
Betapa puasnya Yudhis dengan sandiwara Nawang yang terdengar sempurna. Gadis itu memang hanya bersuara tanpa memperagakannya sama sekali. Tapi, cukup untuk membuat orang lain salah paham.
Yudhis yakin Marcel juga mendengarnya dengan jelas. Buktinya, Marcel yang sedari awal terus membujuknya untuk bertemu di kantor sekarang diam seribu bahasa. Membayangkan sepanas apa hati Marcel saat ini, Yudhis semakin melebarkan senyumnya.
“Udah denger, kan? Makanya saya bilang Senin saja.”
‘Pip!’
Tanpa memberi salam terlebih dahulu, Yudhis mematikan sambungan telfonnya.
“So, lo belum puas kan?”
Yudhis memasukkan ponsel ke saku jersey-nya, kemudian merentangkan kedua tangannya. Dia lalu berkata. “Sekarang gue ready buat puasin lo. Hahahahaha!”
Dengan maksud menakuti Nawang, Yudhis berjalan mendekat dengan tangannya yang dia rentangkan itu. Namun bukannya takut, Nawang malah bersedekap. Dan saat pria itu sudah tidak jauh darinya, Nawang langsung meremas wajah Yudhis dengan tangannya.
“Aaa! Kuku lo nancep, Njir!” pekik Yudhis.
Namun, Nawang tak juga berhenti. Dia justru menguatkan remasannya di wajah mulus pria itu. Matanya melotot pada Yudhis, menyaratkan ancaman.
“Oke. Lo harus puasin gue. Cepetan tiduran di kasur!” perintahnya seraya mendorong dada Yudhis secara paksa.
“Wang? Lo gak beneran kan? Gue sih, gak masalah. Tapi, coba lo pikir mateng-mateng dulu sebelum kita lakuin…”
Kaki Yudhis sudah menempel pada pinggir ranjang. Kemudian, Nawang meningkatkan kekuatan mendorongnya.
‘Bruk!’
Yudhis pun terduduk di kasur berukuran king size itu.
“Awas kalau akting lo jelek. Ulangin adegan males-malesan tadi dari awal!”
Rupanya Yudhis telah salah paham. Maksud dari ‘memuaskan’ yang Nawang ucapkan tadi rupanya adalah tentang konten absurd yang Nawang rencanakan.
“Haa… oke. Pasrah aja lah gue.” ujar Yudhis menyerah.
Berhubung Nawang baru saja membantunya tadi, terpaksa Yudhis akan menuruti permintaan gadis itu. Dan diulanglah posisinya saat Nawang baru masuk ke dalam kamar. Yudhis masuk ke dalam selimut, sementara Nawang bersiap dengan kameranya di pintu.
Inti adegannya akan memperlihatkan Yudhis yang malas-malasan di hari pertama PSBB. Diceritakan juga Yudhis yang kesal, karena tidak jadi kencan dengan Nawang sampai ngambek tidak mau makan. Padahal sebenarnya Yudhis sudah makan.
__ADS_1
Tetapi, karena sebagian besar ceritanya adalah benar, tidak terlalu sulit bagi Yudhis untuk berakting. Dia tunjukkan saja secara blak-blakan betapa kesalnya dia karena pandemi yang tak kunjung usai dan malah muncul lagi.
…
Marcel yang masih terpaku dengan ponsel di tangannya masih perlu waktu untuk memproses hatinya. Niat hati ingin mendengar suara Yudhis, tapi malah mendengar suara manja seorang perempuan yang baru saja pria itu nikahi bulan lalu.
Beberapa kali dia mencoba menenangkan diri dengan mengambil napas dalam-dalam. Tetapi, perasaannya tak kunjung lega. Justru rasanya hatinya semakin tercekat.
“Aku masih tidak percaya kalau kamu sama Nawang beneran, Dhis,” pikirnya.
Begitulah caranya menghibur diri. Sejelas apapun kemesraan keduanya di depan umum, Marcel masih ingin meyakini bahwa pernikahan mereka berdua hanya sebatas kontrak.
Ini bukanlah asumsi tanpa dasar. Marcel, walau tidak selama Nawang, cukup mengenal Yudhis yang selama lima tahun ini menjadi atasannya langsung. Menurut pengamatannya, dua orang itu tidak pernah lebih dari sebatas sahabat. Bukannya persahabatan antara pria dan wanita, tetapi lebih mirip dengan persahabatan antar pria.
Yudhis tidak pernah sekalipun terlihat mengalah atau memperlakukan Nawang dengan spesial selayaknya seorang wanita yang dicintai. Begitu pula Nawang yang baru belakangan ini saja menunjukkan sikap manjanya. Di mata Marcel, perempuan itu selalu kasar pada Yudhis. Tidak seperti sekarang, yang menye-menye dan sok mesra.
Tidak hanya itu, Marcel juga mendengarnya langsung dari Kristanto, salah satu orang yang Yudhis percaya.
Pria berkulit hitam itu agaknya tidak memiliki mulut yang rapat. Pasalnya, Kris selalu bersuara keras-keras saat menelfon orang lain. Dan saat itulah Marcel mendengar Kris membicarakan kontrak antara Yudhis dan Nawang.
Marcel yang ingin memastikannya pun mencari tahu dengan berbagai cara. Namun, pada akhirnya dia tidak menemukan bukti apapun dan kemudian malah memalsukan bukti.
Dengan itupun Marcel tak lantas percaya. Dia kemudian menyewa detektif swasta untuk mengikuti dua orang itu selama di Jogja. Tetapi, sama seperti sebelumnya, tidak ada gerak gerik yang bisa mendukung pendapatnya.
“Pasti ada cara lain buat dapetin buktinya. Gak mungkin kalau mereka tiba-tiba jatuh cinta begitu saja. Aku gak bisa nyerah gitu aja dan harus cari cara supaya kamu jadi milikku, Dhis.” tekadnya.
Marcel nyalakan kembali layar ponsel yang telah menghitam. Dibukanya sebuah aplikasi yang juga ikut menyala saat dia menelfo Yudhis tadi, lalu dia simpan data yang didapatnya dari aplikasi itu. Setelah itu, dibagikanlah data itu pada seseorang melalui aplikasi pesan singkat.
[Ini alamat yang harus kalian tuju.]
Tak lama kemudian, pesan balasan pun datang.
[Komplek condominium Narista Tirta? Bukankah tempat itu mempunyai harga selangit untuk satu unitnya?]
Marcel membalas,
[Urusan biaya, serahkan padaku. Kalian lanjutkan saja rencana seperti yang sudah didiskusikan.]
Karena tidak mau menerima alasan apapun lagi, Marcel pun mengunci ponselnya. Dia hanya ingin mendengar keberhasilan rencananya untuk mendapatkan bukti pernikahan palsu Yudhis dan Nawang.
__ADS_1
Marcel yakin, dua orang itu pasti tidak menyadari bahwa dia sudah menyadap ponsel Yudhis. Dengan beberapa trik yang dia miliki, mengetahui lokasi dua orang itu bukanlah sesuatu yang sulit. Tinggal bagaimana nanti dia akan memberikan kejutan pada keduanya.
…
Keesokan harinya, Nawang turun ke lantai bawah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di super market. Untungnya, di masa PSBB ini dia tidak perlu berjalan jauh hanya untuk membeli sayur mayur. Karena, super market yang dia tuju berada di gedung sebelah tempat tinggalnya.
Karena harus lebih banyak berdiam diri di dalam rumah, hari itu dia harus membeli banyak bahan makanan. Dengan begitu, baik dirinya maupun Yudhis tidak perlu terlalu sering keluar.
“Yudhistyrex mana, sih? Katanya mau bantuin bawa barang.” gumam Nawang kesal.
Saat ini dia sudah selesai membayar seluruh belanjaannya yang totalnya sampai dua keranjang dorong. Tinggal dia pak sendiri di dekat kasir, lalu pulang seharusnya. Tetapi, dengan banyaknya barang-barangnya, entah sampai kapan Nawang akan selesai.
“Aku bantu, ya.” ujar seorang pria dengan logat baratnya.
Tanpa mengistirahatkan tangannya, Nawang mendongak dan mendapatin seorang pria berkulit putih yang dikenalnya.
“Aaron? How you…”
Jawab pria itu, “I moved here yesterday.”
“Wow!”
Nawang tak bisa memberi tanggapan apa-apa selain ‘wow’. Kebetulan di antara dia dan Aaron terlalu sering, hingga dia tak bisa mengatakan yang lain.
Dia lalu menengok, mencari tahu barang kali ada orang-orang Yudhis yang memperhatikannya. Bisa saja kejadiannya seperti tempo hari, saat tiba-tiba Kris muncul untuk menyuruhnya segera pulang. Dan saat matanya tertuju ke arah jam dua, Nawang pun menemukannya.
“Kayaknya kita selalu ketemu saat berbelanja. Kebetulan sekali.” kata Aaron sambil membantu Nawang memasukkan belanjaan ke kardus.
“Hahaha… iya, ya.” Nawang tertawa dengan paksa.
Mungkin gara-gara perkataan Yudhis beberapa hari lalu, Nawang juga jadi sedikit berhati-hati. Dia tidak ingin berburuk sangka, tapi saking seringnya bertemu secara kebetulan Nawang juga mulai curiga.
Dalam situasi begini, Nawang bingung apa yang harus dilakukan. Mungkin akan lebih baik kalau saja tadi dia berpura-pura tidak ingat dengan wajah Aaron. Atau, karena saat ini mereka mengenakan masker, seharusnya Nawang bisa mengaku sebagai orang lain. Tapi, sayangnya mulut Nawang sudah terlanjur menyebutkan nama Aaron dengan jelas. Sungguh, Nawang merutuki dirinya sendiri.
Suasana kikuk terus berlanjut setelahnya. Setiap kali Aaron bertanya, Nawang hanya menjawab sekedarnya. Kalau diajak untuk bercanda, suara tawa Nawang juga tidak serenyah biasanya.
Ah… betapa inginnya Nawang mengakhiri situasi ini.
“Sayang. Maaf, ya. Tadi aku harus ke toilet dulu. Kamu pasti udah nunggu lama, ya?”
__ADS_1
Suara Yudhis dari belakang seakan memberikan harapan untuk Nawang. Meskipun lumayan terlambat, Nawang bersyukur karena dia bisa segera kabur.