
Aaron bukan orang yang tidak bisa membaca suasana. Dia ingat betul bagaimana sikap Yudhis terakhir kali mereka bertemu. Sorot mata pria itu tidak salah lagi selalu memperlihatkan ketidaksukaan kepadanya, dan dia telah memastikannya kali ini.
“Suami kamu sudah datang sepertinya. Aku mau lanjut belanja dulu.”
Bukannya Nawang yang kabur, malah Aaron yang kabur lebih dulu. Sebagai pria bermartabat yang tahu diri, sudah semestinya dia pergi di situasi ini.
“Lama banget, sih! Cepetan bantuin sini gih!”
Sebal rasanya kalau orang yang kita sukai tidak peka kalau kita sedang cemburu. Tapi, ini sudah resiko bagi Yudhis yang terlanjur punya perasaan pada Nawang. Gadis itu mana bisa diberi tahu lewat sinyal saja. Berdasarkan pengalaman yang Yudhis alami selama ini, semua mantan pacar Nawang selalu minta putus terlebih dahulu karena tidak mendapatkan perhatian dari gadis itu. Mereka merasa tidak dianggap, karena Nawang tetap bersikap sama pada teman-teman prianya walau sudah punya pacar.
Kalau dulu, Yudhis lah yang mengasihani para pria-pria nelangsa itu. Tidak tahunya sekarang dia menjadi bagian dari mereka.
“Kan udah gue bilang, lo jangan deket-deket sama orang yang baru kenal.” hardik Yudhis sambil menutup kardus belanjaan dengan isolasi.
“Dia datengnya tiba-tiba, jir. Mau menghindar juga susah.” Nawang membela diri.
Yudhis angkat empat kardus berisi belanjaan satu persatu untuk dimasukkan ke dalam troli belanjaan tadi. Kemudian, bersama-sama mereka mendorong dua troli itu.
“Ya, lo kasih alesan apa gitu kek!”
Nawang mendengus, kemudian berkata, “Bodo ah, males debat sama lo.”
Dia percepat langkahnya untuk mendahului Yudhis. Lalu, segera Yudhis susul untuk menyamakan langkah mereka.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi yang akhirnya menyebabkan keduanya diam selama perjalanan pulang. Baru setelah mereka naik ke lantai atas dan sampai di rumah, Yudhis membuka mulutnya lagi.
“Kita kayaknya harus pindah lagi.”
Dahi Nawang seketika mengerut mendengarnya.
“Kok tiba-tiba?” tanyanya.
“Anak buah gue ngeliat orang-orang yang mirip dengan yang di foto bulan madu kita di sekitar sini.” jawab Yudhis.
“Ini komplek apartemen elite, berarti backing mereka cukup kuat.” pendapat Nawang.
“Entah apa tujuan mereka, tapi gue ngerasa gak enak.”
Kardus belanjaan mereka sudah ditaruh di atas meja dapur. Kini saatnya mereka untuk membuka kardus itu. Nawang ambil sebuah pisau dapur, lalu dia robe isolasi yang menutup kardus-kardus itu.
“Kalau mereka macem-macem tinggal diginiin aja ya penginnya. Sayangnya ilegal.”
Celotehan Nawang membuat Yudhis terkekeh.
__ADS_1
“Tenang aja. Kalau lo masuk penjara, gue bakal bayarin denda lo biar bisa langsung dikeluarin.” seloroh Yudhis.
“Wuedyaan… orang kaya mah tinggal main sogok aja.”
Belanjaan di dalam kardus mereka keluarkan, kemudian ditata di tempat seharusnya. Sayur-sayuran, buah, dan daging mereka masukkan ke dalam lemari pendingin, sedangkan bumbu dapur ditaruh di lemari penyimpanan di atas kompor. Sisanya, seperti makanan ringan dan perlengkapan mandi mereka taruh di tempat yang mudah dijangkau.
“Jujur aja gue suka banget sama condo ini, sih. Sorry aja, kalau gue matre.”
Beres-beres belanjaan sudah selesai dan sekarang mereka beristirahat sebentar di sofa.
“Gue bisa kok, beli yang lebih bagus dari ini. Jadi, lo santuy aja.”
Kesal karena kesombongan Yudhis, secara spontan Nawang menoyor kepala Yudhis.
“Hemat, cermat, bersahaja lah, woi! Mantan anak pramuka kok boros banget, sih?” lanjut gadis itu, “Gini loh, Dhis. Menurut gue, mendingan kita lihat dulu mereka mau ngapain. Toh kata lo di sini security-nya top tier di kelasnya. Kita percaya dulu lah sama testimoni yang pengelolanya. Gue yakin, stalker itu juga gak bakal gegabah.”
Yudhis mengangguk beberapa kali. Dia setuju dengan pendapat Nawang untuk melihat situasi sementara waktu.
“Tapi, yang gue bingungin, gimana bisa mereka bisa tahu kalau kita di sini? Padahal…”
Yudhis tidak melanjutkan kata-katanya. Seakan menyadari sesuatu, dia mendadak berdiri. Selama beberapa detik dia berpikir keras.
“Lo ngapain?” tanya Nawang saat tiba-tiba Yudhis membalik-balikkan bantal sofa. Bantal sofa yang ditindihnya juga ikut Yudhis balik.
“Hah? Barang apaan?”
Tanpa menghentikan kegiatannya, Yudhis menjawab, “Penyadap.”
Mata Nawang terbelalak, dan tak lama setelahnya dia ikut melakukan apa yang Yudhis lakukan. Tidak hanya bantal, Nawang juga memeriksa di bawah sofa dan meja. Dengan bantuan Yudhis tentunya.
Saat tahu bahwa di area itu tidak ada apa-apa, pencarian pun mereka lakukan di area lain seperti dapur dan kamar mereka. Tidak peduli seberantakan apa rumah itu mereka buat. Selama perasaan mereka tidak tenang, mereka tidak akan berhenti mencari.
“Gimana kalau pembicaraan kita tadi kedengeran?” Yudhis mulai panik.
“Gak cuma yang tadi. Gimana kalau obrolan-obrolan kita kedengeran semua dari awal?” Nawang juga ikut panik.
Baik di kamar maupun di dapur juga tidak mereka temukan penyadap apapun, atau setidaknya benda yang mirip dengan penyadap. Begitu pula tempat lain yang mereka telusuri setelahnya. Padahal sudah sekitar lebih dari tiga jam mereka mencari.
“Kalaupun rumah kita memang disadap, berarti waktu yang tepat buat masuk harusnya pas kita pergi. Mungkin ada rekamannya di CCTV.”
Yudhis menepuk jidatnya dan berkata, “Lah! Iya juga! Gue baru kepikiran. Ya, udah. Kita cari di CCTV.”
Tidak sulit bagi mereka untuk mendapatkan rekaman CCTV di gedung itu. Yudhis juga menyuruh anak buahnya yang ada di sekitar area itu untuk ikut memeriksa. Hingga saat mata hari tenggelam, tidak ada satupun dari mereka yang menemukan orang-orang mencurigakan.
__ADS_1
“Kita mesti gimana, Wang?”
Nawang yang ditanya juga tidak tahu jawabannya. Posisinya sama terancamnya dengan Yudhis. Bila kepalsuan mereka terungkap ke media, hancurlah karirnya. Percuma saja mengumpulkan ratusan ribu subscriber, kalau nantinya mereka akan balik mencelanya.
‘Piiipip! Piipip!’
Ringtone tanda panggilan terdengar dari ponsel pintar milik Yudhis. Bukan ponsel yang sering dia pakai, melainkan ponselnya yang lain. Sebagai orang yang sangat sibuk, sangat wajar baginya memiliki lebih dari satu ponsel.
Tetapi, untuk ponsel yang ini, hanya beberapa orang yang tahu nomornya dan dia hanya menggunakannya di saat tertentu saja.
“Halo. Kenapa, Kris?” sapa Yudhis setelah melihat siapa yang menelfonnya.
Nawang ikut menguping di sebelah Yudhis untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
“Saya kepikiran dengan perintah Bapak tadi, jadi saya gak cuma lihat-lihat CCTV di sekitar gedung. Saya cari juga di sekitar kantor dan saya menemukan sebuah video yang mungkin Bapak cari.” ucap Kris dari seberang sana.
“Oke. Kirim saja sekarang!” perintah Yudhis.
“Baik, Pak.” sahut Kris.
Sambungan telfon mereka pun terputus. Lalu, tak lama kemudian, video yang Kris maksud pun datang.
Di video tersebut terlihat ruangan Yudhis di kantornya. Artinya rekaman ini dari CCTV dalam ruangan. Sebagai orang yang memasangnya sendiri, Kris memiliki akses untuk melihatnya. Yudhis sendiri juga memiliki akses, tetapi dia terlalu sibuk untuk memeriksanya. Dan mungkin karena itu pula lah dia lengah.
Tanggal yang tertera di CCTV itu adalah tiga hari yang lalu. Artinya, tepat satu hari sebelum PSBB diterapkan.
“Ada orang masuk ruangan lo, Dhis.”
Terlihat seorang pria kurus memasuki ruangan Yudhis saat dia tidak ada di ruangannya. Kamera yang terpasang di ruangan itu beresolusi tinggi, jadi nampak jelas sekali wajak orang itu.
“Marcel kok seenaknya duduk di meja lo, Dhis? Mana pegang-pegang hape lo.”
Gasp!
“Anjir! Gue inget! Waktu itu gue lagi di toilet. Jadi, hape gue tinggal di meja. Terus gue liat itu curut duduk di meja gue.”
Benar. Beberapa saat kemudian, Yudhis juga masuk ke dalam frame.
Waktu itu Yudhis tidak terlalu ambil pusing. Dia hanya menghardik Marcel yang tidak sopan dan seenaknya saja duduk di pinggir meja kerjanya seenaknya. Dan karena kedatangan Marcel juga beralasan, untuk memberikan beberapa dokumen persiapan PSBB, perhatian Yudhis langsung teralihkan.
“Aah… kok gue bodo banget, sih?”
Segera Yudhis ambil ponsel yang sering dia pakai. Diaktifkannya, lalu dia cari kali saja ada aplikasi asing yang menempel di sana.
__ADS_1
“Beneran ada…”