Status : Menikah

Status : Menikah
Confession


__ADS_3

Betapa memalukannya posisi Nawang dan Yudhis saat ini. Untungnya sekarang masih berada di dalam mobil. Jadi, tidak ada yang bisa melihat mereka dari luar.


“Minggir, nggak?”


Nawang mendengar suara serak itu, tetapi tak kunjung tersadar dari lamunannya dan masih terpaku dengan posisi yang sama. Mau tak mau, Yudhi lah yang harus berusaha.


Dia betulkan sandaran kursi kemudi agar tegak kembali. Karenanya, tubuh mereka pun semakin mendekat.


“Minggir. Kalau gak mau, aku bakal bikin malam pertama kita di sini. Gimana?” ancam Yudhis.


Agar ancamannya lebih meyakinkan, Yudhis melepaskan sabuk pengamannya, lalu semakin mendekatkan tubuh mereka. Herannya, metode ini pun masih belum bisa membangunkan Nawang dari lamunannya. Bukan hanya bagi Nawang, ini sangat berbahaya bagi Yudhis yang kesabarannya sedikit lagi akan lenyap.


Yudhis tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Nawang sekarang. Karena masih saja diam, Nawang memberi kesan bahwa dia bersedia. Namun, Yudhis tidak mau Nawang menyesal nantinya.


Bagaimanapun, status suami istri mereka masih kontrak, sehingga perlu pemikiran yang matang jika ingin melakukan hal yang sewajarnya dilakukan oleh suami istri. Selain itu, kesiapan yang lain juga harus diperhitungkan. Apa lagi Yudhis belum tahu bagaimana perasaan Nawang padanya.


“Kayaknya kamu memang pengin.” Yudhis menarik kesimpulan seenaknya.


Dia dorong Nawang ke belakang hingga menyandar ke kemudi, dan…


‘BEEP!! BEEEEEEEEEEPP!!’


Suara klakson lah yang ternyata berhasil mengembalikan Nawang ke alam nyata. Seketika dia terperanjat dibuatnya dan yang lebih membuatnya terperanjat adalah saat dia menyadari betapa dekatnya jarak wajahnya dan Yudhis.

__ADS_1


“Akhirnya sadar juga.” ujar Yudhis sembari menjauhkan tubuhnya, memberi kesempatan Nawang untuk pindah.


Segera Nawang kembali ke tempat duduknya semula. Tetapi, namanya juga di dalam mobil. Tempat itu terlalu sempit untuk bergerak bebas. Hampir saja Nawang terjerembab ke bawah kursi penumpang. Untuk menyeimbangkan badannya Yudhis bahkan harus rela sampai tertendang oleh lutut Nawang. Kemudian, dari pintu sebelah kiri, Nawang keluar dan langsung lari mendahului Yudhis.


Sementara itu, Yudhis mengambil coat yang biasa dia taruh di kantung belakang kursi kemudi. Sengaja dia selalu membawanya untuk bertahan di cuaca dingin malam saat lembur. Tetapi, kali ini dia gunakan untuk menutupi yang sebaiknya tidak dilihat.


“Gue juga mesti cepet-cepet, nih. Bisa berabe ntar.” pikirnya sambil terburu-buru keluar dari mobil.



Nawang masih berdiri di luar lift saat Yudhis sampai di sana. Rupanya dia menunggu Yudhis agar bisa naik ke apartemen mereka bersama. Namun, saat mereka masuk ke dalam lift hingga sampai di dalam apartemen pun mereka tidak mengatakan apapun. Keduanya memilih untuk menyendiri di kamar masing-masing sambil merenungkan apa yang telah terjadi. Adapun Yudhis yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk menenangkan diri.


“Kok gini terus, ya? Masa setiap ada kejadian aneh-aneh, kita awkward terus, sih?” pikir Yudhis.


Air dingin mengalir dari atas kepalanya. Berharap rasa lelah pada jiwa dan raganya bisa ikut terguyur bersama air-air itu.


“Nggak! Gue harus cepet-cepet ngomong ke Nawang. Sebelum yang di bawah makin susah dikendalikan!” tekadnya.


Begitu tenang, dari kamar mandi Yudhis masuk ke dalam wardrobenya untuk mengambil pakaian. Sebuah kaus lengan pendek berwarna hitam dan sebuah celana kolor panjang bermotif kotak-kotak menjadi pilihannya. Setelah memakainya, Yudhis bermaksud untuk bersantai di kasurnya sejenak untuk bersiap-siap. Setidaknya dia butuh beberapa saat untuk berlatih menghadapi Nawang, agar tidak ada kesalahan pada kata-kata yang keluar dari mulutnya nanti.


Tetapi, agaknya takdir telah memutuskan agar Yudhis tidak perlu bersiap-siap. Karena, perempuan yang akan dia hadapi sudah ada di atas kasurnya, duduk dengan pakaian yang masih sama dengan sebelumnya.


“Sorry, gue tadi lihat pintunya gak ditutup.” kata Nawang sambil bangun dari duduknya.

__ADS_1


“... oh…”


Nawang maju beberapa langkah untuk mengikis jarak di antara mereka, kemudian kembali berkata, “Gue… perlu ngomong.”


Yudhis mengangguk, mempersilakan Nawang untuk melanjutkan kata-katanya.


“Gue tahu ini aneh banget. Padahal kita udah lama temenan. Tapi, baru sekarang gue ngerasainnya. Gue juga udah bikin batas di antara kita. Dan gue juga yang bilang kalau kita gak boleh ngelakuin yang lebih dari peluk.”


Sejenak Nawang mengambil napas.


“Bisa aja lo lagi suka sama orang lain. Terus, lo [asti bakal nganggep kalau gue egois dan seenaknya banget kalau ngomongin hal ini.”


Suara Nawang mulai terdengar bergetar. Dia begitu gugup hingga inti dari apa yang ingin dia ungkapkan belum juga tersampaikan. Padahal tadi dia sudah yakin untuk mengatakannya sekarang juga. Kini, saat Yudhis sudah ada di hadapannya, dia malah canggung.


“Jadi?” Yudhis mulai tidak sabar.


Nawang mendongak, memberanikan dirinya menatap Yudhis. Dia tidak ingin dianggap main-main oleh pria itu. Bibirnya yang mendadak kaku lalu dia paksa untuk buka. Namun, rupanya kata-kata itu begitu sulit terucap walaupun sudah berada di ujung lidah.


“Aku aja yang ngomong.”


Yudhis menarik lengan Nawang dan membuatnya jatuh ke dalam pelukannya. Dia tatap mata gadisnya dalam-dalam seraya mendekatkan diri.


“Aku mau kamu benar-benar jadi milikku.” bisik Yudhis sebelum akhirnya bibir mereka bertemu.

__ADS_1


...


Selamat menunaikan ibadah puasa!


__ADS_2