
Sebagai orang tua, Rista tentunya tidak mau anaknya terlibat dengan skandal. Jadi, saat mendengar berita pernikahan kontrak putranya dengan gadis yang juga dia kenal, sekuat tenaga Rista menghalau berita itu tersebar.
Siang itu Rista memanggil Nawang dan Yudhis ke rumahnya, tidak lain untuk menanyakan (menginterogasi) tentang kebenaran berita itu. Tadinya Rista ingin menanyakan mereka begitu berita itu mencuat, namun dia urungkan. Karena, sebagai seorang wakil gubernur, Rista tidak bisa meninggalkan rakyatnya begitu saja. Terlebih saat ini virus mematikan kembali marak.
Karena itu, begitu mendapatkan waktu yang lebih longgar, Rista akhirnya dapat menyempatkan diri untuk bertemu dengan putera dan menantunya.
“Ada yang mau langsung menjelaskan to the point? Waktu Mama sempit. Jadi, cepetan!”perintah Rista pada Yudhis dan Nawang yang sekarang sedang duduk dengan lutut tertutup di hadapannya.
Keduanya saling melirik, seakan memberi telepati pada masing-masing tentang siapa yang akan menjelaskan lebih dulu. Dan hasil akhir dari diskusi mata itu adalah Yudhis yang akan menjelaskan lebih dulu.
“Gini, Ma. Sebenernya Yudhis dan Nawang gak ada maksud buat ngejatuhin martabat kita. Kami berdua cuma sedang latihan sekaligus promosi. Soalnya, Nawang lolos tahap pertama audisi drama baru di NTFlix.” dusta Yudhis.
Nawang menambahkan, “Iya, Ma. Kami ngomong gitu emang sengaja, Ma. Buktinya, di sana juga ada Kris. Iya kan, Sayang?”
Yudhis mengangguk cepat.
“Terus, ceritanya Nawang pengin bikin videonya dulu, terus di upload. Jadinya, sutradaranya kayak kepaksa gitu buat nerima Nawang. Soalnya udah ke-blow up.” tambah Nawang lagi.
Cerita mereka terlalu aneh bagi Rista. Menurutnya, cara yang mereka tempuh hanya untuk sebuah web drama sangat berbelit-belit.
“Nawang… Nawang… suami kamu itu banyak duit, lho. Dia juga punya saham besar di NTFlix. Yudhis tinggal bilang aja mau investasi di dramanya, asal masukin kamu jadi pemainnya. Gampang kan?”
Nawang juga menyadari hal itu. Tapi, dia tidak punya alasan lain yang lebih cepat dia dapatkan. Rencana konyolnya saja dia dapat begitu temannya mengabarkan bahwa akan syuting web drama baru. Kebetulan judulnya ‘My Influencer Bride’ dan ceritanya lumayan mirip dengan kisahnya dengan Yudhis.
“Yudhis juga udah bilang gitu ke Nawang, tapi dia gak mau. Katanya, lebih heboh lebih baik.”
Seketika Nawang melotot ke arah Yudhis, karena mengatakan hal sembarangan. Yudhis juga melotot balik pada Nawang seakan mengatakan bahwa dia tidak ingin ikut jatuh bersama Nawang.
“Terus mau kalian gimana?” tanya Rista.
__ADS_1
Sungguh dia sangat lelah. Pekerjaannya yang begitu banyak sangat menguras tenaganya di usia yang hampir menginjak 60 tahun.
“Kami ingin agar berita itu tetap diunggah dan dibiarkan viral.” jawab Yudhis.
“Kamu…”
Raut jengkel begitu terlihat di wajah Rista. Namun, wanita itu berusaha menahannya demi kesahatan. Selain itu, Rista menangkap sesuatu dari keseriusan keduanya. Dia yakin bahwa apa yang mereka katakan tadi bukanlah alasan sebenarnya dan ada hal lain di balik semua perbuatan gegabah mereka.
“Ya, sudah. Kalian urus sendiri saja! Dan mama harap, setelah urusan ini selesai kalian bisa bayar tagihan kalian ke mama. Mana? Katanya mau kasih cucu habis bulan madu!”
Setelahnya, mereka terus dicecar dengan pertanyaan ‘kapan punya anak?’ beserta rentetannya. Namun, dengan ini saja Yudhis dan Nawang sudah bersyukur. Karena, artinya jalan mereka tidak akan terhalang lagi.
…
Benar saja, Yudhis dan Nawang berhasil meng-viralkan skandal mereka sendiri, dengan pseudonym tentunya. Seluruh anak buah Yudhis dan rekan content creator Nawang dikerahkan untuk menyebarkan skandal buatan mereka. Bahkan dalam sehari setelah pembatasan penyebaran yang Rista lakukan dicabut, sudah ada 10 content creator lokal dan 5 content creator internasional yang sudah membahas skandal ini.
Lama-lama netizen pun semakin penasaran dan mencari tahu sendiri kebenarannya. Banyak wartawan yang berusaha menghubungi Yudhis dan Nawang untuk diwawancara. Untungnya, saat ini masih PSBB sehingga tidak ada yang berani membuat kerumunan di dekat Yudhis.
Sementara Yudhis dan Nawang terus menolak untuk diwawancarai, seseorang justru bersedia diwawancarai. Orang itu juga dengan berani memperlihatkan wajahnya.
“Kayaknya pancingan kita berhasil, Dhis.”
Nawang perlihatkan sebuah video wawancara dari sebuah channel televisi nasional pada Yudhis melalui tabletnya. Agar bisa menontonnya bersama, Nawang ikut duduk di samping Yudhis.
“Saya berada di lokasi video viral itu direkam.” kata pria yang diwawancarai melalui video call itu.
“Gimana perasaan Pak Marcel saat melihat dan mendengar langsung perkataan Pak Yudhis dan Mbak Nawang?” tanya wartawan TV.
“Hm… saya kaget gak kaget, sih.”
__ADS_1
“Maksudnya bagaimana, Pak?”
“Selama ini saya melihat Pak Yudhis dan Bu Nawang memang dekat, tapi tidak lebih dari sahabat. Persahabatan mereka lebih seperti persahabatan antar pria. Sedangkan sikap Pak Yudhis sendiri pada Pria justru lebih lembut. Oh… maksud saya tidak hanya khusus pria, ya. Tapi, seperti koleganya, teman-temannya selain Bu Nawang. Pak Yudhis lebih bersikap sopan pada mereka.”
Ujung bibir Yudhis berkedut karena perkataan Marcel tadi.
“Ada-ada saja si Marcel.” tanggap Nawang.
“Lo gak usah heran. Dia emang seember itu dan suka memutarbalikkan fakta. Lo tahu gosip soal gue homo? Dia sendiri yang nyebarin.”
Melihat betapa kesal suaminya saat dikatai menyimpang, Nawang jadi menyesal pernah mengira hal yang sama. Dia pernah berpikir kalau Yudhis naksir pada Aaron yang tampan dan terlihat macho. Padahal Nawang adalah sahabat terdekat Yudhis, seharusnya dia juga lah yang paling tahu preferensi pria itu. Beruntung Nawang tidak pernah secara langsung menanyakannya. Tak terbayangkan betapa marahnya Yudhis nanti kalau mendengar sahabatnya sendiri meragukan kejantanannya.
“Gue paham kalau lo suka cewek. Tapi, untung lo gak minat sama gue.”
Yudhis terdiam meskipun ada banyak hal yang ingin dia ucapkan tentang minatnya pada Nawang. Tetapi, untuk saat ini dia pikir posisinya adalah yang paling aman. Dia adalah sahabat Nawang, tetapi dia juga menikahinya secara sah. Tetapi, lama kelamaan Yudhis semakin merasa tidak puas dan menginginkan lebih.
“Kata siapa?” ujar Yudhis lirih.
Beruntung bagi Yudhis, karena Nawang tidak mendengarkan gumamannya tadi. Perempuan itu lebih fokus pada video yang sekarang sedang mereka tonton bersama.
“Wah, berarti Pak Yudhis cukup dekat ya dengan karyawan. Boleh tahu bagaimana sikap beliau sehari-hari?”
Marcel mulai bercerita.
“Pak Yudhis selalu menyapa saya setiap pagi dengan penuh senyum dan meminum kopi atau teh yang saya buatkan. Terkadang beliau memang ketus, tapi saya tahu bahwa itu disebabkan oleh kesibukannya. Saya merasa bersyukur bisa bekerja di bawah Pak Yudhis, padahal saya bukan orang yang sangat mumpuni di bidang ini.”
Nawang memutar bola matanya saking jengah dengan jawaban Marcel.
“Nanyanya soal Yudhis, tapi jawabnya ‘saya-saya’ melulu.” sungutnya.
__ADS_1
Dilihat dari cara Marcel yang selama lima tahun ini Nawang ketahui, memang pria kemayu itu cukup egois dan dan hanya melihat dirinya sendiri. Yudhis juga pernah bercerita bahwa sebagian pekerjaan terasa sulit, karena Marcel susah diajak bekerja sama secara tim. Sayangnya Yudhis tidak bisa langsung memindahtugaskan apa lagi memecat Marcel, karena kekuatan ‘orang belakang’ yang tidak bisa sembarangan dilawan. Karena itu, dengan momen ini Yudhis ingin agar Marcel memperlihatkan karakternya sendiri pada orang lain. Dengan begitu, setidaknya Yudhis dapat membuat Marcel pindah cabang.