Tante… itu berita bohong, kok! Nawang beneran gak hamil!” Nawang ikut membela Yudhis.

__ADS_1


Tapi, nampaknya Rista masih belum percaya dengan ucapan dua bocah dewasa yang sudah menjadi bagian hidupnya itu.


“Sini, Nawang.”


Rista menarik Nawang untuk duduk di sofa dan lanjut berkata, “Kamu gak usah takut. Tante setuju kok kalau kamu sama anak tante. Harusnya kamu gak usah sembunyi-sembunyi. Tante udah kenal kamu dari lama dan tahu kalau kamu anak baik. Tante gak peduli asal usul keluarga kamu seperti apa. Yang penting kamu bisa kasih yang terbaik bagi kamu sendiri dan keluarga baru kamu.”


Sambil tersenyum, Nawang kembali menjelaskan, “Gak gitu, Tante. Nawang itu beneran gak hamil. Berita yang tante baca itu salah kaprah. Tadi Nawang cuma mual masuk angin aja. Sekarang udah sembuh.”


Nawang tidak bisa menceritakan penyebab sebenarnya dia mual-mual tadi pagi. Karena, pasti akan sangat membuat Rista shock dan jantungan.


Dari belakang, Yudhis tiba-tiba merangkul Nawang dan duduk di samping gadis itu. Merasa rangkulan Yudhis tidak seperti biasanya, Nawang pun menengok ke arah pria itu sambil berusaha melepaskan diri dari rangkulannya. Namun, rangkulan Yudhis cukup kuat. Jadi, sulit bagi Nawang untuk melepasnya.


“Tapi, gosip lainnya bener kok, Ma.” ucap Yudhis.


Semakin paham dengan apa yang akan Yudhis katakan, Nawang pun berusaha menutup mulut Yudhis dengan tangannya. Tetapi, dengan secepat kilat tangan itu Yudhis tangkap.


“Gosip kalau sebenernya kita udah jadian. Cup.” lanjut Yudhis yang kemudian mengecup dahi Nawang.


Nawang yang terkejut dengan serangan dadakan itu mendadak diam membatu. Sementara itu, Rista justru terlihat sangat gembira.


“Wah! Selamat! Akhirnya! Duh… gapapa deh, kamu gak hamil duluan! Yang penting anakku gak jomblo lagi.” girangnya.


“Mama mau kasih kabar ini ke Papa di Inggris. Papa pasti seneng banget dengernya.”


Pengakuan Yudhis sudah terlanjur Rista dengar dan Nawang tidak bisa menghapusnya dari ingatan wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu sendiri itu. Kalau menyanggahnya sekarang pun pasti akan susah diterima.


“Awas lo, Dhis…” ancam Nawang tanpa bersuara.


Seolah mengacuhkan, Yudhis hanya tersenyum mengejek pada Nawang yang kini tidak bisa berkutik lagi.



“Dhis, lo udah durhaka banget bohongin Tante Rista kalau kita pacaran. Lo sumpah parah banget!”


Nawang masih tak habis pikir dengan apa yang baru dialaminya tadi. Kalau tidak ingat perbedaan kekuatan fisiknya dengan Yudhis, sudah pasti Nawang akan menghajar Yudhis habis-habisan.


Saat ini mereka sedang berada di ruang kerja milik Yudhis yang cukup kedap suara dari luar. Tidak ada yang akan mengganggu perdebatan mereka di sana.

__ADS_1


“Seogah itu lo sama gue, Wang.”


Nawang cepat menjawab, “Ya, lo seenaknya gitu. Gimana gue gak ogah?”


“Lo juga sering banget seenaknya sama gue. Ya, gue bales lah!”


Nawang tidak bisa menampik soal itu. Karena nyatanya, Yudhis memang sering menjadi sasaran empuknya dalam berbagai hal. Tapi, Yudhis juga sering melakukan hal yang sama padanya. Walau herannya, mereka masih tetap bisa akrab dan kompak.


“Udah lah, Wang. Lo terima aja proposal dari gue. Dijamin lo gak bakal rugi, deh!” bujuk Yudhis.


“Wani piro?”


Yudhis memutar bola matanya dengan jengah. Rupanya gadis itu tidak membaca tuntas surat perjanjian yang waktu itu dia berikan. Tapi, kali ini dia akan mengalah. Jadi, Yudhis pun mengambil surat perjanjian itu dan dia berikan lagi pada Nawang.


“Baca yang bener!” perintah Yudhis, memaksa.


Dibacalah surat perjanjian itu oleh Nawang.


Dalam surat perjanjian itu dituliskan bahwa Nawang harus bersedia menjadi kekasih resmi Yudhistira selama waktu yang tidak ditentukan. Lalu, sebagai imbalannya, Yudhis akan memberikan apapun untuk Nawang agar dapat lebih memajukan channel kontennya selama perjanjian itu berlangsung.


“Kenapa gak ada waktu yang ditentukan?” tanya Nawang.


“Kita kan gak tahu kapan kita bakal suka sama orang lain. Dan selama belum ketemu orang itu, bukannya lebih baik kalau status kita tetap pasangan?”


Nawang manggut-manggut paham.


Dibacanya lagi surat perjanjian itu dengan lebih seksama. Dari surat perjanjian itu, Nawang tidak menemukan hal-hal yang mencurigakan. Semuanya hanya pasal yang membahas tentang keuntungan dua belah pihak dan hukuman apa yang akan mereka dapatkan.


“Kalau selama jadian, gue beneran suka sama lo gimana? Harusnya ada pasal yang bahas itu juga.” tanya Nawang lagi.


“Emang lo bakal suka sama gue? Selama ini kita deket banget, juga gak ada rasa apa-apa kan?”


“Kalau lo yang suka gue gimana, Dhis?”


“Sama kayak yang tadi gue bilang lah, Wang. Selama ini kita baik-baik aja. Gak ada yang nyimpan rasa lain di antara kita kan? Atau jangan-jangan…” lanjut Yudhis, “Lo gak yakin bakal tahan sama pesona gue?”


Dengan sepenuh hati, Nawang menabok wajah pria tampan itu.

__ADS_1


“In your wildest dream, Dhis!” seru Nawang yang kemudian langsung menandatangani surat perjanjian itu tanpa memikirkan apapun lagi.


Dan itulah yang menjadi celah bagi Nawang. Mungkin Nawang tidak menyadarinya, karena istilah yang Yudhis berikan dalam perjanjian itu terlalu ambigu. Karena, ‘kekasih resmi’ yang Yudhis inginkan tidak sekedar berpacaran.


__ADS_2