Status : Menikah

Status : Menikah
Pasangan Aneh


__ADS_3

Satu-satunya yang bisa membantu Yudhis cuma Tina. Hampir saja dia melupakan gadis itu saking paniknya. Dan saat Yudhis menghubunginya, ternyata Tina sudah ada di apartemennya bersama Nawang. Dia juga memberi tahu Yudhis bahwa Nawang baik-baik saja.


Hampir saja Yudhis mencekik Kris untuk melakukan apapun yang dia bisa agar jadwalnya hari ini dibatalkan semua. Bagaimana dia bisa tenang, kalau tiba-tiba Nawang mengunggah status yang menyatakan bahwa dia sedang sakit? Ditambah lagi, dia juga berpesan pada Kris agar tidak pulang ke rumah.


“Coba, Tin. Kalo menurut kamu, apa saya ada salah? Saya kan cuma melaksanakan kewajiban saya sebagai suami yang baik. Apa saya kurang tampan dan kaya, sampai Nawang selalu menghindar ke saya setiap saya nyoba mesra dengan dia?”


Di ujung telfon, kuping Tina sudah semakin panas karena Yudhis yang malah lanjut curhat padanya. Awalnya Tina sudah lega saat Yudhis tidak bersandiwara seperti Nawang yang menggunakan nama temannya. Kemudian, seiring ceritanya berjalan, Yudhis malah terdengar seperti sedang menyombongkan diri.


Dalam hati Tina sudah bertekad bahwa dia tidak akan peduli dengan sumber uangnya dan mementingkan kesehatan telingannya terlebih dahulu. Karena itu, dia memberanikan diri untuk berkata, “Pak, saya tahu Anda orang yang saaangat sempurna. Dunia akhirat Anda tampan walau tidak setampan pacar saya. Jadi, Anda tidak perlu khawatir, karena Nawang cuma grogi ketemu Anda yang keren tiada tara.”


‘Pip!’


Dengan sepihak Tina menutup sambungan telfon mereka. Sungguh dia sudah sangat jengah sekali mendengar curhatan dari sepasang suami istri aneh ini.


“Orang kayak gini mah di-iyain aja lah. Males juga debatnya.” gerutu Tina sambil memblokir nomor Yudhis untuk sementara waktu. Tina tidak mau lengah lagi. Cukup satu kali dia dijadikan korban kesombongan berkedok curhatan Yudhis.


Lain Yudhis, lain lagi Nawang yang sudah puas mengungkapkan keluh kesahnya tentang kehidupan romansa teman khayalannya. Dengan tenangnya dia bersantai di depan televisi sambil memakan keripik tempe yang katanya buatan ART di rumah mertuanya.


“Yudhis ngomong apa?” tanya Nawang pada Tina tanpa berpaling dari siaran televisi di hadapannya.


Tina melirik Nawang tajam.


“Lo tuh hampir bikin perusahaan besar runtuh gara-gara cuitan lo yang ambigu itu. Lain kali, kasih kabar ke suami lo! Kan jadinya dia tanya ke gue!” Tina menghardik.

__ADS_1


Nawang berhenti mengunyah kripik tempenya, lalu menjawab, “Mana ada NTMall jatuh dalam sehari. Ngawur!”


“Ck!” decak Tina, kesal.


“Bodo ah! Gue mau diem aja. Gak akan lagi gue kasih saran ke temen lo yang gue juga gatau siapa.” lanjut Tina.


Mendengar itu, Nawang lalu merangkul lengan Tina. Dengan manja dia memohon, “Masa gitu ke temen, sih? Jangan, dong!”


“Masa bodoh!” tegas Tina.


“Gaji lo gue naikin, deh… ya…” bujuk Nawang lagi.


“Ga butuh! Aaron gak usah diminta juga tiap hari kasih hadiah.”



Kota D


“Anda memanggil saya, Bu Damai?”


Marcel kini berada di hadapan atasan barunya. Dia tidak tahu permasalahan apa yang akan dibicarakan, tetapi dari auranya bisa diduga bahwa ada hal buruk yang harus Damai sampaikan.


“Kamu baca surat ini baik-baik dan renungkan!” perintah wanita berkacamata itu sambil menyerahkan seamplop surat pada Marcel.

__ADS_1


Diambilnya surat itu dari tangan Damai, lalu membacanya. Matanya seketika memicing saat mengetahui bahwa itu adalah sebuah surat peringatan untuknya, karena sering mangkir dari pekerjaan.


“Anda berani memberikan ini kepada saya? Apa Anda tidak tahu apa yang sedang Anda lakukan? Saya itu an…”


Damai memotong, “Anak dari Pak Robi, salah satu investor terbesar dari perusahaan ini. Tapi, bukan berarti kamu boleh bertindak seenaknya.”


“Ayah saya pasti tidak akan diam saja kalau tahu tentang ini.” nada bicara Marcel mulai terdengar naik.


Dengan tetap tenang, Damai menyahut, “Saya sudah mendapat kepercayaan sepenuhnya dari Pak Robi.”


“Tidak mungkin! Anda juga tidak bisa seenaknya memberikan surat peringatan ini tanpa alasan!”


Damai membalikkan laptopnya agar Marcel bisa melihat sendiri apa yang ada di sana. Itu adalah sebuah foto yang memperlihatkan dirinya sedang menonton video yang tidak penting saat jam kerja dari komputernya. Ada pula foto-foto lain yang memperlihatkan bagaimana dia tidak pernah terlihat bekerja.


“Saya juga memiliki rekaman suara kamu yang sedang menyuruh Ollie untuk mengerjakan pekerjaan kamu. Mau bukti apa lagi?” tanya Damai tak gentar.


Dengan spontan, Marcel menengok ke arah Ollie yang sedari tadi seperti memperhatikannya dan Damai. Gadis itu langsung memalingkan mukanya saat mata mereka bertemu.


“Saya dengar di pusat pun kamu dikenal berkelakuan buruk oleh staff lain. Makanya kamu pindah ke sini.”


Lanjutnya, “Kekuatan kamu sudah tidak mempan lagi. Jadi, saya harap kamu memperbaiki diri. Atau, kamu harus saya keluarkan.”


Seakan tidak mempedulikan Damai, tatapan Marcel masih tertuju pada Ollie. Gadis itu sudah berani melawannya dan dia tidak akan diam tentang ini.

__ADS_1


__ADS_2