Status : Menikah

Status : Menikah
Multitasker


__ADS_3

Masih terngiang di ingatan Nawang saat Yudhis dengan enggan kembali turun dari lantai apartemen mereka untuk menemui Robi. Pria itu memonyongkan mulutnya dengan alis dan bahu yang turun. Dia juga menginjak-injak lantai lift sebagai bentuk kekesalannya.


Sekarang sudah lebih dari satu jam setelah Yudhis pulang dari pertemuan itu dan dia malah kembali dengan wajah yang begitu sumringah. Bahkan begitu masuk ke apartemen, beberapa kali Nawang juga mendapati Yudhis berjalan melompat seperti gadis kecil yang baru mendapat THR saat lebaran.


“Hmm hmmmm hm hm hmm…♪♪♪”


Senandung Yudhis terdengar hingga ke meja makan, tempat Nawang berada saat ini. Aneh rasanya mendengar Yudhis yang seriang itu, sampai-sampai Nawang berhenti makan dan menaruh kembali sendoknya di atas piring.


Jarang-jarang Yudhis segirang itu. Pikirnya, pasti ada sesuatu yang sangat menyenangkan saat Yudhis bertemu dengan Robi. Entah apa itu, Nawang otomatis menjadi penasaran. Ia pun memutuskan untuk menghampiri pria yang tengah berlari di atas treadmill sambil menonton sinetron Korea Selatan di NTFlix itu.


“Waaah… sumringah banget, nih. Baru dapet rejeki nomplok kayaknya. Bagi-bagi dong, Sayang.”


Tentunya Nawang tidak datang dengan tangan kosong. Dia sudah bersiap dengan kamera ponselnya, kalau-kalau ada cerita atau hal menarik yang terjadi.


Yudhis melirik sekilas ke arah Nawang, lalu menghentikan mesin larinya. Dia turun dari sana dan meraih handuk mini untuk mengusap keringat di tubuhnya.


“Eaaa sexy abisss.”


Ucapan Nawang membuat Yudhis tertawa. Bukan karena senang dipuji, tetapi karena melihat gaya Nawang saat mengambil gambar. Dia sampai berjalan sambil jongkok hanya untuk mendapatkan angle terbaik.


“Gue pikir lo sibuk.”


Sebelum Nawang membuatnya tidak bisa mengontrol tawa, Yudhis mengambil ponsel Nawang dengan paksa. Dia matikan aplikasi kameranya, lalu dia kembalikan pada Nawang.


“Elaaah… gue juga kepo kali. Harusnya lo samperin ke kamar, terus cerita gitu.” sungut Nawang sambil membuka galeri ponselnya, karena khawatir video yang tadi dia ambil dihapus. Napas lega baru bisa dia hembuskan, saat melihat video tadi masih di sana.


“Takutnya lo masih sibuk kerja. Gue gak mau ganggu, lah.” alasannya.


Memang terkadang Nawang tidak suka diganggu saat berkonsentrasi. Dia termasuk orang yang tidak terlalu bisa multitasking. Jadi, dia hanya bisa fokus pada satu hal dalam satu waktu.


“Ck. Ya udah, cerita sekarang bisa gak? Atau mau lanjut olah raga?”


Yudhis berpikir selama beberapa detik, lalu menjawab, “Lo denger sambil gue lari, deh.”

__ADS_1


Berbeda dengan Nawang, Yudhis termasuk orang yang jago dalam multitasking. Karena itu, dia bisa menceritakan pertemuannya dengan Robi tadi dengan lancar walau sambil berlari.


Dinyalakannya kembali mesin treadmill itu, diawali dengan kecepatan rendah. Sambil berjalan di atasnya, Yudhis mulai bercerita.


“So, sekarang gue bisa bebas mecat Nawang. Gue udah minta langsung ke bokapnya supaya gak ikut campur sama keputusan gue.”


Dahi Nawang mengerut.


“Lah, terus duit Pak Robi yang di perusahaan lo gimana? Bukannya lo gak mau mecat Marcel, karena dulu diancam bakal dijual sahamnya?” tanya Nawang.


“Unexpectedly Pak Robi malah nyesel pernah ngancem begitu. Dia ternyata orangnya lumayan empatik.”


“Jadi…” lanjut Nawang, “Pak Robi gak bakal ngelepas saham di NTMall, tapi gak masalah kalau anaknya dipecat?”


Yudhis mengangguk memastikan.


“Berarti usaha kita sia-sia gak, sih? Tahu gitu, lo langsung bilang aja ke Pak Robi kalau gak bisa lagi nerima Marcel.”


“Gak segampang itu. Justru kalau kita gak pernah usaha apa-apa, Pak Robi mungkin gak bakal tahu kalau kelakuan anaknya itu udah di luar nalar. Lo tahu kan, Marcel itu pinter banget make duit buat keuntungannya sendiri?”


Nawang mengangguk.


“Dia tutup semua kebejatan dia pake duit, sampe orang tuanya aja gak tahu.” lanjut Yudhis.


“Terus, sekarang dia udah dipecat?” tanya Nawang lagi.


Yudhis menggelengkan kepalanya sambil membalas, “Belum. Gue masih cari bukti yang tepat buat mecat dia.”


“Kenapa gak pake CCTV yang waktu itu lo kasih liat ke gue?”


Wajah Yudhis langsung merengut mendengar ide Nawang itu.


“Ntar semua orang tahu dong, kalau gue pernah dikejar-kejar cowok gila. Aib banget!” kesalnya.

__ADS_1


“Sorry…” Nawang merasa bersalah memberi ide itu.


“Ini juga yang Pak Robi minta. Katanya, dia gak bakal ngelarang gue mecat Marcel, asalkan aib keluarganya gak diumbar.” Yudhis melanjutkan penjelasannya.


Setahu Yudhis, Robi bukanlah penganut paham liberal seperti beberapa orang di Amerika. Jadi, sebagai orang tua, Robi mungkin terlalu malu dan kecewa untuk mengakui bahwa putera satu-satunya ternyata adalah penyuka sesama jenis.


“Kalau gitu, kita sekarang harus cari bukti buat dijadiin alesan Marcel dipecat. Misalnya… kan katanya Marcel kerjaannya kurang beres. Apa perlu kita tanyain rekan-rekan kerjanya? Atau kita bikin petisi yang ditandatangani satu kantor?”


Berbagai ide licik mulai bermunculan di kepala Nawang. Tapi, menanggapi itu, Yudhis malah terkekeh.


“Hahaha… Gak perlu. Gue udah minta tolong sama orang yang ada di Kota D, kok.” ujarnya.


“Yaaah…” Nawang begitu kecewa mendengarnya. Padahal dia sangat ingin beraksi. Dia sudah membayangkan betapa heroiknya dia dalam menyelamatkan Yudhis dari Marcel.


“Udah, ya. Gue mau mandi. Udah banyak keringet, nih.” kata Yudhis sambil turun dari mesin lari yang sudah dimatikan.


Kemudian, dia pergi ke kamar mandi. Sementara itu, Nawang tetap berada di ruang tengah. Diambilnya remot kontrol di atas meja, kemudian dia mengganti tayangan lainnya.


Sebenarnya Nawang tidak berniat untuk menonton apapun dari sana. Meskipun tangannya bergerak dan matanya tertuju ke televisi, pikirannya tidak benar-benar fokus ke sana.


“Apa berarti sebentar lagi Yudhis gak butuh gue lagi buat jadi istrinya? Apa gue bakal cerai dari Yudhis? Tapi, perjanjiannya kan gak ada batas waktu.” pikirnya.


Yudhis adalah sahabat terbaik Nawang. Meskipun dia memiliki jutaan teman, tidak ada yang bisa menggeser Yudhis di hatinya. Sekarang mereka menikah, walaupun secara kontrak dan sampai sekarang hubungan mereka juga masih tergolong baik-baik saja.


Nawang membayangkan bagaimana kehidupannya setelah berpisah dari Yudhis. Selama ini mereka selalu bersama, tetapi apakah akan tetap begitu setelah mereka berdua bercerai?


Yang membuat Nawang lebih kalut lagi adalah nafsunya pada pria itu yang semakin sulit dicegah. Jika mereka berpisah nanti, bukankah akan semakin sulit baginya untuk memeluk atau sekedar menyentuh Yudhis? Bagaimana kalau tiba-tiba Yudhis jadi jijik padanya?


Ouff…


Mungkin juga Nawang akan sulit bertemu dengan Yudhis nantinya.


“Aaaaa… Kok berat, ya? Hiks… Kalau nanti gue kangen gimana?”

__ADS_1


__ADS_2