Status : Menikah

Status : Menikah
Kencan Part 3


__ADS_3

Sudah cukup lama mereka tidak pergi jalan-jalan berdua. Jadi, tidak heran kalau Yudhis dan Nawang begitu antusias semalaman. Tetapi, saking antusiasnya, mereka tidak merencanakan apa-apa. Setelah keluar dari butik pun mereka hanya mampir-mampir sebentar ke beberapa toko. Tidak banyak yang mereka beli, karena memang belum butuh.


“Eh, ada Evil Slayer 3!” ujar Nawang sambil menunjuk ke layar LED yang terpajang di depan sebuah bioskop.


Dalam layar tersebut, ditayangkan berbagai trailer film yang sedang dan akan tayang di bioskop ini. Salah satu yang ditampilkan adalah Evil Slayer 3, sebuah drama fantasi yang disajikan dalam gambar animasi 2 dimensi.


Setelah kesuksesan film pertama dan keduanya, Evil Slayer akhirnya mengeluarkan sekuel ketiganya. Baik Nawang maupun Yudhis sudah tahu akan itu, tetapi lupa bahwa hari ini adalah tanggal premiernya.


“Keramean gak ya? Apa jangan-jangan udah penuh?” gumam Nawang.


Sebetulnya Nawang tidak masalah kalau menontonnya nanti saja. Pikirnya, mumpung sedang jalan berdua, pasti bakal lebih seru.


“Gue udah pesenin kursi sultan. Skuy! 30 menit lagi mulai, nih!” ajak Yudhis yang ternyata sudah lebih dulu bertindak.


Kursi sultan yang Yudhis maksud adalah kursi eksklusif dengan fasilitas mewah yang letaknya tidak menyatu dengan kursi bioskop biasa. Di sana mereka sudah disediakan sofa super empuk lengkap dengan snack-nya. Selain itu, meskipun seharusnya jarak dengan layar cukup jauh, Yudhis dan Nawang masih bisa menonton dengan jelas tanpa gangguan suara ataupun gerak-gerik orang lain.


“Lebay banget lo, Dhis.” lanjut Nawang, “Tapi, makasih. Ini pertama kalinya gue nyobain tiket sultan. Hehehe…”

__ADS_1


Melihat senyum Nawang, rasa-rasanya Yudhis ingin segera memiliki perempuan itu seutuhnya.


“Wah… sofanya gak kalah empuk dari yang di apartemen kita. Bisa-bisa betah, nih.”


Dengan riang Nawang mencoba duduk di atas sofa yang sudah tersedia. Dia pegang-pegang sofa itu untuk membandingkannya dengan sofa-sofa lain yang pernah dia duduki.


“Kalau lo mau, gue bisa beliin sofa yang mirip.”


Perkataan Yudhis membuat Nawang berhenti melakukan aktivitasnya. Dia pelototi pria itu sambil berkata, “No! Sofa di apartemen kita lebih bagus.”


Sebelum film dimulai, mereka mematikan alarm notifikasi agar tidak mengganggu selama menonton. Lalu, mereka buka pop corn yang sudah dibeli. Beberapa kali Yudhis dan Nawang memasukkan pop corn tersebut ke dalam mulut mereka hingga kemudian film yang ditunggu-tunggu pun dimulai.


“Wow! Kualitas animasinya gilaaa.” ujar Nawang takjub.


Nawang bukan ahli peranimasian, tetapi sebagai orang yang menonton minimal 1 judul anime per tahun tentu Nawang bisa melihat perbedaan antara animasi kelas paprika dan animasi kelas habanero.


“Dari sekuel sebelumnya juga meningkat banget, ya.”

__ADS_1


Nawang mengangguk, sependapat dengan tanggapan Yudhis.


Cerita film pun dimulai. Yudhis dan Nawang mulai berkonsentrasi menonton. Agar mereka lebih nyaman, keduanya pun bersandar di sandaran sofa.


Selama lebih dari setengah jam menonton, Yudhis begitu fokus. Hingga tiba-tiba…


‘Tuk!’


Yudhis sedikit terperanjat saat merasa bahunya menjadi sedikit berat. Dia tengok bahunya itu dan didapatilah Nawang yang tengah tertidur di sana.


“Kok malah ngantuk, sih?” gumam Yudhis pelan.


Dia betulkan posisi Nawang agar lebih nyaman. Dirangkulnya Nawang, kemudian dia dekatkan kepala Nawang di dadanya.


“Lo jangan-jangan kurang tidur semalaman.” pikir Yudhis saat melihat rona gelap di kantung mata Nawang yang biasanya selalu segar.


“Gue boleh seneng gak, sih? Tapi, kasihan juga.”

__ADS_1


__ADS_2