
Sebuah dusta besar bila Nawang mengatakan bahwa dia tidak kepikiran dengan perkataan Yudhis kemarin. Bahkan karenanya, dia hampir tidak bisa tidur semalaman. Akibatnya, mata pandanya semakin mirip panda.
Nawang sendiri berpikir bahwa pernikahannya dengan Yudhis sangat menguntungkan baginya. Tanpa Yudhis, penonton channelnya tidak akan bertambah sepesat sekarang. Walaupun belakangan lebih banyak komentar tentang skandal Yudhis, tapi tidak sedikit juga yang penasaran dengan konten channelnya ke depan.
Berhubung permasalahan dengan Marcel juga hampir selesai, Nawang pikir ini saatnya untuk menguras otaknya habis-habisan untuk memikirkan ide baru untuk channelnya. Tapi, bukannya ide, malah ucapan Yudhis yang terus terngiang.
“Gue masih pengin jadi suami lo selama mungkin.”
Nawang memiliki beberapa prakiraan mengapa Yudhis berkata seperti itu. Pertama, Yudhis ingin memanfaatkannya untuk mengusir siapapun orang, baik pria maupun wanita, yang ingin mendekatinya. Mengingat setampan apa Yudhis sejak remaja dan segala traumanya selama ini dengan cinta-cintaan, bisa dibayangkan setakut apa Yudhis dalam menjalin hubungan. Karena itu, Yudhis memilih untuk menikahinya yang sudah jelas satu frekuensi dan tidak mungkin melakukan pelecehan seperti yang selama ini Yudhis terima.
Namun, satu hal yang melemahkan prakiraan itu, yaitu Nawang juga sangat suka menjahili pria itu. Hampir tidak ada hari tanpa perdebatan di antara mereka yang diawali oleh Nawang. Walau setelah perdebatan itu Nawang meminta maaf atau kabur, bukankah kelakuannya selama ini hampir sama dengan para pelaku pelecehan itu?
Jadi, Nawang terpikirkan prakiraan yang kedua, yaitu bahwa Yudhis jatuh cinta padanya. Tapi, ini juga terbantahkan. Karena, Nawang merasa tidak ada perubahan berarti antara Yudhis sebelum menikah dan setelah menikah.
“Berarti dia udah suka sama temen kamu dari lama, dong. Tapi, pura-pura sok tangguh aja tuh cowok.” pendapat Tina.
Nawang yang sedang suntuk menceritakan keluh kesahnya pada Tina melalui video call. Tentu saja, dia tidak mengatakan dengan jujur bahwa itu adalah kisahnya sendiri.
“Kayaknya gak mungkin deh, Tin. Kalau emang dia suka gue… temen gue dari dulu, harusnya dia bakal sedih banget waktu temen gue jadian sama cowok lain.” bantah Nawang.
“Ya… bisa jadi, selama ini cowok itu gak sadar sama perasaannya sendiri.”
Lagi-lagi Nawang membantah, “Aeeyyy nggak, ah! Itu cowok dari dulu jelas banget apa yang dia mau dan gak mau. Jadi, harusnya dia langsung rebut si temen gue ini dari dulu, dong!”
“Ck! Apaan sih, Wang? Ngeyel mulu. Udah, ah! Mau nonton drakor gue!” seru Tina yang lama-lama kesal. Gadis itu juga langsung menutup sambungan video call mereka.
Mau pakai pseudonym pun Tina bisa tahu kalau sebenarnya Nawang sedang menceritakan dirinya sendiri dan Yudhis. Kalimat pembuka yang Nawang gunakan juga sangat klise, “Ini cerita temenku yang baru nikah kontrak sama sahabatnya…”
Di mana-mana, kalau susunan kalimatnya seperti itu, sudah jelas itu bukan ‘cerita temannya’. Lagi pula, Tina juga kenal siapa saja yang masuk circle pertemanan Nawang. Gadis itu tidak punya terlalu banyak teman, jadi akan sangat mudah melacak siapa teman yang baru menikah dengan sahabatnya. Dan satu-satunya dengan ciri seperti itu jelas hanya Nawang, tiada lain.
“Bentar. Berarti… uwaaaah! Nawang sama Yudhis beneran cuma kawin kontrak? Anjay!”
__ADS_1
Segera Tina menutup mulutnya. Dia sedang berada di kontrakan yang dindingnya cukup tipis. Akan membahayakan kalau ada yang mendengarnya seheboh tadi.
“Woah! Coba kalau gue bukan orang baik, udah gue beberin ke media pasti.” gumam Tina sambil mengipasi wajahnya dengan tangan kanannya.
Dalam hati dia berjanji akan memendam pengetahuan terlarang yang baru saja dia dapat sedalam mungkin. Tidak akan ada orang yang tahu tentang hal ini selama-lamanya, kecuali ada orang jahat yang ingin menghancurkan kamuflase Yudhis dan Nawang. Tina juga tidak berani membongkarnya bukan hanya karena mereka berteman, tetapi juga karena Nawang dan Yudhis adalah orang yang memberikan penghasilan terbesar untuknya sebagai seorang video editor. Kalau dia membocorkan, tamatlah riwayatnya.
…
“Lo abis ngapain?” tanya Nawang pada Yudhis saat keluar dari kamarnya.
Dia terkejut saat tiba-tiba Yudhis muncul dari dapur dengan penuh peluh di tubuhnya. Keringatnya begitu kentara membanjiri kaos singletnya, seakan Yudhis baru saja diguyur air hujan. Beberapa kali Yudhis menyibakkan rambutnya agar keringat di rambutnya tidak menetes di matanya.
“Ambil air. Mau lanjut workout gue. Ikutan?”
Yudhis serius mengajak Nawang, karena sudah lama sekali mereka tidak olahraga bersama.
“Lah? Kok diem aja?”
Nawang masih termangu menatap Yudhis yang terlihat agak berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi si celana kolor barbie yang norak, karena telah berubah menjadi pria seksi dengan bicep yang indah. Saking seringnya berpenampilan sederhana, Nawang sampai lupa kalau Yudhis tidak hanya berwajah tampan tanpa otot.
Seketika Nawang mengusap bibirnya. Tentu saja iler yang Yudhis maksud tidak benar-benar ada. Yudhis hanya iseng mengerjai Nawang, karena tak juga membalas pertanyaannya.
“Najis!” sentak Nawang sambil menabrak lengan Yudhis dengan sengaja.
Yudhis yang lagi-lagi dikatai najis hanya menggeleng-geleng kepalanya, heran. Pasalnya, dia yakin betul Nawang tidak serius mengatakannya. Karena, rona merah di telinga gadis itu kembali muncul memberikannya harapan.
“Pfft… Kayaknya gue tahu kudu ngapain…” pikir Yudhis.
Tekad Yudhis sudah bulat. Dia yakin betul dengan memperlihatkan pesona pria macho-nya, dia akan berhasil merayu Nawang. Dan dimulailah strategi pria machonya.
Step pertama yang dia lakukan selesai berolah raga di gym pribadinya, Yudhis mencari keberadaan Nawang untuk memamerkan keringat dan ototnya. Dilepasnya kaos singletnya, sehingga tidak hanya bicep, tapi sixpack-nya juga terlihat.
__ADS_1
Sayangnya, perempuan yang dia cari sepertinya sedang berada di kamarnya. Dan waktu Yudhis ingin mengetuk pintu kamar Nawang, tiba-tiba saja muncul notifikasi streaming Nawang yang baru dimulai. Padahal, seharusnya tidak ada jadwal streaming hari ini.
Tapi, Yudhis tidak menyerah saat itu juga. Malam harinya, dia sengaja menunggu Nawang keluar dari kamar. Karena, biasanya gadis itu selalu kehabisan air minum tengah malam.
Galon di dapur sudah Yudhis tumpahkan ke wastafel. Jadi, saat Nawang mau minum, dia akan mengangkat galon tersebut untuk memperlihatkan seberapa machonya dia.
‘Ckrek’
Waktu yang ditunggu pun tiba. Nawang sudah keluar dari kamarnya dengan membawa botol air minum ukuran dua liter di tangannya.
“Mau minum, Wang?” Yudhis sok bertanya.
“Yup.” jawab Nawang, singkat.
Pria itu lalu mengikuti Nawang yang terlebih dulu melangkah di depannya.
“Ngapain? Lo mau minum juga?” tanya Nawang yang merasa risih diikuti.
“Yup.” Yudhis meniru jawaban Nawang untuknya.
Nawang mencoba tidak peduli dengan jawaban Yudhis. Ini sudah terlalu malam untuk berdebat. Kalau ini masih siang, mungkin German suplex saja tidak akan cukup untuk membalas jawaban Yudhis yang seolah meledeknya. Dan lagi, dia juga sangat kehausan.
Begitu sampai di dapur, Nawang seketika mendengus melihat galon kosong yang masih terpasang di dispenser. Dengan segera, Yudhis mengambil persediaan galon dari laci bawah. Tetapi, rupanya Nawang tidak peduli dan malah membuka kulkas.
“Lah, di sini abis juga airnya.” gumam Nawang, kecewa.
Ini juga ulah Yudhis yang begitu ingin memperlihatkan kejantanannya mengangkat galon. Pokoknya, dengan cara apapun Yudhis ingin melihat kembali ekspresi Nawang siang tadi.
‘Currr’
Suara air mengalir terdengar dari wastafel. Rupanya Nawang membuka keran air dan memasukkan air yang mengalir dari sana ke dalam botolnya.
__ADS_1
“Untung lo kaya, Dhis. Jadi, gak punya galon juga gak masalah. Kan air keran bisa langsung diminum.”
Hanya senyum garing yang bisa Yudhis berikan untuk menanggapi pujian Nawang. Dia benar-benar lupa kalau mereka hidup di condo super mewah dengan segala macam fasilitasnya yang luar biasa.