
Yudhis baru bisa bernapas lega begitu melihat Nawang langsung di depan matanya. Sayangnya, keadaan istrinya nampak tidak baik-baik saja. Terlihat jelas cara berjalannya yang terpincang-pincang. Karenanya, rasa bersalah di hati Yudhis semakin bertambah.
“Kok kamu masak, sih? Katanya sakit?”
Pria itu mempercepat langkahnya mendekati Nawang yang tengah mengangkat sebuah panci yang mengeluarkan asap dari dalamnya. Niatnya, Yudhis ingin mengambil panci itu dari tangan Nawang, tetapi terlambat. Karena, panci yang ternyata berisi sop ayam itu hanya dibawa ke meja yang paling dekat dengan kompor.
“Ak… gue laper. Jadi, diangetin dulu. Ini tadi Tina yang masak, kok.” Nawang menjelaskan.
“Tina-nya mana? Kok gak bantuin?” tanya Yudhis sambil mencari-cari keberadaan Tina.
“Udah pulang. Tadi dijemput Aaron.” jawab Nawang yang kemudian menepuk lengan Yudhis.
Dia menambahkan, “Santai aja, lah. Gue udah gapapa, kok.”
Setelah itu, Nawang mengambil dua mangkuk yang disimpan di rak atas beserta sendok. Diambilnya sop ayam dari panci itu dengan sendok sayur ke dua mangkuk dengan porsi yang sama. Lalu, saat Nawang akan membawanya ke meja, Yudhis langsung merebut mangkuk-mangkuk tersebut.
“Gimana ceritanya bisa santai. Kamu aja jalannya kayak bayi baru bisa jalan.”
Merasa diledek, Nawang dengan paksa mempercepat langkahnya untuk mengejar Yudhis. Dia masih merasa begitu pegal dan perih, tapi niatnya untuk memberi Yudhis sebuah pelajaran lebih besar dibandingkan rasa sakitnya itu.
“Aw!”
Pekikan tadi bukan berasal dari mulut Nawang, melainkan dari Yudhis yang terkena hantaman maut di pundaknya. Masih terasa bekas cakaran-cakaran Nawang yang cukup dalam di sana. Sedari tadi bisa Yudhis tahan, karena cuma merasa gatal. Tapi, kalau dipegang apalagi dihajar ya jelas perih luar biasa.
“Tyrex. Sekali lagi lo bahas soal cara jalan gue hari ini, gue jamin gak akan ada lagi kesempatan berikutnya. Lo pikir gak sakit, hah?” ancam Nawang yang membuat Yudhis kicep.
Yudhis yang tidak bisa berkutik, kemudian hanya membantu Nawang untuk duduk dengan mengambilkan kursi.
“Makasih. Duduk gih!” perintah Nawang.
Namun, Yudhis tidak segera meng-iya-kan. Alasannya, “Tapi, gue mau mandi dulu.”
“Ntar aja. Gue juga belum mandi. Makan dulu!”
__ADS_1
Otak Yudhis berputar. Apakah ini ajakan mandi bersama? Atau perkataan kasual seperti biasanya?
“Oke.”
Yudhis setujui saja permintaan Nawang. Pikirnya, toh nanti dia juga bisa membujuknya dengan memutar kata-kata atau semacamnya. Dia memiliki banyak ide untuk itu. Tapi sebelum itu, agaknya sekarang mereka akan membicarakan hal yang cukup penting.
Nawang belum berkata apa-apa. Sekarang dia masih menikmati sop ayam buatan Tina dengan lahap tanpa mempedulikan Yudhis yang ada di hadapannya. Pikir Yudhis, mungkin Nawang baru akan berbicara setelah sop di mangkuknya habis. Karena itu, Yudhis pun melakukan hal yang sama.
Mereka selesaikan makan malam mereka dalam waktu yang sama. Kemudian, Yudhis mengambil mangkuk kosong di hadapan Nawang dan miliknya sendiri untuk dia bawa ke dish washer. Setelah menyalakan mesin pencuci piring, Yudhis kembali ke meja makan.
“Kamu ingin ngomong sesuatu?” tanya Yudhis yang tidak ingin berlama-lama.
Nawang mengangguk. Dia berkata, “Soal hubungan kita… apa berarti kita melanggar perjanjian?”
Yudhis sedikit terkekeh dengan pertanyaan Nawang itu. Dia pikir, Nawang ingin bicara apa. Ternyata masalah kontrak nikah mereka.
“Practically, iya.” jawab Yudhis.
Yudhis memijat-mijat kepalanya. Dia lupa kalau Nawang tidak terlalu cerdas dalam masalah percintaan. Percuma saja Nawang berpacaran dengan belasan pria, kalau ilmunya tentang romansa ternyata masih secetek ini.
“Yaa… gak ngapa-ngapain. Emang harus ngapain?” Yudhis baik bertanya.
“Tapi, di perjanjian, kita kan gak boleh lebih dari pelukan. Terus, kalau melanggar, kita bakal pisah.”
Salah satu tangan Yudhis menyangga kepalanya.
“Kamu mau kita pisah? Kalau aku sih, nggak.” lanjutnya, “Kamu ingat kan, kalau itu bukan satu-satunya hal yang membatalkan kontrak kita? Di sana juga ditulis, kalau kontrak kita akan batal kalau salah satu dari kita bertemu dengan orang yang benar-benar kita cintai. Nah, aku cintanya sama kamu.”
Seketika pipi Nawang memanas. Bagaimana bisa pria itu bisa mengatakan cinta semudah itu. Padahal, Nawang saja kesusahan setengah mati untuk mendefinisikan perasaannya. Agaknya lagi-lagi dia kalah dari Yudhis, seperti saat Yudhis mengalahkannya dari posisi pertama ranking paralel saat masih SMA dulu.
“Anggap aja perjanjian itu gak pernah ada.” tambah Yudhis.
“Semudah itu?”
__ADS_1
“Semudah itu.”
Baru Nawang sadari bahwa dia terlalu terpaku pada perjanjian itu sampai-sampai tidak bisa berpikir jernih.
“Hahaha…” tawanya lirih.
Ada kelegaan dalam hatinya. Tetapi, ada yang membuat Nawang merasa miris. Dia merasa tertipu oleh Yudhis.
“Jadi, lo jebak gue pake pernikahan kontrak? Lo sengaja bikin gue galau…”
“Nggak, aku gak ada niatan jebak kamu. Mungkin susah dipercaya, tapi aku baru beneran serius ke kamu pas kita di Jogja.” potong Yudhis sebelum Nawang semakin salah paham.
“Mungkin kamu juga gak mau dengar alasan kayak gitu. Aku gak tahu kamu pengin dengar alasan kayak apa. Tapi…
“Sekarang aku gak mau pisah. Selamanya juga gak mau. Kalau kamu mau kita pisah, aku bakal mati-matian gagalin usaha kamu.” Yudhis menegaskan.
Entah kekuatan apa yang merasuki Yudhis barusan hingga dia bisa mengucapkan kata-kata menjijikan seperti dialog sinetron itu. Rasanya dia sendiri akan sulit melupakan saking terlalu memalukannya.
“Pfftt…”
Yudhis membulatkan matanya lebar-lebar. Di saat dia serius, perempuan sesat ini malah menertawakannya. Sekarang dia yakin bahwa ucapannya tadi memang sangat memalukan.
“Kamu… aku… apa perlu aku… ganti juga? Misalnya…” Nawang nampak berpikir, tapi tak kunjung memberi kelanjutan.
“Misalnya apa?” paksa Yudhis.
“Hmm… Sayang… Honey… Baby… Cinta… pilih salah satu!”
Sambil memasang ekspresi jijik, Yudhis menanggapi, “Cringe banget!”
“Gue ogah dikatain cringe sama orang yang barusan lebih cringe. Cepetan pilih salah satu! Atau gue berubah pikiran…”
Yudhis memang menang, tapi at what cost?
__ADS_1