
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Nawang pada Yudhis begitu mereka sampai di rumah.
Sengaja Yudhis membawanya pulang. Karena, menurutnya membicarakan hal ini di luar akan sangat beresiko.
“Pak Beni diracun dan sekarang beliau dirawat di ICU.” jawab Yudhis.
Nawang tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia tidak bisa berpura-pura menjadi anak baik yang mengkhawatirkan Ayahnya yang sedang sekarat. Karena, hubungannya dengan sang Ayah memang tidak seperti keluarga pada umumnya.
Tidak ada kehangatan dan cinta kasih antar keluarga pada umumnya di antara mereka. Setiap kali mereka bertemu, kata sapaan saja tidak akan terdengar. Tapi, dibilang saling membenci pun tidak bisa. Karena, keduanya hanya tidak saling menganggap satu sama lain. Hingga sebuah tragedi terjadi. Sebuah tragedi yang akhirnya membuat Ayah Nawang harus dipenjara selama seumur hidup.
“Tapi, kenapa?”
Yudhis mengajak Nawang untuk duduk di kursi pantry. Lalu, sebelum dia kembali menjelaskan, dia ambil dulu segelas air dingin yang kemudian dia berikan pada Nawang. Setelah itu, dia baru menjelaskan.
“Gue curiga kalau hal ini ada hubungannya dengan Marcel.”
Dia duduk, lalu melanjutkan, “Beberapa hari lalu, Marcel tiba-tiba ambil cuti dengan alasan ada barang yang ketinggalan di rumahnya dan harus dia sendiri yang ambil. Gak tahunya, dia cuma pergi berkunjung ke penjara buat nemuin Pak Beni.
“Terus, berdasarkan informan gue, Pak Beni mengamuk. Sayangnya, gak jelas apa yang mereka bicarakan. Jadi, tidak tahu apa alasan Pak Beni berbuat seperti itu.
“Marcel habis itu langsung diminta pulang. Selama beberapa hari setelahnya, Pak Beni terus diam dan gak mau diajak ngomong sama siapapun. Dan akhirnya terjadilah.”
Nawang minum air yang Yudhis berikan padanya beberapa teguk.
__ADS_1
“Gue minta maaf, karena sekarang kayaknya lo yang jadi sasaran.”
Bagaimanapun Nawang telah menikahi orang yang Marcel cintai dari dulu. Pria itu sudah pasti akan mendendam padanya juga.
“Gue harus ketemu sama bokap gue. Gue harus cari tahu apa yang sebenernya terjadi.” ujar Nawang.
Tapi, kemudian Yudhis menolak ide tersebut, “Jangan. Kita gak tahu. Bisa aja ini cuma jebakan Si Curut itu.”
“Terus, kita harus gimana?”
Yudhis tersenyum sambil menepuk pundak Nawang beberapa kali dan berkata, “Gue kan udah bilang, kalau udah gue tanem mata-mata di sana. Jadi, mending lo santai aja di rumah. Kita tunggu Pak Beni sadar dari komanya, baru kita bertindak.
“Juga… sebaiknya lo gak ke mana-mana dulu sementara waktu.”
“Maksud lo…”
Keputusan Nawang untuk menurut pada Yudhis rupanya sudah tepat. Sore itu, kabar tentang Ayahnya sudah tersebar di beberapa media berita kriminal. Diceritakan di sana bahwa pria berinisial B yang membunuh dua orang keluarganya empat belas tahun yang lalu dilarikan ke rumah sakit setelah diracuni oleh rekan satu sel-nya. Sementara tersangka telah diamankan, namun pria berinisial R itu terus menolak untuk mengakui perbuatannya.
Lanjutan dari berita tersebut berujung pada kasus 14 tahun lalu yang diungkit kembali oleh beberapa orang. Kasus tersebut cukup menghebohkan negara, karena melibatkan seorang anggota DPR yang sedang naik pamor saat itu.
Beni dulunya adalah seorang manajer di salah satu cabang perusahaan milik Pandu, Ayah Yudhis. Dia dikenal sebagai karyawan yang rajin dan ulet, sehingga bisa dengan cepat naik pangkat. Di lingkungan tetangga, dia juga dikenal sebagai pria yang supel dan tidak sombong, meskipun bisa dibilang dia orang yang berada. Dia juga dikenal sebagai pria yang sangat mencintai keluarganya.
Kehidupannya begitu sempurna, kecuali untuk satu hal. Beni masih belum bisa menerima kenyataan bahwa putri satu-satunya bukanlah darah dagingnya sendiri. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mengungkit-ungkit kembali perselingkuhan sang istri. Tetapi, setiap kali melihat putrinya, Nawang, dia kembali teringat akan betapa pedihnya penghianatan sang istri. Akibatnya, Beni selalu bersikap dingin pada Nawang yang tidak tahu apa-apa mengenai hal itu.
__ADS_1
Puncaknya adalah saat Beni lagi-lagi mendapati istrinya berselingkuh. Nawang, puteri yang tidak pernah dia anggap sendiri lah yang memberi tahunya. Pasangannya adalah orang yang sama, yang juga adalah Ayah kandung dari Nawang. Yang paling menyedihkan adalah bahwa dua putera kandungnya ikut menyembunyikan perselingkuhan tersebut. Dua puteranya tersebut bahkan sangat mendukung perselingkuhan tersebut, karena anggota DPR yang diselingkuhi ibu mereka jauh lebih kaya dibandingkan Beni yang hanya seorang manajer cabang di kota kecil.
Perasaan Beni begitu kacau saat itu, yang akhirnya membuat dia kehilangan akal sehat. Dia kemudian membunuh istri dan kedua putranya.
Nawang cukup beruntung saat itu, karena tengah menghadapi olimpiade antar provinsi sehingga harus menginap di tempat lain. Saat pulang, dia disambut dengan mayat tiga keluarganya dan prosesi pemakaman yang cukup menguras emosinya. Para tetangganya berkata bahwa mereka bertiga meninggal, karena kecelakaan tunggal. Rem mobil mereka blong, sehingga kesulitan menghindari mobil lain yang bermaksud menyalip mereka.
Herannya, Beni tidak ada di acara pemakaman tersebut. Dia pergi entah ke mana dan tanpa kabar. Perusahaannya juga mencari Beni ke mana-mana, karena sudah tidak berangkat selama beberapa hari. Hingga tak sampai seminggu kemudian, muncullah berita tentang pembunuhan seorang anggota DPR dengan pelaku berinisial B.
Setelah menusuk korban sampai tidak bernyawa, Beni memutuskan untuk menyerahkan diri. Dan dari sanalah semua terungkap, tentang siapa Nawang sebenarnya dan kehidupan keluarga mereka yang sebetulnya penuh kepalsuan. Semua orang yang mengenal keluarga itu terkejut dengan kabar tersebut, begitu juga Nawang yang notabene tidak tahu bahwa ini adalah kali kedua Ibunya berselingkuh dengan orang yang sama. Dia juga baru tahu bahwa itu juga alasan keluarganya begitu dingin padanya.
“Jadi, sampai akhir juga Ayah tetap membiarkan Nawang sendirian? Sedari awal Ibu hanya memperhatikan Kak Herman dan Kak Heru. Mereka bahkan hampir tidak pernah menyisakan pemberian Ayah pada Nawang. Ayah juga tidak pernah tersenyum apalagi memuji Nawang, walaupun Nawang sudah berusaha membanggakan kalian berdua. Selama ini Nawang selalu bingung kenapa kalian berbuat begitu. Jadi, itu alasannya?”
Beni yang baru menginap lima hari di penjara tak menyangka akan mendapat kunjungan dari puteri tirinya tersebut. Tak ada satu kalimat pun yang dia siapkan untuk menghadapi Nawang, sehingga hanya “Maaf.” yang bisa dia ucapkan saat itu.
Dia bingung harus bereaksi seperti apa. Dia tahu bagaimana perlakuan sang istri pada gadis itu. Tapi, karena keegoisannya, dia tidak mau terlibat dengan Nawang. Dia pikir, dia sudah cukup baik padanya dengan membiayai sekolah dan uang makan siangnya. Baru kali ini dia terpikirkan bagaimana perasaan Nawang yang terbengkalai selama belasan tahun.
“Lalu, kenapa Ayah tidak sekalian membunuh Nawang? Bukankah Nawang yang memberi tahu? Kalau begini, Nawang jadi tidak punya siapa-siapa lagi. Ayah juga tidak punya. Nawang tidak mau mati, tapi bukankah ini hampir sama dengan mati?”
Beni tidak berkata apa-apa lagi. Penyesalannya terlalu dalam hingga tak sanggup lagi berkata-kata. Hanya sepucuk surat yang kemudian dia titipkan pada petugas untuk diserahkan pada Nawang agar dia membacanya nanti.
Dalam surat tersebut Beni berkata.
[Hiduplah. Pergilah sejauh mungkin. Akan lebih baik kalau kamu tidak memberi tahu siapapun di tempat baru kamu bahwa kita saling mengenal. Ada kartu debit di kamarmu yang Ayah sembunyikan.
__ADS_1
Pakailah! Hiduplah yang baik. Mohon maafkan Ayah. Jangan ke sini lagi.]
Itulah kali terakhir Nawang bertemu dengan Ayahnya. Setelah itu, dia mengikuti kata-kata Ayahnya untuk pergi dari kota asalnya. Dia juga tidak memberi tahu siapapun tentang Beni atau keluarganya yang lain. Hanya satu orang di sisinya yang tahu tentang dia, yaitu Yudhis yang entah kenapa selalu mengikutinya kemanapun dia pergi.